
Azkar dan Roby sesaat terkejut melihat perlakuan Fajrin pada Divya, tapi Azkar segera tersenyum karena melihat pipi Divya bersemu merah sedangkan Fajrin bersikap biasa saja. Roby masih menatap Fajrin heran.
“ kamu tidak makan? “ ucap Fajrin dan menarik mangkuk soto Roby yang belum sempat dia sentuh karena terkejut melihat sikap sahabatnya.
Roby segera sadar dan memakan sotonya, Divya mulai bisa menikmati soto betawi dan mengabaikan suasana warung yang sempit.
Selesai makan siang Fajrin membayar makanan mereka berempat, Fajrin keluar warung di ikuti Divya sementara Azkar dan Roby berjalan di belakang mereka. Fajrin sadar kalau Divya memakai high jelas dan sedikit kesulitan berjalan di jalan paving yang tidak halus.
“ tunggu disini sebentar “ ucap Fajrin dan berjalan menyeberang masuk ke sebuah warung yang menjual sandal jepit.
Fajrin kembali ke tempat Divya menunggunya dan membuka bungkus sendal jepit dan meletakkan sandal jepit tepat di kaki Divya.
“ pakai ini dulu.... nanti sampai lobi pakai sepatu lagi. “ ucap Fajrin dan berjongkok menunggu Divya melepas sepatu dan berganti memakai sandal jepit.
Azkar tersenyum melihat perlakuan Fajrin pada Divya, tapi berbeda dengan Roby. Roby membuka mulutnya lebar tidak percaya dengan perlakuan Fajrin.
“ kemasukan apa dia sampai mau berjongkok seperti itu “ suara pelan Roby membuat Azkar menepuk bahunya dengan kasar.
Roby segera sadar siapa yang dia ejek. Divya melepas high heels dan memakai sandal jepit yang Fajrin beli, Fajrin menenteng high heels Divya dan kembali berjalan. Azkar melihat apa yang Fajrin lakukan saat ini tidak jauh beda seperti saat melihat Fajrin membetulkan tali sepatu Nara. Tapi berbeda di otak Roby.
“ sok romantis “ ucap Roby pelan dan sukses mendapat pukulan di belakang kepala dari Azkar.
“ lebih enak pakai sandal jepit bukan? “ ucap Fajrin dan membuat Divya malu-malu kucing.
Mereka berjalan melewati lobi gedung cyber hingga sampai di depan lift staff Surendra, sepanjang jalan semua mata kaum adam dan hawa menatap Divya entah karena kagum dengan kecantikannya atau kagum karena keseksian tubuhnya. Selagi menunggu giliran masuk ke lift, Fajrin kembali berjongkok dan meletakkan high heels di depan kaki Divya. Setiap orang yang berada di sekitar mereka menatap Fajrin heran dan penuh tanya.
“ pak Fajrin ternyata romantis juga ya... “
“ apa itu kekasih pak Fajrin? “
“ aku kira selera pak Fajrin.... wanita yang berhijab “
“ siapa sih.... yang tidak meleleh di perlakukan seperti itu “
“ aku juga tidak akan menolak kalau pak Fajrin melakukan itu padaku “
Beberapa kalimat yang para kaum hawa ucapkan saat melihat perlakuan Fajrin pada Divya. Pintu lift terbuka satu persatu para staff Surendra yang selesai makan siang masuk ke dalam lift untuk kembali ke workstation masing-masing, karena kapasitas lift hanya untuk 18 orang maka Fajrin dan Divya menunggu lift berikutnya. Sedangkan Azkar dan Roby sudah naik dengan Lift khusus para pejabat struktural dan CEO.
Beberapa menit kemudian lift nomor 4 terbuka, Fajrin mengajak Divya masuk, belum sempat Pintu lift tertutup seseorang menahan pintu tersebut.
“ siang pak “ Salam Yuni admin baru yang menggantikan Ningsih.
Karena kesibukan Ningsih yang semakin bertambah sejak memiliki bayi, maka Ningsih memutuskan untuk berhenti bekerja tapi Fajrin meminta waktu dua minggu untuk Ningsih melatih admin baru tersebut.
“ siang “ ucap Fajrin biasa.
Tapi tidak dengan Yuni, baru kali ini Yuni berdua di dalam lift karena Yuni tidak melihat keberadaan Divya yang berdiri tepat di belakang Fajrin. Kalimat-kalimat para staff Surendra masih terngiang di telinga Divya dan membuat Divya malu, sedih, juga senang. Malu karena perlakuan Fajrin di lihat banyak orang, senang karena Fajrin memperlakukannya dengan sopan dan sedih karena ternyata saingannya banyak.
Divya menggenggam erat kemeja Fajrin bagian belakang, selama Divya tidak menyentuh kulitnya Fajrin akan membiarkan saja. Sampai di lantai tempat ruang kerja Fajrin, Yuni segera keluar di ikuti Fajrin yang menenteng sandal jepit yang tadi dia beli.
Gultom dan yang lainnya sangat terkejut melihat kedatangan Divya begitu juga dengan Ningsih yang sibuk menyiapkan apa saja yang perlu Yuni pelajari siang hingga sore ini.
“ Divya.... ada apa kemari? Itu? “ sapa Ningsih heran dan menunjuk tangan Divya yang masih memegang kemeja belakang Fajrin.
Divya dengan isyarat tangan meminta Ningsih diam, saat sudah masuk ke ruang kerja Fajrin.
“ kak.... kangen “ ucap Divya tanpa malu dan memajukan bibirnya.
Fajrin menarik nafas panjang.
“ kamu mau sholat disini apa di masjid? .... lebih baik kamu sholat di sini saja “ belum sempat Divya memberi jawaban Fajrin sudah memutuskan untuk Divya.
Divya melihat sekeliling ruang kerja Fajrin yang penuh dengan gulungan kertas kalkir tapi tidak mendapati satu pun foto dirinya mau pun foto wanita.
“ Ningsih.... tunjukkan adik ipar kamu tempat wudhu..... dan tolong pinjamkan mukena kamu...... juga tolong kamu tunjukkan arah kiblat di ruangan saya “ ucapan Fajrin sedikit membuat Ningsih terkejut karena baru kali ini Fajrin mengizinkan ada wanita lain sholat di dalam ruangannya.
“ iya pak “ ucap Ningsih dan menaeik tangan Divya.
Baru tiga kali langkah Fajrin memanggil Divya.
“ Divya.... pakai ini.... “ ucap Fajrin dan menyerahkan sandal jepit tadi.
Divya melepas high heels dan memakai sandal jepit dari Fajrin, karena Ningsih dengan cepat menarik tangan Divya hingga lupa high heelsnya maka dengan terpaksa Fajrin mengambil high heels tersebut.
“ ceroboh “ gumam Fajrin dan kembali masuk ke ruang kerjanya.
Yuni menatap Fajrin tidak percaya, hari kedua masuk kerja bertemu pria yang menjadi bosnya sudah cukup membuatnya terkesima dan kali ini melihat bosnya memperlakukan wanita cantik dengan sopan. Yuni duduk di workstation dengan masih melamun membayangkan perlakukan manis bosnya.
“ jangan melamun jangan berharap bisa lebih dekat dengan pak Fajrin..... kerja saja yang bener “ ucap Muslim yang sudah menyandarkan pahanya di meja workstation Yuni.
Beberapa menit kemudian Divya datang dengan Ningsih, wajah Divya sudah bersih dari make up semakin membuat Gultom dan yang lain menatapnya tidak percaya.
“ padahal tidak pakai make up pun cantik lo.....” ucap Ryan dan sukses mendapatkan pukulan pelan di kepala dari Irvan.
“ kalau bicara di pikir dulu...... siapa yang kamu lihat.... kedengaran sama yang punya.... bisa jadi besok bonus kamu di potong. “ ucap Irvan dan membuat Ryan kicep.
Sementara di ruang kerja Fajrin, Divya sholat Dhuhur tepat berada di sudut ruangan Fajrin. Ningsih dan yang lainnya dapat melihat mereka berdua karena ruang kerja Fajrin hanya bersekat kaca. Selesai sholat Divya melipat mukena dan sajadah.
“ Sajadahnya biarkan saja di situ.... mukenanya kamu kembalikan ke kakak ipar kamu “ ucap Fajrin sambil membuka 1 kertas kalkir dari project mess karyawan di pulau Masela.
Divya duduk di sofa dan memandang sosok Fajrin yang serius menatap kertas kalkir yang dia pegang tanpa merasa terganggu dengan keberadaannya.
“ sudah puas melihat kakak? “ tanya Fajrin sambil menggulung kertas kalkir.
“ belum.... Divya masih kangen sama kak Fajrin “ Fajrin menarik nafas panjang mendengar ucapan Divya.
Fajrin mengambil high heels dengan berlutut meletakkan di depan kaki Divya.
“ Divya.... kakak hari ini sibuk sekali.... kamu pulang ya.... “ ucap Fajrin sambil menarik sandal jepit dari kaki kiri Divya.
“ tapi Divya masih kangen.... “ ucap Divya cemberut.
“ besok lusa kita jalan.... sesuai janji kakak.... kalau kita sudah di Jakarta.... kita akan jalan..... “ ucap Fajrin mencoba merayu Divya untuk segera pulang.
“ janji “ ucap Divya senang
Fajrin menganggukan kepala dan menarik sandal jepit di kaki kanan Divya, menyodorkan high heels Divya.