
Elena membuka aplikasi browser dan mengetik nama Divya, matanya terlihat sangat serius membaca berita satu persatu tentang Divya hingga dia menemukan judul berita skandal tentang Divya di sebuah media elektronik ‘Divya with the unknown guy’. Elena dengan serius membaca berita tersebut membuatnya mengerutkan kulit di antara kedua alisnya dan saat melihat foto yang mereka tampilkan, seketika kedua mata elena membulat tidak percaya.
“crazy where did they get this photo from (gila dari mana mereka mendapat foto ini)" ucapan Elena berhasil membuat Joana melangkah mendekatinya.
“isn't this the man who helped Divya last night? And they used this photo as proof of Divya's scandal.....? I'm sure Divya's mood will be good in the next few days (bukankah ini pria yang tadi malam menolong Divya? Dan mereka menggunakan foto ini sebagai bukti skandal Divya.....? aku yakin mood Divya akan bagus dalam beberapa hari kedepan).” Ucapan Joana membuat Elena melihatnya dengan heran tapi tidak berlangsung lama hanya beberapa detik yang kemudian tersenyum lebar seperti telah menemukan ide untuk mengatasi berita skandal ini.
“yes..... of course Divya will be happy to hear this news..... luckily it's not a scandal with that bastard guy...... if that happens we will also have a long and hard days (ya..... tentu saja Divya akan senang mendengar berita seperti ini..... untung saja bukan berita skandal dengan pria sialan itu...... kalau itu terjadi kita juga yang akan menjalani hati-hati berat dan panjang).......” ucapan Elena mendapat anggukan oleh Joana.
Beberapa menit kemudian Divya keluar kamar mandi sudah dalam keadaan rapi, Divya mengenakan kaos lengan panjang berwarna putih yang menutupi leher serta celana sunny jeans dengan sedikit sentuhan lubang di lututnya.
Joana menyerahkan sepatu berjenis scarpin dengan tinggi heels kurang lebih tujuh centimeter berwarna krem. Divya segera menerima sepatu itu, saat hendak memakainya tiba-tiba perutnya berbunyi. Divya tersenyum malu mendengar suara lambungnya yang lumayan keras membuat Elena melihatnya dengan menahan senyum.
“let's have dinner first.... after this we go back to the apartment I’ve told Derek to wait in the hotel parking area at first basement and for key of this room Fajrin's colleague is already waiting outside the room (kita makan malam dulu.... setelah ini kita kembali ke apartemen aku sudah menyuruh derek menunggu di area parkir hotel di basement satu dan kunci kamar ini sudah ada rekan Fajrin yang menunggu di luar kamar).” Ucap Elena sambil menyerahkan sebungkus makanan khas india.
“how do they know we are still using this room (bagaimana mereka tahu kita masih memakai kamar ini)?” pertanyaan Divya membuat Elena bingung karena Elena tidak mengetahui pasti hal itu.
“ just ask him when you meet him again (kamu tanyakan saja kalau nanti kamu bertemu lagi pria idamanmu itu)" ucap Joana sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
“sure.... I'll ask him" ucap Divya senang dan berharap bertemu kembali dengan Fajrin.
Selesai makan malam mereka keluar dari kamar hotel, Elena menyerahkan kunci kamar pada seorang staff Surendra New Delhi dan segera turun ke area parkir basement satu. Disana sudah menunggu Derek dengan sebuah mobil, tapi kali ini Bibhu yang menyetir. Saat mobil yang mereka tumpangi keluar area parkir tidak satu pun para wartawan yang menyadarinya begitu juga saat staff Surendra saat menyerahkan kunci kamar ke resepsionis. Tapi di pelataran dan lobi apartemen tempat Divya tinggal sudah berkerumun banyak wartawan yang menanti kemunculannya sejak berita skandalnya terbit pertama kali.
Mobil yang Divya tumpangi berhenti tepat di depan lobi, Bibhu keluar terlebih dahulu membuat para wartawan segera mengerumuni mobil yang Divya tumpangi. Saat Divya keluar dari mobil para wartawan semakin memburunya dengan berbagai pertanyaan tentang dirinya dan pria misterius itu.
“Who is that man (siapa pria itu)?”
“is he your lover (apa dia kekasih anda)?”
“Since when did you guys have a relationship (sejak kapan kalian menjalin hubungan)?”
“is he a model just like you (apakah dia seorang model sama seperti anda)?”
“does he work in the same field as you (apakah dia bekerja di bidang yang sama dengan mu)?”
“don't you want to make some clarification (tidakkah kamu ingin melakukan klarifikasi)?”
“give us a little information about that guy (berilah kami sedikit informasi tentang pria itu)”
“are you going to have a press conference (apakah kamu akan melakukan konferensi pers)?”
“where do you know that guy (dimana kamu mengenal pria itu)?”
“how long have you been in a relationship (berapa lama kalian menjalin hubungan)?”
“is he a businessman (apa dia seorang pengusaha)?”
Divya dan Elena tetap diam tidak menjawab semua pertanyaan para wartawan, Liam dan Bibhu berusaha menghalau para wartawan yang berusaha mendekati Divya. Saat kurang beberapa langkah dari pintu lift seorang wartawan menghentikan langkah kaki Divya dengan sebuah pertanyaan yang membuatnya diam.
"is he this person (apa dia orang ini)?” ucap seorang wartawan sambil memperlihatkan foto Fajrin yang sedang mempresentasikan design-nya saat jamuan makan malam Keemaya Management.
Divya membalikkan badannya dan melihat profil foto Fajrin di sebuah majalah properti dan bisnis, meskipun foto itu berukuran kecil tidak lebih dari separuh halaman. Tapi itu sudah cukup membuat Divya mengenali bahwa sosok yang diperlihatkan adalah Fajrin.
Saat Divya hendak melangkah mendekati wartawan itu, Elena menahan tangannya dan menggelengkan kepalanya memberi tanda agar Divya tidak menanggapinya.
"I can conclude that the man in this magazine is the same man who carry you (dapat aku simpulkan bahwa pria di majalah ini adalah pria yang sama yang mengangkatmu" ucap Wartawan itu dengan percaya diri.
Divya sama sekali tidak memperlihatkan wajah kecewa marah sedih atau pun senang, dia memasang wajah tanpa ekspresi membuat para wartawan saling menebak apa yang ada di dalam pikiran Divya saat ini.
"I know that guy.... he's one of the talented young architects.... Rosewood entrusted the project to him (aku tahu pria itu.... dia salah satu arsitek muda yang berbakat.... Rosewood mempercayakan projectnya pada dia)" ucap salah seorang wartawan yang tepat berada di luar kerumunan.
Seketika para wartawan mencari tahu asal suara dan wartawan yang mengetahui sosok Fajrin melangkah pelan ke depan Bibhu dan Liam.
"isn't right what i said? He's not a businessman or a model or an actor.... but he's an architect at the Surendra construction company (benar bukan apa yang aku katakan? Dia bukan pengusaha bukan juga seorang model atau pun aktor.... tapi dia seorang arsitektur di perusahaan kontruksi Surendra” ucap Wartawan itu dengan percaya diri.
Mulut Divya serasa ingin berteriak mmenjawab pertanyaan wartawan itu tapi sekali lagi Elena menahan tangannya memberi isyarat agar Divya tidak terpancing oleh pertanyaan wartawan itu.
Elena segera menarik Divya masuk ke dalam lift, seluruh perasaan Divya campur aduk. Rasa senang, bahagia, dan gembira karena pada akhirnya dapat bertemu dengan Fajrin meskipun dengan situasi dan kondisi yang salah. Rasa sedih, kuatir dan takut karena akan membuat berita tentang dirinya semakin tidak terkendali dan kemungkinan besar para wartawan akan mencari informasi tentang Fajrin dan yang Divya takutkan bila Fajrin akan menghindarinya itu berarti perjuangannya akan semakin panjang dan lama.