My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 158 JUBA



“ baiklah..... Divya buat design pakaian syar'i untuk Nara..... tapi ada syaratnya..... Divya harus membuat semuanya di rumah ayang..... bagaimana? “ ucap Divya mencoba melakukan kesepakatan dengan Fajrin.


“ serius..... Divya mau membuatkah adik? “ Divya menganggukan kepala menerima permintaan Fajrin.


Fajrin tersenyum berhasil membuat Divya bersedia merancang pakaian syar'i untuk Nara.


“ kalau begitu besok pagi ayang siapkan ruangannya di rumah ayang tapi dengan syarat setiap pukul 4 sore..... Divya harus sudah keluar dari rumah ayang dan pulang “ ucap Fajrin tegas.


Divya menganggukan kepala menjawab persyaratan Fajrin.


“ kalau begitu.... ini ayang bagi kunci rumah ayang..... tapi ingat jangan ke rumah sendirian..... harus bawa 2 atau 3 pengawal papi..... nanti takut sendirian di rumah “ ucap Fajrin sambil memisahkan kunci pagar dan kunci pintu depan juga beberapa kunci pintu yang lain.


Divya kegirangan karena akhirnya Fajrin memberinya izin masuk ke dalam rumahnya tanpa harus berusaha merayu Fajrin, karena terlalu gembira. Saat menerima beberapa kunci dari tangan Fajrin dengan spontan Divya melompat memeluk erat leher Fajrin, membuat Fajrin hanya bisa diam sesaat dan menepuk punggung Divya agar melepaskan pelukkannya.


“ akhirnya.... Divya berhasil membuat ayang memberikan kunci ini “ ucap Divya yang masih memeluk erat leher Fajrin.


“ Divya..... lepas.... papi melihat kita.... “ ucap Fajrin yang dengan terpaksa memegang lengan Divya agar terlepas dari pelukan Divya tanpa menggunakan sarung tangan.


“ mulai besok Divya akan mencari bahan untuk membuat pakaian syar'i Nara..... atau mungkin Divya juga buat untuk Divya sendiri.... “ ucap Divya dengan senang dan melepas pelukkanya.


Divya melangkah masuk ke dalam rumah dengan bahagia menunjukkan pada Davis apa yang baru saja dia dapat dari Fajrin, Davis memegang apa yang Divya perlihatkan.


“ kunci rumah Fajrin? “ Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Davis.


“ mulai besok Divya akan mencari kain untuk membuat pakaian syar'i untuk Nara....... hmmmm.... sepertinya bagus juga kalau kami memakai pakaian yang sama “ ucap Divya bahagia.


Tanpa Divya sadari Davis mengacungkan ibu jarinya pada Fajrin yang sudah berdiri tepat di belakang Divya.


Seperti yang Fajrin perkirakan, Divya mulai memikirkan model seperti apa yang bagus unutk Nara dan dirinya. Sementara disaat perjalan pulang ke rumah, Fajrin memikirkan untuk merubah ruang tengah dan kamar depan yang semula dia fungsikan sebagai kamar tamu akan dia sulap menjadi workshop bagi Divya.


Dari sepulang sholat Shubuh Fajrin sibuk mengeluarkan, menggeser, dan memindahkan beberapa perabotan yang berada di kamar tamu dan ruang tengah yang akan di pakai sebagai workshop Divya. Sedangkan Divya tepat pukul 3 sore sudah berada di depan rumah Fajrin, Divya sedikit ragu apakah benar ini rumah milik Fajrin. Divya mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Fajrin.


Fajrin yang sibuk memindai gambar-gambar designnya ke dalam bentuk file untuk dia simpan di dalam server data, seketika menghentikan aktivitasnya saat ponselnya berdering. Fajrin tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya dan segera menerima panggilan tersebut.


“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin.


“ Wa'alaikumsalam, ayang.... Divya sudah di depan rumah ayang “ balas Divya membuat Fajrin segera keluar dari ruang server.


Fajrin tersenyum melihat 2 orang pengawal Divya yang sibuk memilih kunci untuk membuka pintu pagar, tepat di depan pagar Fajrin meminta kunci tersebut pada pengawal Divya dan membukanya. Fajrin menyerahkan kembali kunci tersebut pada Divya.


“ ayang..... kapan ayang beli rumah ini? “ tanya Divya yang sudah mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam.


Belum sempat Fajrin menjawab Divya sudah masuk ke dalam rumah melihat seluruh ruangan dan merasa kagum dengan pengaturan interior setiap ruangan.


“ ayang..... kamar ayang sebelah mana? “ teriak Divya membuat Fajrin segera berlari naik ke lantai 2.


Fajrin menatap Divya yang sudah membuka kamarnya.


Fajrin hanya menatap kaki Divya dan membuka pintu kamar yang tepat berada di depan kamar yang Divya buka.


“ ini kamar ayang..... itu dulu rencana untuk kamar Nara “ ucap Fajrin dengan isyarat tangan mempersilakan Divya masuk.


Divya dengan gembira keluar dari kamar Nara dan masuk ke kamar Fajrin.


“ jangan buat kamar ayang berantakan...... ayang mau ke bawah dulu “ ucap Fajrin dengan tegas membuat Divya menganggukkan kepala dengan mata berbinar-binar karena bahagia.


Fajrin mengarahkan orang-orang yang menurunkan barang-barang yang akan Divya pakai untuk mendesign pakaian, Fajrin menempatkan 3 buah manekin di ruang tengah peralatan mesin jahit dan juga beberapa gulung kain. Fajrin mengamati apa saja yang Divya bawa membuatnya menggelengkan kepala.


“ lebih ribet dari adik.... “ gumam Fajrin sambil memijat tengkuknya yang ternyata barang-barang yang Divya butuhkan lebih dari perkiraannya.


Kamar tamu dan ruang tengah sudah di penuhi barang-barang Divya, dan Divya juga sudah mengamati dari ruang santai lantai 2. Divya tersenyum senang akhirnya bisa sedekat ini dengan pria yang sudah membuat hatinya memantapkan diri.


“ ayang.... mulai besok pagi Divya akan buat pakaian untuk Nara..... Liam dan Nenek yang akan menemani Divya setiap hari “ ucap Divya sambil menuruni anak tangga.


Fajrin melihat ujung kaki hingga setinggi bahu dengan heran, kulit di antara kedua alisnya berkerut melihat penampilan Divya yang berubah. Begitu juga dengan Liam dan rekannya, mereka berdua hanya bisa melihat tidak berani bersuara.


“ dapat dari mana ini? “ tanya Fajrin gemas yang melihat penampilan Divya berubah dan berbeda dari saat masuk rumah.


“ dari kamar pakaian ayang..... bagus ya..... pantas tidak buat Divya “ ucap Divya sambil dengan senang sambil berputar memperlihatkan apa yang sudah dia pakai.


“ pakaian Divya kemana? Kenapa pakai ini? Ini bukan untuk Divya..... “ ucap Fajrin sangat gemas melihat Divya mengganti tuniknya dengan juba pria.


“ kalau bukan buat Divya..... buat siapa..... Nara bajunya hitam semua...... apa ayang ada wanita lain? Dan ayang membeli ini buat wanita itu? “ suara Divya pelan-pelan mengecil dan menundukkan kepala karena sedih.


Fajrin menarik nafas panjang mendengar pertanyaan Divya, Fajrin ingin sekali mencubit gemas pipi Divya tapi hanya bisa mengepalkan kedua tangannya saja.


“ ini juba ayang.... ini ayang pakai kalau sholat Shubuh di masjid. “ ucapan Fajrin membuat Divya terkejut dan tidak percaya.


Sedangkan Liam dan rekannya menahan tawa mendengar ucapan Fajrin.


“ ha...... juba ayang? Ini pakaian ayang..... kenapa modelnya sama seperti abaya..... ayang berbohong..... “ ucal Divya tetap tidak percaya dan menatap tajam pada 2 pengawalnya yang semakin kesulitan menahan tawa.


“ kalian tertawa.... Divya akan minta papi mengembalikan kalian “ ucap Divya tegas membuat 2 pengawal itu berusaha keras tidak menggerakkan bibirnya semili pun.


Fajrin memperlihatkan sebuah foto yang dia ambil dari ruang kerjanya pada Divya.


“ lihat ini..... ini almarhum ibu..... dan ini ayang “ ucap Fajrin sambil menyerahkan bingkai foto yang dia bawa.


Divya mengamati foto itu dan melihat juba yang dia pakai untuk beberapa saat.


“ iya..... sama..... jadi ini juba pria..... “ ucap Divya yang mulai paham kalau juba yang dia pakai adalah juba pria.


Karena 2 pengawal Divya tidak dapat menahan tawa akhirnya mereka berjalan cepat keluar dan tertawa keras melepas apa yang mereka tahan. Saat Divya hendak bersuara keras memarahi mereka, Fajrin menahannya dengan melipat kedua tangan di dada membuat Divya terduduk di sofa.