My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 43 BIMBANG



Fajrin termenung menatap langit malam kota Jaipur, pikirannya tidak tenang tapi tidak tahu apa yang mengganjal di hatinya. Mencoba menghubungi Roby beberapa kali tapi tetap tidak di angkat, mencoba menghubungi Nara ponsel sedang tidak aktif dan terakhir di dalam pikirannya mencoba menghubungi satya tapi berkali-kali di tolak.


“ini kenapa tidak bisa di hubungi semua?” gumam Fajrin sambil mengacak-acak rambutnya yang sedikit basah karena habis mencuci rambut.


“Pak... makan malam kita sudah siap di unitnya muslim” ucapan Irvan membuyarkan lamunan Fajrin.


Fajrin segera berdiri dan mengikuti Irvan juga Gultom keluar dari unit mereka dan melangkah ke unit yang muslim tempati.


“ayo pak.... kita makan..” ucap Andra penuh semangat yang sudah tidak sabar untuk menghabiskan makan malam mereka.


“kamu itu makan melulu...... lihat perut kamu mulai menimbun lemak.” Ucap Ryan yang hanya mengenakan celana boxer dan bergaya menunjukkan perut six packnya pada yang lain.


“jangan banyak gaya..... sebentar lagi pasti kamu juga akan menimbun lemak seperti Andra” canda Irvan membuat Ryan melemparinya dengan kertas yang berserakan di lantai.


“apa bapak juga sudah mulai seperti kami menimbun lemak?” tanya Muslim yang ingin tahu.


“kamu itu kalau bicara di pikir dulu.... jangan asal bicara.... kalian semua tidak tahu.... tiap malam pak Fajrin selalu melakukan olah raga" ucap Irvan percaya diri.


“dari mana kamu tahu kalau aku olah raga setiap malam?” tanya Fajrin dengan tatapan sedikit terkesan menginterogasi.


Meskipun Fajrin, gultom dan Irvan tinggal dalam satu unit yang sama tapi mereka memiliki kamar tidur sendiri-sendiri jadi kemungkinan sangat kecil kalau olah raga yang Fajrin lakukan sebelum tidur dapat di lihat oleh Irvan dan Gultom.


“hehehehe..... maaf kami tidak sengaja pernah melihat pak Fajrin sendang push-up di balkon.” jawab Irvan malu karena ketahuan melihat kegiatan Fajrin sebelum tidur malam.


“ooooo.......begitu..... aku kira kamu mengintip ke dalam kamarku” ucap Fajrin yang sudah mengambil sepiring nasi biryani dan sepotong paha ayam kari.


“wuiiiih..... jadi bapak, setiap sebelum tidur push-up? Berapa kali pak?” tanya Ryan semakin ingin tahu.


“biasanya kalau di rumah push-up, sit-up, pull-up tiga puluh kali dan ada bebannya” jawab Fajrin yang terlihat santai tapi dalam otaknya masih memikirkan keadaan orang-orang terdekatnya terutama Nara yang sejak siang tidak bisa di hubungi.


“beban?” tanya Andra heran.


“iya....biasanya saya minta adik untuk duduk di punggung saat push-up dan jadi beban di kaki saat pull-up..... tahu sendiri kesibukan kita di perusahan seperti apa.... hampir tidak ada waktu buat saya untuk sekadar jogging saat weekend" jelas Fajrin yang sudah bersiap menyantap makanannya.


Keenam rekan Fajrin hanya bisa membulatkan kedua bibir mereka mendengar cerita Fajrin.


“pantas.... pak Fajrin tidak terlihat sama sekali menimbun lemak seperti kami" ucap Cahyo yang mulai terlihat sedikit berlemak di pipinya.


Disela-sela makan mereka berenam bercanda banyak hal, tapi Fajrin hanya diam dan sesekali mengulum senyum membuat mereka berenam tertawa terbahak-bahak.


“Pak.... sepertinya bapak sedang memikirkan sesuatu?” tanya cahyo sambil meraih sepotong sayap ayam kari.


“sedikit" jawab Fajrin singkat yang sudah meletakkan peralatan makannya dan hendak mencuci tangan di pantry.


Keempat ahli sipil kontruksi melihat ke Irvan dan Gultom dengan penuh pertanyaan, membuat keduanya hanya mengangkat kedua bahunya sekali memberi isyarat tidak tahu. tiba-tiba ponsel Fajrin berdering.


“Pak Fajrin, ada telepon dari..... satya" ucapan gultom membuat Fajrin buru-buru menerima panggilan itu.


“Assalamu'allaikum” salam Fajrin


“.......”


“kamu di mana? Apa Nara sama kamu?” tanya Fajrin yang mulai kuatir.


“......” Fajrin menepuk dahinya mendengar ucapan satya.


“dari tadi siang aku coba telpon Nara kenapa tidak bisa ya?” tanya Fajrin semakin bimbang.


“.....” Fajrin mencoba menerka ada masalah apa dengan ponsel Nara.


“begitu ya..... apa Nara ada masalah di kampus? karena beberapa hari ini perasaanku tidak enak" ucapan Fajrin terdengar seperti orang yang sangat kuatir.


“......"Fajrin sedikit tenang mendengar penjelasan satya.


“jangan main hakim sendiri" ucapan Fajrin membuat keenam rekannya melihat dengan heran.


“....."


“tadi Nara sempat mengirim pesan minta setiap pulang kuliah kamu jemput.... apa kamu bisa?” tanya Fajrin yang mulai lega.


“......”


“....."


“ingat jangan jemput Nara pakai motor" ucap Fajrin sedikit mengancam.


Karena umur Nara dan satya yang belum ada tujuh belas tahun baik Fajrin mau pun papanya satya melarang keras satya mengendarai motor.


“......”


“iya" jawab Fajrin singkat.


“.....”


“wa'alaikumsalam” balas Fajrin dan menutup ponselnya.


Hati Fajrin sedikit lebih tenang mendengar kabar dari satya bahwa Nara baik-baik saja meskipun sehari ini hanya mendapatkan satu pesan saja dari Nara. Seperti biasa setiap malam Fajrin akan melakukan sedikit review pada pekerjaan hari ini, dan membahas pekerjaan apa saja yang besok harus sudah selesai mengingat sudah satu bulan mereka berada di Jaipur.


JAKARTA


“kakak pulang dulu ya..... itu sudah ada yang menemani di rumah.... ada Melia dan Sarah" suara pelan satya sambil menutup pintu pagar rumah Nara.


“iya... terima kasih.... besok jangan lupa jemput lagi" pinta Nara membuat Satya menganggukan kepalanya dan pergi.


“Hati-hati kak..... Assalamualaikum” teriak Nara tapi tak terdengar oleh satya.


Setelah mengantar Nara pulang, satya langsung pulang ke rumahnya karena PR sekolah banyak sekali. Saat satya sibuk dengan tugas sekolahnya, tiba-tiba dia teringat belum memberi kabar pada Fajrin. Satya segera mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan menghubungi Fajrin.


“......”


“wa'alaikumsalam, ada apa kakak tadi menelponku?” tanya Satya sambil memakan buah anggur.


“.....” Satya mendengarkan pertanyaan Fajrin sambil mengunyah anggur.


“di rumah kak, Nara tadi kesini sebentar terus selepas Ashar aku antar pulang, dia tidak mau menginap disini..... katanya malas harus tidur sama Amel” ucap Satya sambil mengacak-acak rambut adeknya yang berusia delapan tahun.


Amel adalah adik satya tapi beda ibu, ibu satya meninggal saat satya berusia dua bulan dan menjadi saudara sesusuan Nara saat Nara masih berumur sepuluh hari.


“.....” tanya Fajrin semakin bimbang.


“ooooh itu...... ponsel Nara ada sedikit masalah..... tapi jangan kuatir tadi aku sudah meminjamkan ponselku yang lain.” Jawab satya santai.


“......" hampir saja satya tersedak mendengar ucapan Fajrin.


Satya merasa bingung dan gugup mau menjawab apa, kalau mengatakan yang sebenarnya bahwa telah terjadi sesuatu pada Nara di kampus bisa di pastikan akan membuat Fajrin kuatir. Akhirnya dengan berusaha tenang Satya melakukan sedikit kebohongan pada Fajrin.


“tidak ada apa-apa semua aman terkendali tidak ada yang perlu di kuatirkan.... kalau ada yang macam-macam dengan Nara.... akan aku habis dia" ucap satya penuh percaya diri.


“......."satya meringis mendengar ucapan Fajrin


“tenang kak.... selama kakak tidak ada.... serahkan Nara pada satya.... satya akan jaga sepenuh hati" ucap satya sangat percaya diri


“......” suara Fajrin yang terdengar lega membuat satya menghembuskan nafas pelan.


“tentu bisa.... sepulang sekolah pasti aku akan jemput Nara.... tapi nanti ganti uang BBM ya....” rayu satya.


“.....” Satya menutup mulutnya mendengar pertanyaan Fajrin


“hehehehehehe...... ketahuan.... iya Nara aku jemput pakai sepeda" ucap satya lemas karena ketahuan berbohong.


“......" Satya merasa takut dengan ancaman Fajrin


“iya.... pakai sepeda.... tapi bagi uang sakunya ya..” pinta Satya membuat Fajrin menggelengkan kepalanya


“....." Satya tersenyum menang


“kak sudah dulu ya.... PR aku banyak..... Assalamualaikum” salam Satya dan segera memutus sambungan telepon.