
Setelah prosesi upacara pernikahan selesai para keluarga dekat kedua mempelai memberi restu dan ucapan selamat, dan saat inilah Krishna mendekati Fajrin memintanya untuk memberikan sebuah ucapan atau nasehat bagi kedua mempelai. Fajrin mengikuti langkah kaki Krishna dengan masih menggandeng Divya, tim India juga Jakarta mengikuti mereka.
“ kamu harus tenang, kakak tidak akan melepas genggaman tangan ini “ bisik Fajrin yang mengerti bahwa saat ini pasti Divya sangat takut bertemu dengan Rohit.
Divya memegang lengan kiri Fajrin dengan tangan kirinya dan Fajrin membelai punggung tangan kiri Divya dengan tangan kanannya, karena tangan kiri Fajrin dan tangan kanan Divya masih bertautan dengan erat.
“ congratulations on your marriage, may you always be together until only death separate you two (selamat atas pernikahan anda, semoga kalian selalu bersama hingga kematian saja yang bisa memisahkan kalian) “ ucap Fajrin sambil menjabat tangan Rohit.
Rohit menatap mereka berdua dengan mata tidak percaya bahwa wanita yang dia incar selama ini adalah pasangan dari salah satu staff Surendra tempat kakak iparnya bekerja. Mempelai wanita adalah adik sepupu Krishna, kedua orang tua mempelai wanita sudah membesarkan Krishna dari umur sepuluh tahun. Kedua orang tua Krishna meninggal karena kecelakaan mobil, bagi Krishna mereka adalah orang tua yang harus Krishna hormati dan hargai. Jadi tidak salah bila Krishna mengundang seluruh staff Surendra juga Fajrin.
Fajrin mengajak Divya ke tepi ruangan.
“ kamu mau kembali ke apartemen atau tetap mengikuti acara ini? “ pertanyaan Fajrin membuat Divya bingung.
“ maksud kakak? ” tanya Divya bingung dan mencoba menatap mata Fajrin yang tidak pernah menatapnya.
“ sekarang sudah masuk waktu Dhuhur, aku mau kembali ke kamar dulu untuk sholat dan kembali lagi kesini karena sebentar lagi acara resepsi pernikahan mereka “ jelas Fajrin membuat Divya sedikit lega.
“ Divya.... ikut kakak “ jawab Divya malu-malu.
Akhirnya Fajrin membawa Divya ke kamar hotel yang Fajrin tempati dan tentu saja Liam mengikuti kemana pun Divya pergi. Sampai di depan pintu kamar Fajrin mencoba melepas tangan Divya tapi Divya masih menggengamnya erat.
“ lepas dulu, kakak mau ambil kunci kamar “ Divya segera melepas tangan Fajrin dan sukses membuat Fajrin tersenyum tipis.
Saat Divya hendak melangkah masuk, Divya memberi isyarat pada Liam agar menunggu di luar.
“ kalian masuk saja jangan di luar “ ucapan Fajrin seketika membuat Divya cemberut karena itu berarti dia dan Liam harus masuk juga.
Divya seketika merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Liam tidak mampu menahan Divya hanya melihatnya dengan menggelengkan kepala begitu juga dengan Fajrin yang sudah melepas jas yang dia pakai.
“ kak... Divya ikut sholat juga ya “ ucap Divya sambil berguling-guling di atas ranjang.
“ ternyata sama seperti adik “ gumam Fajrin dalam hati sambil melepas kancing lengan kemeja yang dia pakai.
“ tidak boleh.... kamu nanti sholat sendiri saja seperti biasa “ ucap Fajrin yang sudah melangkah masuk ke kamar mandi untuk wudhu.
“ kenapa? “ tanya Divya heran.
“ kalau begitu kita buat halal saja bagaimana? “ tanya Divya yang sudah telentang menatap langit kamar hotel.
“ kakak sholat dulu nanti kakak jelaskan “ ucap Fajrin yang sudah bersiap di atas sajadah.
Selama Fajrin sholat, Divya terus menatapnya membuat jantungnya kembali berdetak kencang. Entah apa yang membuat Divya tiba-tiba menangis saat melihat sosok Fajrin yang sedang berdoa. Selesai sholat Fajrin tidak melipat sajadah tapi meraih tas punggungnya dan menyerahkan dua buah kain sarung pada Divya.
“ pakai ini untuk sholat “ Divya melihatnya dengan heran bagaimana cara memakai kain sarung untuk dia sholat.
Fajrin tahu bahwa Divya tidak bisa memakai kain sarung ini sebagai mukena.
“ bersihkan make up dan wudhu... nanti kakak bantu kamu pakai ini “ seketika Divya melompat dari ranjang dan melepas sarung tangan juga syal yang dia pakai.
Karena Joana tidak memakaikan Divya make up yang tebal jadi dapat dengan mudah Divya hapus dengan sabun yang ada di kamar mandi. Setelah menunggu kurang lebih lima belas menit, Divya keluar kamar mandi dengan wajah yang masih basah dengan air wudhu. Divya melangkah mendekati Fajrin yang sudah siap dengan sebuah kain sarung di tangan dan mengenakan sarung tangan.
“ tutup mata kamu “ ucap Fajrin saat Divya sudah berada di depannya
Divya tidak bisa berkata-kata hanya mampu mengikuti apa yang Fajrin katakan karena jantung Divya berdetak semakin kencang dan otak Divya seperti terhipnotis oleh suara Fajrin. Fajrin membantu Divya mengenakan kain sarung untuk menutupi tubuh bagian bawah hingga kaki dan kain sarung yang lainnya untuk menutupi rambut hingga menjuntai sampai paha. Fajrin berusaha sebisa mungkin untuk menjaga agar wudhu Divya tidak batal, tangannya yang sudah terbalut sarung tangan berusaha tidak menyentuh kulit atau pun rambut Divya. Sementara Liam menguatkan diri untuk tidak memalingkan badannya dari mereka berdua karena pena yang dia selipkan di saku bagian atas jas adalah sebuah kamera kecil yang merekam segala sesuatu yang Divya lakukan dan akan dia serahkan rekamannya pada Davis.
“ sudah selesai..... buka matamu.... kakak tunggu disini “ ucap Fajrin yang sudah melangkah mendekati sofa.
Divya membuka mata dan mencari letak sajadah yang tadi Fajrin pakai. Seperti biasa Divya akan membaca bacaan sholat dengan suara keras agar Fajrin bisa mendengar dan mengoreksi bacaannya bila Divya lupa. Selesai sholat pun Divya akan melakukan hal yang sama dengan Fajrin yaitu berdoa hanya bedanya Divya akan mengeraskan suara doanya.
Apa yang Divya lakukan ini terekam semua oleh kamera di pena yang Liam selipkan di saku jas.
“ kak..... ini bagaimana melepasnya “ tanya Divya bingung saat berusaha melepas kain sarung yang menutupi rambut hingga paha.
“ sini kakak tunjukkan.... kamu perhatikan baik-baik “ ucap Fajrin sambil berjalan ke sebuah kaca yang menempel di sebuah lemari pakaian.
“ berdiri disini “ ucapan Fajrin sekali lagi membuat Divya tak mampu menolaknya.
Fajrin menunjukkan pada Divya cara melepas dua kain sarung yang dia pakai sebagai mukena dan tentu saja Fajrin masih mengenakan sarung tangan. Divya melihat setiap detail yang tangan Fajrin lakukan sungguh hati dan otak Divya tak mampu menolak setiap perlakuan Fajrin padanya, mungkin saat ini Fajrin masih belum memiliki rasa cinta pada Divya mungkin saat ini yang Fajrin rasakan adalah menganggap Divya sebagai adiknya. Tapi tidak bagi Divya, Divya semakin menguatkan hatinya untuk selalu bersama Fajrin meskipun nanti Davis tidak merestui mereka.
tubuh Divya menegang saat Fajrin meloloskan satu kain sarung dari atas kepalanya, Divya merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya tapi tidak tahu apa itu. saat tangan Fajrin menyentuh ikatan kain sarung pada pinggang Divya, kembali Divya merasakan sesuatu yang aneh di dalam perutnya. Divya tersadar dari rasa aneh yang dia rasakan saat mendengar suara.
" angkat kaki kamu bergantian " Divya tersadar dari rasa aneh yang dia rasakan saat ini yang belum pernah dia rasakan sebelumnya meski pun tidak hanya kali ini saja dia berada di dekat seorang pria.