My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 125 DIAWASI



Sejak acara makan malam itu dua orang kepercayaan Ditya mengikuti kemana pun Fajrin pergi, bahkan mereka berjaga di pintu masuk area gedung Surendra baik pintu depan mau pun pintu belakang tak luput dari pengawasan orang-orang kepercayaan Ditya. Mereka melaporkan apa saja yang mereka amati pada Fajrin, kemana saja Fajrin pergi dengan siapa saja Fajrin bertemu dan berbicara di luar kantor dan rumah.


Sementara Divya yang merasa bahwa Davis memiliki rencana tersembunyi, setiap kali ingin keluar rumah menemui Fajrin di kantor atau di luar kantor selalu saja merasa was-was bila orang-orang kepercayaan Ditya akan mengikutinya. Bahkan Ditya sudah mengetahui alamat detail di mana Fajrin tinggal dan bersama siapa dia tinggal juga dimana kampus Nara berada.


Suatu kali salah seorang kepercayaan Ditya melihat Fajrin mengajak makan Divya di sebuah warung makan yang tidak jauh dari kampus almamater Fajrin dan melaporkan langsung apa yang mereka lihat Pada Ditya.


Ditya masih mencurigai bahwa Fajrin adalah gold trigger yang ingin menguras harta kekayaan keluarga Lohia melalu Divya, bahkan Ditya melakukan hal licik yang mungkin tidak terpikirkan sama sekali oleh Davis mau pun Dipta. Ditya menyuruh salah seorang kepercayaan untuk terus mengikuti Fajrin juga Divya.


“ ayang..... enak juga makan disini.... rame juga.... banyak yang antri pula..... “ ucap Divya sambil melihat kesekeliling tempatnya duduk yang sudah penuh dengan para pembeli yang ingin menikmati seporsi tahu campur atau tahu tek masakan khas jawa timur.


Fajrin sesekali membetulkan jaketnya yang di kenakan Divya, karena malam ini Divya mengenakan pakaian yang mengekspose lengannya dan Fajrin menutupi dengan jaket miliknya. Selesai makan mereka tidak langsung pulang tapi Divya mengajak Fajrin untuk masuk ke sebuah cafe untuk menenangkan otaknya yang beberapa hari ini pening memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi bila dia mengatakan tentang Victoria's Secret.


Entah Divya tahu atau tidak sejak mereka keluar dari gedung Surendra, para orang kepercayaannya Ditya mengikuti mereka. Bukan Fajri tidak mengetahui hal ini tapi Fajrin sadar sekali sejak pulang dari acara makan malam di rumah Davis, segala gerak geriknya selalu di awasi oleh sekelompok orang yang Fajrin tidak kenal. Hal ini membuat Fajrin waspada setiap kali ingin mengajak Divya makan di luar, Fajrin tidak ingin apa yang dia makan dan minum mengandung sesuatu yang berbahaya bagi dirinya juga Divya.


“ ayang.... ayang mau minum apa? “ tanya Divya sambil menyodorkan sebuah buku menu.


Fajrin melihat daftar menu tersebut dan nama minuman yang berada di daftar menu tersebut membuat Fajrin pusing karena nama minuman itu teras asing di otaknya. Akhirnya Fajrin hanya memesan sebotol air mineral.


Divya dan Fajrin berbicara banyak hal tapi tak sekali pun Divya menyinggung agensi Victoria's Secret, Divya masih takut menceritakan hal itu pada Fajrin. Divya takut bila Fajrin kembali menjauhinya, Divya takut bila Fajrin mengajak berpisah kembali. Seorang pelayan mengantarkan pesanan Divya dan meletakkan di meja, Fajrin yang merasa haus segera meminum separuh botol air mineral yang dia pesan. Baru 5 menit Fajrin meneguk air mineral tersebut, kepala dan badan Fajrin terasa panas. Panas yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


“ Divya..... ayang pulang duluan ya.... kepala dan badan ayang rasanya tidak enak semua “ ucap Fajrin sambil berdiri mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah dan meletakkan di meja.


Divya bingung dengan sikap Fajrin yang tiba-tiba berdiri dan meninggalkannya, Divya mengikutinya hingga ke area parkir motor. Seketika Divya terkejut bahwa ada 3 orang mengenakan topeng yang menghadang Fajrin, Divya tidak mengenali orang-orang tersebut. Divya tidak berani mendekati yang bisa Divya lakukan hanya mencoba menghubungi Dipta.


“ bang.... ada orang yang membawa ayang.... Divya tidak tahu siapa mereka.... mereka menggunakan penutup wajah hanya mata saja yang terlihat. “ tangan Divya bergetar mematikan ponselnya dan segera berlari masuk ke dalam mobilnya.


Selagi Divya menenangkan diri, orang-orang tersebut sudah membawa Fajrin pergi. Divya melihat sekeliling sudah tidak mendapati Fajrin juga ornag-orang tersebut, Divya mencoba menghubungi Liam untuk menjemputnya. Setelah Liam datang, Divya menceritakan semua apa yang dia lihat. Liam segera menghubungi Jason untuk mencari tahu keberadaan Fajri, sementara Liam mengantar Divya pulang. Divya dengan tangan bergetar mencoba mengirim pesan pada Azkar, sedangkan Azkar sendiri sudah mendapatkan laporan keberadaan Fajrin juga siapa di balik kejadian ini. Karena tanpa sepengetahuan Fajrin, orang-orang kepercayaan Azkar selalu mengawasinya sejak Fajrin mengakui hubungannya dengan Divya. Azkar tidak ingin terjadi hal-hal di luar kendalinya yang menimpa Fajrin. Azkar mengirim pesan singkat pada Dipta untuk mendatangi sebuah hotel.


“ look for Fajrin's whereabouts and find out who preceded me (cari keberadaan Fajrin dan cari tahu siapa yang mendahuluiku) “ ucapan Davis membuat Jason bingung tapi hanya bisa melaksanakna perintah Davis.


Orang-orang tersebut membawa Fajrin ke sebuah kamar hotel, menyeretnya dan melempar di lantai yang keras. Fajrin yang merasakan sekujur tubuhnya terasa panas melepas semua kain yang menutupi tubuhnya.


“ Ditya..... apa yang kamu lakukan.... masih bagus bang Azkar tidak menyuruh orang-orangnya menghabiskan kamu.... “ gumam Dipta dalam hati dengan geram mencengkeram kemudi mobil hingga telapak tangannya memutih.


Sampai di sebuah hotel sesuai pesan singkat Azkar, seorang berpakaian kasual mendekati Dipta.


“ tuan ada telepon dari tuan Azkar “ ucap orang tersebut saat melihat Dipta keluar dari mobil dengan terburu-buru.


Dipta segera menerima telepon tersebut, mendengar suara Azkar yang tegas dan dingin sudah cukup membuat Dipta merinding. Dipta kembali menyerahkan ponsel tersebut pake pemiliknya.


“ kamar nomor berapa? “ tanya Dipta sambil berlari kecil menuju lift.


Orang kepercayaan Azkar mengikuti langkah kaki Dipta dan terlihat sedang mendengarkan koordinasi dari rekan-rekannya. orang tersebut segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol angka 9, sampai di lantai 9 orang tersebut segera berlari cepat mencari nomor kamar berdasarkan informasi rekan-rekannya. Dipta mengikuti langkah kaki orang itu tepat di sebuah ujung lorong, Dipta melihat sosok Ditya sedang melakukan transaksi dengan seorang wanita yang berpakaian sangat terbuka menampilkan sebagian aset bagian atas tubuhnya. Dipta mempercepat langkahnya mengikuti wanita itu saat tangan wanita itu hendak membuka pintu, seketika Dipta menahan tangan wanita itu.


“ siapa anda? Anda mau apa? “ tanya wanita itu dengan bingung.


“ berapa pun yang nona terima dari pria tadi saya akan membayar nona 3 kali lipat dari pria yang tadi membayar nona, asalkan nona menuruti ucapan saya. “ ucap Dipta dengan nafas memburu karena berjalan cepat.


Orang yang tadi bersama Dipta hanya melihat dari jauh dan mengawasi.


Wanita yang berada di depan Dipta saat ini terlihat sedang mempertimbangkan tawaran Dipta.


“ baiklah, apa penawaran anda? “ ucap wanita itu.