
Sekepergian Davis, masih ada rasa canggung di antara Fajrin dan Divya karena Azkar masih saja memandangi mereka bergantian dengan tatapan penuh tanya.
“ kalian...... memiliki sifat yang saling bertolak belakang..... tapi yang membuat saya heran kenapa kalian bisa saling mempertahan ego di saat-saat seperti ini.... kalau tadi aku tidak mengatakan akan memadu Divya..... apa kalian akan tetap tidak saling mengakui bahwa kalian saling membutuhkan satu sama lain? “ ucapan Azkar membuat Fajrin tertunduk.
Fajrin masih merasa bahwa Azkar tidak perlu tahu kenapa sampai dirinya menahan rasa cinta pada Divya, Fajrin tidak ingin Azkar merasa bertanggung jawab untuk membantunya.
“ kalian masih ingin berbicara atau hanya saling diam saja.... kalau sudah tidak ada yang perlu kalian bicarakan lagi dan menunggu rencana para orang tua..... sebaiknya kamu antar Divya pulang dan motor butut kamu biar orang kantor yang bawa pulang ke rumah kamu....” ucap Azkar sambil berdiri dari kursi.
Fajrin mulai gugup karena baru kali ini akan 1 mobil berdua saja dengan Divya, Azkar mengulurkan tangan meminta kunci dan kartu parkir motor Fajrin.
“ ini bang.... terima kasih.... “ ucap Fajrin sambil menyerahkan kunci dan kartu parkir motor pada Azkar.
Azkar melangkah menjauh dari Fajrin juga Divya tapi belum sempat keluar dari pintu restauran, Azkar menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Fajrin.
“ kalian tidak aku izinkan ikut campur di acara kalian.... Abba Amma dan Om Davis yang akan mengatur semua. “ ucapan Azkar membuat Fajrin merinding.
Divya tersenyum dan melambaikan tangan pada Azkar.
“ bisa tidak senyumnya di tahan.... tidak di perlihatkan pada orang lain? “ ucapan Fajrin membuat Divya semakin bahagia.
Divya merasa kalau Fajrin mulai ada rasa cemburu.
“ ayang cemburu? “ goda Divya sambil berusaha meraih ujung jaket Fajrin.
Fajrin tidak menjawab pertanyaan Divya dan tetap melangkah menuju area parkir mobil, membuat Divya semakin gencar menggodanya. Bahkan sampai di depan pintu mobil pun, Divya masih sempat menggodanya dengan memberi senyuman tipis.
“ sudah puas senyumnya? Ayo masuk.... ayang antar pulang “ ucap Fajrin sambil membuka pintu mobil di samping kemudi.
Divya masuk dan duduk dengan manis, sementara Fajrin melangkah menuju kursi kemudi dengan membelai dadanya untuk menenangkan detak jantungnya yang berdetak tidak seperti biasanya. Terlihat jelas wajah gugup dan canggung Fajrin, baru kali ini mereka satu mobil berdua tanpa ada orang lain. Butuh beberapa detik bagi Fajrin untuk menenangkan jantungnya sebelum melajukan mobil Bugatti Chiffon super sport 300+ milik Divya. Fajrin memang tidak memiliki mobil tapi bukan berarti dia tidak bisa mengemudikan mobil. Karena Syafril sudah mengajarinya bagaimana mengemudikan mobil, apa lagi mobil berjenis supercar yang tidak bisa berjalan pelan.
Sepanjang perjalanan dari area parkir JW Marriott menuju kediamanan Davis, Divya dengan tidak bosan memandangi wajah Fajrin dari samping kiri. Fajrin yang merasa bahwa Divya memperhatikan dirinya hanya bisa menarik nafas panjang.
“ Divya....... perhatikan depan “ ucap Fajrin berusaha mengalihkan pandangan Divya.
Meski pun Fajrin berusaha berkali-kali mengalihkan pandangan Divya, tetap saja Divya tidak mau mengalihkan pandangannya dari wajah Fajrin. Akhirnya Fajrin hanya bisa pasrah membiarkan Divya memandangnya, sesekali Fajrin membelai rambut Divya dengan tangan kirinya yang sudah terbungkus rapi oleh sarung tangan.
Sampai di depan kediaman Davis, seorang pengawal segera membuka pintu pagar dan Fajrin segera melajukan kembali hingga berhenti di garasi khusus mobil Divya. Keluar dari mobil, Fajrin segera membantu Divya dengan membukakan pintu mobil di sisi Divya. Fajrin mengantar Divya hingga depan pintu rumah, saat Fajrin hendak berpamitan tiba-tiba suara amarah Davis terdengar dengan jelas membuat Divya secara spontan menarik tangan Fajrin untuk masuk. Fajrin melihat raut wajah Davis penuh amarah dan emosi yang memuncak, Divya masih mengenggam tangan Fajrin menariknya mendekati Jason.
“ what makes dady angry like that (apa yang membuat papi marah seperti itu)? “ tanya Divya berbisik pada Jason.
Jason menarik nafas panjang dan mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan isi pesan singkat dari orang tangan kanan Davis yang berada di Montreal, seketika kedua mata Divya membulat sempurna.
“ crazy.... not a single penny of funds can come out from the bank.... even though this is a company account..... what's keeping these funds on hold (gila.... tidak ada satu sen pun dana yang bisa keluar dari bank.... padahal ini rekening perusahaan..... apa yang membuat dana ini tertahan)? “ ucap Divya yang masih terkejut tidak percaya.
“ According to the bank... these funds cannot be released if young master Ditya signs the withdrawal of the funds..... several collaborations and projects stoped one by one... making the directors and shareholders complain and ask young master Ditya to step down from his current position (menurut pihak bank... dana ini tidak bisa keluar bila tuan muda Ditya yang menandatanganni penarikan dana tersebut..... beberapa kerja sama dan project kerja sama satu persatu berhenti.... membuat para direksi dan pemegang saham komplain meminta agar tuan muda Ditya mundur dari posisinya saat ini) “ penjelasan Jason membuat Divya terkejut tidak percaya.
Davis memutus sambungan telepon dengan kasar dan menghempaskan tubuhnya di sofa, menatap Divya yang berdiri berdampingan dengan Fajrin. Tangan kiri Divya menggenggam erat tangan Fajrin, membuat Davis tersenyum bahagia. setidak-tidaknya melihat Divya bisa melupakan masalah perusahaan yang sedang di pegang Ditya.
“ kalian berdua kemarilah “ ucap Davis dengan isyarat tangan meminta Divya dan Fajrin duduk di sampingnya.
Divya juga Fajrin melangkah pelan mendekati Davis, Fajrin duduk di sebelah kanan dan Divya duduk di sebelah kiri.
“ papi senang melihat kalian bersama.... papi bahagia melihat senyum bahagia putri papi.... Fajrin.... bisakah papi meminta kamu berjanji satu hal? “ ucapan Davis membuat Fajrin sedikit bingung.
“ tuan Davis.... ingin saya berjanji tentang apa? “ ucap Fajrin pelan.
“ pertama mulai sekarang jangan panggil saya dengan sebutan tuan Davis.... tapi papi.... kedua sepertinya pernikahan kalian tidak bisa dilaksanakan tahun ini.... papi ingin kamu berjanji menjaga Divya menjaga kehormatannya hingga papi kembali ke Jakarta. “ ucap Davis berusaha tidak terlihat sedih.
Fajrin hanya menganggukan kepala menrespon apa yang Davis ucapakan.
“ kapan papi akan kembali ke Montreal? Apa bang Ditya tidak bisa menyelesaikan sendiri masalah perusahan? Memangnya bang Ditya berbuat apa sampai dana perusahaan tidak bisa keluar bila bang Ditya yang menandatanganinya? “ pertanyaan Divya membuat Davis menarik nafas panjang.
Davis masih tidak mengerti apa kesalahan Ditya kali ini hingga tidak 1 sen pun dana perusahan yang bisa keluar bila Ditya yang menandatanganinya.
“ papi belum tahu pasti apa yang sudah Ditya lakukan.... untuk itu papi harus kembali ke Montreal secepatnya. “ ucap Davis sambil menepuk punggung Fajrin.