My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 127 GOLD DIGGER



“ terima kasih sudah mengantarku pulang, tapi kamu masih berhutang banyak penjelasan padaku.... dan aku akan selalu mengingatnya sampai kamu menjelaskan semua “ ucap Fajrin dengan nada dingin dan cukup membuat Dipta mengumpat.


“ istirahatlah dulu..... akan aku cerita bila aku sudah menemukan jawabannya. Assalamualaikum “ ucap Dipta dan melajukan mobilnya.


“ wa'alaikumsalam “ balas Fajrin dan membuka pagar rumahnya.


Fajrin masuk ke dalam rumah berusaha terlihat normal tidak terjadi apa-apa tidak ingin membuat Nara menangis atau pun sedih.


“ Assalamualaikum ” salam Fajrin.


“ wa'alaikumsalam ” teriak Nara dari dapur.


“ buat apa dik? Wangi sekali baunya.... ” ucap Fajrin yang sudah meletakkan tas punggung dan jaketnya di sembarang tempat.


“ Nara buat sup sarang telur..... kakak sudah makan pagi? ” tanya Nara sambil mengaduk masakannya.


“ kakak mandi dulu ya.... nanti kita makan pagi sama-sama. ” Fajrin sudah melangkahkan kakinya masuk kamar kamar mengambil pakaian rumahan dan masuk ke kamar mandi.


Fajrin tampak lebih segar setelah mandi dengan mengenakan celana polo selutut warna hitam dan t-shirt berwarna biru, Nara melihat sorot mata Fajrin yang terlihat berusaha menutupi sesuatu tapi Nara berusaha mengabaikan pikiran jelek ini.


Kedua kakak beradik ini makan pagi dengan tenang tanpa suara tanpa pembicaraan apa pun. Selesai makan pagi Fajrin membersihkan peralatan makan yang mereka gunakan.


“ dik.... hari ini tidak ada kompetisi? ” tanya Fajrin membuyarkan lamunan Nara.


“ tidak kak..... mas Afkar membatalkan satu kontrak dan menolak satu tawaran kontrak...... mungkin sampai satu minggu kedepan tidak ada jadwal kompetisi. Kenapa kak? ” tanya Nara heran.


“ kalau begitu kita kencan bagaimana? ” ajakan Fajrin membuat Nara terkejut.


“ bagaimana kita jalan-jalan ke dufan..... mencoba semua wahana seperti yang dulu kita lakukan? ” pertanyaan Fajrin membuat Nara semakin heran.


“ mmmmm..... Nara ingin coba ice skating " ucapan Nara membuat Fajrin tersenyum bahagia.


“ ayo..... kita main ice skating.... ” Fajrin senang melihat adiknya menjadi bersemangat.


Fajrin mengajak Nara ke sebuah mall dengan menggunakan aksi, sepanjang siang hingga sore hari Fajrin menemani Nara berjalan-jalan. Meski pun saat ini Fajrin sedang berada di keramaian mall, tapi otaknya masih memikirkan kejadian semalam. Mata dan tangan serta mulut saat ini membantu adiknya memilah beberapa coat, tapi otaknya berpikir keras mengingat setiap detail kejadian semalam dari mulai keluar gedung Surendra, samar-samar Fajrin mulai mengingat beberapa wajah yang selalu berada tidak jauh darinya.


“ 3 pria itu selalu ada tidak jauh dari kami, bahkan saat Divya mengajak masu ke cafe pun. Mereka ikut masuk dan duduk tak jauh dari tempat kami duduk..... apa mungkin salah satu dari mereka bertiga yang memasukkan sesuatu ke minumanku “ gumam Fajrin dalam hati sambil kedua tangannya menyerahkan sebuah long coat berwarna hitam pada Nara.


Saat kakak beradik ini sibuk dengan apa yang ada di hadapannya dan pikiran masing-masing seseorang memperhatikan mereka dengan menahan emosi.


“ jangan melihat total belanjanya.... Afkar tidak akan mempermasalahkan ini semua..... kakak yakin dia akan senang pada akhirnya adik menggunakan kartunya. ” ucapan Fajrin membuat Nara mengurungkan niatnya untuk melihat struk belanja yang sudah di pegang Fajrin.


“ banyak sekali barang yang Nara beli..... ” gumam Nara pelan.


Meskipun pelan tapi Fajrin masih bisa mendengarnya dan segera membelai bagian belakang niqab adiknya.


“ bagi Afkar ini masih sedikit..... ” ucap Fajrin yang masih membelai kepala Nara.


“ pasti mas Afkar tahu kalau Nara tidak suka beli-beli barang-barang mahal..... makanya mas Afkar bilang ke kakak..... “ ucap Nara sedikit cemberut.


pelan-pelan seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka melangkah mendekati Fajrin dan berdiri tepat di belakang Fajrin.


“ ayang..... ” suara yang tidak asing di telinga Fajrin dan membuat tersentak melihat kebelakang.


Fajrin terkejut melihat Divya yang sudah berdiri di belakangnya.


“ ayang...? ” tanya Nara heran pada Fajrin sambil memiringkan kepalanya


Fajrin menghela nafas panjang.


“ ayang..... ini siapa? “ tanya Divya yang mulai sedikit emosi.


“ kak..... ini calon kakak ipar Nara ya....? ” bisik Nara yang sudah berpindah posisi ke belakang Fajrin dan memegang lengan kiri Fajrin.


Melihat wanita bercadar bisa memegang lengan Fajrin tanpa ada sedikit pun penolakan dari Fajrin membuat hati Divya terasa sakit


“kakak ipar.... kakak ipar" bisik Nara berkali-kali tapi pelan.


“adik....” ucap Fajrin menyuruh Nara diam.


“ayang.... kenapa diam? Siapa dia?” kedua mata Divya mulai berkaca-kaca.


“ayo ikut kami..... aku jelaskan semua....” ucap Fajrin yang sudah melangkahkan kakinya keluar butik sambil menggenggam tangan kanan Nara dengan santai.


Divya merasa cemburu ingin menangis melihat Fajrin bergandengan tangan dengan wanita bercadar, sedangkan selama ini setiap kali Fajrin hendak melarangnya selalu saja mengenakan sarung tangan. Berbeda dengan sekarang, tanpa sarung tangan Fajrin menggenggam tangan wanita bercadar yang jalan di samping Fajrin. Perasaan Divya yang campur aduk ingin sekali marah juga menangis keras terpaksa mengikuti langkah kaki Fajrin. Sampai di sebuah cafe Fajrin berbicara pada seorang pelayan dan mereka mengikuti langkah kaki pelayan itu.


“kenapa harus ruangan tertutup sih..... apa dia tidak mau ketahuan kalau dia sudah berselingkuh...” gumam Divya yang masih berusaha menahan tangis.


Nara meletakkan kantung-kantung barang belanjaan tak jauh dari kursinya dan duduk bersebelahan dengan Fajrin sedangkan Divya saat hendak duduk, Fajrin memintanya untuk duduk di hadapan Nara. Mau tak mau akhirnya Divya terpaksa duduk berhadapan dengan Nara, seorang pelayan perempuan masuk dan menyerahkan daftar menu.


“sialan.....ternyata wanita ini terlihat lebih muda dari cara berpakaiannya dan cantik pula. Apa wanita seperti ini yang diinginkan ayang....” gumam Divya dalam hati saat melihat Nara membuka kain niqab.


“ kenapa dia menutupi kecantikannya? Kenapa tidak membiarkan orang-orang melihat kecantikanmu? “ gumam Divya dalam hati sambil memperhatikan Nara dengan heran


Divya sibuk dengan logikanya yang tidak bisa dia selesaikan hingga membuatnya lupa kenapa mengikuti Fajrin, kadang Divya melihat Nara dan kadang melihat penampilan dirinya seperti sedang membandingkan penampilannya dan penampillan wanita bercadar yang duduk di depannya. Fajrin tersenyum getir melihat Divya memperhatikan adiknya.


“apa yang kamu pikirkan tentang adikku? sejijik itukah kamu melihat adikku?” gumam Afkar dalam hati.


Seorang pelayan masuk membuat Divya tersadar dari lamunannya.


“kenapa memilih meja yang tertutup begini? Apa ayang malu bila orang-orang tahu kalau ayang laki-laki munafik....?” suara keras Divya membuat Fajrin menegakkan posisi duduknya, tapi tidak dengan Nara yang melihat Fajrin dengan tatapan sedikit mengejek.


“ternyata benar yang bang Ditya bilang..... ayang cuma laki-laki gold digger...... “ ucap Divya yang sudah mulai meneteskan air mata.


Divya mengeluarkan kata-kata yang sedari tadi dia tahan yang menurutnya bisa merendahkan harga diri Fajrin. Fajrin hanya mendengarkan semua ucapan Divya tanpa berusaha menyela atau pun menenangkannya hanya mengusap kasar wajahnya dengan tangan kanan. Fajrin memilih diam membiarkan Divya menyelesaikan kata-katanya hingga puas menangis seperti yang dia lakukan pada Nara.