
“mmmmm...... he's so cool..... Divya kamu harus semangat..... selesaikan kontrak..... kembali ke Jakarta dan dapatkan hati kak Fajrin" gumam Divya memberi semangat pada dirinya sendiri di sela-sela Istirahat pengambilan foto dirinya.
sudah satu minggu lebih Divya tinggal di New Delhi tapi jadwal pengambilan gambarnya semakin padat dan beberapa kali mengalami perubahan waktu dan tempat, membuat Divya sering kali jengah menatap Elena yang hanya bisa mengucap kata ‘maaf’ sebagai kompensasi dari setiap perubahan jadwal dan lokasi Elena mengijinkan Divya untuk menyelesaikan membaca buku pemberian Roby. Hari ini jadwal pengambilan gambar Divya hingga tengah malam membuatnya mau tak mau harus memanfaatkan waktu untuk sekadar memejamkan mata meskipun untuk beberapa menit saja, tiba-tiba ponselnya berbunyi membuat Elena segera meraihnya tapi sayang sekali kali ini Elena tidak bisa membuka ponsel Divya. Karena sejak pertama kali menginjakkan kaki di New Delhi, Divya sudah mengganti pin ponselnya dan hanya Divya saja yang tahu. Elena hanya bisa menarik nafas panjang meletakkan kembali ponsel Divya, tapi kali ini Elena mematikan ponsel Divya karena Elena tidak ingin waktu istirahat Divya terganggu.
Tepat tengah malam pengambilan gambarnya selesai dan mereka kembali ke apartemen, Bibhu membuka pintu apartemen untuk Divya dan meletakkan sebuah tas ukuran sedang milik Divya di kamar yang Divya pakai untuk istirahat. Sementara para tim stylist-nya merapikan perlengkapan di kedua ruangannya yang lainnya, Divya sudah berendam dengan air hangat di bathtub. Seharian penuh melakukan pemotretan dengan berpindah-pindah tempat membuat badan Divya terasa penat semua, dengan berendam untuk beberapa menit kedepan berharap rasa penatnya hilang. Setelah berendam kurang lebih lima belas menit, Divya keluar dengan menggunakan bathrope dan langsung tertidur pulas di ranjang berukuran king size.
Pagi hari Elena dan tim stylist Divya sudah sibuk mempersiapkan keperluannya untuk jadwal hari ini, saat mereka sibuk tiba-tiba mereka di kemudian dengan suara teriakan.
“aaaaaaaaaaa.........” Divya teriak sekeras-kerasnya sambil menangis memandangi layar ponselnya.
Kedua pengawal mendengar jelas siapa yang berteriak segera keluar dari unitnya dan membuka paksa pintu unit Divya, mereka terkejut mendapati Divya menangis histeris sambil memandang ponselnya. Elena dan Joana segera masuk dan sama terkejutnya seperti kedua bodyguard itu, Elena mendekati Divya dan ikut melihat layar ponsel Divya. Divya masih menangis dengan histeris membuat salah satu bodyguard segera menutup pintu unit apartement Divya karena tidak ingin penghuni yang lain melihat keadaan Divya yang kacau.
“Divya......look at me (lihat aku)" ucap Elena yang sudah memegang kedua pergelangan tangan Divya.
Tapi Divya bergeming dan masih menatap layar ponselnya.
“who did all this..... why his handsome face became like this (siapa yang melakukan semua ini..... kenapa wajah tampan kak Fajrin seperti ini)?" ucap Divya sambil menangis keras membuat kedua bodyguard-nya semakin heran dan bingung.
“If you crying like this, your eyelids will be swell up...... today you have a photo shoot wearing Saree (kalau kamu menangis seperti ini nanti kedua kelopak matamu bengkak...... hari ini kamu ada jadwal pemotretan memakai Sari).” Ucap Joana membujuk Divya.
Divya kembali menangis keras tidak memperdulikan bujuk rayu Joana, Elena dengan paksa merebut ponsel Divya tapi Divya semakin erat memegangnya hingga pada akhirnya elena meminta Liam untuk merebut ponsel Divya. Divya semakin keras menangis membuat Joana memeluk Divya dan menempelkan kepala Divya di dadanya. Elena menatap layar ponsel Divya dengan bingung apa yang membuat bintangnya menangis histeris, pelan-pelan ibu jari dan telunjuk tangan kanannya elena membesarkan gambar pada layar ponsel Divya.
“oh my God...... this is..... why is he messed up like this...... this is what makes you cry histerycally?(ya Tuhan...... ini kan..... kenapa bisa kacau seperti ini...... ini yang membuatmu menangis sampai histeris)” ucapan Elena membuat Divya kembali berteriak histeris.
“he's not a model huh.....he's an architect (dia bukan seorang model ya.....dia seorang arsitektur)” gumam Elena sambil melihat Divya yang berusaha di tenangkan Joana.
“Div..... Divya.... look at me (lihat aku)" ucapan pelan Elena hingga membuat Divya melihatnya.
Divya masih menangis meskipun sudah tidak histeris lagi, Joana mengusap pelan rambut hitam panjang sedikit pirang Divya mencoba menenangkannya.
Divya menganguk sambil menghapus air matanya, Elena menarik nafas panjang dan menyuruh bibhu serta Liam keluar dari unit Divya, Joana masih memeluk erat Divya yang tersedu-sedu. Saat Elena merasa Divya sudah tenang dan sudah bisa di ajak berbicara, Elena meminta Joana kembali dengan aktivitasnya. Elena duduk di sebelah Divya dan menyerahkan kembali ponselnya.
“Div..... we’ve been working together in the modeling world for a long time..... but this is the first time I've seen you cry hysterically like this because of seeing this man’s figure (Div..... kita sudah lama bekerja sama di dunia model..... tapi baru kali ini aku melihatmu menangis histeris seperti ini karena melihat sosok pria ini).” Ucapan Elena membuat Divya menatapnya dengan heran.
“do you like him (apa kamu menyukainya)?” Divya menganggukan kepalanya sekali menjawab pertanyaan Elena.
“do you love him (apa kamu mencintainya)?” Divya kembali menganggukan kepalanya membuat Elena menarik nafas panjang.
“are you already know his name and his profession? Do you know where’s his place and where's his office? (kamu tahu nama dan profesinya?Kamu tahu dia tinggal dimana dan kerja dimana?)” Divya menganggukan kepalanya lagi.
“does he know that you love him (apa dia tahu kamu mencintainya)?” kali ini Divya menggelengkan kepala membuat Elena memeluknya erat.
“Divya.... is because of this man that you always carrying that thick book everywhere you go (Divya..... apa karena pria ini juga sampai kamu membawa buku tebal itu kemana-mana)?” pertanyaan Elena membuat Divya menatapnya penuh tanya.
“he didn't tell me to bring this book but I want to get to know him better with this book (dia tidak menyuruhku membawa buku ini tapi aku ingin mengenal dia lebih jauh dengan buku ini)" ucap Divya yang masih tersedu-sedu.
Elena meraih buku pemberian Roby dan membaca setiap tulisan di sampul depan dan belakang.
“tell me who's his name (katakan siapa nama Pria itu)?” tanya Elena dengan heran.
“I only know his name is Fajrin (aku hanya tahu namanya Kak Fajrin)" ucap Divya sambil memandangi layar ponselnya yang masih memutar video rekaman dari Dipta saat Fajrin melakukan presentasi di depan para petinggi Rosewood.
“Fajrin...... Fajrin who (siapa)?”tanya elena semakin ingin tahu.
“I don't know his full name, big brother only said that his name is Fajrin (entah siapa nama lengkapnya, bang Dipta hanya mengatakan namanya Fajrin).” Ucap Divya sambil menghapus air matanya di pipi.