
KUALALUMPUR
“damn it..... this must be Rohit's idea.... luckily there are still a good man who help Divya..... otherwise... this news could get even more worse (sialan..... pasti ini perbuatan Rohit.... untung saja masih ada orang yang mau menolong Divya..... kalau tidak... bisa semakin buruk berita ini)" gumam Arbab sambil memandang layar laptop membaca headline berita tentang Divya di sebuah website.
“who is this guy (siapa pria ini)?” gumam Arbab sambil tangan kanannya menekan tombol zoom beberapa kali untuk memperjelas wajah Fajrin.
“Ben..... search everything about this man who help Divya (kamu cari tahu tentang pria yang membawa Divya).” teriakan Arbab yang keras membuat Ben hampir saja melempar ponsel barunya
BEHROR (ANTARA NEW DELHI – JAIPUR)
Fajrin sudah terlelap dalam tidurnya, sementara Ryan dan Gultom bergantian menceritakan detail kejadian tadi malam pada Jatinra, saat mereka sedang bersemangat menceritakan kejadian tadi malam tiba-tiba ponselnya bergetar. Dengan mata terpejam Fajrin mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya, seketika Ryan dan Gultom terdiam.
“Assalamualaikum bang” salam Fajrin dengan suara sedikit berat dan kedua mata masih terpejam.
Fajrin bisa langsung tahu siapa yang menghubunginya karena setiap kontak orang terdekatnya memiliki nada dering yang berbeda-beda. Ryan dan Gultom seketika menegang mendengar Fajrin mengucap kata ‘bang’ karena sudah pasti big bos mereka sedang menghubungi Fajrin
“......” suara Azkar membuat Fajrin merubah posisi duduknya.
“kami dalam perjalanan kembali ke Jaipur.... semalam acara presentasi kami di jamuan makan malam Keemaya berjalan lancar tidak ada satu kendala apa pun" jelas Fajrin dengan memijat tengkuknya yang terasa penat.
“.....” pertanyaan Azkar seketika membuat Fajrin mengingat peristiwa tadi malam.
“ada sedikit masalah tapi aku sudah mengatasinya.... apa abang mendengar berita ini dari pak Krishna?” tanya Fajrin sedikit berhati-hati.
“.....”
Fajrin kembali teringat akan ucapan Divya yang memanggil namanya berkali-kali.
“iya... wanita itu Divya dia model dan juga adiknya Dipta.” Ucapan Fajrin membuat tubuh Ryan dan Gultom semakin menegang.
“......”
“tidak mungkinlah bang...... saya masih sadar diri ada Nara yang mungkin kelak akan menanggung akibat bila saya melakukan hal yang buruk...... hanya saja dia mengambil kemeja almarhum ayah" ucap Fajrin sedikit sedih.
“......."
“Assalamu'allaikum” salam Fajrin.
“.....” Fajrin mematikan ponselnya dan kembali tidur karena kedua matanya masih terasa pedih.
Ryan dan Gultom yang sedari tadi menahan suara, seketika bernafas lega karena melihat Fajrin yang terlihat santai dan tidak terlihat sedang tertekan.
“pak.... apa pak Azkar marah?” tanya Gultom memberanikan diri.
“no" jawab Fajrin singkat.
“apa kami akan mendapat surat peringatan karena sudah berkelahi?” tanya Ryan sedikit takut.
“tidak..... bang Azkar tidak akan memberi hukuman pada staffnya tanpa alasan yang masuk akal....kenapa kamu jadi berpikir kearah situ?” ucap Fajrin sambil mengusap kedua matanya yang tidak bisa dia pejamkan kembali.
“dia adiknya Dipta yang paling kecil, dia model yang di kontrak Kaylan Fashion namanya Divya Prakash Lohia" ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu.
“apa.......adiknya pak Dipta" ucap Ryan dan Gultom dengan keras karena terkejut mendengar jawaban Fajrin.
Membuat Fajrin dan Jatinra menutup telinga mereka dengan tangan.
“berisik.... bisa tidak lebih keras lagi" ucap Fajrin sambil mengusap telinganya.
“terbalik pak..... lebih pelan..... bukan lebih keras” ucap Ryan mengoreksi ucapan Fajrin.
“sengaja biar kalian tenang.”ucap Fajrin yang sudah selesai mengirim sesuatu pada Azkar.
“pak Fajrin dalam keadaan genting seperti ini masih bisa bercanda"ucap Gultom dengan tertawa kecil.
“Jatinra..... can you find out whether or not there is news about Divya (Jatinra..... apakah bisakah kamu mencari tahu ada atau tidak berita tentang Divya)?” tanya Fajrin sedikit bingung bagaimana menjelaskan maksudnya.
“Mr. Fajrin what kind of news do you mean (maksud pak Fajrin berita seperti apa)?” pertanyaan Jatinra membuat kepala Fajrin kembali pening.
“anything about Divya and what happened last night.... (apa saja tentang Divya dan kejadian tadi malam....)” ucap Fajrin sambil memijat pelipisnya.
“I'll try it sir (saya coba dulu pak)" jawab Jatinra yang masih bingung dengan maksud Fajrin.
Untuk beberapa menit mereka terdiam dan tidak bersuara sedikit pun, tapi beberapa detik kemudian.
“here sir (ini pak)" ucap Jatinra membuat Fajrin juga Ryan dan Gultom segera melihat ke layar ponsel Jatinra.
“we can't read that news.... is there no news in English? (mana kami bisa membaca tulisan begitu.... apa tidak ada berita yang pakai bahasa inggris?)” tanya Ryan dengan kecewa karena berita yang Jatinra tunjukkan menggunakan huruf hindi.
Jatinra tersenyum mendengar ucapan Ryan yang lebih terkesan apa adanya tanpa rasa malu.
“wait I'm looking for an English... (sebentar saya cari yang bahasa inggris....)” ucap Jatinra dan mulai mengetik sesuatu.
Fajrin membalas pesan masuk di ponselnya dan menghela nafas dengan kasar. Beberapa menit kemudian, Jatinra menunjukkan berita tentang kejadian tadi malam dalam bahasa inggris. Seketika kepala Fajrin semakin terasa berat dan penat, bagaimana tidak menjadi beban pikiran Fajrin. Sebuah website yang memberitakan khusus tentang para selebriti dan model, headline berita hari ini menampilkan foto Fajrin yang sedang berjalan sambil mengangkat Divya. Memang wajah Divya yang menengadah ke atas sangat terlihat dengan jelas, sedangkan Fajrin hanya terlihat bagian kiri dari wajahnya tapi itu sudah cukup membuat pikiran Fajrin semakin kacau.
Yang Fajrin kuatirkan adalah bila berita ini akan di kaitkan dengan reputasi Surendra Corp, Azkar dan juga dirinya. Nama baik dan reputasi Surendra Corp akan menjadi taruhannya, karir Divya akan menurun karena berita skandal ini mengingat Divya adalah seorang model international yang terkenal. Fajrin kembali mengetik sesuatu pada ponselnya dan terlihat jelas wajahnya yang gusar dan tidak tenang.
“semoga saja bisa..... tidak.... harus bisa.... jangan sampai reputasi Surendra menjadi buruk karena fitnah ini" gumam Fajrin dalam hati dan menghela nafas dengan kasar.
“wuih..... gila beritanya semakin ramai di media sosial ini" seru Ryan membuat Gultom dan Jatinra melihat ke arahnya.
"what a handsome guy.... Divya is very lucky, I also want to be picked up like that..... does anyone know the man's social media account? (tampan sekali pria itu....beruntung sekali Divya, aku juga mau kalau di angkat seperti itu..... ada yang tahu tidak akun media sosial pria itu?).... wa..... bapak menjadi terkenal" ucap Gultom yang membaca beberapa komentar dari akun media sosial sebuah media cetak ternama dengan kantor pusat New Delhi yang berbahasa inggris.
“sepertinya sebentar lagi pak Fajrin akan banyak di cari para wanita dan awak media" ucap Ryan dengan bangga.
“pak kalau nanti pihak management mereka mau mengadakan press conference dengan bapak.... saya dengan senang hati menawarkan diri menjadi asisten bapak" ucap Ryan semakin membuat Fajrin jengah.
“saya juga mau menjadi menjadi pembicara bapak" ucap Gultom menimpali ucapan Ryan membuat Fajrin melempar sebuah tissue ke muka Gultom.