
Sampai di rumah, Fajrin segera membersihkan diri dan berganti dengan pakaian lebih santai juga mempersiapkan pakaian yang akan dia pakai untuk acara besok di reuni. Fajrin melihat ponselnya terdapat notifikasi pesan singkat dari Divya membuatnya tersenyum tipis dan segera membalasnya. Setengah jam selepas Isya' Fajrin berangkat ke Restauran Syafril dan tepat pukul 8.30 malam Fajrin tiba. Malam ini Fajrin, Roby juga Syafril sebagai pemilik restauran akan bermalam di lantai 3 restauran agar nanti tengah malam bisa melakukan sedikit perubahan dekorasi untuk menyambut kedatangan teman-teman mereka semasa di bangku SMA kelas 2.
Tepat setengah jam setelah restauran tutup dan para pegawai restaurant sudah pulang, Syafril segera mengeluarkan sebuah kardus besar yang berisi beberapa hiasan dinding untuk meramaikan suasana reuni kelas mereka. Karena ini reuni yang kedua setelah 8 tahun tidak bertemu, mereka bertiga bersemangat menyiapkan semuanya. Terkadang di sela-sela memasang hiasan mereka bercanda mengenang masa-masa kenakalan mereka.
“ kamu yakin.... mereka semua akan datang? “ tanya Fajrin masih belum percaya kalau Roby berhasil mengajak mereka semua untuk reuni.
“ aku yakin sekali..... bahkan Viana juga mengirim pesan kalau besok minta jemput di hotel “ ucap Roby sambil menunjukkan pesan singkat dari Viana.
“ Fajrin..... apa kamu tahu sekarang Viana bagaimana? “ tanya Syafril mencoba memancing perasaan Fajrin.
Fajrin melihat Syafril dan Syafril paham betul pandangan mata Fajrin yang tidak begitu tahu kabar sebagian besar teman-teman SMA mereka. Saat Syafril hendak menceritakan tentang Viana, Roby memberinya isyarat tangan agar jangan menceritakan tentang Viana.
“ Bro.... calon tunanganmu.....besok kamu ajak datang? “ tanya Roby mengalihkan perhatian Syafril yang masih berusaha memancing perasaan Fajrin pada Viana.
“ iya aku ajak.... besok pagi setelah semua siap.... aku akan jemput Divya “ ucap Fajrin santai sambil memasang sebuah kain lebar bertuliskan nama sekolah mereka.
Syafril yang ketinggalan sedikit berita tentang asmara Fajrin menjadi bengong.
“ tunangan..... calon..... siapa? Apa wanita yang sama yang pernah kamu ceritakan atau wanita yang berbeda ? “ tanya Syafril sambil menolak sebuah paku payung berukuran 8 milimeter dari tangan Fajrin.
Fajrin menarik nafas panjang melihat Syaril yang menolak paku payung darinya.
“ wanita yang sama...... puas.... “ jawab Fajrin sambil mengambil alih sudut kain yang harus Syafril pasang.
Terlihat jelas Syafril belum puas dengan jawaban Fajrin.
“ belum.... kamu harus menceritakan detail bagaimana bisa menjadi calon tunangan, kapan kalian akan tunangan dan kapan kalian akan menikah..... aku harus menyiapkan pesta untukmu “ ucap Syafril sambil mengeluarkan ponselnya untuk mencatat hari besar bagi sahabatnya.
“ tidak ada pesta.... hanya akad sa.... “ belum selesai Fajrin berbicara, Roby menggelengkan kepala membuat Fajrin terlihat jelas pasrah pada apa yang akan Roby katakan.
“ kenapa berhenti....? aku akan mencatat tanggal itu di ponselku “ tanya Syafril tidak terima.
Roby mendekati Syafril yang sudah siap memaksa Fajrin untuk berbicara.
“ Bro.... kamu cukup datang saat acara lamaran, akah dan pesta pernikahannya...... tidak perlu merepotkan diri membuat pesta untuk dia.... semua sudah di atur sama abangnya. “ ucap Roby sambil menepuk bahu Syafril.
“ ooooo...... begitu.... jadi kapan tanggalnya? “ tanya Syafril tidak sabar.
“ nanti akan ada.... “ belum sempat Roby menyelesaikan ucapannya, ponsel Fajrin berdering.
Fajrin segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana pendeknya dan melihat nama Divya tertera di layar ponsel. Fajrin menatap Roby juga Syafril.
“ terima saja dulu “ ucap Roby membuat Fajrin sedikit menjauh dari 2 sahabatnya.
Fajrin melangkah menuju tangga lantai 2 dan duduk di anak tangga ke tiga untuk memerima telepon dari Divya.
“ Assalamu'allaikum.... “ salam Fajrin.
“ jam 9, ayang berangkat dari sini..... ayang jemput pakai taxi saja ya... nanti kalau pakai motor.... Divya kepanasan. “ ucap Fajrin sambil memainkan paku payung 8 milimeter di tangan kirinya.
“ ..... “ ucapan Divya sukses membuat Fajrin salah tingkah.
“ ya sudah ayang pakai motor jemput Divya..... Divya pakai mobil.... ayang pakai motor......setidak-tidaknya ayang harus izin dulu sama papi kalau mengajak putrinya datang ke reuni sekolah ayang.... tidak sopan kalau tidak meminta izin papi dulu. “ ucap Fajrin sambil berusaha menguasai rasa gugupnya.
“ ..... “ mendengar suara Divya yang terdengar sedikit kecewa membuat Fajrin tersenyum tipis.
“ pakai pakaian apa saja yang membuat kamu nyaman “ ucap Fajrin singkat.
“..... “ ucapan Divya yang tanpa penyaring sukses membuat Fajrin tersedak ludahnya sendiri.
Fajrin terbatuk-batuk membuat Roby dan Syafril menatapnya heran yang sedari tadi mencoba mencuri dengar pembicaraan Fajrin di ponsel, Syafril menyerahkan sebotol air mineral yang ada di dekatnya. Fajrin menatap mereka berdua dengan heran, dan menerima air mineral dari Syafril serta langsung meneguknya. Dengan isyarat tangan Roby menyuruh Fajrin melanjutkan pembicaraannya di ponsel.
“ kalau itu..... nanti kalau sudah halal..... jangan besok.... “ ucap Fajrin terbata-bata dengan wajah sedikit memerah menahan malu karena 2 sahabatnya masih menatap dirinya.
“ ..... “ mendengar ucapan Divya sekali lagi membuat Fajrin tersenyum juga memijat tengkuknya.
“ biru “ jawab Fajrin singkat ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Divya karena 2 sahabatnya masih saja menatapnya.
“ ..... “ sekali lagi Fajrin tersenyum dan kali ini senyum yang membuat 2 sahabat menatapnya penuh pertanyaan.
“ I love you too.... Wa'alaikumsalam “ suara berbisik Fajrin membuat 2 sahabatnya memicingkan kedua mata mencoba mendengar apa yang Fajrin katakan.
Fajri melangkah melanjutkan apa yang harus mereka selesaikan tapi 2 sahabatnya semakin ingin tahu apa yang Fajrin bicarakan sampai terdengar kata ‘ kalau sudah halal ‘. Otak kedua sahabatnya mulai menduga-duga bahwa Fajrin sedang menutupi pembicaran sensitif.
“ Divya hanya tanya... besok pakai dress code apa.... itu saja.... tidak ada yang lain “ ucap Fajrin berusaha menghindari pertanyaan selanjutnya.
“ ayolah.... cerita ke kami.... siapa tahu kami bisa mengajarimu sesuatu “ goda Syafril yang akhirnya membuat Fajrin mempercepat memasang hiasan acara reuni.
Mereka bertiga berbincang-bincang santai hingga pada topik dimana Fajrin mendapatkan restu dari Davis yang akhirnya membuat kesibukan Roby semakin bertambah.
“ jadi semua sudah ada yang merencanakan..... baguslah..... kalau begitu aku mau menjadi groomsman. “ pinta Syafril sedikit memaksa.
“ daftar dulu ke aku kalau mau jadi groomsman dia..... bro.... kamu sudah memikirkan siapa yang akan menjadi groomsman kamu? “ ucap Roby sambil menepuk punggung Fajrin.
“ apa itu groomsman? Memangnya om Selo sudah memberimu tugas apa tentang acara kami? “ tanya balik Fajrin dan berhasil membuat Roby terdiam.
mereka bertiga bercanda mengingat masa masa kebersamaan mereka di SMA, mengingat kejahilan Roby yang menyuruh Fajrin meminjam DVD film 21 tahun keatas yang membuat Fajrin ketahuan sama Nara dan mendapatkan hukuman dari ibunya dengan membersihkan masjid setiap sebelum Adzan.
“ tapi kalau sekarang sudah tidak perlu lagi DVD..... cukup browsing saja “ ucap Roby sambil menunjukkan beberapa situs video 21 tahun keatas pada Fajrin.
“ wuiiiih...... banyak sekali...... premium pula.... “ ucap Syafril yang berhasil merebut ponsel Roby.
Yang akhirnya Syafril dan Roby berusaha membujuk Fajrin untuk melihatnya tapi Fajrin menutup layar ponsel Roby dengan telapak tangannya.