
Fajrin dan Divya melangkah keluar dari grand ballroom menuju kamar yang menjadi tempat Divya bermalam, dengan bantuan seorang perias wajah dan beberapa asistennya. Divya dan Fajrin berganti pakaian, Fajrin merasa tidak nyaman bila berganti pakaian dengan bantuan para wanita asisten dari perias Divya.
“ saya akan ganti pakaian sendiri “ ucap Fajrin dengan sopan menolak seorang asisten yang akan membuka kancing kemejanya.
Dengan sangat terpaksa asisten perias Divya menyerahkan pakaian yang harus pengantin pria pakai.
“ nona.... sopan sekali suami nona..... “ ucap asisten perias membuat Divya tersenyum tipis.
Tidak butuh waktu lama bagi Fajrin untuk berganti pakaian di dalam kamar mandi, Fajrin keluar mendapati Divya yang masih proses melepas pakaian dengan bantuan seorang perias dan asistennya.
Sesuatu yang aneh Fajrin rasakan karena ini pertama kalinya Fajrin melihat tengkuk Divya setelah Divya berhijab.
“ Astagfirullah al adzim...... sabar.... sabar sudah halal tapi belum waktunya untuk bertempur “ gumam Fajrin dalam hati sambil mengalihkan pandangan dan menyerahkan pakaian yang dia pakai tadi.
Fajrin hanya mengenakan kemeja dan celana panjang saja karena hari ini jumat dan pesta baru akan di mulai setelah sholat jumat.
Fajrin duduk di sebuah sofa dan mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang dia pegang, Fajrin berusaha keras untuk tidak melihat Divya yang sudah melepas semua pakaian hanya menyisahkan celana setinggi paha dan racer tanktop hitam. Tidak melihat sesuatu yang sudah halal baginya adalah godaan terbesar Fajrin saat ini, bila melihat dirinya kuatir akan reaksi yang dia alami.
Fajrin berdiri dengan cepat dan melangkah hendak keluar kamar.
“ ayang..... ayang mau kemana? “ suara Divya menghentikan langkah kakinya.
“ ayang sholat Jumat dulu.... nanti ayang kembali ke sini lagi “ ucap Fajrin dengan suara yang gugup.
Mendengar suara Fajrin yang gugup membuat para asisten perias menahan senyumnya.
“ lucu sekali suami nona.... tidak tahan melihat nona seperti ini malah keluar kamar “ celetuk seorang asisten dan mendapatkan tatapan tajam dari perias.
Fajrin mencari keberadaan Azkar dan yang lainnya, di saat Fajrin mencari Azkar seseorang mengejutkannya.
“ Fajrin kenapa kamu ada disini.... kemana Divya? “ tanya Davis tiba-tiba yang membuatnya terkejut.
“ Astagfirullah al adzim..... papi..... Divya ada di kamar ganti pakaian.... Fajrin mau cari bang Azlar sebentar lagi sholat Jum'at “ ucapan Fajrin membuat Davis menganggukan kepala.
“ keluarga Azkar ada di ruangan sebelah sana “ ucap Davis sambil menunjuk sebuah ruangan yang sudah di jaga oleh empat orang pengawal Azkar.
“ terima kasih pi..... Fajrin kesana dulu “ ucap Fajrin dan melangkah meninggalkan Davis.
Belum sempat Fajrin melangkah masuk ke ruang tersebut, seseorang menghentikannya.
“ it turns out that you are here..... come here (ternyata kamu disini..... kemari kamu) “ ucapan Martha membuat Fajrin heran.
“ you think you look's great that you can get the owner and the heir of Rosenkrantz to bring Ditya's request (hebat sekali kamu bisa menyuruh pemilik dan pewaris Rosenkrantz membawa barang permintaan Ditya) “ ucap Martha dengan sinis.
“ Who are you.....? what is your relationship with them? (siapa kamu sebenarnya.....? apa hubungamu dengan mereka?) “ tanya Martha yang sudah tidak mampu memikirkan hubungan antara Fajrin dengan Lief juga Ralf.
Fajrin menarik napas panjang.
“ you want to know what my relationship with them..... (anda ingin tahu apa hubungan saya dengan mereka.....) “ Martha menganggukan kepala menjawab pertanyaan Fajrin.
“ Lief is Afkar's personal assistant..... and Afkar is my brother-in-law, Nara's husband, my sister husband (Lief asisten pribadi Afkar..... dan Afkar adik iparku suami Nara adikku) “ penjelasan singkat Fajrin membuat Martha tidak serta merta percaya begitu saja.
“ how clever you lie.... there's no way Mr Lief is an assistant.... he's the heir of Rosenkrantz (pintar sekali kau berbohong.... tidak mungkin tuan Lief seorang asisten.... dia pewaris Rosenkrantz) “ ucap Martha menyangkal ucapan Fajrin.
Fajrin kembali menarik nafas panjang dan saat ingin meyakinkan ucapannya, Lief mendekatinya.
“ sorry sir.... are you looking for Mr. Afkar...sorry Mr. Afkar is not inside... I saw Mr. Afkar and the young lady walking to there (maaf apa tuan.... mencari tuan Afkar... maaf tuan Afkar tidak ada di dalam... tadi saya melihat tuan Afkar dan nyonya muda berjalan kesana) “ ucapan Lief membuat Martha membuka mulutnya tidak percaya dengan apa yang Lief ucapkan.
“ thanks Lief..... I'm not looking for them..... I'm looking for big brother Azkar (terima kasih Lief..... aku tidak mencari mereka..... aku cari bang Azkar) “ ucapan Fajrin membuat Martha semakin tidak percaya dengan telinganya sendiri.
“ Mr. Azkar is inside....please (tuan Azkar ada di dalam.... silahkan) “ ucap Lief sambil menunjukkan keberadaan Azkar.
“ excuse me (permisi) “ pamit Fajrin pada Martha.
Martha dengan raut wajah sangat terkejut juga tidak percaya dengan apa yang dia dengar hanya bisa menatap punggung Lief dan Fajrin yang sudah masuk ke dalam ruangan keluarga Surendra.
“ Is there something wrong with my ears.... Mr. Lief said mister to that guy..... even Mr. Lief seemed to have great respect for that man..... no... no way.... I'm sure they were just joking. (apa ada yang salah dengan telingaku.... tuan Lief mengatakan tuan pada pria itu..... bahkan Tuan Lief terkesan sangat menghormati pria itu..... tidak... tidak mungkin.... aku yakin mereka hanya bergurau saja.) “ gumam Martha dalam hati menyangkal apa yang sudah dia dengar sendiri.
Martha memperhatikan Fajrin yang sudah bersenda gurau dengan Azkar dan keluarga Surendra, tanpa Martha sadari apa dia lakukan menarik perhatian Ralf yang sedari tadi melihatnya sejak Martha menghentikan langkah Fajrin.
“ hun er en kvinne som har forlatt en mann som elsker henne bare for rikdommens skyld (dia wanita yang sudah meninggalkan pria yang mencintainya hanya demi harta) “ ucapan Erhan membuat Ralf tertegun.
“ hvordan visste store herre Erhan det (dari mana tuan besar Erhan mengetahui hal itu?) “ tanya Ralf heran.
“ Er det grunnen til at store herre ikke har vært villig til å akseptere deres tilbud om samarbeid (apa itu alasan tuan besar selama ini tidak mau menerima tawaran kerja sama dari mereka)? “ tanya Ralf sekali lagi.
“ en av dem... Jeg vil ikke jobbe med et selskap som bare kan skape skandaler (salah satunya itu...... aku tidak mau bekerja sama dengan perusahan yang hanya bisa membuat skandal) “ ucapan Erhan membuat Ralf menatap Martha dengan tajam.
Merasa bahwa Ralf memperhatikannya, membuat Martha merasa bangga dan melupakan apa yang tadi Lief katakan. Martha melangkah masuk mendekati Ralf dan Erhan segera berpindah tempat duduk.
“ ta vare på den kvinnen... Jeg skal dit (atasi wanita itu.... aku mau kesana) “ ucap Erhan sambil berdiri melangkah menuju Azkar dan Fajrin.
Ralf membungkukkan badan melihat punggung Erhan yang berjalan pelan mendekati Azkar dan Fajrin.