
Divya sudah terlihat cantik dan anggun dengan pakaian khas suku melayu baju kurung berwarna abu-abu muda perpaduan kain broklat berwarna biru dengan hijab senada dengan warna bawahannya, Fajrin yang sudah menunggu dengan duduk di sofa seketika berdiri saat melihat Divya keluar dari kamar.
“ Masya ALLAH cantik sekali.... “ gumam Fajrin dengan kedua mata yang tertahan agar tidak berkedip sedetik pun.
Divya yang mendapat pandangan mata menjadi tersipu malu.
“Divya jelek ya.... Divya ganti paka..... “ belum sempat Divya berucap sudah berbalik hendak masuk ke kamar lagi.
“ tunggu..... jangan..... cantik.... Divya sudah cantik..... cantik sekali “ ucap Fajrin berusaha menghentikan Divya yang akan kembali masuk ke kamar.
Divya tersipu malu mendengar pujian Fajrin, Divya membalikkan badan melangkah mendekati Fajrin dan sekarang Fajrin yang menjadi salah tingkah karena Divya mendekatinya dengan langkah anggun dan seksi menurut otak Fajrin. Fajrin berusah keras menutupi rasa gugupnya dengan mengenakan sarung tangan.
“ ayang.... Divya saja yang pakai sarung tangan..... bukankah ayang malam ini harus memperkenalkan diri bahwa ayang datang sebagai perwakilan CEO Surendra.... “ ucapan Divya membuat Fajrin berhenti memakai sarung tangan.
Fajrin tersenyum karena Divya sangat memahaminya.
“ Divya bawa sarung tangan..... ini “ ucap Divya memperlihatkan tangannya yang sudah tertutup sarung tangan yang sengaja dia siapkan.
Fajrin tersenyum dan meletakkan sarung tangannya di sembarang tempat.
“ ayo “ ucap Fajrin sambil mengulurkan tangan kirinya.
Divya tersenyum segera meraih tangan kiri Fajrin di luar kamar, Henri dan Gendhis sudah menunggu.
“ wa...... perempuan tomboy seperti kamu bisa juga memakai dress.... “ puji Fajrin pada Gendhis yang terlihat jelas tidak nyaman mengenakan dress setinggi lutut dengan potongan leher model keyhole.
“ jangan mengejek..... ini papa yang memilih..... masih mending papa tidak menyuruh Gendhis pake make up..... “ ucap Gendhis cemberut dan meraih tangan Divya .
“ ayo mba.... jalan sama Gendhis aja.... biar kak Fajrin sama papa..... “ ucap Gendhis yang sudah menarik Divya melangkah menuju lift.
Fajrin menggelengkan kepala heran melihat Gendhis yang tidak berubah sama sekali. 2 pria dewasa hanya mengikuti para wanita.
“ mba.... kenapa mba Divya bisa suka sama kak Fajrin yang jelek begitu..... udah jelek suka atur-atur pula..... “ gerutu Gendhis membuat Divya tersenyum.
“ jelek menurut Gendhis belum tentu jelek menurut orang lain...... memangnya tipe Gendhis seperti apa? “ pertanyaan Divya membuat Gendhis terdiam.
Hingga mereka masuk ke dalam lift dan sampai di sebuah ballroom, Gendhis masih memikirkan tipe pria yang dia suka.
“ entahlah.... belum ada spesifikasi khusus “ ucapan Gendhis membuat Divya ingin sekali memakaikan make up di wajah Gendhis.
Ballroom yang menjadi tempat acara jamuan makan malam PPB Group sudah di penuhi dengan para tamu undangan, Fajrin dan Henri mendapatkan meja tepat di samping meja para komisaris PPB Group. Jamuan makan malam para rekan dan relasi bisnis PPB Group tapi tidak semua relasi bisnis yang mereka undang, hanya perusahaan-perusahaan besar yang memiliki nilai kerja sama dengan satuan trilliun saja. Henri yang merasa bahwa Fajrin harus mengenal mereka semua mulai memperkenal satu persatu para rekan dan relasi bisnis PPB Group, dan tentu saja Mexrat dengan senang hati juga memperkenalkan Fajrin sebagai perwakilan CEO Surendra group. Fajrin yang mudah akrab mudah memahami kemana arah pembicaraan para pebisnis ini membuat para rekan dan relasi bisnis PPB Group sangat ingin mengenal pribadi sosok Fajrin juga sepak terjangnya di dunia bisnis kontruksi dan property.
Bahkan salah seorang relasi bisnis PPB Group rupanya ada yang sudah mengenal Fajrin sebagai seorang arsitek muda yang handal, orang tersebut bahkan menceritakan bahwa Rosewood mempercayakan 2 projectnya di tangan Fajrin tanpa adanya proses tender. Cerita yang menurut Fajrin sangat berlebihan, tapi mereka percaya bahwa hanya seorang arsitek handal yang bisa membuat CEO Rosewood melakukan penunjukkan langsung untuk project besar mereka. Para rekan dan relasi bisnis PPB Group bahkan dengan sangat antusias bertukar selembar kartu nama dengan Fajrin, tentu bukan hal yang baru bagi Fajrin bertukar selembar kartu nama tapi kartu nama Fajrin masih tertulis sebagai manager bagian.
“ kamu tidak takut badanmu gendut? “ pertanyaan sederhana dari Divya membuat Gendhis tertawa renyah.
“ mba.... meski pun Gendhis makan semua ini.... Gendhis tidak akan bisa gendhut.....karena faktor genetik.... almarhum mama Gendhis juga kayak Gendhis begini.... waktu hamil Anggun, mama makan banyak sekali bahkan saat memberi ASI Anggun pun.... mama makan banyak sekali tapi badan mama sama sekali tidak gendut. “ cerita Gendhis dengan mulut yang penuh makanan kecil.
“ di telan dulu baru cerita “ ucap Divya sambil menyodorkan segelas air mineral pada Gendhis.
Perbincangan santai 2 wanita ini menarik perhatian Zeno, Zeno yang sedari tadi memperhatikan Gendhis menatap Gendhis tidak percaya. Wanita yang tadi siang dia lihat dengan celana jeans dan kemeja yang terlihat kebesaran, malam ini memakai dress berwarna peach dan rambut tergerai bebas.
Zeno mendekati meja tempat Divya dan Gendhis duduk.
“ selama malam nona-nona...... wa... sepertinya ada yang berubah menjadi kupu-kupu “ ucap Zeno mencoba menarik perhatian Gendhis.
Divya yang merasa bahwa Zeno sedang menyindir Gendhis hanya bisa menahan senyumnya.
“ silahkan duduk tuan Zeno “ ucap Divya sambil mempersilahkan Zeno duduk tepat di samping Gendhis.
Gendhis yang masih terlihat cuek tidak menanggapai ucapan Zeno dan semakin menyibukkan diri dengan makan kecil yang baru saja para pelayan sajikan.
“ pelan-pelan Dhis.... kalau kurang.... habiskan punya mba “ ucap Divya sambil menyodorkan piring kecil yang berisi makanan kecil pada Gendhis.
Tentu saja Gendhis sangat senang menerima makanan kecil dari Divya karena Gendhis sangat menyukai makan kecil berbahan utama kacang-kacangan.
Zeno yang masih senang memperhatikan Gendhis makan membuat Divya merasa seperti obat nyamuk, sedangkan Gendhis yang tidak merasa bahwa dirinya sedang di perhatikan Zeno tetap santai menghabiskan makan kecil.
Dari tempat Fajrin dan Henri berdiri, seorang relasi bisnis memperhatikan Zeno yang menatap wanita dengan tatapan penuh ketertarikan.
“ bukankah itu putri anda dan calon istri anda? “ tanya relasi bisnis itu pada Henri dan Fajrin.
Henri dan Fajrin seketika melihat ke arah meja tempat Divya dan Gendhis duduk.
“ iya benar “ ucap Fajrin dan Henri hampir bersamaan.
“ sepertinya salah satu keturunan konglomerat Rosenkrantz tertarik dengan putri anda “ ucapan relasi bisnis itu seketika membuat Fajrin terkejut begitu juga dengan Henri.
“ tunggu.... siapa yang anda maksud dengan keturunan konglomerat Rosenkrantz? “ tanya Fajrin ingin tahu.
“ itu.... yang sedang memperhatikan putri tuan Henri “ seketika Fajrin menatap Zeno dengan tidak percaya.
Bukan Fajrin tidak percaya dengan ucapan dari relasi bisnis itu tapi lebih tepatnya tidak pernah dengan apa yang dia lihat bahwa Zeno adalah salah satu keturunan Rosenkrantz. Sejak Erhan melakukan transfer sejumlah uang pada rekening Fajrin sebagai keuntungan pemegang 10% sahan Rosenkrantz, Azkar memasukkan nomor ponsel Fajrin dalam group percakapan para keturunan Rosenkrantz generasi ke enam. Dan nama Zeno tidak ada dalam group tersebut.