
Divya tahu bahwa Liam ada sedikit rasa pada Elena tapi Liam tidak berani mengatakannya karena Elena adalah salah satu cucu dari pemilik management tempatnya bernaung. Liam mulai panik dan tidak bisa berpikir jernih menunggu tantangan dari Divya.
“ I want you to kiss her for five minutes (aku ingin kamu mencium Elena selama lima menit) “ mendengar tantangan Divya, Liam segera berdiri dan berajak mendekati pintu unit.
“ Liam...... don't you dare to go out or you choose to topless the day after tomorrow (Liam.... jangan berani pergi.... lusa jadwal pemotretan terakhirku kamu harus telanjang dada) “ ancaman Divya berhasil membuat Liam kembali duduk.
Sementara jantung Elena berdetak tidak beraturan karena sebenarnya Elena juga menyimpan sedikit rasa pada Liam dan Divya mengetahui hal itu.
“ do it now (ayo lakukan) “ ucap Divya sambil melipat kedua tangan di dada.
Sementara Fajrin terlihat semakin canggung dan tidak nyaman meskipun yang mendapat tantangan bukan dirinya.
Divya memegang ponselnya dan menekan tombol jam untuk membuka aplikasi stopwatch, Liam mendekati Elena dengan perasaan campur aduk tidak jelas. Sementara Elena diam dan mengepalkan kedua tangannya sambil berpikir untuk membalas tantangan Divya. Saat jarak antara Elena dan Liam semakin pendek dan tinggal beberapa milimeter lagi, tiba-tiba Fajrin berdiri.
“ looks like it's getting late...... Liam where is a sleeping bag for me (sepertinya sudah malam...... Liam kantung tidur untukku yang mana)? “ ucapan Fajrin membuat Liam dan Elena sedikit lega karena menyelamatkan mereka dari tantangan Divya yang konyol.
Liam bernafas lega dan segera berdiri mengambil kantung tidur untuk Fajrin, sementara Elena memegangi dadanya yang masih merasakan jantungnya berdetak tak beraturan.
Fajrin menggelar kantung tidur dan masuk ke kamar mandi untuk wudhu, Divya terlihat kecewa dengan gangguan Fajrin. Liam menggelar kantung tidur sisi kiri dekat kantung tidur yang Fajrin gelar dan dua kantung tidur di sisi kanan Fajrin. Fajrin keluar kamar mandi dengan wajah segar membuat Divya semakin meleleh.
“ Divya.... ambil wudhu dulu baru tidur “ ucap Fajrin membuat Divya segera berdiri dan berjalan cepat masuk ke kamar mandi.
Sementara Liam dan Elena memilih kantung tidur di sisi paling pinggir dan memiringkan badan mereka saling membelakangi karena mereka canggung satu sama lain. Fajrin melihat mereka berdua dengan bingung dan menarik nafas panjang.
Fajrin masuk kantung tidur yang tadi dia gelar dan mulai sibuk dengan ponselnya karena sedari tadi beberapa pesan masuk belum sempat dia balas. Fajrin tak menyadari keberadaan Divya yang sudah masuk ke kantung tidur tepat di sebelahnya, Fajrin masih sibuk dengan ponselnya yang terkadang merubah posisi tidurnya menghadap punggung Liam. Sementara Divya mengubah posisi tidurnya melihat punggung kekar Fajrin yang tertutup kaos dan tercetak jelas otot-otot pungggung Fajrin, membuat Divya terasa tersihir untuk menyentuhnya.
“ Divya..... tangannya.” Suara Fajrin membuat Divya mengurungkan niatnya untuk menyentuh punggung Fajrin.
Dengan cemberut Divya memalingkan posisi tidurnya menghadap Elena yang sudah tidur. Elena dan Liam sudah tertidur pulas, sementara Fajrin sudah mulai menyimpan ponselnya dan pelan-pelan terlelap. Divya yang tidak biasa tidur di alas tidur yang keras berkali-kali merubah posisi tidurnya miring ke kiri, miring ke kanan, telantang bahkan tengkurap tapi tetap saja Divya tidak bisa memejamkam matanya.
“ kak.... Kak Fajrin sudah tidur? “ suara pelan Divya seperti berbisik.
“ hmmmm.... “ jawab Fajrin pelan.
“ kak.... bangun.... Divya tidak bisa tidur “ suara berbisik Divya kembali terdengar.
Fajrin akhirnya membuka matanya dan duduk bersila begitu juga dengan Divya.
“ keras..... Divya tidak bisa tidur di kantung tidur seperti ini “ suara berbisik Divya membuat Fajrin sedikit merasa kasihan mengingat latar belakang keluarga Divya adalah keluarga kaya.
“ ya sudah.... kamu tidur di kamar saja sana..... kakak tidur disini “ ucap Fajrin sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan karena menguap.
“ temani..... Divya tidak bisa tidur kalau lampunya mati.... kalau Divya menyalakan lampu nanti mereka bangun dan kembali ke unit mereka terus kak Fajrin tidur dimana? “ rajuk Divya.
Fajrin menghembuskan nafas berat karena ternyata Divya cukup rewel bila hendak tidur. Fajrin keluar dari kantung tidur dan berdiri, Divya melihatnya dengan heran.
“ katanya mau tidur di kamar.... kenapa tidak berdiri? “ ucap Fajrin sambil mengambil kantung tidur yang dia pakai.
“ serius kak Fajrin mau temani?” tanya Divya tidak percaya.
“ mana kamar kamu? “ tanya Fajrin yang sudah berjalan mencari pintu kamar Divya.
Divya segera berjalan cepat membuka pintu kamarnya, Fajri segera masuk dan menggelar kantung tidur tepat di bawah ranjang Divya. Divya yang mengharapkan lebih dari ini hanya bisa membuka mulutnya lebar, karena begitu selesai menggelar kantung tidur Fajrin segera masuk ke dalam kantung dan tidur.
Divya naik ke ranjang dan menatap punggung Fajrin dengan pencahayaan remang-remang dari lampu-lampu gedung di seberang apartemen. Divya mengamati punggung bidang Fajrin hingga terlelap.
Menjelang waktu subuh posisi tidur Fajrin yang berubah menjadi tengkurap merasakan sesuatu yang berat di punggungnya, Fajrin merasa ada sesuatu yang menekan punggung dan membuatnya susah bergerak bahkan susah untuk bangun. Fajrin berusaha mencari tahu apa yang menimpa punggungnya, dengan susah payah Fajrin mencoba melihat dengan kamera ponselnya.
“ Astagfirullah Divya “ ucap Fajrin geram yang mendapati ternyata Divya tidur di punggung Fajrin dengan posisi tengkurap.
Fajrin berusaha membangunkan Divya dengan menggoyang-goyangkan punggungnya tapi semakin keras Fajrin berusaha menggoyang-goyangkan punggungnya Divya merasa nyamam bahkan kedua tangan Divya menggenggam erat lengan atas Fajrin. Fajrin mencoba mencari nomor ponsel Liam untuk meminta tolong, belum sempat menekan nomor Liam terdengar langkah kaki mendekati kamar Divya. Fajrin berusaha melihat siapa yang mendekati kamar Divya dengan menggerakkan kepalanya melihat ke samping kanan dari sudut matanya terlihat sosok Liam.
“ Liam.....don't you dare to think anything weird.....help me move out Divya from my back (Liam..... jangan berpikir yang aneh-aneh..... bantu aku memindahkan Divya dari punggungku) “ pinta Fajrin dengan suara berat menahan agar kepalanya tidak tertekan oleh kepala Divya.
Liam yang masih terkejut melihat pemandangan ini belum bisa sepenuhnya memahami maksud Fajrin, hingga membuat Elena terbangun dan ikut mendekati kamar Divya. Seketika Elena menjerit terkejut mendapati posisi Divya yang tengkurap di atas punggung Fajrin.
“ Divyaaaaaaaa...... “ teriakan keras Elena cukup membuat telinga Liam berdengung begitu juga dengan Fajrin yang pasrah dan meletakkan kepalanya menempel di kantung tidur.
Divya hanya menggeliat saja tanpa ada tanda-tanda terbangun.
“ you guys don't just stand and watch…..help me move out Divya (kalian jangan hanya berdiri dan melihat saja..... bantu aku memindahkan Divya) “ ucap Fajrin dengan suara pasrah.
Memang tubuh Divya tidaklah terlalu berat bagi Fajrin, dengan sekali saja Fajrin merubah posisi tidurnya bisa saja Divya terjatuh dari punggungnya. Tapi bagaimana bila Divya tidak terjatuh dari punggungnya dan bisa jadi Divya menindihnya, maka akan semakin membuat Fajrin tidak nyaman karena bagaimana pun seorang pria berusaha melawan rayuan setan meski pun tidak atau belum memiliki rasa tetap saja setan akan merayu manusia untuk khilaf dan Fajrin menghindari hal ini.