
Fajrin mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang, selama 15 menit kedepan mereka diam tidak ada pembicaraan apa pun. Divya menundukkan kepala merasa malu sedih kecewa juga marah sedangkan Fajrin masih menatapnya dengan wajah datar meski pun hatinya ada sedikit rasa sedih. Disaat mereka saling diam, Dipta datang bersama Ningsih dan bayinya. Fajrin melihat kedatangan Dipta dengan keluarga kecilnya, Fajrin segera berdiri dan menyambut kedatangan Dipta.
“ Assalamualaikum “ salam Dipta dan melihat Divya yang masih tertunduk.
“ Wa'alaikumsalam.... aku kembalikan Divya padamu.... dia tanggung jawabmu bukan tanggung jawabku.... 2 atau 3 hari lagi kontrak kami berakhir.... aku tidak bisa meneruskan hubungan ini di luar kontrak “ ucap Fajrin membuat Ningsih yang tidak tahu menahu menjadi terkejut sedangkan Dipta yang sudah mengerti dengan maksud Fajrin hanya bisa menganggukan kepala.
“ terima kasih sudah berusaha menjaga adikku. Pergilah.” ucap Dipta sambil menepuk lengan kiri Fajrin.
Divya terkejut dengan ucapan Dipta yang menyuruh Fajrin pergi, seketika Divya berdiri dan memegang tangan Fajrin. Dipta dan Ningsih sangat terkejut melihat tindakan Divya tiba-tiba memegang tangan Fajrin yang tidak tertutup apa pun. Dipta berusaha melepas paksa genggaman tangan Divya, semakin Dipta berusaha memisahkan Divya dari Fajrin semakin keras Divya menggenggam tangan Fajrin. Namun pada akhirnya tangan Fajrin terlepas juga. Apa yang mereka lakukan menarik perhatian para pengunjung restauran.
“ Assalamualaikum “ salam Fajrin dan melangkah menjauh dari Dipta yang masih berusaha menahan Divya agar tidak mengejar Fajrin.
“ Wa'alaikumsalam “ salam Dipta dan Ningsih hampir bersamaan.
Setelah sosok Fajrin tidak kelihatan, Dipta mendudukan dan menenangkan Divya dengan duduk di sampingnya. Sementara Ningsih duduk di depan Divya dan melihat menu sea urchins yang sangat mengundang selera.
“ sayang sekali makanan mahal di abaikan “ ucap Ningsih membuat Divya melihatnya dengan heran.
“ kenapa melihatku seperti itu? “ pertanyaan Ningsih membuat Divya jengah.
“ sudah kalau Divya tidak mau makan, sayang makan saja.... dari pada mubazir “ kali ini ucapan Dipta membuat Divya sedikit tenang.
“ kakak sudah pernah bilang..... Fajrin bukan pria yang bisa kamu dapatkan dengan semua ini..... mungkin kalau Fajrin itu teman-temanya Ditya.... hanya dengan penampilan kamu yang seperti ini dia tidak akan menolak, tapi ini Fajrin. “ ucap Dipta mencoba menyadarkan Divya yang masih tertegun tidak bisa berkata-kata.
Sementara Ningsih sudah menghabiskan setengah dari menu yang Divya pesan.
“ sayang.... habiskan makanan ini dan kita pulang “ ucapan Dipta membuat Ningsih semakin bersemangat menghabiskan makanan di meja.
Setelah Ningsih menghabiskan semua makanan dan minuman di meja, Dipta memanggil seorang pelayan untuk menyelesaikan tagihan. Dipta membawa Divya masuk di mobilnya dan menyerahkan kunci mobil yang Divya pakai pada salah seorang pengawal Davis yang duduk tidak jauh dari Divya.
Sepanjang perjalanan pulang Divya lebih banyak diam memikirkan apa saja yang sudah pernah Fajrin lakukan dan ucapkan padanya.
“ kalau kamu memang serius ingin mendapatkan hati pak Fajrin.... kamu harus berubah demi dirimu sendiri jangan demi pak Fajrin. “ ucapan Ningsih membuat Divya menangis.
“ beliau memang orang yang tegas dan kuat pendiriannya, aku pernah dengar dari pak Roby.... kalau pak Fajrin akan memukul adiknya bila adiknya tidak melakukan apa yang pak Fajrin suruh. “ ucap Ningsih mengingat cerita Roby.
“ memangnya Fajrin menyuruh adiknya apa sampai tega mau memukul segala? “ tanya Divya ingin tahu.
“ kalau tidak salah waktu itu adiknya sudah SMP kelas 2 atau 3.... pak Roby lupa pastinya tapi seingat pak Roby waktu itu pak Fajrin mendapati kalau adiknya mendapatkan periodenya untuk pertama kalinya dan pak Fajrin yang mengajari adiknya bagaimana mengenakan pembalut. Dan waktu itu Pak Fajrin melihat adiknya hendak keluar rumah hanya dengan mengenakan celana pendek setinggi paha dan kaos yang memperlihatkan lengannya. “ cerita Ningsih terhenti karena bayinya rewel ingin menyusu.
Dipta melihat apa yang Ningsih lakukan segera menepikan mobil dan membantu Ningsih membetulkan posisi bayinya dan menutupi aurat istrinya. Dipta kembali melakukan mobilnya.
“ mungkin awalnya sedikit terpaksa tapi pelan-pelan aku lihat adiknya merasa nyaman memakai pakaian seperti itu “ ucapan Ningsih membuat Divya ingat akan foto yang pernah Dipta tunjukan padanya.
“ kalau Divya memakai pakaian seperti adiknya kak Fajrin.... bagaimana karir Divya di dunia model? “ suara pelan Divya membuat Dipta menarik nafas panjang.
“ itu pilihan kamu.... bukan pilihan Fajrin. “ ucapan Dipta membuat Divya teringat akan ucapan Fajrin.
“ kak Fajrin pernah bilang.... Divya bisa melakukan apa saja yang menurut Divya nyaman dan baik, tapi bila Divya sudah menemukan seseorang yang membuat Divya nyaman.... Divya harus bisa berusaha menjaga diri dan menghargai perasaan orang itu.... “ ucapan pelan Divya membuat Dipta menarik nafas panjang.
“ Divya.... semua keputusan ada di tanganmu.... kamu mengerti apa maksud dari ucapan pak Fajrin? “ tanya Ningsih ingin tahu.
“ tidak “ jawab Divya singkat.
Ningsih dan Dipta menghela nafas panjang, dan tidak bisa berkata-kata. Akhirnya mobil Dipta sampai di kediaman Davis.
“ ayo turun “ ucapan Dipta menyadarkan lamunan Divya.
Divya melihat keluar dan mendapati mobil yang mereka naikin sudah sampai di depan rumah Davis. Divya turun dengan menangis, Davis yang menyambutnya dengan berdiri di depan pintu tampak heran melihat wajah putrinya dengan make up berantakan.
“ Assalamualaikum “ salam Ningsih dan Dipta bersamaan tapi Divya sama sekali tidak mengucap salam.
“ Wa'alaikumsalam “ balas Davis dan menatap Divya heran.
“ kenapa adikmu menangis? Apa pria itu membuatnya menangis? “ tanya Davis emosi.
“ dia menangis karena kesalahannya sendiri bukan karena orang lain. “ ucapan Dipta membuat Davis heran dan bingung.
“ ceritakan semua sama papi “ ucap Davis dan sudah menarik paksa tangan Dipta untuk masuk ke ruang kerjanya.
Ningsih mengikut Divya tapi tidak sampai masuk kamar karena Divya sudah membanting pintu tepat di depan Ningsih hingga membuat bayinya menangis.
Sementara Dipta berusaha menjawab setiap pertanyaan yang Davis ajukan, dan akhirnya Dipta menceritakan semua yang dia tahu.
“ papi.... dari awal hubungan mereka sudah salah.... mereka berhubungan karena terpaksa karena terikat kontrak. Fajrin bertahan selama ini karena kontrak dan Fajrin tidak ingin melanjutkan hubungan ini, Fajrin sudah lelah mengingatkan banyak hal pada Divya. Apa yang Fajrin lakukan sudah lebih dari cukup, seharusnya yang mengingatkan Divya adalah kita. Dipta sadar banyak hal yang tidak Dipta lakukan sebagai abang tapi itu semua juga bukan kewajiban Dipta, papi juga menjadi bagian dari kewajiban itu. “ ucapan Dipta membuat Davis kembali mengingat bahwa selama ini dia tidak ada di samping Divya.
“ bisakah kamu mempertemukan papi dengan Fajrin? “ ucapan pelan Davis seperti menyesali sesuatu membuat Dipta tidak tega.
“ Fajrin sudah tahu papi seperti apa? Kalau papi serius ingin tahu apa yang Divya hadapi, sebaiknya papi menemui bang Azkar. Dipta sendiri masih banyak hal yang harus Dipta koreksi dan pelajari dari Fajrin. "