My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 245 TERTIPU



Kedua bola matanya terlihat serius membaca setiap kata yang tertulis di berkas tersebut, sudah beberapa menit Fajrin membaca berkas tersebut dan detik berikutnya Fajrin membanting berkas tersebut di meja.


“ gila.... serakah sekali mereka..... setega itu mereka melakukan pemberhentian sepihak ... apa mereka tidak memikirkan cara lain selain cara itu “ ucapan geram Fajrin membuat Azkar terkejut.


“ ya begini ini resiko besar seorang pebisnis kalau melakukan investasi dengan perusahaan keluarga..... mereka mencari keuntungan sebesar mungkin untuk di bagikan ke para pemegang saham yang sebagian besar pemegang saham itu adalah anggota keluarga, tapi sebaliknya bila merugi yang ada justru investor yang akan merugi bahkan apa yang sudah kita investasikan bisa jadi hilang tanpa jejak.... dan sudah pasti untuk mereka para keluarga pemegang saham itu sudah mengamankan milik mereka masing-masing “ ucap Azkar mencoba memberi pengertian Fajrin dan agar Fajrin tidak takut untuk mencoba berinvestasi lagi.


“ ini jadi pelajaran bagimu.... lain kali kalau memang kamu berniat melakukan investasi.... pahami dulu seperti apa bisnisnya.... siapa saja yang bertanggung jawab di perusahaan itu...... kalau sudah begini..... aku yakin tidak satu sen pun uang investasimu akan kembali “ ucapan Azkar membuat Fajrin geram.


“ pada awalnya aku hanya ingin menolong papi saja... tapi memang aku tidak berpikir hingga sejauh ini..... mungkin ini juga yang menjadi alasan syarat yang di ajukan Afkar..... audit keuangan untuk tiga tahun terakhir..... “ ucap Fajrin sambil mengingat setiap kata yang Afkar ucapkan saat pertama kali mencoba menghubungkan antara Prakash Lohia dengan Rosenkrantz.


“ sekarang apa yang akan kamu lakukan pada berkas ini? “ tanya Azkar santai.


“ aku selesaikan dulu jadwal pertemuan bisnis ini.... nanti akan aku bicarakan dengan Afkar.... lagi pula Afkar masih fokus pada kebahagiannya. “ Azkar tersenyum mendengar jawab Fajrin.


“ ya..... biarkan Afkar kembali merasakan kebahagian itu lagi.... hampir satu tahun dia berjuang sendiri menjaga kembar..... “ ucap Afkar mengingat semua cerita Freya juga Selo saat menceritakan bagaimana Afkar harus kehilangan waktu istirahat di malam hari karena harus menggendong kembar bersamaan.


Azkar berdiri dari sofa dan saat hendak membuka pintu ruang kerja Fajrin, Azkar menghentikan langkahnya.


“ tiga bulan lagi kami akan berkunjung ke Oslo.... apa kau mau ikut? “ pertanyaan Azkar membuat Fajrin seketika berdiri.


“ kalau kau tidak mau ikut tidak apa-apa..... tapi kalau kau dan Divya ikut..... mungkin kalian bisa sedikit berkonsultasi dengan dokter kami untuk mengetahui proses bayi tabung “ ucap Azkar membuat Fajrin heran bagaimana Azkar bisa tahu keadaan Divya.


“ nantilah bang.... kalau bayi tabung..... aku masih yakin kami masih bisa secara alami.... “ ucap Fajrin optimis.


Ucapan Azkar tentang bayi tabung sedikit banyak membuat Fajrin ingin tahu proses bayi tabung, Fajrin mencoba mencari tahu informasi tentang program bayi tabung di internet. Bahkan Fajrin mencetak informasi itu untuk dia tunjukkan pada Divya, dalam hati kecil Fajrin sudah tidak sabar ingin sekali melihat perut rata Divya membesar karena janin mereka.


Setelah Azkar keluar dari ruang kerjanya, Fajrin merasa ada sesuatu yang aneh antara berkas informasi yang dia dapat tentang latar belakang relasi bisnis yang akan dia temui dengan berkas yang Azkar berikan. Fajrin mulai sibuk membandingkan berkas berkas tersebut, hingga tepat tengah hari Fajrin masih serius memahami berkas-berkas tersebut dan saat asistennya masuk untuk mengingatkan dirinya bahwa jadwal pertemuan semakin dekat.


“ pak..... lima belas menit lagi kita harus berangkat ke hotel tempat pertemuan itu “ ucap Edi asisten Fajrin.


“ batalkan.... “ ucapan tegas Fajrin seketika membuat Edi melangkah keluar dari ruangan Fajrin.


Fajrin memang selalu sangat berhati-hati dalam hal kontrak kerjasama dalam bentuk apa pun dan dari siapa saja, Fajrin tidak akan tebang pilih selama calon relasi bisnis tersebut memiliki rekam jejak bagus maka Fajrin akan mempertimbangkan untuk kerjasama tapi bila ada satu saja rekam jejak tidak bagus maka Fajrin tidak akan bersedia melakukan kerjasama.


Setelah mengirim pesan melalui email, Fajrin segera menghubungi Afkar melalui panggilan video


“ Assalamu'allaikum..... “ salam Fajrin.


“ Wa'alaikumsalam.... ada apa pagi pagi menghubungiku.... apa kau juga ingin melihat perkembangannya.... kemarilah.... kau harus melihat sendiri wanita hebat itu “ salam Afkar sambil memperlihatkan seseorang pada Fajrin.


Fajrin tersenyum karena mendengar ucapan Afkar dan karena melihat siapa yang Afkar perlihatkan


“ maaf aku menggangu waktu kalian..... bisakah aku berbicara sebentar tentang investasiku di perusahan keluarga Prakash Lohia? “ ucap Fajrin sambil tersenyum karena sayup-sayup terdengar suara yang dia kenal.


“ aku sudah memerintahkan beberapa orang ke Montreal untuk melakukan pencarian orang itu.... aku masih yakin dia masih berada di Canada tapi sisi mana itu yang orang-orangku masih usahakan. “ Fajrin menyisir kasar rambutnya.


Fajrin tidak habis pikir kenapa Davis tidak memberikan informasi apa pun padanya.


“ baiklah.... terima kasih aku serahkan semua padamu.... lain kali aku tidak akan mudah percaya meski pun itu papi yang mengatakannya sendiri “ ucap Fajrin sangat kecewa pada Davis.


“ setelah orang ini ketemu.... aku sendiri yang akan melakukan perhitungan dengannya.... orang orangku sudah paham apa yang harus mereka lalukan. “ sekali lagi Fajrin menyisir kasar rambutnya.


“ dan setelah masalah ini selesai.... aku tidak akan melakukan investasi apa pun pada perusahan yang tidak mau menerima para auditormu.... “ Afkar tersenyum mendengar ucapan jujur juga kecewa Fajrin.


Fajrin merasa tertipu dengan apa yang sudah Davis lakukan padanya, Fajrin bertekad tidak akan lagi berinvestasi pada perusahaan juga anak perusahaan Prakash Lohia juga apa pun bentuk kerjsamanya. Meski pun bukan Davis yang melakukan penipuan secara langsung tapi Martha yang melakukannya, seburuk-buruknya Martha tetap Davis tidak bisa mengabaikan Martha. Karena Martha adalah satu satunya keluarga dekat dan mendukung Davis memegang pucuk pimpinan Prakash Lohia.


Setengah dari uang investasi Fajrin, di bawa lari oleh Martha dan membuat Davis harus bekerja keras siang malam untuk mendapatkan kepercayaan kembali dari para relasi bisnis mau pun investor. Agar tidak terjadi PHK besar-besaran, Davis sengaja tidak memberitahu Fajrin karena Davis sangat malu sekali. Berita pemutusan hubungan kerja perusahan Prakash Lohia menjadi berita besar.


Fajrin pun tidak menceritakan semua ini pada Divya, Fajrin tidak ingin Divya membenci Davis atau pun Martha. Fajrin benar-benar ingin Divya fokus pada kesehatan dan kebahagian keluarga kecilnya.