
Pada akhirnya Fajrin mengikuti keinginan Divya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan sesuai saran Davis, Fajrin mengajukan cuti untuk 4 hari kedepan.
“ mau kemana kamu.....? “ pertanyaan Azkar membuat Fajrin melangkah mendekati sofa.
“ papi meminta kami melakukan pemeriksaan kesehatan.... papi merasa sedikit kuatir pada kami.... karena sampai hari ini Divya belum ada tanda-tanda kehamilan..... papi berpikir kami tidak berjauh jauhan tapi kenapa Divya belum hamil juga....“ ucap Fajrin sambil membuka-buka majalah bisnis yang berada di atas meja.
Azkar berdiri dari kursi dan duduk di depan Fajrin.
“ oooo..... begitu..... kenapa tidak di sini saja kalian melakukan pemeriksaan itu..... kenapa harus di Singapore..... apa itu juga saran dari om Davis? “ Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Azkar.
“ ya sudah.... cutimu sudah aku setujui...... memang benar saran om Davis.... lakukan pemeriksaan secepatnya..... kalau pun salah satu dari kalian ada masalah.... bisa secepatnya dilakukan pengobatan..... dan kalau pun tidak ada masalah..... berarti ALLAH masih sayang kalian..... ALLAH belum ridha menguji kalian dengan anak sebagai amanah “ ucapan Azkar sedikit banyak menguatkan Fajrin untuk melakukan saran Davis.
“ terima kasih bang..... pekerjaan selama aku cuti sudah aku selesaikan..... hanya tinggal dua kontrak itu yang belum mencapai kesepakatan. “ ucap Fajrin.
Sehari sebelum jadwal keberangkatan ke Singapore, Davis mencoba peruntungannya kembali tapi kali ini ingin meyakinkan Fajrin untuk membantunya menghubungkan dengan Rosenkrantz.
“ apa kamu sibuk? “ tanya Davis saat melihat Fajrin hendak membuka pintu ruang komputer yang juga ruang kerjanya.
Mendengar suara Davis membuat Fajrin melepas pegangan pintu dan berbalik mencari asal suara.
“ apa ada yang ingin papi bicarakan? “ tanya Fajrin balik membuat Davis tersenyum senang.
“ bisakah kita berbicara empat mata saja tanpa terlihat Divya? “ Fajrin menganggukan kepala dan membuka pintu ruang komputer mengajak Davis masuk.
“ kita bisa bicara di ruang ini..... Divya tidak akan pernah masuk ke sini “ ucap Fajrin mempersilahkan Davis masuk.
Davis melangkah masuk ke ruang komputer dan mengedarkan pandangannya melihat keseluruh isi ruangan yang terdapat dua rak setinggi dirinya dan dua buah meja gambar yang masing-masing terdapat mesin gambar dan deretan penggaris yang tersusun rapi di sebuah meja dan di dinding. Fajrin mengambil sebuah kursi dan mempersilahkan Davis duduk.
“ apa barang-barang ini milikmu tapi apa dua rak ini juga milikmu? “ ucap Davis sambil menujuk benda yang dia maksud.
Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Davis.
“ waktu kami masih di rumah lama.... perangkat ini milik adik.... dan waktu adik harus ke Olso.... adik hanya bisa membawa laptop jadi semua perangkat ini Fajrin bawa kemari...... “ jelas Fajrin sambil membuka salah satu pintu rak.
Membuat Davis tidak percaya bahwa apa yang dia lihat adalah perangkat server yang berisik dan lampu kecil-kecil berwarna hijau yang selalu berkedip kedip.
“ apa suami adikmu orang Norwegia? “ pertanyaan Davis membuat Fajrin tersenyum.
“ kalau berdasarkan dokumen kewarganegaraan sepertinya orang Norwegia.... “ ucap Fajrin sambil menutup kembali pintu rak komputer.
“ pasti di awal-awal kamu merasa berat melepas adikmu..... tapi bagaimana pun anak perempuan setelah menikah adalah milik suami bukan lagi milik keluarga “ ucap Davis yang sudah beralih melihat meja gambar yang terlihat bersih.
“ apa adikmu dulu juga bertunangan seperti kalian? “ tanya Davis sambil menarik kursi yang sudah Fajrin siapkan.
Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Davis karena membuatnya teringat waktu mengajak Nara ke rumah Azkar dan tatapan mata Afkar membuat Nara sembunyi di balik lengannya.
“ mereka tidak ada proses pertunangan.... keluarga pihak calon suami langsung melamar dan kalau saya tidak salah...... di hari yang sama sebelum calon suaminya kembali ke Oslo.... saya menikahkan adik “ ucap Fajrin mengenang bagaimana proses akad nikah Nara yang tanpa persiapan apa pun dan tanpa kehadiran Nara.
“ maksud kamu.... setelah menikah mereka berpisah.... begitu “ raut wajah Davis terlihat jelas heran dan sulit percaya dengan ucapan Fajrin.
“ benar pi... karena adik masih harus menyelesaikan skripsinya.... dan setelah wisuda adik berangkat ke Oslo “ ucap Fajrin kembali mengenang proses wisuda Nara yang membuatnya tidak sanggup untuk tidak meneteskan air mata.
“ apa sebelum menerima lamaran untuk adikmu.... kamu tidak mencari tahu dulu tentang pria itu? “ sekali lagi Fajrin tersenyum mendengar pertanyaan Davis.
“ apa pun latar belakang pria yang melamar adik selama pria itu bisa menghormati prinsip adik.... Fajrin tidak mempermasalahkan..... “ ucapan Fajrin membuat Davis semakin heran.
Davis berpikir bahwa saat Fajrin menikahkan Nara sebenarnya tidak tahu latar belakang Afkar dan hanya tahu bahwa Afkar adalah adik dari Azkar.
“ apa kamu tidak tahu kalau suami adikmu sebenarnya keturunan Rosenkrantz? “ dengan cepat Fajrin menggelengkan kepala.
Karena memang Fajrin tidak tahu dan baru mengetahui tentang Rosenkrantz saat menerima transfer dari Erhan.
Davis menatap Fajrin dalam dalam mencari tahu apakah Fajrin berbohong dengan pengakuannya.
“ Fajrin..... sebenarnya papi ingin sekali kamu bisa membantu bisnis papi.... seperti yang kamu tahu.... harga saham perusahaan papi berada di level terendah sepanjang papi memimpin perusahan ini..... papi sudah melakukan berbagai cara untuk menaikkan harga saham perusahaan ...... minimal senilai yang sama sebelum terjadi penurunan..... tapi semua usaha papi tidak membuahkan hasil yang berarti...... bahkan pemegang saham yang tidak lebih dari satu persen banyak yang menjual sahamnya dan semakin membuat harga saham perusahaan papi semakin turun..... beberapa investor menarik dana mereka dan beberapa kontrak kerja sama mereka batalkan sepihak...... “ keluh kesah Davis membuat Fajrin menebak maksud dari ujung keluh kesah ini.
Davis menarik nafas panjang serasa sedikit berat melanjutkan keluh kesahnya pada Fajrin.
“ apa papi ingin menjalin kerja sama dengan Rosenkrantz? “ pertanyaan Fajrin yang singkat padat dan langsung membuat Davis tidak dapat menyembunyikan rasa senang juga keterkejutannya.
Davis kembali menatap wajah Fajrin mencari cela apakah ada maksud tersembunyi dari ucapan Fajrin.
“ In Shaa ALLAH Fajrin akan coba menghubungkan papi dengan Afkar.... tapi mengenai ketersediaan kerjasama itu..... Fajrin tidak bisa ikut campur karena Afkar yang menentukan keputusan itu “ ucapan Fajrin membuat Davis terlihat jelas bersemangat.
“ kamu yakin.... Afkar bersedia berunding dengan papi? “ ucap Davis tidak percaya.
“ In Shaa ALLAH.... sebentar Fajrin coba kirim pesan dulu.... karena di sana masih siang. “ ucap Fajrin sambil mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan singkat.
Baru kali ini Davis merasa sedikit gugup dan merasa bahwa menit menit menunggu Fajrin menghubungi Afkar terasa sangat menegangkan baginya.
Setelah menunggu kurang lebih selama enam menit tiba tiba ponsel Fajrin berdering dan terlihat nama Afkar.