
“ ayang..... “ ucap Divya dengan manja memeluk lengan kiri Fajrin.
Fajrin memberikan ciuman kecil di kepala Divya.
Sepanjang perjalanan menuju bandara tak henti-hentikanya Fajrin mencium punggung tangan kanan dan kepala Divya membuat supir Azkar merasa tidak nyaman juga kikuk sendiri.
Melihat dua orang pengawal Azkar yang sudah menunggu di pintu keberangkatan VVIP membuat Divya heran.
“ ayang... kita mau kemana? “ tanya Divya heran.
Fajrin membisikkan sesuatu dan sukses membuat wajah Divya bersemu merah. Tanpa basa basi para dua orang pengawal Azkar langsung mengantar Fajrin dan Divya menuju tepat private jet Sundth air berada.
Melihat interior private jet yang sangat mewah dan dengan sedikit hiasan membuat Fajrin dan Divya tersenyum malu pada seorang parmugara.
Penerbangan menuju bandara international Miyako pulau Miyakojima di tempuh dalam waktu enam jam tiga puluh lima menit. Sepanjang penerbangan Divya selalu menyandarkan wajahnya di lengan kiri Fajrin membuat Fajrin berkali-kali mencium puncak kepala dan punggung tangan kanan Divya.
Setelah menempuh penerbangan panjang tepat pukul tujuh lebih lima belas menit waktu pulau Miyakojima atau sembilan lebih lima belas menit malam waktu Jakarta, private jet Sundth air mendarat di bandara Miyako. Fajrin dan Divya bertemu dengan seseorang yang sudah menunggu mereka dan siap mengantarkan mereka ke sebuah resort yang berada di tepi pantai dengan fasilitas private pool. Resort berbentuk cottage atau villa dengan tarif permalam lebih dari tujuh juta rupiah.
“ sir..... this is your cottage.... if you need anything.... you can contact me (tuan..... ini cottage anda.... bila anda membutuhkan sesuatu.... anda bisa menghubungi saya) “ ucap orang itu yang ternyata salah seorang kepercayaan Azkar
“ thanks (terima kasih) “ ucap Fajrin sambil menutup pintu cottage.
Suasana seketika menjadi aneh dan canggung bagi mereka berdua, Divya dengan pelan dan rasa gugup mencoba melepas hijab yang masih menutupi rambutnya. Fajrin menatap Divya tidak berkedip sama sekali, jantung Fajrin berdetak lebih cepat dari biasanya serasa aliran darah mengalir lebih cepat dan sesuatu dari dalam dirinya ingin sekali segera memiliki Divya sepenuhnya. Divya semakin gugup karena tatapan mata Fajrin yang tidak mau lepas dari dirinya.
“ ayang..... mau.... sekarang “ ucapan Divya terbata karena rasa gugup.
Fajrin tersenyum dan berjalan mendekati Divya, melingkarkan lengan kiri di pinggang dan tangan kanan menyusup di sela-sela rambut Divya
“ kita sholat jamak takhir Magrib dan Isya dulu..... “ ucap Fajrin pelan dan perlahan mendaratkan kedua bibirnya di bibir Divya.
Mencium sesaat apa yang sudah halal baginya membuat pemilik bibir menginginkan lebih, tapi sesaat kemudian Fajrin melepas tautan bibir mereka.
“ sayang mau mandi dulu atau ayang mandi dulu ?” pertanyaan Fajrin membuat kedua pipi Divya bersemu merah.
Karena Divya hanya membawa koper kecil dengan pakaian yang menempel di dirinya saja, Fajrin menyerahkan sebuah kemeja untuk Divya pakai setelah selesai membersihkan diri. Menunggu Divya selesai mandi membuat Fajrin berhalusinasi akan apa yang di lakukan pada Divya nanti, setelah menunggu beberapa menit kemudian Divya keluar dengan hanya mengenakan kemeja miliknya yang mengekspose kulit kaki Divya. Fajrin serasa sulit menelan ludahnya sendiri tapi Fajrin berusaha agar tidak meminta haknya sebelum kewajibannya selesai.
“ ayang lihat apa..... ayang mandi dulu “ ucapan Divya membuat Fajrin sadar akan lamunannya.
Salah satu hal yang membuat Divya bahagia saat ini adalah Fajrin berdiri di depannya sebagi Imam sholat, mendengar setiap ayat yang Fajrin baca membuat Divya tanpa sadar meneteskan air matanya. Selesai sholat Divya mendengar sayup-sayup suara dzikir dan doa Fajrin, tak terasa kembali Divya meneteskan air matanya mendengar doa yang Fajrin ucapkan.
“ ayang...... apa selama ini ayang menahan semua rasa ini..... “ gumam Divya dalam hati mendengar doa Fajrin yang mendoakan semua orang yang berada di sekitarnya.
Air mata Divya kembali menetes saat Fajrin menyebut namanya.
“ Ya ALLAH..... ampuni semua dosa-dosa masa lalu istriku dan jadikan istriku salah satu bidadari SurgaMU “ air mata Divya menetes membasahi kedua pipinya mendengar doa Fajrin.
Divya tidak mampu berkata-kata bahwa keinginan Fajrin pada dirinya hanya dua hal itu.
Selesai berdzikir Fajrin memutar posisi duduknya dan mendapati kedua mata Divya yang terlihat jelas sembab.
“ sayang...... temani ayang hingga nafas terakhir ayang “ Divya menganggukan kepala menjawab permintaan Fajrin.
“ ayang juga harus berjanji.... temani Divya selamanya...... apa pun yang akan kita lalui nanti.... ayang harus berjanji selalu bersama Divya “ pinta Divya membuat Fajrin tersenyum dan menganggukkan kepala.
Mereka terdiam saling menatap mata seperti berbicara dengan batin dan mata mereka. Dengan ibu jarinya Fajrin menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi kedua pipi Divya, menyusuri dan membelai setiap kulit wajah dan berhenti di kedua bibir Divya. Dengan satu gerakkan Fajrin sudah menghisap bibir bawah dan memaksa Divya membuka mulut, indera pengecap Fajrin menyusuri setiap kulit dinding mulut hingga membuat Divya kesulitan bernafas.
Fajrin melepas tautan bibirnya dan membantu Divya melepas mukena hingga menyisahkan kemeja miliknya yang masih menutupi kulit Divya. Dengan sigap Fajrin mengangkat dan meletakkan Divya di sebuah ranjang yang akan menjadi pergulatan pertama mereka, kedua pipi Divya bersemu merah hingga leher membuat Fajrin tersenyum gemas.
“ Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa ( Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami. “ gumam Fajrin pelan sambil melepas satu kancing kemeja yang dia pakai.
Meski pun doa Fajrin pelan tapi Divya masih bisa mendengarnya dengan jelas. Fajrin melepas kain yang masih menutupi kulitnya dan saat Fajrin memperlihatkan otot-otot pectoralis major, serratus anterior, external oblique, rectus abdominic, triceps juga biceps membuat Divya menatapnya dengan tatapan mata yang terlihat sangat jelas terpesona dengan penampilan otot-otot Fajrin. Otot dengan massa lemak kurang dari lima belas persen membuat otot-otot tersebut terlihat lebih menonjol.
“ suka.... “ pertanyaan singkat Fajrin membuat Divya serasa tersihir dan menganggukkan kepala dengan senyum malu.
Fajrin tersenyum dan melepas kain yang masih menutupi kulit bagian bawah, seketika nafas Divya terasa tertahan karena melihat otot-otot sartorius, rectus femoris dan gracilis yang tidak kalah memikatnya dengan bagian atas. Melihat sesuatu yang lebih menonjol dari yang lain membuat Divya tersipu malu tidak dapat membayangkan ukuran di balik kain yang masih menutupi aset berharga Fajrin. Dengan perlahan Fajrin mengurung Divya di bawahnya dan ******* kedua bibir Divya, membuat pemilik bibir hanya bisa pasrah membiarkan Fajrin mengambil apa yang sudah halal bagi Fajrin.