
KEDIAMAN DAVIS
Meski pun pada awalnya Divya merasa kesal tapi setelah membaca pesan singkat dari Fajrin, akhirmya membuat mood Divya menjadi ceria. Bahkan setelah makan malam yang biasanya Divya tidak menemani Nenek Ina mengawasi para pelayan membereskan meja, kali ini Divya menemani Neneknya.
“ tumben mau menemani nenek “ ucap Nenek Ina sambil menyerahkan gelas kotor.
“ hehehehe “ Divya meringis menjawab ucapan Neneknya.
Selesai menemani Neneknya, Divya menyapa Davis yang masih terlihat serius memperhatikan pergerakan harga saham perusahaan mereka. Membuat Divya membatalkan niatnya untuk meminta pendapat Davis, dan langsung naik ke lantai 2.
Divya berdiri termenung menatap ruang pakaiannya yang semua isinya sudah 100% berbeda, bila dulu penuh dengan kain yang mengekspose keindahan kulit dan lekuk tubuhnya. Tapi kini di penuhi dengan kain yang menutupi keindahan kulit dan lekuk tubuhnya serta menutupi warna rambutnya, ada 2 tunik yang merupakan hasil dari designnya sediri meski pun bukan dirinya yang menjahit.
“ kalau besok pakai ini..... kira-kira ayang suka tidak ya..... “ ucap Divya sambil meraih sebuah tunik setinggi lutut.
“ telepon ayang saja deh.... “ gumam Divya dan mencari keberadaan ponselnya.
Tak perlu menunggu lama hanya 2 kali nada dering dan suara Fajrin terdengar.
“ .... “ suara yang selalu membuatnya rindu dan semakin cinta.
“ wa'alaikumsalam, ayang besok jemput Divya jam berapa? “ tanya Divya yang masih bingung besok mengenakan pakaian apa.
“ ..... “ Divya tersenyum bahagia mendengar kalimat panjang Fajrin.
“ pakai motor saja.... biar Divya bisa peluk ayang... “ goda Divya sambil membayangkan wajah gugup Fajrin.
“ ...... “ Divya meloncat kegirangan mendengar suara gugup Fajrin.
“ ooooo.... Divya kira naik motor..... terus pakai dress code apa? “ ucap Divya sambil memilah kain hijab.
“ ...... “ mendengar kata nyaman membuat Divya ingin sekali lagi menggoda Fajrin.
“ kalau Divya nyaman tidak pakai apa-apa bagaimana? “ ucap Divya sambil menahan tawa.
Mendengar suara batuk-batuk Fajrin membuat Divya teriak dalam diam merasa berhasil membuat Fajrin semakin gugup.
“ ..... “ Divya semakin kegirangan mendengar ucapan Fajrin yang masih terdengar gugup.
“ iya.... Divya hanya bercanda.... ayang besok pakai pakaian warna apa? “ ucap Divya sambil memilah-milah hijabnya.
“ ..... “ jawaban singkat Fajrin membuat Divya segera menentukan pilihannya..
“ baiklah biru..... I love you.... Assalamu'allaikum “ ucap Divya sambil meletakkan hijab berwarna biru pasta di meja untuk dia pakai besok.
“ ..... “ salam Fajrin membuat Divya berteriak kegirangan hingga membuat Davis yang sedang lewat di depan pintu kamar Divya menjadi sedikit terkejut.
Mendengar suara teriakan Divya membuat Davis memegang dadanya menatap dan memegang daun pintu kamar Divya.
“ ada apa? “ tanya Davis sedikit kuatir.
Mendengar pintu kamarnya terbuka membuat Divya menghentikan teriakkannya dan melihat Davis dengan heran.
“ papi ada perlu apa? “ tanya Divya heran.
“ kamu tadi teriak ada apa? Ada kecoa? Besok biar Jason panggil layanan pembasmi kecoa “ ucap Davis yang masih bingung.
Divya tersenyum mendengar ucapan Davis dan menarik tangan kirinya untuk masuk.
“ pakai ini cantik.... “ ucap Davis sambil menunjuk sebuah tunik berwarna biru gelap hasil designnya.
“ papi yakin ini cantik..... papi yakin ayang akan suka? “ tanya Divya yang sedikit ragu dengan pilihan Davis.
“ terserah kamu pakai apa saja tetap cantik..... memangnya besok kamu mau kemana? “ tanya Davis ingin tahu.
“ besok ayang mengajak Divya datang ke reuni sekolah di restauran sahabatnya. “ jawab Divya sambil memasukan 1 tunik beserta hijab dan bawahannya.
“ oooo..... “ ucap Davis dan melangkah keluar dari kamar Divya.
Dari selesai makan pagi Divya langsung kembali masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, sementara Fajrin sedang dalam perjalanan menuju kediaman Davis dengan motornya.
Tepat pukul 9 lebih 15 menit Fajrin sudah berada di depan kediamanan Davis, seorang pengawal membukakan pintu dan Fajrin segera masuk dengan motornya.
“ good morning sir (selamat pagi pak) “ salam pengawal tersebut yang sudah hapal dengan sosok Fajrin.
“ morning, thanks (pagi, terima kasih) “ balas Fajrin.
Saat hendak memarkir motornya, seorang pengawal yang berada tidak jauh dari garasi segera menghampirinya dan meminta Fajrin menyerahkan motornya.
“ sir, let me park your motorcycle(pak, biarkan saya yang memarkir motor anda) “ pinta pengawal itu yang membuat Fajrin akhirnya bersedia menyerahkan motornya.
Di ruang tengah sudah menunggu Davis yang terlihat sibuk berbicara dengan seseorang di ponselnya. 2 kali Fajrin mengucapkan salam tapi tidak ada respon pemilik rumah, Fajrin menarik nafas panjang untuk mengucap salam sekali lagi.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Nenek Ina yang sudah berdiri di belakang Fajrin dan sukses membuat Fajrin terkejut.
“ ayo masuk “ ajak Nenek Ina.
Fajrin memgikuti langkah kaki Nenek Ina dan duduk di ruang tengah tepat di depan Davis, Davis melihatnya sesaat dan memberi isyarat tangan agar Fajrin menunggunya sebentar. Mata Fajrin yang selalu menunduk memperhatikan sebuah kertas yang tergelatak di lantai dan memungutnya serta di letakkan di meja. Davis mengulas senyum tipis melihat apa yang Fajrin lakukan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga membuat Fajrin secara refleks mencari sumber suara.
“ Masya ALLAH “ ucap Fajrin spontan saat melihat siapa yang turun dari tangga.
Kedua mata Fajrin terpana kedua kelopak matanya terasa tidak mau menutup melihat Divya yang mengenakan tunik berwarna biru gelap setinggi lutut dengan potongan bawah seperti mermaid dan celana hitam serta hijab berwarna coklat muda. Fajrin menatap Divya hingga Divya berdiri tepat di depannya.
“ ayang..... ayang... “ ucapan Divya menyadarkan Fajrin dan segera Fajrin menundukkan pandangannya.
“ maaf.... “ suara gugup Fajrin membuat Davis menggelengkan kepala dan tersenyum tipis melihat ketertegunan Fajrin.
Divya tersenyum karena ini pertama kalinya melihat wajah tertegun Fajrin lebih dari 10 detik.
“ papi..... Fajrin izin mau mengajak Divya ke acara reuni sekolah “ suara Fajrin yang masih terdengar jelas sangat gugup juga salah tingkah membuat Divya tergelitik ingin menggodanya.
“ ayang.... pakai motor saja ya.... biar Divya bisa peluk ayang “ ucapan Divya membuat Fajrin tersedak ludahnya.
Jason yang berdiri tidak jauh dari Davis segera menuangkan air mineral di gelas dan menyerahkan pada Fajrin. Fajrin meminum habis air mineral tersebut dan membuat Davis tertawa terbahak-bahak.
“ Jason.... give him one of my car (Jason.... berikan Fajrin 1 mobilku) “ ucap Davis sambil menyunging senyum bahagia karena sekali lagi melihat sikap Fajrin yang beda dari para pria muda yang dia kenal.
Jason memberikan sebuah kunci mobil milik Davis pada Fajrin, Fajrin bingung dengan apa yang Jason berikan karena ucapan Davis sedikit ambigu di telinga dan otaknya.
“ pakai mobil papi ke acara kamu.... kalau kamu mau... pakai juga buat berangkat kerja “ ucapan Davis membuat Fajrin salah tingkah juga gugup.
“ terima kasih papi..... Fajrin pakai hari ini saja..... selesai acara nanti Fajrin kembalikan “ ucap Fajrin terbata-bata gugup mendengar permintaan Davis.