My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 167 CINCIN (2)



Fajrin menggandeng tangan kanan Divya dan tentunya tangan kiri Fajrin sudah terbungkus rapi oleh sarung tangan. Divya terkejut juga tidak percaya bahwa Fajrin serius membelikan cincin dengan brand Graff, Divya sedikit ragu saat tangan Fajrin menariknya masuk ke dalam.


“ ayang.... ini berlebihan.... tempat lain saja ya.... nanti uang ayang habis.... jangan sampai setelah kita menikah ayang lembur setiap hari.... Divya tidak mau kalau itu terjadi..... kemarin beli sepatu dan sendal saja sudah segitu mahal belum pakaian yang Divya pilih..... Divya bisa kalau brand lain.... tapi Divya tidak bisa kalau setelah kita menikah melihat ayang setiap hari lembur kerja.“ ucap Divya merajuk yang masih menahan tangan Fajrin agar tidak masuk ke showroom.


Fajrin tersenyum mendengar ucapan Divya yang mengkuatirkan kondisi keuangannya jika nanti setelah menikah.


“ Insya ALLAH.... ayang ada rezeki lebih buat menyenangkan calon istri.... kalau pun setelah menikah uang ayang habis... nanti ayang jual ginjal saja. “ ucapan Fajrin yang awalnya serius dan berakhir menjadi candaan membuat Divya semakin merajuk.


“ jangan.... Divya tidak mau ayang sakit “ ucap Divya yang mulai berkaca-kaca.


Fajrin tersenyum gemas melihat sikap Divya dan menarik pelan tangan Divya untuk segera masuk ke showroom karena beberapa pasang mata mulai melihat mereka. Fajrin membantu Divya duduk dan bertanya pada seorang wanita pramuniaga showroom, setelah menunggu beberapa menit keluarlah seorang pria yang menjadi manager di showroom ini.


“ selama siang pak Fajrin, saya sudah menyiapkan sesuai permintaan bapak.... silahkan anda dan nona duduk di sana, kami akan keluarkan beberapa cincin sesuai permintaan anda “ ucap manager showroom.


Fajrin dan Divya pun berpindah tempat duduk sedikit lebih ke dalam showroom, dua pasang mata memperhatikan Fajrin dari sejak Fajrin berusaha mengajak Divya masuk. Mereka tampak berbisik-bisik sambil melihat Fajrin. Manager Showroom mengamati penampilan Fajrin yang sederhana berbeda dengan Divya yang meski pun sudah berhijab tapi masih terlihat penampilannya jauh di atas Fajrin. Manager showroom memperhatikan penampilan Divya dari ujung kaki hingga kepala.


“ berhijab dengan brand ternama.... beda dengan pak Fajrin terlihat lebih sederhana.... jangan-jangan... “ belum selesai manager showroom bergumam dalam hati, seorang pramuniaga meletakkan beberapa cincin berlian dengan logam mulai dari emas hingga palladium.


Divya menatap Fajrin tidak percaya, Fajri hanya membalasnya dengan menggengam erat tangan kanan Divya.


“ Divya pilih mana yang Divya suka..... ayang tidak mengerti perhiasan “ ucap Fajri santai dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


Tidak bisa di pungkiri bahwa Divya tergiur unutk mencoba semua bahkan ingin memiliki semua tapi Divya berusaha menahan diri dan menguatkan diri untuk memilih satu saja.


“ ayang.... Divya bingung.... semuanya bagus “ rajuk Divya membuat Fajrin gemas.


Fajrin sadar bahwa wanita sangat menyukai perhiasan, jadi Fajrin sudah mempersiapkan cincin mana yang akan dia belikan bila Divya bingung memilihnya.


Dua pasang mata yang melihat Fajrin pelan-pelan mendekat dan duduk di sofa tepat di depan Fajrin Divya.


“ kenapa kamu tidak mencobanya.... apa.... jangan-jangan kamu berpikir bahwa dia sebenarnya tidak mampu membelikanmu cincin mahal ini? “ ucapan sinis wanita itu yang tak lain adalah Mutia membuat Divya bingung.


Fajrin yang masih ingat siapa Mutia hanya bisa menahan diri agar tidak terpancing emosinya.


“ yang ini bagus..... wa..... ini mahal.... apa kamu mampu membeli ini untuk wanita cantik seperti dia? “ sekali lagi kalimat bernada sinis dan terkesan merendahkan Fajrin meluncur dengan lancar dari mulut Mutia yang tangan kanannya sambil memperlihatkan sebuah cincin yang dia coba.


Divya merasa janggal dengan kalimat Mutia.


“ ayang siapa mereka? “ bisik Divya membuat Fajrin berusaha keras agar tidak terpancing dengan kalimat yang Mutia ucapkan.


“ jangan hiraukan mereka..... Divya pilih saja “ ucap Fajrin berusaha santai.


Tapi Divya semakin curiga bahwa Fajrin menyembunyikan sesuatu darinya, Divya menatap Fajrin tidak percaya.


“ Divya pilih saja.... ayang akan beli apa pun yang Divya pilih “ ucap Fajrin sekali lagi dan membuat Divya semakin curiga.


“ bagaimana nona..... apa belum ada yang membuat nona tertarik? “ tanya Manager showroom.


Dengan isyarat tangan Manager showroom meminta seorang pramuniaga membawa lagi beberapa model cincin yang berbeda. Sebenarnya Fajrin sudah memilihkan sebuah cincin untuk Divya tapi Fajrin ingin tahu terlebih dahulu seperti apa yang Divya inginkan.


Pelan-pelan Divya mengambil sebuah cincin yang berhiaskan berlian dengan potongan berbentuk hati.


“ Divya mau ini saja “ ucap Divya sambil melihat label kecil yang bertuliskan harga cincin tersebut.


Fajrin tersenyum melihat pilihan Divya yang terlihat sangat sederhana, Fajrin juga melihat wajah keterpaksaan Divya memilih cincin itu.


“ aku ambil saja kalau kamu tidak mampu membelikannya “ ucap Mutia dan merebut cincin yang Divya pegang.


Divya jengkel dan kesal juga marah tapi saat Divya hendak membuka mulutnya untuk membalas ucapan Mutia, Fajrin segera menggenggam erat tangan kanan Divya mencoba menenangkan Divya.


“ ayang.... “ ucap Divya kesal karena Fajrin menahannya.


Fajrin menggelengkan kepala memberi isyarat agar Divya tidak membalas ucapan Mutia, apa yang Fajrin lakukan semakin membuat Mutia yakin bahwa Fajrin tidak mampu membelikan wanitanya sebuah cincin. Mutia dan temannya mencoba satu persatu semua cincin di semua jari jemari tangannya dan memandangi cincin itu dengan bangga juga sombong.


“ sepertinya ini bagus di jari jeng.... “ puji wanita teman Mutia yang membuat Mutia semakin sombong.


“ bagus ya.... aku ambil yang ini saja “ ucap Mutia sambil meminta seorang pramuniaga mendekat.


Divya kesal dengan perlakuan Mutia tapi tangan Fajrin semakin erat menggenggamnya membuat Divya hanya bisa melihat Mutia dengan tatapan kesal dan jengkel.


“ kalau cincin yang saya tanyakan di telepon tadi .... yang mana ya.... “ pertanyaan Fajrin membuat Manager showroom tersenyum.


“ yang ini pak.... silahkan “ ucap manager showroom sambil meraih sebuah kotak berwarna hitam dengan sebuah cincin berlian yang indah membuat kedua mata Divya juga Mutia terkesima.


Fajrin menerima kotak itu dan menyerahkan pada Divya.


“ kalau ayang pilih yang ini bagaimana? “ ucap Fajrin sambil menyerahkan kotak berisi cincin yang sudah dia pilih pada Divya.


Kedua mata Divya berkaca-kaca melihat pilihan Fajrin.


“ ayang..... ini bagus sekali.... bagaimana ayang tahu yang Divya mau “ suara haru Divya membuat Fajrin tersenyum dan mengeluarkan dompet dari dalam sakunya.


“ saya ambil yang ini saja.... sesuai apa yang saya katakan tadi. “ ucap Fajrin santai sambil menyerahkan kartu ATM titanium pada manager showroom.


Manager showroom dengan senang hati menerima kartu ATM titanium dari tangan Fajrin, tapi Mutia juga temannya menatap Fajrin dengan tatapan tidak percaya apa yang mereka lihat dengan mata mereka sendiri. Divya mengamati cincin pilihan Fajrin dengan rasa haru.


“ kalau ayang sudah memilihkan untuk Divya kenapa membiarkan Divya bingung memilih “ ucap Divya yang sudah mengerucutkan kedua bibirnya.


“ sengaja.... ayang ingin lihat Divya bingung “ bisik Fajrin di telinga Divya membuat Mutia geram.