My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 163 HANTARAN



Sudah tidak ada lagi beban pikiran yang ada hanya kebahagiaan saja, tapi masih ada yang mengganjal di otaknya yaitu hantaran yang Divya Inginkan yang sekiranya tidak merendahkan dirinya di hadapan keluarga besar Lohia dan Prakash. Fajrin memainkan penanya memikirkan barang-barang apa saja yang kemungkinanan Divya inginkan, Fajrin mencoba mencari di internet beberapa brand produk fashion yang mungkin Divya inginkan. Bahkan Fajrin mencoba menghubungi nomor kontak dari brand fashion tersebut untuk sekedar menanyakan ketersedian barang yang dia maksud. Akhirnya Fajrin mencatat beberapa brand produk fashion yang akan dia tunjukkan pada Divya dan meminta pendapat Divya.


Pulang kerja seperti biasa Fajrin langsung meluncur ke kediaman Davis, Divya sudah terlihat cantik menunggu Fajrin di ruang tengah.


“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin.


“ Wa'alaikumsalam, ayang.... ayo sholat Magrib dulu.... “ ajak Divya membuat Fajrin mengikuti langkahnya.


Ternyata di dalam ruangan yang sudah Davis sulap menjadi mushola telah menunggu Nenek Ina, Davis dan beberapa pelayan. Setelah Sholat Magrib mereka berempat duduk di meja makan, Fajrin sudah mulai terbiasa dengan suasana makan malam seperti ini. Setelah makan malam Davis mengajaknya duduk di ruang tengah untuk membahas acara lamaran sekaligus pertunangan mereka, sudah sejauh ini Fajrin tidak bisa merubah rencana para orang tua.


“ terserah papi bagaimana baiknya..... Fajrin akan mengikuti semua saran papi “ Davis tersenyum mendengar jawaban Fajrin.


Divya yang baru dari ruang makan membawa dua piring besar potongan buah segar dan makan kecil, meletakkannya di meja depan sofa yang Davis dan Fajrin duduki.


“ papi sedang membicarakan apa dengan ayang? “ tanya Divya ingin tahu.


“ ini ada beberapa saran dari saudara sepupu juga tante kamu “ ucap Davis sambil menunjukkan dua lembar kertas yang bertuliskan apa saja yang harus Fajrin siapkan saat acara lamaran nanti.


Divya membaca dua lembar kertas itu dan terlihat kedua matanya yang tidak suka membaca apa yang sudah mereka sarankan.


“ papi.... Divya tidak butuh ini.... ini..... ini.... juga ini.... Divya sudah pernah memiliki ini semua.... “ ucap Divya kesal.


“ papi tahu kamu sudah pernah memiliki ini semua.... kalau kamu tidak mau kamu bisa menggantinya dengan brand yang lain.... papi yakin Fajrin sudah menyiapkan itu “ ucal Davis yang berusah menenangkan Divya.


Karena terlihat jelas kedua mata Divya yang tidak suka dengan apa yang dia baca.


“ ayang tahu apa ini semua? “ tanya Divya sedikit ragu.


Fajrin menganggukan kepalanya sambil mengeluarkan secarik kertas yang sedari pulang kantor dia simpan di saku kemejanya.


“ kalau di ganti dengan ini bagaimana? “ ucap Fajrin sambil menyerahkan secarik kertas yang dia lipat seukuran setengah telapak tangannya.


Divya membaca tulisan di secarik kertas yang Fajrin serahkan, terlihat jelas sorot mata Divya yang bingung juga heran karena tidak mengenal satu pun brand Fashion yang sudah Fajrin tulis.


“ mmmm..... apa ada yang Divya tidak suka? “ tanya Fajrin ragu.


Divya menyerahkan kertas yang dia pegang pada Davis seketika Davis menatap Fajrin tidak percaya, karena nama brand yang Fajrin tulis adalah brand yang menjadi incaran para wanita muslim di timur tengah mau pun di negara barat.


“ hahahaha...... kamu bahkan mencatat dimana kamu bisa mendapatkan semua brand ini..... Divya.... brand ini sangat terkenal di kalangan wanita muslim kelas atas di Canada mau pun Eropa..... memang brand ini pertama kali memperkenalkan produk mereka di timur tengah tapi lambat laun pasar mereka menjadi wanita kalangan kelas atas..... apa lagi brand ini..... papi pernah melihat sendiri rekan bisnis papi membanggakan produk ini..... kalau kamu tidak mengenal brand ini.... papi bisa maklum karena kontrak yang selama ini kamu jalani tidak ada nama brand-brand ini “ ucap Davis yang tidak percaya dengan apa yang sudah Fajrin siapkan untuk putrinya.


Fajrin merasa malu dengan ucapan Davis, tapi mau bagaimana lagi. Kali ini Fajrin tidak ingin pengalaman pahit di masa lalunya terulang kembali, meski pun restu dari Davis sudah dia dapat tapi bukan berarti ucapan keluarga besar Davis bisa dia anggap sepele.


“ ayang yakin.... mau membawa hantaran itu semua? “ tanya Divya yang masih tidak percaya.


“ iya.... akhir pekan sebelum pernikahan Norin.... ayang akan belikan apa pun yang Divya mau “ suara pelan Fajrin sekali lagi membuat Davis sulit percaya dengan kemampuan keuangan Fajrin.


Davis masih belum tahu hubungan detail Fajrin dengan keluarga Rosenkrantz, bahkan Davis tidak tahu siapa Erhan sebenarnya.


Sesuai dengan janji Fajrin, akhir pekan ini Fajrin mengajak Divya untuk pergi ke beberapa showroom brand pakaian muslim yang sudah dia catat. Karena kemungkinan besar akan banyak barang yang Divya beli, dengan terpaksa Fajrin meminjam mobil Azkar. Tentu saja Azkar dengan senang hati meminjamkan mobil pada Fajrin, karena baru kali ini Fajrin datang sendiri meminjam mobil padanya. Bila sebelum-sebelumnya selalu Azkar yang memaksa Fajrin untuk membawa mobilnya dan Fajrin selalu menolak dengan alasan rumah tinggalnya berada di gang yang hanya cukup di lewati satu mobil.


Fajrin mulai memikirkan untuk membeli mobil sendiri tapi dia akan melakukannya setelah menceritakan semua ini pada Nara atau setidak-tidaknya pada Afkar.


Di sebuah mall terbesar di daerah jakarta pusat, ini pertama kalinya Fajrin masuk ke mall ini dan pertama kalinya Fajrin berbelanja barang-barang branded. Fajrin menunjukkan letak showroom brand pakaian muslim yang alamat detailnya sudah dia simpan di ponsel, hati Divya berbunga-bunga dengan apa Fajrin lakukan hari ini. Setelah mengunjungi 5 showroom brand pakaian muslim, kedua tangan Fajrin sudah penuh dengan tas kertas yang berisi semua pakaian juga hijab yang Divya pilih.


“ ayang capek? “ tanya Divya yang melihat Fajrin terduduk tepat di depan sebuah showroom yang menjual berbagai macam tas juga sepatu dari salah satu brand yang Fajrin catat.


“ masih ada lagi yang ingin Divya inginkan? “ tanya Fajrin berusaha menyembunyikan rasa lelahnya.


“ boleh tidak kalau itu “ tunjuk Divya pada sebuah sepatu berhak setinggi 12 centimeter.


“ Divya boleh pilih sepatu apa saja..... tapi harus flat shoes tidak boleh berhak apa lagi hak setinggi itu..... ayang tidak suka “ ucapan tegas Fajrin hanya mendapati bibir Divya yang mengerucut.


Pada akhirnya Divya menentukan pilihannya pada flat shoes Attila dan sendal dengan hak setinggi 5 centimeter, Fajrin menyerah pada permintaan Divya yang akhirnya Fajrin haru menggesek kartu ATM titanium senilai 109 juta untuk dua pasang alas kaki yang Divya pilih. Tanpa Fajrin sadari bahwa apa yang dia lakukan saat ini menarik perhatian seseorang yang sedari tadi memperhatikannyan, tapi saat Fajrin dan Divya keluar dari showroom sepatu tersebut kedua mata Fajrin secara tidak sengaja bertemu dengan orang yang memperhatikannya. Fajrin menundukkan kepala memberi salam pada orang tersebut yang tak lain adalah Mutia.


“ ayang.... boleh beli itu? “ tunjuk Divya pada sebuah tas.


Fajrin hanya memganggukan kepala dan Divya sudah masuk ke dalam showroom Hilde Palladino. Mutia masih memperhatikan Fajrin dengan seribu pertanyaan muncul di otaknya, meski pun Fajrin lewat di depannya tidak sekali pun Fajrin menyapanya. Fajrin tidak ingin membuat Divya bertanya-tanya tentang siapa wanita itu, saat ini Fajrin hanya ingin berusaha agar tidak ada lagi yang memandangnya dengan sebelah mata.