My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 20 ANOTHER SHOCK THERAPY



Azkar duduk diantara para kolega Surendra Corp dengan di dampingi Roby, para kolega itu semua baru pertama kali mengenal dan sangat terkesan dengan sosok Fajrin yang sangat rendah hati. Sementara kedua mata indah Divya tidak bisa berpaling dari sosok Fajrin yang sangat berbeda dari semua laki-laki yang pernah dia kenal, sosok yang sangat ingin dia kenal lebih jauh lagi. Dipta berkali-kali mengingat Divya untuk tidak melihat Fajrin terus-terusan, tapi Divya mengabaikan itu dan semakin memperlihatkan diri bahwa dia sangat tertarik dengan sosok Fajrin.


“Assalamu'allaikum ibu Olivia..... selamat hari jadi pernikahan yang ke tiga puluh lima" salam Fajrin saat mendekati meja keluarga Zulian.


Olivia langsung berdiri dan menangkupkan kedua tangannya di dada membalas salam Fajrin, begitu pula dengan Fajrin. Seketika kedua mata orang tua Sofia melihatnya dengan heran dan penuh tanda tanya.


“Fajrin.... sini nak.... kenalkan ini menantu ibu dan mereka berdua besan ibu" ucap Oliva memperkenalkan Fajrin pada Sofia dan kedua orang tua Sofia.


Seketika Sofia tertegun dan terkejut begitu juga dengan kedua orang tua Sofia, mereka tidak mengira bahwa pria yang mereka tolak adalah pria yang sama yang Zulian dan Olivia pernah ceritakan. Fajrin mendekati Sofia dan kedua orang tua Sofia untuk memberi salam bergantian.


“kemana Dhika?” tanya zulian pada Pras.


“dia tadi sedang mengambil makanan" jawab Pras sedikit gugup.


Beberapa detik kemudian Dhika adik Sofia datang, Zulian segera menyuruh Dhika untuk mendekat.


“kemari..... kenalkan ini Fajrin, arsitektur di perusahaan om yang sering om ceritakan pada kalian....” ucap Zulian dengan bangga.


“hai kak" ucap Dhika singkat dan terlihat raut wajah bahagia bisa melihat Fajrin lagi.


“kalian saling mengenal?” tanya Olivia.


“kak Fajrin dulu sering mengisi kuliah tamu di jurusan Dhika om.... salah satu dosen yang menjadi idola para mahasiswi" ucap Dhika sambil tersenyum senang.


Fajrin tertawa kecil mendengar ucapan Dhika, tapi tidak kedua orang tua Sofia yang menahan malu karena pernah menjelekkan Fajrin di hadapan kedua besannya juga Yudha. Yudha dapat melihat jelas raut wajah malu pada kedua mertuanya.


“Dhika...... kalau kamu ingin sukses menjadi Arsitektur terpercaya dan terkenal..... banyak-banyak belajar dari Fajrin....” ucap Yudha sambil menggenggam tangan kanan Sofia yang sedari tadi menunduk.


“bagaimana Dhika bisa belajar dari kak Fajrin.....sudah lebih dari tiga semester kak Fajrin tidak memberi kuliah tamu di jurusan Dhika" ucap Dhika yang sudah merangkul Fajrin melepas rasa kangennya.


“Fajrin baru dua minggu ini pulang dari Phu Quoc..... tentu saja Fajrin tidak bisa memberi jadwal kuliah tamu" ucap Olivia dengan bangga.


“mama tahu..... Fajrin berhasil membuat Mr. Cheng President Director Rosewood group mempercayakan pembangunan World Resort di Jaipur dan di Hokkaido.” Ucap Zulian dengan bangga sambil menepuk bahu kiri Fajrin


Fajrin tersenyum tipis dan mengusap tengkuknya merasa malu mendengar pujian Zulian, Olivia menatapnya bangga.


“wuiiiihhh..... keren..... kak bagi ilmunya biar jadi arsitek terkenal seperti kakak" ucap Dhika


“sepertinya Kue Tar yang disana menunggu bapak dan ibu Zulian untuk memotongnya" ucap Fajrin sambil menunjuk sebuah kue tar setinggi kurang lebih satu meter untuk mengalihkan perhatian mereka.


“Bro.... adiknya Dipta melihatmu terus” bisik Roby pada Fajrin.


“Divya tertarik sama kamu" ucapan Azkar membuat Roby melihatnya dengan heran.


“bos tahu?” tanya Roby heran.


“sangat terlihat dengan jelas dari cara Divya memandang Fajrin, aku hanya mengingatkan kamu sekali ini tentang Divya..... sekali saja kamu memberi harapan maka Divya akan menjaga hatinya hanya untukmu..... aku sangat paham bahwa kamu tidak mudah tertarik pada wanita dengan pakaian kurang bahan..... tapi kalau kamu bisa pelan-pelan merubah cara berpakaian Divya untuk lebih sopan dan tidak memperlihatkan auratnya..... aku akan membuatkan kalian pesta pernikahan yang selalu di ingat keluarga Lohia ” Ucapan Azkar membuat Roby merinding karena terdengar seperti sebuah tantangan.


“entahlah bang..... aku belum memikirkan untuk menjalin hubungan lagi dengan wanita.” Ucap Fajrin sambil meneguh segelas minuman yang berada di depannya.


“jangan begitu..... karir kamu semakin bagus semakin banyak perusahaan yang akan membutuhkan keahlianmu.... nanti akan semakin banyak wanita yang mengejarmu kamu tinggal pilih mana yang kamu suka" ucapan Roby sukses membuatnya mendapat pukulan dari Azkar.


“jangan kamu racuni Fajrin dengan pola pikirmu.... “ ucapan Azkar membuat Roby diam tak berkutik.


Fajrin hanya diam tak membalas ucapan Azkar mau pun Roby. Acara peringatan tiga puluh lima tahu pernikahan Zulian dengan Olivia berjalan dengan lancar serta meriah hingga selesai. Satu persatu para tamu berpamitan pada Zulian dan keluarganya begitu juga dengan Azkar dan Fajrin, setelah berpamitan Azkar menunggu mobil yang akan mengantarnya pulang sedangkan Fajrin kembali ke kamar hotel untuk mengambil tas punggung juga jaket kulitnya.


“lebih hebat Yudha mantu kita dari pada anak miskin itu" gerutu Mutia yang selama acara berlangung hanya bisa menahan amarah dan rasa malu.


“sudahlah..... apa mama menyesal menjodohkan Sofia dengan anak teman papa?” tanya Pras yang sedari tadi jengkel mendengar ocehan Mutia.


“bukan begitu..... anak orang lain di puji-puji.... tapi anak sendiri tidak di puji.... arsitek hanya bisa menggambar tidak bisa memiliki perusahaan seperti menantu kita.... sudah begitu miskin pula” gerutu Mutia semakin tidak suka pada Fajrin.


Saat Fajrin keluar dari lift sudah mengenakan jaket kulit dan tas punggung dengan jas hitam yang dia selipkan di tali tas punggung berjalan mendekati Azkar, kedua orang tua Sofia membuang muka dengan kasar. Sementara Divya semakin terkesima melihat penampilan Fajrin yang terlihat lebih santai dan terkesan lebih maskulin.


“bang..... mintakan nomor ponselnya" rengek Divya pada Dipta.


“buat apa?” tanya Dipta heran.


“biar Divya bisa menelpon pria tampan itu" rengek Divya membuat Dipta mau tak mau mendekati Fajrin yang sudah berdiri di dekat Azkar.


“Fajrin kamu langsung pulang?” tanya Dipta yang sudah berdiri di dekat Fajrin.


“iya.... ini masih menunggu mereka ambil motorku. Kenapa?” tanya Fajrin heran.


“boleh aku bagi nomor pon....” belum selesai Dipta berbicara ponsel Fajrin berbunyi, Fajrin segera mengangkat dan berbicara sementara Dipta melanjutkan pertanyaannya dan Fajrin memberi tanda dengan anggukkan kepala. Divya melompat kegirangan melihat Fajrin menganggukan kepalanya, Azkar melihat tingkah Divya hanya menggelengkan kepala. Azkar melangkah mendekati mobil hampir beriringan dengan orang tua Sofia.


“kalau anak miskin itu tidak menolong perusahaan kami, bisa di pastikan kalau besan anda bukan Zulian" suara pelan Azkar tepat di belakang kedua orang tua Sofia, membuat tubuh Pras dan Mutia seketika serasa kaku dan dingin.