
Fajrin kembali menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan membantu Nara mempersiapkan sidang skripsi. Pelan-pelan Fajrin hanya 2 atau 3 hari sekali memghubungi Divya meski pun Divya masih sering mengirim pesan singkat, terkadang terbersit keinginan untuk bertemu Divya saat dirinya merasa rindu berada di dekat Divya. Dan saat rasa rindu itu muncul maka sepulang kerja Fajrin akan langsung meluncur ke rumah Divya, tapi Fajrin hanya akan berani diam duduk di atas motornya memandang pintu pagar tanpa berani menekan bel pagar. Fajrin masih belum berani menghadapi kakak kedua Divya yang pernah berniat jahat padanya.
Satu minggu setelah pertengkaran, Dipta menceritakan semua pada Fajrin dan tentu saja Fajrin merasa sangat terkejut mendengar cerita Dipta. Satu hal yang Fajrin sangat bersyukur adalah bahwa Azkar masih menjaganya meski pun Azkar melakukannya dengan diam-diam. Mengingat peristiwa itu cukup membuat nyali Fajrin menciut untuk bertemu Divya, Fajrin kuatir bila Ditya melihatnya lagi dan melakukan hal yang sama lagi.
Tanpa Fajrin sadari setiap kali Fajrin berdiam diri duduk di atas motor mengamati pintu pagar rumah, Davis juga mengamati Fajrin melalui kamera CCTV.
“ sudah 2 bulan ini kamu hanya berdiri dan melihat rumah kami. Apa kamu masih trauma dengan perlakuan orang-orang Ditya? “ gumam Davis sambil melihat layar CCTV.
“ sampai kapan kamu akan berdiam disana? Apa sampai Divya menemuimu? Tidak mungkin hanya karena perbuatan Ditya hingga membuatmu tidak berani masuk ke rumah kami? “ berbagai pertanyaan tentang Fajrin kembali muncul di dalam benak Davis
“ mungkin sebaiknya besok aku menemui Azkar, aku akan mencari tahu masa lalu Fajrin. “ gumam Davis dalam hati.
Setelah makan pagi Divya memilih berenang menyegarkan otaknya yang kembali kusut masih bingung dan bimbang menentukan pilihan.
“ apa aku minta saran ayang saja bagaimana mengambil keputusan ini? Kalau aku mendapatkan dan menerima kontrak itu, apa ayang mau menunggu 1 tahun lagi? Tapi kalau ayang tidak mau bagaimana? “ gumam Divya yang sudah turun ke dalam kolam.
“ aku menginginkan kontrak itu tapi aku juga tidak mau berpisah lagi dengan ayang... “ gumam Divya yang sudah menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam kolam.
selama 5 detik kedepan Divya tetap berdiam dan muncul ke permukaan dengan nafas panjang serasa kehabisan oksigen. Di saat Divya sibuk dengan pemikirannya, Davis sudah dalam perjalanan ke gedung Surendra. Dengan sedikit bantuan dari seorang satpam, Davis sudah berada di depan ruangan Azkar. Melihat Azkar sedang berbicara dengan seseorang dengan bahasa Norwegia.
Davis diam menunggu Azkar selesai berbicara.
“ Roby, cari ini dan berikan pada Dean secepatnya “ perintah Azkar membuat Roby segera menerima secarik kertas.
“ foto Nara.... buat apa bos? “ tanya Roby heran.
“ 3 hari lagi kakek mau membuat pesta pernikahan Afkar dan Nara, kamu siapkan juga Sundth Air untuk membawa orang-orang itu ke Bergen “ ucap Azkar sambil memijat tengkuknya.
Kedua mata Roby membulat sempurna membaca tulisan di kertas yang dia terima dari Azkar. Saat Azkar membalikkan badan, terkejut melihat Davis berdiri memandangnya.
“ om Davis.... silahkan masuk om. Ada hal penting apa sampai om Davis kemari? “ tanya Azkar basa basi.
“ kamu sudah paham maksud kedatanganku kemari “ ucap Davis yang sudah duduk di sofa.
“ apa om Davis ingin berbicara dengan Fajrin? Kalau untuk keperluan itu sepertinya... tidak bisa.... karena Fajrin bersama Dean sudah berada di bandara dan setengah jam lagi pesawat mereka terbang ke Oslo. “ ucapan Azkar membuat Davis kecewa.
“ berarti tadi malam dia berdiam diri sampai tengah malam karena pagi ini akan berangkat ke Oslo. “ gumam Davis dalam hati.
“ kalau boleh tahu, dalam acara apa Fajrin ke Oslo? “ tanya Davis ingn tahu.
“ maksud kamu bahwa Fajrin kesana karena adiknya? “ tanya Davis meyakinkan diri.
“ iya.... Fajrin kesana karena Nara. “ jawab Azkar santai.
“ begitu ya..... aku terlambat..... tapi kenapa kamu tidak berangkat ke Bergen juga? “ tanya Davis heran.
Azkar tersenyum tipis.
“ istri saya sedang hamil jadi saya tidak tega kalau harus meninggalkan istri sendiri di rumah “ jawab Azkar sambil memperlihatkan foto hasil USG terakhir helen.
Davis terlihat kecewa karena tidak bertindak cepat demi putrinya.
“ mmm.... apakah ada masa lalu yang membuat Fajrin trauma akan sesuatu? “ tanya Davis sedikit ragu.
Azkar menarik nafas panjang.
“ mungkin sudah saatnya om Davis tahu apa yang membuat Fajrin tidak lagi mengunjungi Divya di rumah “ ucapan Azkar membuat Davis terkejut.
“ dari mana kamu tahu, Fajrin tidak lagi mengunjungi Divya? Apa orang-orang kepercayaanmu mengawasi Fajrin? “ tanya Davis heran.
“ jujur om.... sejak kepergian Afkar ke Oslo dan saya mendapat laporan dari Dean, saya kembali menempatkan beberapa orang pengawal untuk menjaga kakak beradik ini. Dan ternyata apa yang saya kuatirkan benar terjadi, selanjutnya seperti yang om Davis tahu apa yang Fajrin alami. Mungkin kalau saat itu saya tidak mendapatkan laporan dari Dean mungkin keadaan Fajrin tidak sebaik sekarang, bahkan bisa jadi bukan hanya Fajrin yang akan trauma kembali tapi juga adiknya. “ penjelasan Azkar yang terkesan apa adanya membuat Davis merasa terpukul.
“ maafkan Ditya.... dia masih belum bisa melihat orang dari sisi positif .... aku sudah menyuruhnya kembali ke Montreal. “ ucap Davis sedih.
Azkar menarik nafas panjang, kembali menceritakan trauma yang membuat Fajrin belum berani melangkah lebih jauh dengan Divya, Davis mendengarkan dengan serius dan sesekali mengusap wajahnya dengan tangan kiri.
“ Fajrin sadar betul perbedaan di antara dirinya dengan Divya sangat jauh. Saya masih ingat kalau Divya dulu pernah mengatakan ingin sekali menjadi salah satu model Victoria's Secret, kalau sampai hal ini di ketahui Fajrin. Saya tidak bisa membantu om Davis karena ini sudah menyangkut prinsip dan idealisme Fajrin. “ penjelasan Azkar membuat Davis semakin bingung memikirkan apa yang akan dia bicarakan nanti bila bertemu Fajrin.
Sebagai seorang ayah, Davis menginginkan putrinya bahagia bersama pria yang dia cintai tapi di sisi lain Davis juga tidak bisa memaksakan Fajri memaklumi atau menerima ambisi putrinya.
“ saran saya, mungkin sebaiknya om Davis bicarakan kelebihan dan kekurangan ambisi Divya yang bertolak belakang dengan prinsip Fajrin “ ucap Azkar santai.
“ aku sudah memberi waktu 4 bulan untuk Divya memikirkan baik-baik dan menyuruhnya tidak menemui Fajrin selama dia belum menentukan sikap, apakah mengejar karir atau cintanya. Tapi aku rasa kalau pun Divya memilih karir aku yakin pasti hatinya terluka “ ucap Davis sedih.
Azkar diam seperti sedang berpikir.
“ pantas Fajrin terlihat sedikit tidak bersemangat akhir-akhir ini, jadi karena tidak bisa bertemu Divya. “ gumam Azkar dalam hati.