
Sampai di kantor seorang satpam segera mendekat saat melihat Fajrin membawa banyak sekali kantung-kantung pakaian dan membantunya membawa hingga ke ruang kerja Fajrin.
Melihat anggota timnya yang belum datang semua membuat Fajrin sedikit heran, tapi setelah menunggu kurang lebih 15 menit Akhirnya 12 anggota timnya satu persatu masuk dan saat mereka semua sudah datang, Fajrin memanggil Muslim dan Cahyo untuk membagi pakaian seragam yang Fajrin bawa.
“ sesuai dengan ucapan kalian, bahwa kalian bersedia menjadi pembawa mahar..... itu pakaian seragam yang harus kalian pakai saat membawa maharku..... “ semua anggota tim Fajrin saling memilah-milah ukuran yang sesuai dengan ukuran mereka masing-masing.
Mereka seperti tidak memperdulikan ucapan Fajrin karena sibuk memilih.
“ pak.... pakaian ini nanti kami kembalikan atau tidak? “ tanya Ryan sambil mengamati brand pakaian yang dia pegang.
“ tidak “ jawaban singkat Fajrin membuat Ryan dan muslim meloncat kegirangan.
Sebelum Fajrin melangkah kembali masuk ke ruang kerjanya, pertanyaan Hilman menghentikannya.
“ pak.... kami harus berkumpul dimana? Apa kami perlu membawa pakaian ganti? Ada jeda di jadwal akad dan pesta bapak.... “ tanya Hilman sedikit ragu.
“ jam 8 pagi kalian sudah harus berada di kediaman big bos dan sudah rapi memakai pakaian itu.... untuk pakaian pesta.... sudah ada pakaian seragam lainnya di sana kalian bisa ambil sendiri “ ucapan Fajrin membuat semua anggota timnya kegirangan.
Baru kali ini mereka mendapatkan pakaian pesta bermerek dari Azkar, karena sebelum sebelumnya mereka hanya mendapatkan jaket, sepatu safety, jaket safety, dan pakaian untuk mereka pakai di lokasi project. Perusahan Azkar sekali dalam setahun membagikan semua itu pada staff yang pekerjaannya bersinggungan langsung dengan pekerjaan di lapangan bahkan para admin dan sekretaris juga asisten yang mengikuti pimpinan mereka ke lapangan juga mendapatkannya.
Selepas istirahat siang, Azkar mengajak Fajrin makan siang di luar dan meninggalkan Roby yang mendapatkan kesibukan baru yaitu mengurus jasa pengawalan untuk konvoi beberapa mobil dan truk yang membawa barang pelangkah Fajrin yang juga kemungkinan besar bus Shield.
“ bang.... kenapa makan disini? “ tanya Fajrin curiga.
“ aku akan mengajarimu bagaimana memuaskan Divya “ suara pelan Azkar cukup membuat wajah Fajrin bersemu merah.
“ aku yakin kamu belum tahu caranya “ gida Azkar dan sukses membaut Fajrin melangkah cepat masuk ke dalam restauran.
“ hahahahaha.... ternyata dia sudah menahannya selama ini..... “ gumam Azkar dalam hati.
KEDIAMAN DAVIS
satu-persatu saudara sepupu, paman dan bibi Divya berdatangan. Mereka ada yang hanya menginap semalam di kediaman Davis dan ada yang sudah bermalam di hotel yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara Divya.
“ hi..... my beautiful cousin who soon will become beautiful bride..... how your feeling to releasing single status? (hai..... sepupuku yang cantik yang akan menjadi pengantin yang cantik..... bagaimana rasanya yang sebentar lagi akan melepas status lajang) “ sapa Evan sambil mendorong pelan Ditya yang terlihat jelas malas bertemu Davis.
“ I can't wait for him to touch me (aku sudah tidak sabar dia menyentuhku) “ ucap Divya menggoda Evan.
Ditya menatap Divya tidak percaya bahwa Divya akan benar-benar menikahi pria yang pernah mau dia hancurkan.
“ hai bang.... abang terlihat lebih segar..... berarti abang sangat cocok tinggal di pulau itu “ suara pelan Divya membuat Ditya geram.
“ hahahhahaha..... “ tawa evan membuat saudara sepupu dan para kerabat Divya menatap Evan dengan heran.
“ why did you all come here..... Jason has already booked a hotel room for you guys (kenapa kalian semua datang kesini ..... Jason sudah memesan kamar hotel untuk kalian) “ ucap Davis melihat semua saudaranya berdatangan.
“ thank you...... all of our belongings are at the hotel..... we are here just to make sure if Divya is ready to let go of her single status (terima kasih...... barang-barang kami sudah berada di hotel semua..... kami kesini hanya ingin memastikan apakah Divya sudah siap melepas status lajangnya) “ jawab Martha sambil memeluk Divya.
Divya yang sudah tahu bahwa Martha yang menulis nama-nama barang yang harus Fajrin bawa, menjadi sedikit tidak nyaman membalas pelukkan hangat Martha.
Aileen, Celina, Jessica, dan Trinity memeluk Divya bergantian.
“ I'm disappointed you gave up your modeling career.... why did you quit the job that made you big and there are many fashion designers who know you but i'm happy.... you found your true love (aku kecewa kamu melepas karir modelmu.... kenapa kamu berhenti dari pekerjaan yang sudah membesarkan namamu dan sudah banyak para designer pakaian yang mengenalmu..... tapi aku bahagia.... kau menemukan cinta sejatimu ) “ ucap Aileen sambil memeluk Divya.
“ why did you cover your beautiful hair..... did he force you to cover it (kenapa juga kamu menutup rambut indahmu..... apa dia yang menyuruhmu)? “ tanya Trinity yang memang baru kali ini bertemu Divya.
“ you should know one thing that makes Divya fall in love with a man that will make Divya want him again and again.... that man's face is look like Hollywood actor Matt Bomer (kalian harus tahu satu hal yang membuat Divya jatuh cinta pada pria yang akan membuat Divya menginginkannya terus dan terus.... wajah pria itu seperti actor Hollywood Matt Bomer) “ ucap Celina pelan.
Membuat ketiga sepupu Divya membuka mulut mereka terkejut mendengar ucapan Celina.
“ seriously (serius) “ ucap Trinity dan Aileen hampir bersamaan.
“ does his stomach also look like Matt Bomer (apa perutnya juga seperti Matt Bomer)? “ tanya Jessica sedikit sinis.
“ more than that (lebih dari itu) “ ucapan Divya semakin membuat sepupunya ingin tahu lebih tentang sosok Fajrin.
Bahkan mereka mengikuti Divya kemana pun Divya melangkah hanya ingin mencari tahu tentang Fajrin.
Sementara Ditya sedang duduk diam dengan tatapan penuh rasa tidak suka pada Davis.
“ apa kamu sudah memutuskan untuk meminta maaf pada Fajrin? “ tanya Davis sambil mengamati pergerakan harga sahamnya.
“ tidak akan... aku kemari hanya ingin melihat seberapa besar kemampuan keuangannya.... kalau dia bisa membawa apa yang aku minta..... aku akan merestui mereka tapi aku tetap tidak akan meminta maaf pada pria miskin. “ ucap Ditya dengan gengsi.
Davis sudah lelah berdebat dengan Ditya yang keras kepala.
“ terserah kamu.... setelah acara Divya selesai... kamu akan kembali lagi ke pulau itu sampai kamu mau meminta maaf pada mereka “ ucapan Davis semakin membuat Ditya geram dan semakin tidak suka dengan sosok Fajrin.
Dipta yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Davis dan Ditya hanya bisa menarik nafas panjang.
“ papi..... jadi papi lebih memihak pada pria miskin itu dari pada anak sendiri.... “ ucapa Ditya dengan suara bernada tinggi.
Davis yang merasa malas berdebat dengan Ditya tiba-tiba teringat akan ucapan Fajrin yang meminta izin membawa Divya ke jamuan makan malam PPB group di Penang.