My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 174 TANGIS FAJRIN



“ adik keguguran.... sekarang tidak sadar.... ayang berusaha menghubungi tapi tidak ada jawaban.... ayang harus ke Oslo sekarang. “ ucapan Fajrin membuat Divya terduduk di ranjang dengan lemas.


Divya tidak berpikir sampai sejauh itu tentang Fajrin.


“ lalu bagaimanan dengan acara lamaran kita? “ ucap Divya sedih.


“ ayang akan kembali sebelum hari lamaran..... “ ucap Fajrin sambil meraih ponselnya yang berdering.


tiba-tiba Divya memeluknya erat membuat tubuh Fajrin kaku.


“ sampai kapan pun Divya akan tunggu ayang “ hati Fajrin menjadi bimbang antara pergi menemui Nara atau tetap tinggal agar Divya tidak sedih.


Fajrin memberanikan diri mencium puncak kepala Divya.


“ I love you.... ayang pasti akan melamar Divya “ ucap Fajrin dan membalas pelukkan Divya.


Untuk beberapa menit mereka saling berpelukkan serasa tidak mau berpisah, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil.


“ Divya.... ayang harus pergi.... supir Bang Azkar sudah ada di depan....” ucap Fajrin sambil melepas pelukkannya.


“ Divya ikut ke bandara “ ucapan Divya membuat Fajrin terkejut.


Tanpa berpikir lama Fajrin menganggukan kepala dan segera menarik koper menuruni tangga, di halaman depan sudah menunggu sebuah mobil dan di dalam mobil sudah ada Roby.


“ ayo cepat masuk..... visa dan jadwal penerbangan Sundth Air sudah beres semua “ ucap Roby sambil tangan kirinya menepuk pintu mobil seperti seorang kernet angkutan.


Fajrin segera meletakkan koper di bagasi dan meminta Divya segera masuk.


“ ayo jalan “ ucap Fajrin sambil menutup pintu mobil.


Sepanjang perjalanan terlihat wajah panik juga frustrasi Fajrin, tak henti-hentinya Fajrin menulis pesan pada Afkar juga pada Barra. Sesekali Fajrin menghapus sisa air matanya di pipi. Menggengam erat ponselnya berharap segera mendapatkan kabar dari Barra atau pun Afkar.


“ dasar beruang kutub.... menjaga istri saja tidak bisa.... sekarang istri keguguran masih saja membuat orang lain susah “ gerutu Divya membuat Fajrin melihatnya dengan mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.


“ kenapa Divya berpikir begitu? “ tanya Fajrin dengan suara berat karena tenggorokannya teras sakit tidak bisa menangis dengan bersuara.


“ kalau dia lebih memperhatikan adik.... pasti adik tidak akan keguguran dan tidak akan membuat ayang frustrasi seperti ini. “ ucap Divya yang mulai jengkel bila pemikiran tentang Afkar benar.


“ jangan berpikir jelek dulu tentang Afkar.... kita belum tahu di balik musibah ini.... tidak baik berpikir jelek tentang seseorang..... “ ucap Fajrin berusaha untuk tidak meneteskan air mata.


“ Bro.... baru saja ada pesan singkat dari..... I.... nes.... siapa ini ? “ ucap Roby yang ragu-ragu membaca isi pesan singkat yang dia terima dengan nomor yang tidak dia kenal.


“ Ines? “ tany Fajrin heran.


“ ini nomor Norwey.... tunggu sebentar “ ucap Roby sambil menggeser layar ponselnya mencoba mencocokkan nomor pengirim pesan singkat itu dengan beberapa nomor di whatsapp group asisten pribadi juga para pengawal keluarga Surendra mau pun keluarga Sadhat.


Fajrin menerima ponsel Roby dan membaca isi pesan singkat dari Ines, seketika air mata Fajrin kembali menetes. Melihat isi pesan singkat itu yang ternyata saat ponsel berada di tangannya, Ines mengirim 2 buah gambar. Fajrin menangis tidak mampu membayangkan kesedihan dan sakit yang Nara rasakan saat janinnya keluar sebelum waktunya.


“ Bro.... kenapa? Ada apa? “ tanya Roby dengan bingung.


“ayang.... kenapa adik? “ tanya Divya yang mulai berpikir yang tidak-tidak tentang Nara.


Air mata membasahi kedua pipi Fajrin, Fajrin tidak memperdulikan lagi siapa yang berada di dalam mobil bersamanya saat ini.


Fajrin menyerahkan kembali ponsel Roby.


“ Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un “ suara Roby bergetar karena melihat foto 2 janin yang Ines kirim.


Fajrin semakin tidak kuasa membendung air matanya, tidak mampu membayangkan bagaimana perjuangan Nara menahan rasa sakit seorang diri untuk mengeluarkan 2 calon janinnya tanpa satu orang pun menemaninya.


Divya tanpa sadar ikut meneteskan air mata melihat orang yang dia cintai menangis memikirkan seorang adik, pelan-pelan Divya meraih bahu Fajrin dan memeluknya erat. Tangis Fajrin semakin tidak tertahan membuat Roby dan yang lainnya terdiam.


Perjalanan ke bandara terasa lama bagi Fajrin dan yang lainnya. Bahkan sampai di area penurunan penumpang VIP pun, Fajrin masih meneteskan air mata dan tidak tahu kalau mereka sudah sampai.


“ bro.... kita sudah sampai.... kru Sundth Air sudah menunggumu “ ucap Roby pelan.


Divya membantu Fajrin menghapus air matanya yang membasahi kedua pipinya.


“ ayang.... sudah jangan menangis.... Divya jadi sedih melihat ayang seperti ini “ ucap Divya yang juga menghapus air matanya.


Sebelum turun dari Mobil, Fajrin membersihkan air mata yang membasahi pipi dan ingus yang membuatnya susah bernafas. Dengan mata yang merah Fajrin berpamitan pada Roby dan Divya, mengikuti langkah kaki kru Sundth Air menuju ramp private jet Sundth Air. Divya melihat kepergian Fajrin denangan sedih.


“ bang Roby sudah berapa kali melihat sahabat abang menangis seperti itu? “ ucapan divya Divya membuat Roby terkejut


Roby tidak hanya sekali dua kali melihat Fajrin menangis seperti ini, lebih dari dua kali Roby dan Syafril melihat Fajrin menangis seperti ini.


“ lebih dari sekali.... tapi kali ini lebih sedih dari sebelum-sebelumnya..... dia tidak akan meneteskan air mata meski pun orang lain nginjak-injak harga dirinya atau pun melukainya..... dia hanya akan meneteskan air mata bila orang-orang yang dia sayangi mendapat musibah.... seperti yang kamu lihat tadi... seberapa sedihnya dia melihat dua calon janin Nara keluar sebelum waktunya.... aku yakin Fajrin menangis seperti itu bukan karena janinnya tapi karena tidak bisa membayakangkan rasa sakit yang Nara rasakan saat itu. “ ucap Roby sambil masih melihat Fajrin dari kejauhan.


Divya tertegun mendengar ucapan Roby, karena selama ini Divya tidak pernah melihat kedua abangnya juga Davis menangis sedih karena dirinya. Divya hanya melihat Davis menangis karena teringat mendiang istrinya yang sangat mirip dengan Divya.


“ beruntung sekali adiknya memiliki abang seperti ayang.... tidak sepertiku.... punya abang dua semua sama saja.... bukannya ikut sedih atau menghibur Divya malah mempersulit Divya “ ucap Divya sambil mengingat perbuatan Ditya.


Sekepergian Fajrin, Roby mengantar Divya kembali ke rumah Fajrin. sepanjang perjalanan Divya lebih banyak termenung memikirkan juga membayangkan bagaimana dulu Fajrin bersikap pada Nara, seperti apa Fajrin memperlakukan Nara, Divya ingin tahu semua itu. Roby yang duduk di depan sesekali melihat keadaan Divya yang diam tak bersuara.


Beberapa menit sebelum Divya turun dari mobil, ponsel Roby berdering, Roby melihat isi pesan itu yang ternyata dari Ines.


“ Alhamdulillah..... mereka sudah selesai mengurus 2 calon janin Nara..... tapi masih belum ada kabar tentang Nara. Sabar bro...... adikmu anak yang kuat..... pasti dia bisa melewati ini semua “ gumam Roby dalam hati.


Sementara di dalam private jet Sundth Air, Fajrin tak henti-hentinya berdoa berdzikir agar Nara bisa mengihklaskan semua ini. Bahkan saat pramugara private jet Sundth air menyajikan makan malam, Fajrin tidak sanggup menyentuh makan malam itu. Hingga Akhirnya Fajrin tertidur karena lelah memikirkan Nara.