My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 227 MORNING DRAMA



Meski pun Fajrin mendapatkan cuti 2 minggu dari Azkar, tapi karena Divya memintanya untuk masuk kerja. Mau tidak mau Fajrin mencoba menuruti permintaan Divya meski pun dengan berbagai drama, karena Divya mulai sibuk kembali dengan project persiapan peragaan busana Muslim yang bulan depan akan dia ikuti dalam waktu dekat. Divya mengerjakan semua sendiri tanpa bantuan siapa pun, bahkan Divya memutuskan untuk melakukan negosiasi sendiri dengan pengrajin sepatu boots yang dia ketahui.


Melihat semangat dan kegigihan Divya membuat Fajrin tidak tega dan meminta Liam untuk mengawasi rumah mereka, tapi tetap saja sebelum Fajrin berangkat kerja selalu saja ada drama di pagi hari. Seperti pagi ini, hari ketiga Divya meminta Fajrin berangkat kerja.


“ yakin.... sayang minta ayang kerja..... tidak menyesal.... “ goda Fajrin yang masih melingkarkan kedua lengannya di pinggang Divya.


“ ayang.... kalau ayang begini.....bagaimana semua ini bisa selesai tepat waktu “ ucap Divya mencoba mengabaikan rasa geli di leher karena Fajrin sibuk menjelajahi kulit lehernya.


Fajrin masih mencoba merayu dan mengabaikan ucapan Divya dengan menjelajahi kulit leher hingga bahu Divya, bibir dan indera pengecap Fajrin sibuk mengabsen setiap inchi dari kulit leher hingga bahu membuat pemilik kulit berusaha keras mengabaikan rasa geli juga rasa ingin merasakan milik suaminya.


“ ayaaaang....... “ suara tertahan Divya yang mencoba dengan keras menahan rasa itu.


“ hmmmmm..... “ suara berat Fajrin tepat di telinga kiri Divya.


Semakin membuat area sensitif Divya terasa lembab, merasa bahwa istrinya tidak mampu lagi menahan rasa itu membuat Fajrin senang dan dengan perlahan tangan kanan Fajrin turun ke bawah. Menyusupkan tangannya di balik bawahan hingga merasakan kulit paha, membelai kulit yang menjadi haknya.


“ ayaaaang..... “ suara berat Divya membuat Fajrin semakin aktif dengan indera pengecap juga tangan kanannya.


Dengan perlahan tangan kanan Fajrin yang sudah berada di area paling sensitif mengabsen setiap inchi dari kulit area sensitif Divya, bahkan jari telunjuknya sudah berada di dalam area sensitif Divya.


“ basah sayaaang..... “ bisik Fajrin membuat pertahanan Divya runtuh.


Divya membalikkan badan dan melingkarkan kedua lengannya di leher Fajrin, Fajrin tersenyum penuh kemenangan karena sekali lagi dramanya berhasil. Dengan cepat Fajrin mengangkat Divya dan membuat Divya melingkarkan kedua kakinya di pinggang Fajrin.


“ 5 menit “ ucap Fajrin di sela-sela ciuman mereka.


Fajrin membawa Divya naik ke atas kamar mereka dan kembali melakukan kegiatan pelebaran dinding rahim, meski pun Fajrin mengatakan 5 menit tapi pada kenyataannya lebih dari 5 menit kegiatan pelebaran dinding rahim yang Fajrin lakukan. Membuat Divya lelah dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fajrin.


“ ayang.... setiap pagi selalu begini..... “ suara Divya sedikit merajuk.


Fajrin gemas dengan mendengar ucapan dan membelai pipi kiri Divya.


“ karena sayang candu bagi ayang..... “ ucap Fajrin yang tangan kanannya pelan-pelan aktif kembali.


“ ayaaaang..... tangannya “ rajuk Divya membuat Fajrin menghentikan aksinya dan memeluk erat Divya.


“ gemas.... “ ucap Fajrin sambil merapatkan giginya karena tidak tahan dengan rasa gemasnya.


Fajrin bangkit dari ranjang dan mengangkat Divya membawanya masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi wajib.


“ ayang ingin melihat saja..... janji tidak lebih dari itu “ ucap Fajrin dengan senyum yang meyakinkan Divya.


Dan Fajrin memenuhi janjinya hanya melihat Divya mandi wajib hingga Divya keluar dari kamar mandi.


“ sayang..... bisa bantu ayang pakai ini “ ucap Fajrin sambil menyerahkan sebuah dasi panjang berwarna abu-abu.


Divya tersenyum melihat sehelai dasi di tangan Fajrin.


“ tumben pakai dasi.... kemarin kemarin tidak..... apa hari ini bang Azkar menyuruh ayang rapat sama relasi bisnisnya? “ ucap Divya sambil meraih dasi di tangan Fajrin dan memakaikannya di leher Fajrin.


Hanya dalam hitungan detik dasi panjang berwarna abu-abu sudah terpasang rapi di leher Fajrin.


“ hari ini om Selo mau mengajak ayang bertemu dengan salah satu kawan almarhum ayah.... om Selo bilang dulu mereka bertiga sama sama para pemburu beasiswa..... “ ucap Fajrin sambil berkaca melihat simpul dasi hasil karya Divya.


Divya memeluk Fajrin dari belakang dan menghirup dalam-dalam aroma kulit leher Fajrin.


“ jangan menggoda ayang..... tadi saja sudah minta berhenti.... “ Divya meringis mendengar ucapan Fajrin dan segera melepas pelukkannya.


Divya melangkah cepat keluar dari kamar sebelum Fajrin terpancing, Fajrin tersenyum melihat tingkah Divya yang selalu membuat dirinya menginginkan Divya.


Fajrin melangkah keluar menuruni anak tangga dan menuju meja makan, setiap pagi siang dan malam dua orang pelayan dari kediaman Davis selalu menyiapkan makanan di meja makan. Fajrin tidak ingin kebersamaannya dengan Divya terganggu oleh keberadaan para pelayan kediaman Davis sehingga para pelayan ini hanya akan berada di rumah Fajrin saat menjelang makan pagi hingga menjelang makan malam. Keberadaan mereka juga untuk menemani Divya agar tidak merasa kesepian di rumah sendiri.


“ nanti siang sayang tidak perlu membawa makan siang...... dan tidak perlu membuat makan malam...... ayang akan beli makan malam kita..... sayang mau makan malam apa? “ ucap Fajrin sambil memberikan sebuah piring berisi kentang tumbuk dan sebuah telur mata sapi pada Divya.


Divya terlihat memikirkan sesuatu karena sejak bersama Fajrin, Divya sudah tidak pernah melakukan diet dan olahraga untuk mengimbangi menu dietnya. Dan meski pun Divya tidak lagi memakan menu diet tetap saja berat badan Divya berada di batas proposional untuk tinggi badannya.


“ hmmmm..... sepertinya sate padang atau gudeg menyenangkan “ Fajrin tersenyum mendengar permintaan Divya.


“ baik..... makan malam nanti ayang beli sate padang juga gudeg “ ucap Fajrin sambil berdiri dari kursi dan mencium kepala Divya.


Seperti biasa sebelum Fajrin berangkat kerja Divya mencium punggung tangan kanan Fajrin dan Fajrin memberi kecupan kecil di dahi Divya.


Melihat Fajrin yang terlihat mengenakan jaket dan tas punggung juga masih setia dengan motor tuanya membuat Divya menarik nafas panjang, beberapa kali Divya sudah membujuk bahkan merayu Fajrin agar membeli mobil atau pun motor baru tapi jawaban Fajrin masih sama.


“ ayang mau sampai kapan pakai motor tua itu...... apa nanti kata relasi bisnis ayang melihat ayang mengendarai motor tua...... kalau pun tidak mau mengganti dengan mobil setidak-tidaknya beli motor baru sudah lebih dari cukup “ gumam Divya dalam hati sambil memandang Fajrin hingga hilang dari pandangannya.


Sekepergian Fajrin, Para pelayan dari kediaman Davis mulai membersihkan rumah bagian dalam mau pun luar bahkan Liam dan dua orang pengawal Divya sudah berjaga di depan pagar rumah. Sejak Divya menikah, Fajrin melarang Liam masuk ke area rumah meski pun hanya di halaman depan saja. Fajrin berusaha keras menjaga aurat istrinya agar tidak terlihat oleh pria lain meski pun hanya sehelai rambut saja, Liam sangat memahami apa yang Fajrin perintahkan dan hanya bisa menuruti semua perintah Fajrin.