
Fajrin merebahkan tubuhnya di sofa dan belum bisa memejamkan kedua matanya, dia masih memikirkan siapa wanita yang sudah dia tolong dan kenapa wanita itu menggengam erat pakaiannya. Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar, Fajrin meraih ponsel yang dia letakkan di meja tak jauh dari sofa tempatnya beristirahat. Fajrin membuka sebuah pesan masuk yang ternyata sebuah alamat server database yang dapat dia akses dengan mudah.
Fajrin tersenyum senang melihat pesan itu karena ternyata Nara dapat dengan cepat menemukan apa yang dia minta, Fajri segera menyalin file itu dan menyimpan dalam folder khusus di ponselnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun Fajrin meminta Nara untuk meretas sistem keamanan hotel Taj Palace dan mencari rekaman CCTV yang dia maksud. Saat Fajrin memutar file itu seketika kedua matanya membulat sempurna, karena sepertinya dia pernah melihat wajah pria yang memaksa wanita tadi meminum sesuatu.
“sepertinya aku pernah melihat pria ini? Tapi dimana ya.....” gumam Fajrin sambil memikirkan sesuatu.
Sesaat kemudian Fajrin mengirim pesan pada Nara dan langsung mendapat jawaban dari Nara.
“sekarang jam berapa di Jakarta?" gumam Fajrin sambil melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
“jam satu tengah malam.... berarti di Jakarta sekarang pukul dua lebih tiga puluh pagi hari” Gumam Fajrin sambil mengetik sesuatu.
Selang beberapa menit kemudian Nara mengirim pesan, Fajrin membuka pesan itu yang ternyata berisi daftar tamu hotel Taj Palace beserta wajah mereka. Fajrin mengamati satu persatu wajah dan nama mereka, seketika kedua mata Fajrin membulat sekali lagi tidak percaya dengan apa yang sudah dia baca.
“Rohit.....Kaylan Fashion and Jewellery?” gumam Fajrin heran karena tidak mengenal nama itu.
Kembali jari jemari Fajrin mencari wajah yang mungkin dia kenal, tangannya berhenti saat melihat wajah wanita yang dia tolong.
“Divya Prakash Lohia..... plug media management?” gumam Fajrin sekali lagi saat melihat identitas para tamu undangan jamuan makan malam.
“Prakash Lohia...... “gumam Fajrin sekali lagi dan berpikir keras seperti mengenal nama itu.
“apa mungkin dia salah satu keluarga Dipta?” gumam Fajrin berpikir keras.
Fajrin mengirimkan foto Divya pada Dipta, kedua matanya terasa lelah begitu juga dengan badan dan tangannya. Fajrin memejamkan matanya karena waktu sudah menunjukkan pukul satu lebih empat puluh lima menit.
Tepat pukul empat Fajrin juga Ryan terbangun karena alarm dari ponsel Fajrin, mereka sholat Shubuh berjamaah dengan Fajrin sebagai imamnya. Seperti biasa selesai sholat Fajrin akan berdzikir untuk beberapa menit kedepan juga sedikit murojaah, Ryan yang melihat wajah Fajrin seperti memikirkan sesuatu tapi tidak berani menanyankannya hanya bisa kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
Selesai murojaah Fajrin kembali merebahkan tubuhnya yang masih terasa penat, saat hendak memejamkan matanya untuk beberapa menit kedepan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Fajrin melihat layar ponsel dan segera menerima panggilan tersebut.
“Assalamu'allaikum” salam Fajrin.
“.......” Fajrin merasa tersentak mendengar jawaban Dipta.
“panjang ceritanya.... tapi nanti aku ceritakan..... kamu yakin dia adikmu?” tanya Fajrin meyakinkan Dipta sekali lagi.
“.....? “pertanyaan Dipta semakin membuat Fajrin tidak tenang.
Fajrin kuatir bila Dipta akan terkejut atau tidak percaya pada dirinya lagi.
“......”
“ooooo..... begitu.... apa dia seorang model?” tanya Fajrin sambil memikirkan berbagai kemungkinan bila seorang model ketahuan oleh awak media maka berita apa saja yang akan terjadi.
“......" jawab Dipta singkat.
“pantas..... baiklah kalau begitu terima kasih infonya.... aku bersiap dulu mau kembali ke Jaipur.... Assalamualaikum” salam Fajrin.
“.....” balas Dipta.
Fajrin segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan keluar beberapa menit kemudian sudah dalam keadaan rapi. Fajrin membangunkan Ryan dengan sedikit terkejut Ryan tersentak karena Fajrin membangunkannya dengan sedikit keras.
“kita kembali ke Jaipur pagi ini..... bangunkan yang lain untuk bersiap-siap..... aku akan menghubungi supir kita dan Jatinra.” ucap Fajrin yang sudah mengemasi pakaiannya masuk ke dalam tas punggungnya.
Ryan bingung mana dulu yang harus dia lakukan, menghubungi rekan-rekannya atau membersihkan diri dahulu. Tapi pada akhirnya Ryan memilih membangunkan semua rekan-rekannya dulu dan lanjut membersihkan diri. Semua rekannya terkejut juga mendengar perintah Fajrin karena sebelumnya Fajrin mengijinkan mereka untuk bersantai setelah jamuan makan malam. Fajrin menghubungi Jatinra untuk segera kembali ke Jaipur, Fajrin meminta Jatinra menunggu di lobi empat puluh lima menit lagi.
Fajrin dan Ryan keluar kamar dan masih melihat kedua pengawal Divya berdiri di depan pintu kamar yang seharusnya Fajrin pakai.
"we're back first (kami kembali dulu" ucap Fajrin saat lewat di depan kedua pengawal Divya.
"be careful on the way sir....thank you for your help to our lady (hati-hati di jalan tuan.... terima kasih atas bantuan anda pada nona kami)" ucap Liam dengan sopan.
Tanpa banyak basa basi Fajrin dan Ryan segera masuk ke dalam lift, Fajrin lebih memilih menunggu yang lain di lobi dari pada di kamar karena dia ingin melihat situasi dan kondisi saat ini apa bila ada kaitannya dengan kejadian tadi malam bisa segera dia hindari. Setelah menunggu kurang lebih setengah jam Gultom dan yang lain segera turun dan bergabung dengan Fajrin juga Ryan, mereka terlihat kecewa karena acara santai sehari ini di batalkan oleh Fajrin.
“jangan begitu.... ini semua demi kebaikan kita dan perusahan..... nanti aku ceritakan semua di apartemen” ucap Fajrin sambil mengetik sesuatu di ponselnya.
Gultom dan yang lain hanya bisa pasrah dengan keputusan Fajrin karena Fajrin adalah pimpinan mereka saat ini, Ryan melihat wajah Fajrin seperti sedang mengkuatirkan sesuatu begitu juga dengan yang lain. Tapi mereka semua tidak berani bertanya dan hanya bisa menuruti perintah Fajrin. Lima belas menit kemudian Jatinra datang dengan dua mobil yang akan membawa mereka kembali ke Jaipur, Fajrin segera meminta timnya untuk masuk ke mobil. Fajrin meminta Ryan dan Gultom berada satu mobil dengan dirinya dan Jatinra, sedangkan yang lain di mobil satunya berangkat menjemput Vikas. Kunci hotel sudah mereka serahkan pada pihak resepsionis kecuali kunci kamar yang Fajrin tempati.
Sepanjang perjalanan kembali ke Jaipur Fajrin terdiam memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi pada Divya juga dirinya bila wajah mereka ada yang mengenali. Fajrin mengetik sesuatu pada ponselnya, Jatinra Ryan dan Gultom bingung dengan apa yang Fajrin lakukan saat ini.
“aku akan jelaskan semua nanti di apartemen .... sekarang biarkan aku tidur dan bangunkan bila sudah sampai apartemen" ucap Fajrin sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Karena Fajrin berusaha memejamkan matanya tapi pikirnya masih memikirkan berbagai kemungkinan bila awak media tahu kejadian yang menimpa Divya dan pastinya dia juga akan menjadi perburuan awak media. Fajrin menghembuskan nafas dengan kasar karena kepalanya terasa berat dan penat.