My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 17 MALU



Semua anggota tim Phu Quoc sudah mulai masuk kerja dan mereka sudah kembali ke bagiannya masing-masing, kecuali Irvan dan Gultom yang di pindahkan ke bagiannya Fajrin karena bagian mereka sebelumnya sudah bergabung dengan kantor cabang di bawah pimpinan Yudha.


“Assalamu'allaikum semua.....” salam Gultom saat masuk ke ruangan dan melihat Fajrin yang sudah sibuk dengan gambar-gambarnya.


“Wa'alaikumsalam” jawab Fajrin singkat tanpa melihat kedatangan Gulton.


“project baru?” tanya gultom pada Ningsih yang sibuk merapikan berkas tiga project besar lainnya.


“iya.... yang di meja dekat kaca project resort dan arena di Lombok, yang ini di pulau Masela dan yang di situ aku kurang tahu....” ucap Ningsih sambil menyerahkan setumpuk berkas pada Gultom untuk di letakkan di lemari bagian atas.


“baru juga masuk.... sudah ada tiga project besar lagi.... kalau begini kapan aku bisa melamar perempuan idamanku" ucap Gultom lemas.


“setelah project Masela kamu lamar perempuan itu" ucap Fajrin yang ternyata mendengar keluh kesah Gultom.


“eee.... pak Fajrin dengar..... jadi malu" ucap Gultom malu-malu.


“Ningsih.... tolong pastikan ke bagian marketing untuk project Jaipur, berapa luas area dan spesifikasi fasilitas resort..... kalau hanya informasi perkiraan aku tidak bisa menggambarnya.” Ucap Fajrin sambil memijat tengkuknya yang mulai terasa capek.


“baik pak" jawab Ningsing singkat dan segera menghubungi bagian terkait.


“Jaipur”


“India"


Ucap Irvan dan Gultom saling memandang tidak percaya dengan apa yang sudah mereka dengar. Mereka melangkah mendekati Fajrin yang masih sibuk dengan gambar desain gedung di Pulau Masela.


“pak..... serius kita akan ke Jaipur?” tanya Irvan sedikit takut.


“kenapa? Tidak mau? Kalau tidak mau bilang sama big bos saja..... jangan sama saya" ucap Fajrin melihat Irvan sesaat dan kembali memandangi gambar desainnya.


“Bro..... untung kamu disini..... aku telepon dari tadi tidak ada yang angkat.... kemana Ningsih?” tanya Roby yang tiba-tiba datang.


“Ningsih aku suruh cari data detail project Jaipur..... kenapa cari Ningsih? Mau kamu beri harapan palsu?” ucap Fajrin sambil memegang penggaris besi dan menopangnya dengan bahu kanan seperti hendak memukul sesuatu.


“jangan sadis begitu calon menantu kesayangan....” canda Roby membuat Fajrin jengah.


“ada apa kesini?”tanya Fajrin yang kembali sibuk mengamati detail ukuran gambarnya.


“big bos.... menyuruhku untuk mencarikan pakaian resmi untuk kamu pakai besok lusa malam.” Ucap Roby sambil melihat sekeliling ruangan.


“jas.... tuxedo..... aku pakai jas almamater saja.....” ucap Fajrin dengan bercanda yang terdengar kaku sekali.


“jangan begitu..... big bos mau memperkenalkan kamu pada koleganya...... kalau tidak salah big bos Rosewood Group akan datang juga.... dengar-dengar big bos Rosewood Group ingin tahu siapa Arsitek yang sudah mendesain World Resort Phu Quoc.” Ucapan pelan Roby membuat Fajrin merinding, karena baru kali ini Azkar memaksa Fajrin secara halus membuka identitas dirinya.


“serius....janganlah.... aku tidak mau..... “ ucap Fajrin sambil berjalan ke luar ruangan, Roby mengikuti langkahnya.


“kamu mau kemana? Cari abang kamu.....? beliau tidak ada di ruangannya..... tadi katanya mau mengantar Ustadzah ke dokter kandungan.” Ucapan Roby membuat Fajrin menghentikan langkahnya.


“Helen hamil lagi?” tanya Fajrin singkat.


“sepertinya begitu" jawab Roby singkat.


Fajrin kembali ke ruangannya dan melanjutkan desainnya.


“Bro..... ayo berangkat....” ajakan Roby membuat Fajrin bingung.


“kemana?” tanya Fajrin heran.


“pesan jas atau tuxedo" ucap Roby sambil merebut penggaris besi dari tangan Fajrin dan memberikannya pada Gultom yang sedari tadi melihat mereka berinteraksi. Mau tak mau pada akhirnya Fajrin mengikuti Roby, membuat Irvan dan Gultom juga Ningsih heran melihat hubungan mereka.


Di sebuah mall terbesar di Jakarta mereka masuk ke sebuah butik pakaian khusus pria yang menyediakan berbagai jenis jas, kemeja, celana kain dari brand ternama. Fajrin merasa apa yang di lakukan Azkar padanya sangat berlebihan tapi meskipun berkali-kali menolak tetap saja pada akhirnya Fajrin harus mengikuti kemauan Azkar.


“selamat siang.... bisakah kalian menunjukkan beberapa potong pakaian formal untuk dia?” ucap Roby sambil menunjuk Fajrin yang sesekali terlihat mengangkat kedua bahunya saat melihat harga kemeja yang dia pegang.


Dua orang pelayan butik mengeluarkan beberapa kemeja, jas, celana juga dasi dan meletakkan tepat di depan ruang ganti untuk Roby lihat.


“Bro.... coba ini ini dan ini" ucap Roby membuat Fajrin menggelangkan kepalanya menolak permintaan Roby.


“yang lain saja.... itu mahal..... nanti uang bang azkar habis..... kasihan Helen" ucap Fajrin menolak.


“jangan buat malu aku..... ayo coba dulu" paksa Roby yang sudah menarik lengan kiri Fajrin untuk masuk ke ruang ganti dan menyerahkan beberapa potong pakaian yang dia pilih.


Fajrin berjalan pelan masuk ke ruang ganti, setelah menunggu kurang lebih lima menit. Fajrin keluar ruang ganti dan mengenakan pakaian formal lengkap, membuat kedua pelayan butik melihatnya dengan malu-malu.


“cakep ya....”


“tampan sekali"


Bisik-bisik kedua pelayan itu.


“coba ganti yang ini ini dan ini" ucap Roby sambil menyerahkan beberapa gantung pakaian.


Fajrin semakin malas melihat perbuatan Roby yang menurutnya semena-mena, setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit akhirnya Fajrin keluar.


“ini bagaimana pakainya" tanya Fajri sambil menyerahkan dasi kupu-kupu pada seorang pelayan butik.


Pelayan butik itu menerima dasi kupu-kupu dan dengan tersipu malu-malu membantu memasangkan dasi kupu-kupu di leher Fajrin. Kedua pipi pelayan butik serasa panas menahan malu, Roby yang mengetahui hal ini hanya bisa menahan tawa sedangkan Fajrin bersikap biasa saja.


“nah..... begini baru keren..... coba kalau setiap hari kamu ke kantor pakai pakaian seperti ini..... aku pastikan semua staff wanita akan pingsan melihatmu.” Canda Roby membuat Fajrin memicingkan kedua matanya pada Roby.


“sudah selesai bercandanya? Kalau sudah aku ganti pakaian.....” ucap Fajrin sambil melangkah masuk ke ruang ganti.


Roby tersenyum menahan tawa melihat sahabatnya sedikit jengkel dengan candaannya. Setelah menunggu lima menit, Fajrin keluar dengan pakaian kerjanya dan menyerahkan kemeja, celana serta jas yang tadi dia coba pada Roby. Fajrin lebih memilih menunggu roby di luar butik, entah kenapa tiba-tiba perhatian Fajrin tertuju pada sebuah butik yang tepat berada di seberang depannya.


Fajrin tersenyum kecil melihat tingkah salah seorang pengunjung butik yang bersikap seperti seorang remaja padahal dari penampilannya bisa di pastikan usianya lebih tua beberapa tahun dar Nara.


“coba ini dulu.... ini lebih sopan dari pilihan kamu..... abang tidak mau mengajak kamu kalau kamu masih berpakaian seperti itu..... abang malu" ucap seorang pria sambil menyerahkan sebuah gaun berwarna hijau gelap.


“ini jelek..... bagus yang tadi.... aku tidak bisa memperlihatkan bahu mulusku...... apa abang tidak suka kalau aku sedikit pamer dengan kecantikan dan kemolekan tubuhku?” tanya perempuan itu dengan merajuk.


Fajrin mengalihkan perhatiannya pada Roby yang terlihat jelas bingung membawa barang belanjaan.