
Fajrin, Divya dan Davis mengambil penerbangan pertama menuju Singapore. Davis meminta mereka memeriksakan diri karena Davis ingin segara memiliki cucu dari Divya dan Fajrin.
Tepat pukul 9 lebih 15 menit pesawat mendarat di bandara international changi, Divya menggenggam erat tangan kiri Fajrin. Ada rasa cemas juga kuatir dalam diri Divya, Fajrin dapat merasakan hal itu karena genggaman tangan Divya semaki erat saat mereka sudah berada di area luar bandara. Ternyata Davis sudah menyiapkan semua apa saja yang Fajrin juga Divya butuhkan selama di Singapore, terlihat seseorang yang sudah menunggu mereka sedari setengah jam lalu. orang itu mengantar mereka menuju Mount Elizabeth Fertility Center, Davis sudah membuat janji untuk Divya mau pun Fajrin.
Sampai di Lobi Mount Elizabeth, Davis segera mencari seorang tenaga medis yang sudah dia kenal. Tidak menunggu lama datanglah orang tersebut dan terlihat berbincang-bincang sangat akrab dengan Davis, entah apa yang mereka bicarakan tapi sesekali tenaga medis tersebut terlihat beberapa kali melihat Divya juga Fajrin. Divya semakin merasa gugup dan takut, Divya kuatir bila yang tidak sehat adalah dirinya, Divya takut bila dirinya yang bermasalah selama ini dan takut bila Fajrin akan menceraikan dirinya. Otak Divya serasa penuh dengan pemikirannya sendiri, genggaman tangannya semakin erat membuat Fajrin merasa sedikit sakit di tangan kirinya tapi Fajrin mengabaikan itu. Fajrin seperti merasakan apa yang membuat Divya merasa seperti ini.
Beberapa menit kemudian tenaga medis tersebut meminta seorang perawat mengantarkan Divya juga Fajrin untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, selama Divya melakukan serangkaian pemeriksaan tidak sekalipun Divya melepas genggaman tangannya di tangan kiri Fajrin. Meski pun beberapa kali tenaga medis yang hendak memeriksanya meminta melepas genggaman tangan Divya, tapi Divya mengabaikannya.
Bahkan saat giliran Fajrin yang harus melakukan pemeriksaan pun, Divya tidak mau melepas genggaman tangannya. Hingga saat seorang tenaga medis memberikan sebuah tabung kecil untuk menampung benih Fajrin, Divya dengan cekatan menerimanya. Divya paham apa yang akan dia lakukan untuk bisa mengeluarkan benih milik Fajrin.
Pada awalnya Fajrin mau pun Divya bingung bagaimana mengeluarkan benih Fajrin sedangkan tenaga medis tersebut berpesan bahwa mereka harus berusaha agar benih tersebut tidak terkena udara. Butuh waktu yang lumayan lama untuk mengeluarkan benih Fajrin, disinilah Divya harus berusaha keras mengeluarkan benih Fajrin secara oral. Setelah selesai melakukan serangkaian pemeriksaan mereka tidak bisa kembali pulang ke Jakarta karena dua hari kedepan hasil dari serangkaian pemeriksaan itu baru keluar dan dokter akan menjelaskan pada mereka.
Davis membawa mereka bermalam di sebuah apartemen yang sudah Davis sewa untuk beberapa malam selama mereka berada di Singapore. Divya mau pun Fajrin terlihat jelas merasa sangat penat seharian penuh melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan tersebut dan di sela-sela mereka menikmati langit senja, Divya mencoba mencari tahu dengan ponselnya apa saja pemeriksaan yang sudah mereka lakukan dan kemungkinan dari hasil pemeriksaan tersebut. Divya terlihat tidak tenang dan semakin merasa gugup menunggu hasil pemeriksaan yang dua hari lagi baru mereka ketahui.
Selama menunggu jadwal hasil dari serangkaian pemeriksaan yang sudah mereka lakukan, Fajrin selalu mengajak Divya mengisi waktu dengan murojaah, karena Fajrin tahu betul Divya sangat gugup juga takut menunggu hasil dari serangkaian pemeriksaan tersebut.
Hingga tiba hari yang mereka tunggu-tunggu dari sejak selesai makan pagi, Divya sudah tidak sabar untuk segera pergi ke Mount Elizabeth. Divya terlihat bersemangat di mata Davis tapi tidak bagi Fajrin, dari luar Divya terlihat bersemangat tapi dari sorot mata yang Fajrin perhatikan bahwa Divya berusaha keras menutupi rasa gugup dan takutnya.
Tepat pukul sebelas lebih sepuluh menit, Divya dan Fajrin juga Davis sudah berada di ruang tunggu menunggu giliran mereka untuk menerima penjelasan dari hasil serangkaian pemeriksaan mereka. Kedua tangan dan kaki Divya terasa sangat dingin sesekali Fajrin mengeratkan genggaman tangannya berharap rasa dingin di kedua tangan Divya perlahan-lahan menjadi hangat. Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun sampai juga, Davis masuk terlebih dahulu di ikuti Divya juga Fajrin. Terlihat seorang perawat membantu merapikan berkas hasil pemeriksaan mereka di meja dokter.
Tanpa basa basi dokter tersebut mulai menjelaskan hasil dari serangkaian pemeriksaan yang Divya lakukan
(uterus dalam keadaan normal..... tuba fallopi juga tidak ada penyumbatan.... tidak ada kista atau pun polip di dinding uterus.... tidak ada radang panggul..... pemeriksaan darah tidak ada indikasi kadar progesteron di luar batas normal) “ belum selesai Dokter tersebut menjelaskan, Divya menyela.
“ what about the number and size of my eggs, doctor
(bagaimanan dengan jumlah dan ukuran sel telur saya, dokter) “ Fajrin terkejut juga tidak percaya bahwa Divya menyela pembicaraan dokter.
“ sayang.... dokter belum selesai “ suara pelan Fajrin membuat Davis juga dokter tersebut tersenyum tipis melihatnya.
“ the egg count is normal..... but your egg size is sixteen millimeters (jumlah sel telur normal..... tapi ukuran sel telur anda enam belas milimeter) “ mendengar jawaban dokter sudah membuat hati dan dada Divya terasa sakit.
Seketika genggaman tangannya tidak lagi erat, Fajrin tidak tahu maksud dari ucapan dokter tersebut dan terlihat sedikit bingung.
“ what do you mean doctor (maksud Dokter)? “ tanya Fajrin memperjelas jawaban dokter tersebut.
“ At birth, each woman can have a reserve of between 700,000 to 2 million eggs in her body. The number of egg cell reserves will continue to decrease with age. Usually, when entering puberty, the remaining egg cells in a woman's body are only 300,000 to 400,000. And of all that, only about 500 eggs will be used in the process of releasing eggs that have matured and are ready to be fertilized. Each month, a number of eggs will develop. However, only one or two mature and are then released from the ovary or ovulation. Normally, the size of an egg ready to be fertilized is about eighteen to twenty-four millimeters. (Saat lahir, setiap wanita bisa memiliki cadangan sel telur antara 700.000 hingga 2 juta dalam tubuhnya. Jumlah cadangan sel telur ini akan terus berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Biasanya, saat memasuki usia pubertas, sisa sel telur yang ada dalam tubuh wanita hanya tinggal 300.000 hingga 400.000 saja. Dan dari semua itu, hanya sekitar 500 sel telur yang akan digunakan dalam proses pelepasan sel telur yang telah matang dan siap untuk dibuahi. Setiap bulannya, sejumlah sel telur akan berkembang. Namun, hanya satu atau dua yang matang dan kemudian dilepaskan dari ovarium atau ovulasi. Normalnya, ukuran sel telur yang siap untuk dibuahi adalah sekitar delapan belas sampai dua puluh empat milimeter.) “ Divya serasa lemas saat mendengar kalimat terakhir dari penjelasan dokter.
Fajrin merasakan genggaman tangan Divya pelan pelan merenggang dan Fajrin dengan cepat mengenggamnya kembali.