My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 199 SEKRETARIS



Benar apa yang Fajrin perkirakan, baru juga melepas jaket dan meletakkan di sandaran kursi kerjanya. Sekretaris Henri sudah menghampirinya dan menyerahkan beberapa berkas yang harus Fajrin setujui, tapi bukan Fajrin bila asal menyetujui semua berkas kontrak tersebut.


“ aku cek ulang berkas ini.... besok pagi biar Yuni bawa ke mejamu “ ucap Farjin tanpa memperhatikan secretariat Henri yang mengenakan pakaian kurang bahan.


“ tapi pak..... berkas paling atas hari ini harus sudah masuk ke tim marketing area 2 “ ucap sekretaris itu dengan nada manja.


Fajrin paham beberapa pekerjaan Henri sudah terlambat tapi tetap saja harus Fajrin lakukan pengecekan, dia tidak akan memberikan tanda tangan apa pun tanpa membaca dulu setiap kata yang tertulis di kertas berkas itu.


“ aku akan bicarakan pada tim marketing 2.... kamu bisa keluar sekarang “ ucap Fajrin dengan isyarat tangan menyuruh sekretaris itu keluar.


Dengan menghentakkan kaki sekretaris itu keluar.


“ Mentang-mentang direktur muda seenaknya saja mengatur kontrak “ gumam Sekretaris itu pelan tapi masih terdengar oleh Fajrin.


“ kalau tidak suka saya menjadi atasan sementara kamu.... silahkan laporkan saya pada SDM “ suara keras Fajrin membuat sekretaris itu tertunduk.


Sekretaris ini belum tahu dan belum paham siap Fajrin sebenarnya. Fajrin menghela nafas panjang heran kenapa bisa Henri bertahan dengan sekretaris seperti itu. Hari pertama kesibukan Fajrin sebagai pengganti Henri semakin banyak dan bertambah hingga hampir saja melupakan jadwal makan siang, Divya yang paham betul posisi Fajrin mencoba menghubunginya dan mengingatkan jadwal makan siang dan sholat dhuhur.


“ Astagfirullahaladzim..... sudah siang.... hampir saja aku lupa sholat untung calon istri mengingatkan “ gumam Fajrin setelah mematikan sambungan telepon dari Divya.


Fajrin segera bergegas sholat Dhuhur yang ternyata masjid kantor sudah sepi dan hanya beberapa orang saja yang sholat, selesai sholat Fajrin segera menuju cafe di lantai 1 yang ternyata semua menu makanan berat tinggal sedikit pilihannya. Dengan terpaksa Fajrin memakan menu yang ada meski pun bukan seleranya.


Hari pertama yang berat sebagai pengganti sementara Henri, rasa lelah dan penat sampai rumah seketika hilang saat melihat lampu rumahnya masih menyala yang berarti Divya belum pulang meski pun sudah pukul 8 malam.


“ Assalamu’alaikum “ salam Fajrin sambil membuka pintu rumah.


Dan benar saja Divya terlihat sibuk dengan kain-kain juga manekinnya.


“ Wa’alaikumsalam.... ayang sudah makan malam belum? “ ucapan Divya membuat rasa penat dan lelah Fajrin hilang seketika.


Divya melangkah menuju dapur dan menyiapkan menu makan malam yang sudah dia buat tadi sore dan sekarang hanya perlu menghangatkannya dengan memasukkan ke dalam microwave. Tidak butuh waktu lama bagi Divya untuk menyiapkan semua itu, terlihat jelas di sorot mata Fajrin bahwa dirinya sangat lelah dan penat. Fajrin tidak mampu menutupi itu semua, Divya tersenyum menyerahkan segelas teh madu hangat di depan Fajrin.


“ Ayang minum ini dulu..... setelah ayang makan dan mandi.... Divya akan pulang.... biarkan saja Liam menunggu di luar.... “ ucap Divya sambil melangkah menuju dapur.


Tanpa mengatakan apa-apa Fajrin menghabiskan teh madu hangat buatkan Divya.


“ Divya.... bisakah mulai besok membawakan makan siang untuk ayang.....? Kalau tidak bisa..... biar Liam saja yang mengantarnya “ ucap Fajrin sambil memainkan gelas kosong yang isinya sudah dia habiskan.


Permintaan Fajrin membuat hati Divya ingin teriak kegirangan karena baru kali ini Fajrin meminta dirinya mengantarkan makan siang.


“ Serius..... ayang mau Divya yang membawa makan siang ayang..... “ ucap Divya meyakinkan permintaan Fajrin.


Seketika Divya melompat kegirangan mendengar jawaban Fajrin, karena memang ini yang di inginkan Divya. membawakan makan siang dan makan siang bersama Fajrin.


Melihat Fajrin yang menghabiskan semua makan malam buatannya sudah cukup membuat hati Divya berbunga-bunga, apa lagi saat melihat Fajrin sudah terlihat lebih segar setelah membersihkan diri.


“ Ayang..... Divya pulang dulu ya..... besok mau makan siang apa? “ ucap Divya sambil merapikan lembaran kain yang berserakan.


“ apa saja ayang suka.... asal Divya yang bawa.... “ ucap Fajrin sambil melangkah menuju ruang tamu.


Divya berjalan cepat menyusul Fajrin dan melangkah keluar, Liam dan satu orang rekannya sudah bersiap di samping mobil Divya.


Setelah mengucap salam Divya pun pergi dari rumah Fajrin, Fajrin memandangi kepergian Divya dan merasa sepi.


“ untung tadi siang Divya menelpon.... kalau tidak aku bisa melewatkan waktu sholat.... “ gumam Fajrin merasa putus ada karena baru saja mendapat amanah besar tapi sudah hampir melupakan kewajibannya.


Malam ini tidur Fajrin sangat lelap mungkin karena rasa lelah dan penat seharian memeriksa pelimpahan berkas dari Henri.


30 menit sebelum adzan Shubuh, Fajrin terbangun. Otak dan badannya sudah terasa segar, keinginan yang kuat untuk melangkah ke Masjid sholat Shubuh berjamaah dan pulang ke rumah setelah sholat Syuruq membuatnya bersemangat untuk membersihkan diri.


Sepulang dari masjid, Fajrin melangkah pulang ke rumah dengan pikiran campur aduk.


“ amanah besar adalah ujian...... dan ALLAH tidak akan mengujiku kalau aku tidak mampu..... sepertinya aku harus melakukan sedikit perubahan di kontrak kemarin. “ gumam Fajrin dalam hati sambil membuka pintu pagar rumahnya.


Hari kedua menjadi pejabat sementara pengganti Henri, Fajrin bertekad akan melakukan beberapa perubahan di kontrak kerjasama yang sudah Henri buat. Meski pun tangan dan matanya fokus pada menu makan pagi yang dia masak tapi otaknya masih memikirkan beberapa kontrak yang menurutnya sangat mencurigakan. Makan pagi sudah siap, Fajrin tidak menghabiskan semua makan pagi yang dia buat tapi Fajrin hanya mengambil sebagian saja dan menyisihkan sedikit lebih banyak untuk Divya dan 2 pengawal Divya.


Tepat pukul 7.30 Fajrin sudah sampai di gedung Surendra dan segera menghubungi Azkar karena biasanya Azkar masih berada di perjalanan, tanpa memperdulikan hiruk pikuk pegawai yang lalu lalang di samping kanan kirinya. Fajrin mencoba menghubungi Azkar untuk mengatakan bahwa akan melakukan sedikit perubahan pada beberapa point kontrak kerjasama yang sudah di buat oleh Henri. Akhirnya tersambung juga pada Azkar dan Fajrin mengatakan maksud dari dirinya menghubungi Azkar pagi-pagi sekali, Azkar mendengarkan apa yang Fajrin katakan bahkan tanpa sadar Fajrin sudah sampai di depan ruangannya. Mengabaikan keberadaan sekretaris Henri yang sudah duduk manis di kursi Yuni, Fajrin tetap saja terlihat serius membicarakan sesuatu dengan Azkar.


“ ini salah bang..... kalau abang tidak percaya.... abang bisa cek kembali semua kontrak itu.... aku yakin ini bukan om Henri yang membuat point-point kontrak itu..... “ ucap Fajrin sambil melepas tas punggung juga jaket kulitnya dan meletakkan asal.


Entah apa yang Azkar katakan tapi cukup membuat raut wajah Fajrin sedikit berubah menjadi tenang.


“ baik bang.... setelah abang sampai di akntor aku langsung ke ruangan abang.... Assalamu'allaikum “ ucap Fajrin dan mematikan sambungan telepon setelah mendengar salam balasan dari Azkar.


Sekretaris Henri tanpa mengetuk pintu dan tanpa salam langsung menyerobot masuk ke ruang kerja Fajrin.


“ bapak bisa kerja apa tidak..... mana berkas kerjasama yang harus bapak tanda tangani.... saya sudah menunggunya dari tadi..... tapi belum siap juga “ suara jengkel Sekretaria Henri membuat Fajrin menatap tajam kedua mata sekretaris tersebut.


“ semua berkas kontrak ini harus ada persetujuan dari CEO.... “ mendengar ucapan Fajrin seketika tubuh sekretaris itu menegang dan merasa bahwa suasana ruangan menjadi dingin.