My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 208 RAHASIA KELUARGA (2)



“ Bestefar vet ikke hvem som har våget å donere hjertet sitt for å redde bestemoren din..... men fordi bestefar virkelig ønsker å vite hvem den personen er.... til slutt klarte Ralf å få informasjon om hvem som var din bestemors giver var ... Sri Asmarini ... en modig kvinne som har donert en del av hjertet sitt til din bestemor (kakek tidak tahu siapa orang yang sudah berani mendonorkan hatinya demi menyelamatkan nenek kalian..... tapi karena kakek sangat ingin tahu siapa orang itu.... pada akhirnya Ralf bisa mendapatkan informasi siapa pendonor hati nenek kalian.... Sri Asmarini.... wanita pemberani yang sudah mendonorkan sebagian dari hatinya untuk nenek kalian) “ seketika Fajrin dan Nara terkejut mendengar Erhan menyebut nama ibu mereka.


Freya dan Felisaa yang baru kali ini mendengar langsung dari Erhan seketika menatap Fajrin dan Nara, Selo dan Murat pun ikut terkejut tidak percaya bahwa wanita yang mereka kenal dengan postur tubuh setinggi 160 centimeter yang memiliki kepribadian lemah lembut berani mengambil keputusan yang sangat besar.


“ som du vet ... bestemoren din kunne leve lenger enn legene trodde og behandlet Asma slik hun behandler dere to ... helt til Woro endelig bestemte seg for å returnere til Jakarta med sin kone og to barn ... bestemoren din var veldig trist..... vi prøvde til og med å sperre passene deres for å holde dem hos oss.... men bestefars innsats var forgjeves fordi Woro har en sterk grunn og bestefar kan ikke ignorere..... bestemoren din savner Asma mye ...... vi kunne ikke kontakte Woro eller Asma..... og til slutt vet du din bestemors tilstand...... dette er grunnen til at bestemoren din er veldig støttende om at Azkar skal gifte seg med Helen snart .... Helens stemme minner alltid bestemoren din om Asmas stemme (seperti yang kalian ketahui.... nenek kalian dapat menjalani hidupnya lebih lama dari perkiraan para dokter dan memperlakukan Asma seperti memperlakukan kalian berdua... sampai akhirnya Woro memutuskan untuk pulang ke Jakarta membawa istri dan kedua anaknya..... nenek kalian sangat sedih..... kami bahkan berusaha melakukan pencekalan passport mereka agar mereka tetap bersama kami.... tapi usaha kakek sia-sia karena Woro memiliki alasan yang kuat dan tidak bisa kakek abaikan..... nenek kalian merasa sangat kehilangan Asma...... kami tidak bisa menghubungi Woro mau pun Asma..... dan pada akhirnya kalian tahu keadaan Nenek kalian...... inilah alasan kenapa nenek kalian sangat mendukung Azkar segera menikahi Helen.... suara Helen selalu mengingatkan nenek kalian akan suara Asma) “ suara Erhan terhenti karena terdengar isak tangis Nara meski pun Nara berusaha menahan tangisnya.


Fajrin menarik nafas panjang dan menghapus sedikit air matanya.


“ ja..... det stemmer Stemmen til Helen er som mors stemme..... det var derfor jeg hele denne tiden ikke turte å heve stemmen når jeg skulle krangle med henne (iya..... benar suara Helen seperti suara ibu..... itulah kenapa selama ini aku sendiri tidak berani meninggikan suaraku bila harus harus berdebat dengannya) “ Nara semakin terisak mendengar pengakuan Fajrin.


Tangis Nara membuat Helen dan yang lainnya menjadi cemas akan janin Nara, Helen mendekati Nara dan memeluknya. Hanya selang beberapa detik kemudian Nara pingsan di dalam pelukan Helen membuat Helen tersentak dan memanggil Afkar, dengan sigap Afkar mengangkat tubuh Nara dan membawanya masuk ke kamar mereka.


“ ini yang aku kuatirkan dari dulu.... Nara itu sulit melupakan apa yang membuat dia sedih...... kamu tahu sendiri bagaimana sikap Nara saat pertama kali kamu mengatakan bahwa ibu kalian meninggal..... “ ucap Azkar membuat Fajrin segera masuk ke kamar Afkar mengabaikan yang lainnya.


Azkar menarik nafas panjang menyiris kasar rambutnya.


“ baru kali ini Azkar melihat Nara menangis selepas itu..... dulu waktu pertama kali Fajrin mengatakan bahwa ibu mereka meninggal..... Nara hanya diam.... kedua matanya hanya merah tapi air matanya sama sekali tidak keluar. Mungkin karena Nara terlalu sedih jadi Nara hanya bisa diam..... “ ucapan Azkar membuat Freya juga Helen segera masuk ke kamar Afkar.


Untuk beberapa menit Afkar, Mari, Fajrin, Helen dan Freya berada di dalam kamar Afkar. Hingga sesaat kemudian Freya dan yang lain keluar dari kamar Afkar kembali duduk di ruang tengah, Fajrin menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa.


Fajrin menundukkan kepala dalam-dalam tidak berani menatap Azkar yang sudah memberinya tatapan tajam, seperti menyalahkan dirinya.


Fajrin menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan kasar.


“ kanskje hvis jeg på den tiden kjøpte litt tid til å følge det dere sa..... sikkert har dere fortsatt 27 dager med mor.... (mungkin kalau waktu itu aku mengulur waktu mengikuti apa yang abang katakan..... pasti adik masih ada kesempatan 27 hari bersama ibu....) “ ucap Fajrin yang tertunduk tidak mampu menatap wajah Azkar.


Karena waktu itu pun Azkar sudah memberinya saran agar memundurkan jadwal keberangkatan mereka setidak-tidaknya sampai Nara lulus SMP, tapi Fajrin tetap bersikeras membawa Asma berangkat haji. Erhan menarik nafas panjang merasa berat menceritakan 1 rahasia lagi pada Fajrin. Keheningan terasa di ruang tengah hingga Afkar memecah keheningan itu.


“ Nara har roet seg..... han vil ikke forlate rommet.... hvis bestefar vil fortsette det bestefar vil fortelle deg.... bare fortsett..... Senere skal Afkar fortelle det til Nara (Nara sudah tenang..... dia tidak mau keluar kamar.... kalau kakek ingin melanjutkan apa yang ingin kakek ceritakan.... lanjutkan saja..... nanti Afkar akan ceritakan pada Nara) “ ucap Afkar dan duduk di sebelah Fajrin.


Mari yang sedari tadi berdiri di depan pintu kamar Afkar, kembali duduk di tempatnya semula. Erhan menganggukan kepala dan menarik nafas panjang seperti ikut merasakan kesedihan yang Nara rasakan.


“ dette er medieopptegnelsen til bestefars nyredonor..... i begynnelsen visste heller ikke bestefar hvem som hadde turt å gi 1 nyre til bestefar..... men Ralf klarte å finne ut hvem donoren var..... han var woro... faren din (ini rekam medis pendonor ginjal kakek..... pada awalnya kakek juga tidak tahu siapa yang sudah berani memberikan 1 ginjalnya untuk kakek..... tapi Ralf berhasil mengetahui siapa pendonor itu..... dia woro..... ayah kamu ) “ kali ini Fajrin sangat terkejut dan tidak percaya.


Untuk sesaat Fajrin memang terkejut karena tidak menyangkak kalau ayahnya akan berani mengambil keputusan berat demi menyelamatkan Erhan.


“ det viser seg at såret på ryggen din skyldes stingene fra operasjonen (ternyata luka di punggung ayah karena bekas jahit dari operasi itu) “ ucap Fajrin yang tidak tahu apakah harus merasa sedih atau senang.


Sedih karena selama ini Woro selalu menutupi bekas luka itu dengan mengatakan bahwa itu bekas luka sayatan, senang karena ternyata Woro mendonorkan ginjalnya pada Erhan.