My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 155 MASA LALU



Sepanjang siang acara menjadi semakin ramai, karena mereka saling berbicara mengenang masa-masa SMA juga saling berbagi cerita apa saja yang mereka lalukan selama ini. Semua orang menceritakan dan membanggakan apa yang sudah mereka capai hingga hari ini, begitu juga dengan Roby dan Fajrin yang menjadi sasaran pertanyaan dari beberapa teman-temannya.


“ bagaimana kamu bisa menjadi asisten pribadi big bos Surendra? Dulu saudara sepupuku Amelia pernah mencoba melamar posisi itu..... tapi waktu interview belum juga masuk ruang interview sudah di suruh pergi sama seorang wanita.... katanya begini kamu mau melamar kerja atau jual diri. “ cerita Galih membuat Roby tertawa terbahak-bahak.


“ memangnya sepupu kamu itu penampilannya bagaimana sampai ada yang mengatakan seperti itu? “ tanya Fajrin yang bisa menduga pasti Helen yang menyuruhnya pergi.


“ biasa katanya.... tapi wanita yang berkata seperti itu wanita berhijab panjang.... “ jawab Galih santai.


“ oooo.... itu pasti istrinya big bos “ jawab Roby sambil menenangkan diri dari tawanya.


“ makanya cari tahu dulu tentang perusahan itu kalau mau interview.... biar tidak memalukan diri sendiri..... pasti sepupu kamu pakai pakaian big sale “ ucap Syafril sambil memasukkan 4 biji kacang tanah ke mulutnya.


“ mungkin juga.... sama mamanya sudah di nasehati .... kalau mau interview pakai pakaian yang sopan.... tapi ya.... begitu itu “ jawab Galih asal.


Fajrin tersenyum tipis mendengar pembicaraan mereka, Fajrin tahu betul kalau Helen tidak suka bila Azkar memperkerjakan pegawai wanita yang berpakaian sale atau pun big sale. Bahkan Helen memberi Azkar peringatan dengan keras bila sekali saja Azkar memperkerjakan pegawai wanita dengan pakaian tidak sopan maka akan jatuh talak 3, secara otomatis Azkar tidak berani mengabaikan peringatan Helen.


“ kalau cerita kamu sendiri bagaimana bisa di terima menjadi asisten big bos? “ tanya Viana yang sedari tadi ingin sekali berbicara berdua dengan Fajrin.


“ berkat informasi dia.... aku bisa menjadi asisten big bos “ jawab Roby sambil menepuk punggung Fajrin.


Galih menatap Fajrin yang sibuk memberikan buah salak pada Divya.


“ aku bilang sama Roby.... kalau kamu memang mau bekerja dan serius bekerja coba kamu masukkan lamaran untuk posisi asisten pribadi CEO.... datang langsung saja..... kalau perlu hari ini “ ucap Fajrin sambil tangan kanannya menerima biji salak dari mulut Divya.


Viana semakin panas melihat perlakuan Fajrin pada Divya, apa lagi saat Divya berbisik. Dada Viana terasa sakit.


“ aku tinggal ke atas dulu ya.... antar ini sholat Dhuhur dulu. “ pamit Fajrin yang sudah berdiri.


“ bawa mukena tidak? “ tanya Syafril membuat Fajrin melihat Divya dan Divya menggelengkan kepala.


“ pinjam Artika saja.... di lokernya selalu ada mukena “ ucap Syafril sambil menunjuk Artika pegawainya yang berdiri tidak jauh dari meja kasir.


“ Bro.... aku tunggu di mushola “ ucap Roby dan mendapat anggukan kepala dari Fajrin.


Artika segera berjalan cepat menuju area belakang restauran untuk mengambil mukena dan meminjamkannya pada Divya.


“ terima kasih “ ucap Divya pada Artika yang menyerahkan mukenanya pada Divya.


Fajrin dan Divya naik ke lantai 3 untuk sholat Dhuhur tempat yang Syafril pakai bila malas pulang ke rumah, Viana menatap punggung Fajrin hingga tak terlihat.


Roby juga Syafril dan yang lainnya satu persatu berjalan menuju mushola untuk sholat Dhuhur, membuat Viana duduk sendiri. Sementara Divya sholat di lantai 3, Fajrin turun ke bawah menuju mushola yang tepat berada di samping kanan restauran. Melihat Fajrin turun dari lantai 3 membuat Viana ingin berbicara dengan Divya. Di dalam mushola sudah bersiap Syafril dan Roby juga yang lainnya, mereka sengaja menunggu Fajrin untuk menjadi imam sholat Dhuhur mereka.


“ hai..... sudah berapa lama dekat sama Fajrin? “ tanya Viana langsung pada intinya.


“ hampir 2 tahun mungkin, kenapa? “ ucap Divya yang masih merapikan mukena milik Artika.


“ aku tahu siapa kamu.... kamu model pakai renang dan dulu penampilan kamu tidak seperti ini..... apa kamu memakai ini karena Fajrin? “ ucap Viana dengan sinis yang terkesan ingin memancing emosi Divya.


“ aku memakai ini karena ini pilihanku.... bukan karena ayang..... dan setiap pilihan yang kita pilih pasti memerlukan pengorbanan yang tidak mudah. “ jawab Divya dengan santai sambil merapikan hijabnya.


“ apa Fajrin pernah bercerita bahwa kami pernah dekat. “ ucap Viana sambil berjalan melihat sekeliling ruangan Syafril.


“ setahu aku.... mantannya ayang hanya Sofia dan itu pun Sofia sekarang sudah menikah “ jawab Divya sambil menyematkan sebuah bros kecil di bawah dagunya.


“ dulu Fajrin sering memberiku coklat.... bahkan hampir setiap hari dia selalu memberiku coklat.... padahal aku sudah pernah menolaknya dan mengatakan bahwa aku menyukai pria dari keluarga kaya tidak miskin seperti dia..... tapi sekarang aku melihat Fajrin sudah menjadi kaya dan Roby juga mengatakan kalau dia sudah memiliki rumah yang cukup besar “ jelas Viana sambil menatap Divya dengan tatapan tidak suka.


“ oooo.... begitu..... baguslah kamu menolak ayang waktu itu.... dan ayang bertemu wanita yang baik dan membuatku iri akan penampilannya “ ucap Divya yang semakin membuat Viana berusaha keras memancing emosi Divya.


“ aku yakin.... kalau Fajrin masih memiliki rasa padaku.... dan aku akan memastikan itu di depanmu “ ucap Viana penuh percaya diri.


“ coba saja kalau kamu yakin “ suara tegas Fajrin yang tiba-tiba membuat Viana sedikit gugup dan Divya menjadi pura-pura cemberut.


“ Fajrin.... apa kamu yakin sudah benar-benar melupakan aku? Apa kamu tidak ingat setiap pulang sekolah kamu menungguku di gerbang dan memberiku coklat.... “ ucap Viana mencoba mengingatkan kenangan masa SMA.


“ coklat.... kapan aku memberimu coklat di gerbang sekolah? Aku memang pernah memberi coklat tapi itu pun hanya sekali saat aku mengatakan bahwa aku menyukaimu dan kamu menolakku.... “ ucap Fajrin sambil memberi isyarat tangan pada Divya agar mendekat.


“ Fajrin apa kamu lupa.... kamu selalu menungguku di gerbang sekolah sambil memegang sebatang coklat “ ucap Viana yang masih berusaha mengingatkan Fajrin.


“ jadi.... begitu ya..... “ belum sempat Fajrin menjelaskan tiba-tiba Syafril menepuk punggung Fajrin.


“ jadi coklatnya kamu berikan pada Viana..... pantas aku rugi berkali-kali.... “ ucap Syafril dengan bercanda.


“ aku tidak memberikan padanya.... tapi dia tiba-tiba saja memgambil coklat yang aku pegang.... mau aku minta kembali..... dia sudah pergi menjauh “ jelas Fajrin sambil menarik tangan kanan Divya.


“ tunggu-tunggu..... bagaimana detail ceritanya sampai Viana bisa mengambil coklat dari tanganmu “ ucap Syafril meminta penjelasan.


Belum sempat Fajrin menjelaskan, Roby sudah memanggil mereka untuk turun karena beberapa teman mereka hendak berpamitan pulang. Sebelum turun Syafril membisikkan sesuatu di telinga Fajrin, begitu juga dengan Divya.


“ ayang harus ceritakan semua kesalahpahaman ini..... kalau tidak Divya peluk ayang “ bisikan Divya membuat bulu-bulu halus di tangan Fajrin berdiri.