My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 249 PROGRAM



“ untuk pak Fajrin.... kami akan melakukan pengetesan kualitas benih anda..... kami akan memilah benih anda sebanyak mungkin menyesuaikan jumlah sel telur yang siap di buahi. “ penjelasan dokter kali ini membuat Fajrin membayangkan bagaimana sulitnya mengeluarkan benihnya tanpa bantuan milik Divya.


Fajrin membayangkan terakhir kali mengeluarkan benihnya tanpa bantuan milik Divya waktu di Singapore, Fajrin memerlukan waktu lebih dari satu jam. Divya tersenyum melirik Fajrin yang terlihat jelas memikirkan cara bagaimana mengeluarkan benih Fajrin tanpa bantuan miliknya.


“ kami juga memastikan bahwa kualitas benih bapak dalam kondisi bagus..... bila berdasarkan informasi bahwa ibu Divya yang mengalami gangguan kesehatan.... maka proses pemisahan benih anda dari hal hal lain akan lebih cepat.... dan kami bisa langsung melakukan proses inkubasi di dalam laboratorium selama kurang lebih dua belas sampai dua puluh empat jam.... kami harap selama itu sudah terjadi banyak pembuahan sel telur oleh benih..... “ belum selesai Dokter menjelaskan.


“ berarti ada kemungkinan bahwa berapa pun sel telur yang dokter ambil akan di buahi semua oleh benih suami saya dan sejumlah itu yang akan dokter masukkan kembali ke dalam uterus saya....? “ pertanyaan Divya membuat Fajrin sedikit terkejut.


Fajrin tidak dapat membayangkan bila lebih dari dua sel telur yang di buahi dan lebih dari dua embrio yang dokter masukkan ke dalam uterus Divya.


“ bila semua embrio itu jadi..... berarti sayang akan hamil beberapa janin “ gumam Fajrin dalam hati membuat kepalanya menjadi pening kembali.


Fajrin tidak sanggup membayangkan bila hal itu terjadi pada Divya dan membuat Divya mengalami apa yang Nara alami, Fajrin merasa sudah tidak sanggup lagi membayangkan bila harus menjalani apa yang Afkar jalani.


Fajrin melepas genggaman tangannya keringat dingin mulai membasahi punggungnya. Dokter tersenyum mendengar pertanyaan Divya.


“ kami hanya akan melakukan pemindahan embrio kurang lebih dua sampai lima embrio saja..... itu kami lakukan di hari ke lima setelah sel telur di buahi dan berada di fase blastosit atau sudah terbentuk rongga kecil dan sudah mampu menempel dengan baik pada dinding rahim.... tapi sebelum proses pemindahan embrio.... kami akan melakukan injeksi hormon progesteron untuk membantu kesiapan dinding rahim..... setelah proses ini selesai kami harap ibu Divya lebih banyak beristirahat.... kurangi aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran..... “ penjelasan dokter membuat Fajrin semakin tidak sanggup membayangkan kalau nanti Divya mengalami kehamilan kembar.


“ mengingat umur ibu Divya masih di bawah tiga puluh lima tahun... prosentase keberhasilan program bayi tabung ini lebih dari empat puluh persen. “ Divya tersenyum lebar dan semakin tidak sabar ingin segera melakukan progtam bayi tabung.


“ berarti ada sekitar enam puluh persen ketidak berhasilan? “ tanya Fajrin dengan kepala pening sebelah.


“ enam puluh persen itu kemungkinan karena implantasi yang gagal dan pertumbuhan lapisan uterus yang tidak optimal.... maka dari itu kami sering menyarankan pada wanita yang melakukan program bayi tabung untuk bisa mengurangi aktivitas fisik mau pun psikis..... hindari stress.... lelah..... menjaga asupan vitamin dan mineral..... sebaiknya jangan lakukan olah raga yang terlalu berat.... “ penjelasan dokter membuat Divya menggenggam tangan kiri Fajrin meyakinkan Fajrin bahwa dirinya bisa melakukan semua yang dokter sarankan.


Mengingat selama ini Divya sangat sibuk dengan gambar sketsa desain pakaian.


“ adakah kemungkinan terburuk dari keberhasilan program bayi tabung ini.... “ pertanyaan Fajrin yang singkat membuat Divya menatap wajah suaminya penuh tanya


“ berdasarkan pengalaman kami.... kemungkinan terburuk yang pernah kami alami adalah persalinan prematur atau berat badan bayi rendah.... kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan..... dan yang baru saja terjadi adalah cacat lahir..... “ seketika kepala Fajrin semakin pening.


Tapi Divya mengeratkan genggaman tangannya memberi isyarat bahwa apa pun yang terjadi, Divya siap menerima hasil dari proram ini.


“ bila anda sudah yakin dan siap.... anda bisa lakukan semua proses program bayi tabung mulai hari ini atau besok..... “ ucapan dokter membuat Fajrin menatap Divya seperti mencari tahu bagaimana kesiapan istrinya.


Fajrin tersenyum juga terkejut mendengar ucapan Divya, karena Fajrin tidak menyangka bahwa Divya akan secepat itu memutuskan menjalanin program bayi tabung setelah mendengarkan panjang dan lebar penjelasan dokter yang mengharuskan konsumsi beberapa kali injeksi juga beberapa resiko bayi tabung. Yang bisa Fajrin lakukan adalah memberikan dukungan sepenuhnya dan menyerahkan hasil proses bayi tabung ini pada pemilik hidup.


Sejak hari ini Divya mulai menjalanin program bayi tabung dan itu berarti hampir setiap hari mereka harus datang ke rumah sakit ini karena harus melakukan pemeriksaan detail kondisi folikelnya. Bahkan Azkar juga sudah mengizinkan Fajrin untuk datang ke kantor setelah selesai menemani Divya menjalani tahapan proses program bayi tabung.


Saat saat yang mendebarkan bagi Divya adalah pada saat dokter memeriksa kondisi folikelnya yang membuatnya tidak sabar untuk menjalani proses pengambilan sel telur, tapi dengan sabar Fajrin menamani setiap tahapan itu bahkan saat Divya harus melakukan injeksi antagonis GnRH sendiri. Fajrin selalu berada di sampingnya, meski pun tidak kuat melihat Divya yang menahan rasa sakit di tusuk jarum. Divya melakukan injeksi antagonis GnRH sehari dua kali yaitu pagi dan menjelang malam, sebelum berangkat dan sepulang kerja Fajrin selalu menemani Divya melakukan injeksi antagonis GnRH.


Hingga tiba waktunya bagi Fajrin dan Divya untuk menjalani proses selanjutnya yaitu pengambilan benih dan sel telur, proses pengambilan benih Fajrin yang membutuhkan waktu sedikit lebih lama dari proses pengambilan sel telur Divya. Karena Divya hanya membantunya dengan menggunakan tangan membuat Fajrin sedikit kesulitan mengeluarkan benihnya, namun pada akhirnya apa yang harus Fajrin keluarkan keluar juga.


“ ayang...... kenapa lama sekali..... ini lebih dari satu jam capek tangan Divya..... “ gerutu Divya sambil membersihkan sisi luar tabung kecil yang sudah menampung benih Fajrin.


Fajrin tersenyum gemas mendapatkan protes dari Divya.


“ karena tidak pakai itu.... jadi lama “ bisik Fajrin sambil merapikan celananya.


Divya menyerahkan tabung tersebut pada seorang perawat yang bertugas mendampingi mereka. Dan beberapa menit lagi giliran Divya untuk menjalani proses pengambilan sel telur karena tiga puluh empat jam yang lalu atau kemarin lusa Divya sudah mendapatkan injeksi hormon HcG.


Saat saat yang mendebarkan bagi Divya, perawat menyiapkan segala peralatan medis yang dokter butuhkan.


“ dokter.... apa saya boleh menemani istri saya di sini saat dokter melakukan pengambilan sel telur? “ tanya Fajrin sedikit ragu.


“ tentu boleh... silahkan..... “ jawab dokter singkat.


Divya yang sudah siap menggengam erat tangan kiri Fajri, sementara Fajrin memperhatikan layar monitor yang menampilkan kondisi folikel Divya.


“ ini kondisi sel telur yang siap untuk di buahi..... ini ada sekitar...... satu.... dua.... tiga.... empat..... “ ucapan dokter terhenti karena menggerakan jarum ke ovarium sisi kanan.


“ dan di sisi kanan.... ada satu.... dua.... tiga.... lima sel telur yang siap di buahi..... kami akan mengambil semua untuk proses inkubasi. “ ucap dokter membuat Fajrin merinding.


Bulu-bulu halus di kedua lengannya berdiri mendengar jumlah sel telur yang siap di buahi.