My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 42 FITNAH



“semester ini ada satu mahasiswa yang tidak perlu mengikuti UAS mata kuliah saya" ucap Heru dosen mata kuliah pengenalan bahasa intercal.


Heru kemudian menuliskan satu NIM di sebuah whiteboard, seluruh mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Heru terkejut melihat NIM yang tertulis di whiteboard.


“NIM siapa itu?”


“gila..... itu NIM maba?”


“maba?”


“anak semester satu?”


“yang memiliki NIM ini nilai mata kuliah saya A+” ucap Heru dengan tegas.


Seketika seisi ruangan gaduh, para mahasiswa baru dan mahasiswa senior yang mengulang mata kuliah saling menebak siapa mahasiswa yang sudah berhasil menyelesaikan tugas bahasa pemprograman tersulit yang menjadi momok bagi para mahasiswa senior.


“Ra.... NIM kamu" bisik Siska dengan mencondongkan tubuhnya sedikit kedepan membuat Nara sedikit geli


“Alhamdulillah" ucap Nara pelan tapi terdengar jelas oleh Siska.


Siska tersenyum mendengar jawaban sahabatnya, tanpa mereka berdua sadari ada sepasang mata mengawasi gerak gerik mereka dari sejak Heru selesai menuliskan sepuluh angka deretan NIM.


“dari samping pun terlihat cantik meskipun hanya sudut mata yang terlihat” gumam mahasiswa senior yang juga panitia ospek.


Semester pertama seluruh mahasiswa mengenakan bawahan gelap dan atasan cerah, kecuali Nara yang dari atas sampai bawah semua berwarna gelap.


“lihat apa bro...”


“maba target kamu ya....”


“target? yang mana?”


kalimat yang tiga orang mahasiswa senior tanyakan pada mahasiswa senior yang memperhatikan Nara, mereka duduk di samping kiri dan belakang mahasiswa senior yang memperhatikan Nara. Mahasiwa senior itu adalah mahasiswa paling pintar di angkatannya jurusan ilmu komputer dan sistem informasi, mahasiswa semester tujuh bernama Ubaydillah atau biasa di panggil Ubet.


“aku melihat calon istriku" gumam Ubet tanpa sadar membuat ketiga temannya terkejut dan membulatkan kedua mata mereka tidak percaya dengan pengakuan Ubet.


“serius? Yang mana?”


“itu yang wajahnya selalu tertutup" ucap Ubet yang masih terbuai dengan sosok Nara dan membuatnya tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya.


Ketiga temannya seketika melihat Nara yang tampak tersenyum saat Siska berbisik padanya.


Saat mata kuliah berakhir Siska dan Nara keluar ruang kuliah dan kali ini Siska ingin mengantar Nara pulang. Sejak pengakuan Ubet yang tanpa Ubet sadari seluruh mahasiwa di kampus selalu membicarakan tentang Nara dan Ubet, mereka jadi memahami kenapa sikap Ubet sangat berbeda pada Nara saat orientasi kampus. Ubet sedikit memberi perhatian lebih apa lagi saat para mahasiswa baru harus masuk ke dalam kolam belakang kampus, Ubet dengan cepat menyodorkan celana panjang pada Nara tapi Nara menolaknya karena Nara sudah memakai celana panjang agar saat abayanya terbuka ke atas surganya tidak terlihat.


“kamu Nara ya..... jadi kapan kalian akan menikah" seorang mahasiswi mendekati Nara yang serius membaca sebuah buku.


“iya saya Nara..... menikah? Siapa yang menikah?” tanya Nara bingung begitu juga Siska.


“kapan kamu mau menikah dengan Ubet?” tanya mahasiswi itu sekali lagi.


“menikah? Ubet? Apa sih tidak jelas?” ucap siska yang ikut bingung dan juga membuat hatinya terasa perih.


Tanpa Nara sadari Siska memiliki rasa pada senior yang bernama Ubet karena mereka sudah mengenal dari kecil hanya saja dulu siska anak yang gendut dan cubby hingga Ubet tidak mengenali Siska lagi. Nara semakin bingung tidak tahu mau menjawab apa yang pada akhirnya membuat Nara berdiri dan meletakkan kembali buku yang dia baca.


“kak..... Nara sedang tidak melakukan ta'aruf dengan siapa pun dan Nara tidak akan menikah dalam waktu dekat" ucap Nara yang sudah menarik tangan siska yang terasa dingin.


Mereka keluar perpustakaan dengan banyak pertanyaan, terutama Siska.


“Nara... aku pergi dulu ada sedikit perlu" ucap Siska buru-buru pergi.


“aku pastikan jadwal praktikum kita dulu ya" ucap Nara tapi Siska sudah tidak mendengarnya karena sudah berlari menjauh dari Nara.


Sepanjang lorong kampus Nara semakin risih dan kikuk karena para mahasiswa yang berpapasan dengannya selalu melihat dengan pandang aneh menurutnya dan selalu berbisik. Nara mencoba menghubungi Fajrin tapi tidak diangkat dan mengirim pesan meminta izin untuk menghubungi saudara sesusuannya yang masih SMA.


“pulang sama kak satya saja" gumam Nara dalam hati dan mulai merasa merinding takut berlama-lama di kampus.


Nara terkejut saat membaca pengumuman kelompok praktikum perangkat keras.


“tadi Siska bilang kami satu kelompok kenapa ini berbeda? Haaaaa..... asisten dosennya kak Ubet?” gumam Nara tidak percaya dan segera membuka ponselnya memastikan bahwa jadwal yang kemarin siska share adalah jadwal yang sama.


“kenapa jadi begini sih..... sepertinya aku harus meminta penjelas terkait jadwal ini..... mentang-mentang asisten dosen seenaknya saja merubah jadwal praktikum.... mana jadwalnya besok pula.... “ gumam Nara sambil berjalan ke arah lab B dua kosong empat.


Belum sempat Nara masuk sudah mendengar suara Ubet yang sepertinya sedang membentak mahasiswa baru, Nara berdiri di balik pintu lab takut untuk masuk karena bisa saja Nara akan mendapat bentakan dari para senior. Nara memilih diam di balik pintu sampai senior Ubet selesai membentak mahasiswa, Nara menutup mulutnya terkejut mendengar bentakan senior ubet. beberapa detik kemudian Siska keluar lab berlari dan menangis, tanpa berpikir panjang Nara segera mengejar Siska sampai melupakan tujuannya berdiri di belakang pintu lab.


Siska dan Nara berhenti di sebuah taman belakang gedung, Nara berusaha menenangkan Siska, tapi siska menolak. Berkali-kali Nara berusaha menjelaskan pada Siska, berkali-kali pula Siska menolak hingga seseorang datang mendekati mereka.


“Ra..... kenapa disini.... pantas di cari kemana-mana tidak kelihatan ternyata disini.... ayo pulang.... papa sudah mau mengajak kita makan siang.... “ ucap satya yang sudah meraih tangan Nara.


“bentar kak..... sis.... aku lebih baik mendengarkan semua fitnah itu dari pada aku kehilangan seorang teman seorang sahabat sepertimu.... saat ini dan seterusnya kamu sahabat terbaikku" ucap Nara dan pergi meninggalkan Siska sendiri.


Saat satya menggandeng tangan Nara dan berjalan ke area parkir seluruh mahasiswa melihat mereka dengan heran, anak laki-laki dengan seragam SMA dapat dengan santai menggandeng tangan Nara berjalan ke area parkir sepeda.


“kakak sudah mendengar.... ada yang fitnah kamu sebagai calon istri Ubet.... sudah jangan di hiraukan nanti juga hilang sendiri fitnah itu..... kalau ada yang macam-macam sama kamu bilang saja sama dua pengawal pak Azkar pasti besok sudah tinggal nama” ucap Satya yang sudah mengambil alih tas punggung Nara dan duduk di saddle sepeda dengan kaki kanan di pedal sedangkan kaki kiri sebagai penahan sepeda.


Nara duduk di top tube dan berpegangan pada handlebars untuk mengarahkan sepeda sementara tangan kiri satya memegang bagian bawah abaya Nara supaya tidak membuatnya kesulitan mengayuh pedal. Mereka keluar area parkir dengan meninggalkan banyak pertanyaan pada para mahasiswa yang melihat mereka begitu juga dengan Siska yang heran melihat Nara bisa dengan mudah dekat laki-laki karena sepengetahuannya, Nara hanya memiliki satu kakak laki-laki yang saat ini sedang berada di India.