
Fajrin berusaha keras menyembunyikan rasa lelah penat juga suntuknya tapi tetap saja Divya dapat merasakan semua itu.
“ ayang kenapa? “ tanya Divya sambil memeluk Fajrin.
Mungkin bagi kebanyakan orang-orang bila dunia silih berganti memgejarnya mereka akan sangat senang bahkan mungkin akan membeli berbagai barang-barang mewah atau mungkin akan melakukan perjalanan untuk bersenang-senang, tapi tidak dengan Fajrin. Semakin banyak dunia yang mengejarnya semakin Fajrin merasa terbebani dan takut, bukan takut akan kehilangan dunia yang sudah mengejarnya silih berganti tapi takut bila tidak bisa memanfaatkan seamanah mungkin.
Fajrin tersenyum menatap dan memberikan kecupan kecil di dahi Divya.
“ bagaimana desain sayang.... sudah selesai? “ tanya Fajrin mengalihkan perhatian Divya.
Divya cemberut karena pertanyaannya di jawab dengan pertanyaan oleh Fajrin.
“ ayang akan temani sayang saat festival nanti.... bang Azkar sudah memberi izin ayang “ ucapan Fajrin membuat wajah cemberut Divya seketika terlihat ceria.
Seakan lupa dengan pertanyaannya, Divya mulai menceritakan apa yang sudah dia selesaikan hari ini. Fajrin mendengarkan dengan tenang tanpa sekali pun memotong ucapan Divya, sesekali Fajrin terlihat tersenyum dan membelai rambut hitam kecoklatan Divya. Mendengarkan cerita keseharian dan rasa antusias Divya untuk mengikuti Festival busana muslim membuat Fajrin semakin yakin akan melakukan apa pada berkas-berkas kepemilikan perkebunan sawit.
Fajrin sengaja tidak ingin menceritakan hal ini pada Divya, bukan Fajrin kuatir bila Divya akan kembali seperti dulu hidup berlebih-lebihan. Tapi melihat Divya yang sangat antusias membuat Fajrin semakin yakin bahwa Divya benar-benar hijrah bukan hijrah karena dirinya. Keputusan Fajrin semakin bulat untuk mewakafkan seluruh bagiannya, Fajrin takut bila mengetahui nominal kepemilikan perkebunan akan membuatnya silau dengan dunia. Fajrin kuatir bila tidak mampu melawan bujuk rayu setan untuk menggunakan nominal kepemilikan perkebunan untuk hidup berlebih-lebihan dari apa yang sudah dia miliki sekarang. Fajrin merasa apa yang sudah dia dapat dari Rosenkrantz sudah lebih dari cukup bahkan sangat berlebihan sekali, bahkan Fajrin pun sudah mendapatkan pesan balasan dari Nara terkait bagiannya. Nara pun setuju dengan keputusan Fajrin untuk mewakafkan seluruh bagiannya.
Hari berganti hari, kehidupan rumah tangga Divya dan Fajrin semakin berwarna. Fajrin bahkan sudah menyerahkan tiga buah kartu debit titanium pada Divya, sedangkan dia sendiri memegang 2 buah kartu debit yang setiap sebulan sekali dia pakai untuk mentransfer sejumlah uang pada beberapa yayasan amal. Sedangkan 3 kartu yang Divya pegang terdiri dari satu kartu yang setiap bulan menerima transfer gaji Fajrin sebagai salah satu direktur di Surendra Corp, satu kartu setiap enam bulan sekali mendapatkan transfer sejumlah uang dari hasil pembagian keuntungan dari salah satu anak perusahan Rosenkrantz dan bukan hanya satu anak perusahaan saja yang membagikan labanya tapi beberapa anak perusahan Rosenkrantz, dan satu kartu lagi setiap akhir tahun Afkar sendiri yang akan mentransfer sepertiga dari bagian Fajrin atas laba bersih Rosenkrantz. Sedangkan yang dua pertiga Afkar transfer pada 2 kartu debit yang Fajrin pegang.
Fajrin menceritakan semua ini pada Divya membuat Divya tidak percaya bahwa ketiga kartu yang dia pegang adalah hampir seluruh harta dunia Fajrin. Divya pun berjanji hanya akan menggunakan isi kartu debit itu seizin dan sepengetahuan Fajrin.
Karir Fajrin semakin membaik, project mau pun kontrak kerjasama di bawah kesepatannya tidak ada satu pun yang bermasalah atau pun memiliki kendala yang berarti. Hidup Fajrin seakan berjalan lancar, tapi itu semua tidak membuat Fajrin tenang karena beberapa hari sebelum keberangkatannya ke Kualalumpur untuk menemani Divya.
Beberapa kali Davis menghubunginya untuk meminta bantuan agar Fajrin bersedia menjadi penghubung antara perusahan Prakash Lohia dengan Rosenkrantz group, dan Fajrin bingung sekali. Fajrin kuatir bila menolak permintaan mertuanya akan membuat mertuanya murka tapi bila Fajrin bersedia, Fajrin kuatir bila mertuanya akan kecewa dengan respon Afkar. Karena Fajrin sudah tahu bagaimanan tanggapan Afkar bila perusahaan Prakash Lohia mengajukan penawaran investasi atau pun kontrak kerja sama, Fajrin sudah paham pasti Afkar akan menyerahkan penawaran investasi atau pun kontrak kerjasama itu pada salah satu anak perusahaan Rosenkrantz yang kemungkinan besar bisa membuat Davis kecewa.
Divya tidak tahu bagaimana kondisi perusahan Prakash Lohia saat ini karena Davis tidak pernah membicarakan hal itu dengan Divya. Davis hanya bertanya tentang kondisi rumah tangga, rencana mengikuti festival busana muslim dan tentunya keberadaan seorang cucu dari pernikahan Divya dengan Fajrin. Sejak berita skandal para keturunan Prakash Lohia muncul kepermukaan membuat kondisi perusahan Davis tidak stabil karena beberapa investor menarik dananya dan beberapa kontrak kerjasama mereka batalkan, bahkan ada kontrak kerjasama yang sudah berjalan bertahun-tahun mereka berhentikan secara sepihak.
Davis menarik semua fasilitas yang dia berikan pada Ditya dan hanya memberikan Ditya sebuah apartemen kecil di daerah menengah kebawah tanpa kendaraan apa pun, bahkan Davis membatasi keuangan Ditya. Davis melakukan semua itu agar Ditya merasakan kondisi yang pernah Fajrin rasakan bertahun-tahun, Davis ingin membuat Ditya sadar bahwa apa yang pernah dia miliki tidak semudah membalikkan tangan. Bahkan Ditya harus bekerja paruh waktu di beberapa tempat karena semua kawan-kawannya menjauhinya bahkan relasi bisnis yang pernah bekerja sama dengannya tidak bersedia membantunya. Tidak hanya itu Ditya bahkan pernah dalam dua hari tidak mendapatkan sepotong roti untuk mengisi perutnya.
Bukan Davis tidak tahu atau menutup mata dengan keadaan Ditya tapi Davis justru melarang keras semua saudara juga keponakannya untuk membantu Ditya dan bila Davis mengetahui salah satu dari mereka membantu Ditya meski pun dengan sembunyi-sembunyi, Davis akan membekukan seluruh aset dan keuangan mereka. Semua orang di keluarga Prakash Lohia mencari aman masing-masing, membuat Ditya tidak berkutik dan harus belajar berdiri di kakinya sendiri.
Diam-diam Fajrin mencari tahu sendiri kondisi perusahaan Davis tanpa sepengetahuan Divya.
“ separah ini efek berita skandal mereka..... apa selama ini mereka tidak kuatir kalau suatu saat skandal yang mereka lakukan akan membuat mereka jatuh “ gumam Fajrin dalam hati.
“ berapa banyak nilai investasi yang sebenarnya papi butuhkan.....? kalau seandainya aku sendiri yang berinvestasi.... apakah mereka bisa mau menerimanya.....? tapi aku belum tahu perusahaan mereka bergerak di bidang apa saja.....? bagaimana kalau ada salah satu atau lebih dari satu bisnis mereka yang bergerak di hal-hal yang selama ini aku jauhi..... apa mereka bisa memisahkan dana investasiku dari itu semua? “ gumam Fajrin dalam hati yang terlihat jelas sangat risau juga bingung bagaimana membantu mertuanya tanpa melibatkan Rosenkrantz.
Tanpa Fajrin sadari, Divya sudah berdiri di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya di dada.
“ apa yang ayang baca sampai dahi ayang berkerut seperti itu.... “ gumam Divya dalam hati.
pelan-pelan Divya melangkah mendekati Fajrin dan berdiri tepat di depan Fajrin, tapi Fajrin masih tidak menyadari kehadiran Divya.
“ ayaaaang.... “ ucap Divya mencoba membuat Fajrin menyadari kejadirannya.
Divya menarik nafas panjang mulai kesal karena Fajrin mengabaikan panggilannya.
“ ayang.... “ suara tinggi Divya membuat Fajrin terkejut dan secara refleks menutup laptopnya.
“ ada apa sayang.... ? “ tanya Fajrin sedikit bingung.
Divya cemberut dengan pertanyaan Fajrin, Fajrin menarik nafas panjang dan menyimpan laptopnya di dalam tas punggung yang selalu dia bawa kemana pun dia pergi.