My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 19 SECOND IMPRESSIONS



“O... my God.... he's so handsome...... he's my type (ya Tuhan.... tampan sekali dia.... dia tipeku)” gumam wanita itu dengan suara pelan dan terdengar jelas oleh seorang pria yang keluar dari kamarnya.


“terima kasih sudah memuji abang” ucap Dipta.


Seketika Divya melihat Dipta dengan tatapan jengkel juga jengah.


“siapa yang memuji abang..... abang kalah jauh sama orang ta...” Divya mencari-cari sosok pria tadi.


“cari siapa?” tanya Dipta yang sudah melangkah di depan Divya.


Fajrin masuk ke dalam Ballroom dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Zulian juga Azkar, seketika senyum tipis terulas di bibir Fajrin saat melihat dua orang yang dia cari sedang berbincang-bincang dengan beberapa pria.


“Assalamu'allaikum” salam Fajrin saat sudah berada di samping Azkar.


“Wa'alaikumsalam” balas Azkar dan Zulian hampir bersamaan.


“maaf.... ada hal yang harus saya selesaikan lebih dahulu" ucap Fajrin tertunduk malu.


“Nara?” tebakkan Azkar membuat Fajrin mengangguk sekali, tapi Azkar memakluminya kalau Fajrin terlambat karena Nara.


“selamat hari jadi pernikahan yang ke tiga puluh lima pak Zulian “ ucap Fajirn sambil mengulurkan tangan kanannya pada Zulian.


Mereka berjabat tangan sesaat.


“Mr. Cheng.... let me introduce to you....he's Mr. Fajrin..... he’s the one I told you earlier (Tuan Cheng.... perkenalkan ini pak Fajrin..... beliau yang saya ceritakan tadi.” Ucap azkar memperkenalkan Fajrin pada Presdir Rosewood Group.


“ Fajrin....nice to see you Mr. Cheng..... (Fajrin..... senang bertemu anda Tuan Chen)" ucap Fajrin sambil mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan.


Untuk beberapa menit Fajrin dan Radha berjabat tangan.


“nice to see you to...... your design is very great.... we’re Rosewood officials very satisfied.... the media's preach the opening of the Resort praised every corner of the design and try to found out about you....we can only say that the Surendra group built this Resort.....and they’re ask Hao Nhat to find out about you (senang bertemu denganmu..... desain anda sangat bagus.... kami para pejabat Rosewood sangat puas.... para awak media yang meliput saat pembukaan Resort memuji setiap sudut desain dan mencari tahu tentang anda.... kami hanya bisa mengatakan bahwa perusahaan Surendra group yang membangun Resort ini..... dan mereka memburu Hao Nhat mencari tahu tentang anda).” Ucap Radha yang masih menjabat tangan Fajrin dan tangan kirinya menepuk punggung tangan Fajrin.


Fajrin merasa tidak enak dengan Hao Nhat juga pada Radha yang sudah menjadi perburuan para awak media karena ketidak hadirannya saat pembukaan Resort.


“as the president director of Rosewood and on behalf of Rosewood officials ask you to design the World Hotel and Resort in Jaipur and Niseko Hokkaido (saya selaku presiden direktur Rosewood dan mewakili para pejabat Rosewood meminta anda untuk mendesain World Hotel and Resort di Jaipur dan Niseko Hokkaido)” ucap Radha dengan tegas membuat Fajrin melihat Azkar dan Zulian bergantian dengan tatapan tidak percaya.


“thank you for entrusting the design of the World hotel and resort to us.... we are flattered, if there are things that Rosewood doesn't like or don't like with my design.... please guide me to fix it (terima kasih sudah mempercayakan desain World hotel dan resort pada kami.... kami merasa tersanjung, bila ada hal-hal yang pihak Rosewood kurang suka atau tidak suka dengan desain saya.... mohon bimbingannya untuk saya perbaiki)" ucap fajrin sambil sedikit membungkukkan badannya.


“hahahahaa..... you are too humble..... we are very impressed with your skills..... at first we thought that the one named Fajrin is an old architecture, but it turned out a young man that very talented. (hahahahaa..... anda terlalu merendahkan diri..... kami sangat kagum dengan kemampuan anda..... awalnya kami berpikir bahwa yang bernama Fajrin adalah seorang arsitektur yang sudah berumur, tapi ternyata seorang pria muda yang sangat berbakat).” Pujian Radha semakin membuat Fajrin semakin semangat untuk bekerja lebih baik lagi dan tidak mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya.


Radha berkali-kali memuji Fajrin, membuat Fajrin tidak mampu mengeluarkan kata-kata selain mengucap “terima kasih”, “anda terlalu berlebihan”, dan “mohon bimbingannya".


Azkar tersenyum bangga bisa memperkerjakan dan mempertahankan Fajrin bahkan selalu mendukung segala keputusan Fajrin di setiap sisi hidupnya, Zulian memandang Fajrin dengan bangga dan kagum meskipun pada awalnya dia meragukan kemampuan Fajrin hingga peristiwa yang hampir membuat Surendra Corp merugi. Tanpa Fajrin sedari ada sosok wanita yang selalu memperhatikannya sejak masuk ke Ballroom.


“he's so handsome..... I want him.... I've to know his name (dia tampan sekali...... aku ingin dia..... aku harus tahu namany)” gumam wanita itu yang selalu melihat gerak-gerik Fajrin.


“baru kali ini.... Divya melihat seorang pria yang tampan juga sopan.... tidak seperti yang lain.... matanya sangat tidak sopan" ucap Divya tanpa sadar membuat Dipta mencari ke arah pandang Divya.


Dipta tersenyum mengetahui siapa yang adiknya lihat.


“kamu ingin berkenalan dengan pria itu?” bisik Dipta membuat Divya tersenyum gembira.


“abang kenal dia?” tanya Divya dengan semangat.


“ayo....... abang kenalkan” ucap Dipta sambil menyungging senyum tipis melihat reaksi Divya.


Dipta dan Divya melangkah mendekati Fajrin yang sedang berbincang-bincang dengan zulian dan Azkar juga para kolega yang lain.


“Assalamu'allaikum.... selamat malam" salam Dipta


“Wa'alaikumsalam” balas Fajrin juga yang lainnya.


“sepertinya akan ada project besar bagi Surendra Corp” ucap Dipta membuat Azkar melihatnya sesaat.


“Dipta..... kamu harus banyak belajar dari Azkar dan Fajri..... kamu harus membantu papa kamu jangan hanya bersenang-senang saja.” Ucap Zulian menasehati Dipta.


“pasti om..... oya.... perkenalkan ini adik saya yang paling kecil...... satu-satunya anak perempuan papi" ucap Dipta memperkenalkan Divya.


Satu persatu berjabat tangan dengan Divya kecuali Fajrin dan Azkar yang memilih meletakkan telapak tangan kanannya di dada dan sedikit membungkukkan badan saat Divya mengulurkan tangan kanannya pada Fajrin dan Azkar. Divya tidak terkejut mendapat penolakan dari Azkar karena Divya sudah tahu bahwa istri Azkar adalah seorang wanita berhijab lebar, tapi Divya sangat terkejut Fajrin menolak tangannya untuk sekedar berjabat tangan. Divya malu juga jengkel karena Fajrin menolak berjabat tangan dengannya bahkan Fajrin hanya melihatnya sesaat dan segera memalingkan wajahnya melihat panggung.


“silahkan bapak-bapak semua menikmati hidangan yang sudah kami sediakan, Azkar aku pinjam Fajrin dulu.... aku mau memperkenalkan dia pada anak dari besanku" ucap Zulian sambil mengajak Fajrin.


Azkar hanya menganggukan kepalanya memberi izin pada zulian dan melangkah ke meja yang sudah di sediakan untuknya juga untuk beberapa kolega yang penting, sementara Dipta menarik lengan kanan Divya untuk kembali duduk di meja yang sudah di sediakan.


Pandangan mata Divya tidak bisa lepas dari sosok Fajrin, lelaki pertama yang menolak uluran tangannya dan satu-satunya yang melihatnya hanya dalam hitungan kurang dari satu detik


“dik..... itu matanya di kondisikan" ucap Dipta yang sudah mendudukkan Divya di sebuah kursi dengan menekan bahu Divya.


“abang..... apa adikmu ini tidak cantik tidak seksi?” tanya Divya heran.


“kenapa memangnya? Apa karena Fajrin hanya melihatmu sedikit dan kurang dari satu detik?” tanya Dipta heran.


“iya......baru kali ini ada pria yang menolak tanganku” ucap divya sedikit kesal.


“dia tidak menolakmu...... tapi dia menghormatimu..... dia tidak akan melihat apa lagi menyentuh wanita yang bukan saudaranya.... kamu lihat perempuan berhijab tosca yang duduk di meja keluarga pak Zulian.....?”Divya mengangguk melihat ke arah yang Dipta tunjuk.


“wanita itu dulu mantan kekasih Fajrin dan adiknya Fajrin adalah perempuan bercadar...... jadi abang sangat paham kalau dia tidak melihat atau meresponmu....karena kamu terlalu cantik dan terlalu seksi untuk dia lihat...” jelas Dipta membuat Divya semakin ingin tahu sosok Fajrin sebenarnya.