My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 40 MATA NAKAL



“we will meet with Mr. Rohit he is the head of strategy and Marketing, soon they will come. Take a sit (kita akan bertemu dengan tuan Rohit dia pimpinan strategi dan Marketing, sebentar lagi mereka datang. Duduklah)” Divya segera duduk di sebelah kiri Arbab sedangkan Elena duduk di sebelah kiri Divya.


Setelah menunggu kurang lebih tiga puluh menit, seorang pria dengan wajah bersih tanpa bulu-bulu halus di wajahnya masuk ke ruangan dengan dua orang rekannya. Arbab menjabat tangan Rohit dan kedua rekannya begitu juga dengan Divya dan Elena, kedua mata Rohit menatap wajah dan tubuh Divya dengan tatapan menggoda tapi Divya merasa bahwa saat ini Rohit seperti menelanjanginya dengan mata itu. Divya yang kesal hanya bisa bersikap profesional dengan mengulas sebuah senyum dan mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan sementara telapak tangan kirinya menutupi belahan dadanya yang sedikit terlihat. Rohit tersenyum nakal melihat reaksi Divya yang menutupi belahan dadanya yang terlihat, tak hanya Rohit yang menatap Divya seperti itu tapi kedua rekannya juga menatap Divya dengan tatapan yang sama. Tapi Rohit segera menatap kedua rekannya dengan tatapan ingin menghabisi mereka.


Rohit meminta Arbab pimpinan talent management yang salah satu modelnya dia kontrak selama satu tahun untuk mempromosikan produk milik perusahaannya karena akan ada gala dinner bulan depan dengan para petinggi serta para kepala bagian dari beberapa perusahaan yang sudah menyewa atau membeli sebuah unit di pusat perbelanjaan yang menjadi satu area dengan World Hotel dan resort Jaipur. Rohit menginginkan Divya untuk datang sebagai model yang mewakili brand perusahaannya dan juga sebagai pendampingnya, karena acara ini tidak ada dalam kontrak maka mereka melakukan negosiasi terkait nilai yang akan mereka sepakati.


Karena Divya salah satu model yang paling banyak mendapatkan kontrak untuk satu tahun ini dan nilai kontrak yang tidak kecil, maka Arbab sedikit jual mahal. Arbab tidak mau Divya hadir sebagai pendamping Rohit karena akan menimbulkan berita skandal yang akan memancing media untuk menggali kehidupan pribadinya. Arbab tidak ingin kehidupan pribadi setiap modelnya di gali oleh media, bila Rohit menginginkan Divya hadir dalam gala dinner tersebut makan Divya akan hadir sebagai brand ambasador produk Kaylan.


Divya yang hanya bisa mendengarkan saja pembicaraan antara Arbab dan Rohit juga kedua rekan Rohit hanya bisa sesekali mengulas senyum saat Rohit menatapnya dengan intens, ponsel Divya bergetar karena sebuah pesan masuk Elena menyerahkan ponsel itu tapi dengan menggenggam erat tangan kiri Divya sebagai tanda bahwa Divya tidak di ijinkan untuk membaca pesan itu. Divya menatap elena dengan tatapan penuh pertanyaan dan memohon tapi Elena tak bergeming dengan tatapan Divya dan memintanya untuk fokus pada Rohit.


Sepertinya perundingan antara Arbab dan Rohit berjalan sangat sulit, sesekali Arbab menyilangkan kedua jari telunjuknya seperti memberi isyarat larangan dan Rohit masih bersikeras dengan keinginannya untuk membawa Divya hadir di gala dinner selain sebagain brand ambassador juga sebagai pendampingnya. Arbab tahu betul bahwa Rohit adalah seorang playboy yang suka berganti-ganti pasangan dan suka menyewa para model dengan biaya tinggi hanya untuk menemaninya satu malam saja. Arbab tidak mau modelnya terjebak dalam dunia hitam karena Arbab di awal menerima Divya sebagai salah satu modelnya sudah menekankan untuk bersikap dan bekerja secara profesional.


Pada akhirnya Rohit hanya bisa menghadirkan Divya sebagai brand Ambasador produknya saja, tapi Rohit tersenyum tipis penuh dengan pikiran kotor untuk membujuk Divya di sela-sela gala dinner nanti. Rohit masih menatap Divya dengan tatapan nakalnya seperti mencoba merayu Divya, sesekali Rohit menyentuh bibirnya dengan ibu jari tangan kanannya untuk menggoda Divya tapi Divya berpura-pura tidak tahu arti dari godaan Rohit sehingga Divya hanya mengerutkan kulit di antara kedua alisnya dan semakin membuat Rohit tertantang untuk menggoda Divya.


Waktu dua jamterasa sangat lama bagi Divya, setelah Rohit dan kedua rekannya keluar segera Divya melemaskan tubuh dan kakinya yang sedari tadi kaku karena harus bersikap profesional sebagai seorang model.


“you two come in (kalian berdua masuk)” perintah Arbab pada kedua pengawal Divya yang sedari tadi berdiri di luar ruangan.


“Elena during the gala dinner don't even take your eyes off Divya don’t let Rohit approach her with other intentions outside of work and both of you if Rohit do something bad to Divya make him stay away from Divya immediately, I don't want hear about any scandal between Divya and Rohit. And for both of you, choose some clothes for her that cover this, this, and this area..... at the gala dinner if need it just wear a Saree, not an evening dress (Elena selama gala dinner jangan sekalipun pandanganmu lepas dari Divya jangan sampai Rohit mendekatinya dengan maksud lain di luar pekerjaan, dan kalian berdua bila Rohit melakukan sesuatu yang buruk pada Divya segera jauhkan dari Divya jangan sampai aku mendengar ada skandal antara Divya dengan Rohit. Dan untuk kalian berdua pakaikan Divya pakaian yang menutup area ini, ini, dan ini..... kalau perlu saat gala dinner pakaikan saree saja jangan gaun malam).” Perintah Arbab membuat tubuh kedua pengawal dan kedua stylist Divya menjadi tegang karena baru kali ini pimpinannya memerintahkan untuk menutup area tubuh yang biasanya akan tampilkan.


“understand boss (mengerti bos)" ucap mereka berempat dengan kompak.


Arbab keluar dari ruangan di ikuti oleh Divya dan yang lain, karena malam ini tidak ada jadwal apa pun Divya meminta untuk segera kembali ke Apartemen. Saat Bibhu membuka pintu unit Divya, seketika Divya terkejut karena mendapati seluruh ruangan tamu dan tengah unitnya penuh dengan mawar putih.


“who send all of this (siap yang mengirim semua ini)?” ucap Divya dengan menahan bersin sekuatnya karena Divya alergi serbuk sari bunga.


Tapi sayang Divya tidak mampu menahan bersinnya sehingga Divya dengan kencang beberapa kali bersin membuat Elena segera menghampirinya.


“what's wrong (ada apa)?” tanya Elena heran.


Memang Elena tidak mengetahui bahwa sebenarnya Divya alergi serbuk sari karena setiap kali bila seseorang memberinya bunga maka Liam yang akan menerimanya dan Divya selalu memintanya untuk membuangnya dengan alasan tidak menyukai bunga itu. Divya tidak menjawab pertanyaan Elena karena Divya berkali-kali bersin tanpa henti.


“are you allergic to pollen (apa kau alergi serbuk sari)?” tanya Elena heran, tanpa pikir panjang Elena menyuruh kedua pengawal untuk menyingkirkan semua bunga-bunga itu.


Divya masih bersin-bersin segera berlari masuk ke kamarnya tapi di dalam kamar pun Divya masih bersin-bersin, membuat Elena dan yang lainnya kerepotan untuk membersihkan seluruh bunga-bunga itu.


“I think I now why she doesn't accept any of flowers and always ask Liam to throw away. she's allergic to pollen.... I'm so stupid that I never knew this little thing (sepertinya aku tahu kenapa Divya tidak mau menerima bunga dan selalu meminta Liam untuk membuangnya. Dia alergi serbuk sari.... betapa bodohnya aku tidak bisa memahami hal sekecil ini)" gumam Elena sambil memerintahkan timnya untuk membersihkan seluruh ruangan dengan vaccum cleaner.