My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 221 NEVER SAY SORRY



Johan yang sedari tadi duduk diam mulai merasa terganggu dengan sikap pengecut Ditya, Johan berdiri dan melangkah tepat di depan Ditya. Ditya terkejut melihat keberadaan Johan.


“ I know you don't say sorry and don't admit your mistakes.... but if you want your life back to normal...... you have to say those words..... just you know... my sister-in-law is .... (aku tahu kamu pantang mengucap kata maaf dan pantang mengakui kesalahanmu.... tapi kalau kau ingin hidupmu kembali normal...... kau harus mengucapkan kata itu..... asal kamu tahu.... kakak iparku ini...... ) “ suara Johan terhenti karena Johan memajukan kepalanya hingga mulutnya tepat didekat telinga Ditya.


Terlihat jelas Ditya berusaha keras menguatkan diri untuk mengucapkan kata sesuai petunjuk Afkar. Perasaan takut terlihat jelas di sorot matanya, otaknya serasa memutar berkali-kali apa yang sudah dia dengar dari Johan.


“ aku akan lakukan demi hartaku. “ gumam Ditya dalam hati.


berkali-kali Ditya menarik nafas panjang dan pelan-pelan memalingkan badannya agar bisa melihat Fajrin juga Divya.


“ Fajrin.....forgive what I did to you (Fajrin..... maafkan perbuatanku padamu) “ ucap Ditya berusaha keras membuat suaranya tidak bergetar dan terkesan tidak berbohong.


Fajrin tersenyum mendengar suara Ditya yang menurutnya Ditya mengucapkannya dengan sungguh-sungguh.


“ before you ask it..... I already forgiven what you have done to me (sebelum kau meminta maaf... aku sudah memaafkan apa yang sudah kamu lakukan padaku) “ ucap Fajrin dengan tersenyum.


Untuk beberapa detik semua terdiam menunggu Afkar memperlihatkan kembali layar tablet, tapi sesaat kemudian terdengar beberapa kali nada dering dari beberapa ponsel.


Terlihat senyum bahagia dan lega di wajah Davis juga Johan dan Dipta, tapi berbeda dengan Ditya. Wajah congkak dan kembali sombong tersirat jelas di wajahnya.


tersenyum sombong Ditya menatap wajah Afkar yang terlihat tenang.


“is that all you have ?…… what you made that totally can't figure out what I've said (apa hanya segitu kemampuanmu?...... apa yang kamu buat itu sama sekali tidak bisa mengetahui apa yang sudah aku ucapkan) “ ucap Ditya dengan raut wajah dan mata sombong.


“ Your program can't detect whether what I'm saying is true or not (programmu tidak bisa mendeteksi apakah ucapanku sungguh-sungguh atau tidak) “ ucap Ditya yang semakin sombong dan congkak.


Ditya sesumbar dengan sangat sombong membuat Davis juga Dipta kembali geram.


“ do you guys remember.... when our stock went down..... that damn woman played with our stock price (apa kalian ingat.... saat saham kita turun..... wanita sialan itu sudah mempermainkan harga saham kita) “ ucap Ditya sombong dengan nada tinggi sambil menunjuk Nara.


Dengan sikap sombong dan congkak Ditya melihat Nara dan Afkar yang masih bersikap santai, tapi tidak dengan Azkar dan Lief. Mereka berdua menggelengkan kepala melihat Ditya dengan wajah kecewa dan kasihan. Para saudara sepupu Divya juga Martha kembali berbisik-bisik membuat gaduh grand ballroom.


“ That damn woman who played with our stock price..... with my intelligence..... I managed to get that damn woman to return our share price..... and as you all know..... our stock price is strong .... not once experienced a significant decline..... even our stock price is stable (wanita sialan itu yang sudah mempermainkan harga saham kita..... dengan kecerdikkanku..... aku berhasil membuat wanita sialan itu mengembalikan harga saham kita..... dan seperti yang kalian tahu..... harga saham kita kuat.... tidak sekali pun mengalami penurunan yang berarti.....bahkan harga saham kita stabil) “ ucap Ditya dengan rasa sombongnya.


Ditya berjalan kesana kemari di dekat para saudara sepupunya menatap Nara juga Afkar dengan sombong, tapi saat Ditya berdiri tepat di samping Davis seketika terdiam karena ucapan Afkar.


Aileen dan Martha hampir bersamaan membuka mulut mereka karena terkejut dengan berita yang mereka baca. Begitu juga dengan Jessica, Celina, dan Trinity, aib mereka satu persatu terpublikasi di seluruh media kota Montreal bahkan mungkin di seluruh Canada. Dipta dan Davis meremas ponselnya membaca apa yang terlihat di layar ponsel mereka, Ditya melihat layar ponselnya dengan tidak percaya. Semua aib yang selama ini dia tutupi hanya dalam hitungan satu detik terpublikasi semua, tanpa banyak kata Davis melayangkan tinju di wajah Ditya membuatnya tersungkur ke lantai. Darah mengalir dari sudut bibirnya.


Afkar segera memeluk Nara dan mengajaknya keluar dari grand ballroom dengan sedikit melihat kebelakang terlihat jelas wajah tidak tenang Fajrin. Tapi sesaat kemudian Divya membaca gerak bibir Afkar dan tersenyum senang.


“ it save.... thank you “ ucap Divya pelan membalas gerak Afkar.


Fajrin mendengar jelas ucapan Divya dan seketika raut wajah Fajrin menjadi tenang, melihat kekacauan yang di timbulkan oleh ucapan Ditya membuat Fajrin menarik Divya keluar dari grand ballroom. Saat sudah berada di depan pintu grand ballroom, Nara memeluk Divya dan mengucapkan sesuatu yang membuat Fajrin juga Divya merasa terharu.


Mobil yang akan membawa Fajrin menuju bandara international sudah menunggu di depan lobi. Dengan mengucap salam Fajrin menggengam tangan kanan Divya dan melangkah menuju mobil.


Sementara di dalam grand ballroom


“ shut up (tutup mulutmu) “ umpat Davis dan kembali memukul wajah Ditya beberapa kali.


Membuat pelipis, sudut kelopak mata dan sudut bibir Ditya robek beberapa milimeter, darah segar mengalir dari luka robek pukulan. Davis meluapkan semua kemarahannya yang selama ini dia tahan setiap kali mendengar atau pun mendapatkan informasi tentang kelakuan Ditya di luar sana.


Ningsih terkejut melihat apa yang Davis lakukan pada Ditya dengan cepat Dipta memeluknya, bukan hanya Ningsih tapi hampir semua saudara sepupu Divya yang masih berada di dalam grand ballroom merasa takut melihat Davis yang sedang marah. Bahkan Martha pelan-pelan berjalan mundur menjauh dari Davis, tak satu pun para saudara sepupu Divya yang tidak memiliki skandal. Banyaknya harta yang mereka miliki mampu menutup mulut agar berita skandal itu tidak terpublikasi karena dapat berakibat pada penurunan harga saham mereka, tapi tidak kali ini. Semua berita skandal itu terpublikasi satu persatu hanya dalam hitungan kurang dari 2 menit, berita skandal yang selama ini mereka tekan dengan harta.


“ Sir (tuan...... ) “ ucap Jason berusaha memghentikan aksi Davis.


Tapi Davis tetap saja memukul Ditya, membuat Jason dengan sangat terpaksa menyuruh 2 orang pengawal menarik Ditya menjauh dari Davis.


“ Sir..... our stock (tuan.... saham kita) “ ucapan Jason membuat Davis menatap Jason penuh tanya.


Jason segera menyerahkan sebuah Tablet yang tak pernah dia lepaskan, Davis melihat sebuah grafik pergerakkan saham miliknya yang pelan pelan menurun hingga di batas wajar.


“ back to Montreal.... Now (kembali ke Montreal.... sekarang) “ ucap Davis keras, tegas dan melangkah keluar dari grand ballroom.


Para pengawal juga Ditya yang berada di bawah kekangan 2 orang pengawal mengikuti langkah kaki Davis.


“ all of you.... tonight you have to go back to Montreal..... and my bodyguards will guard all of you........ take Martha on a same plane with me (kalian semua.... malam ini harus kembali ke Montreal..... dan para pengawalku akan mengawasi kalian semua........ bawa Martha satu pesawat denganku) “ ucapan tegas dengan nada tinggi membuat semua keluarga Prakash Lohia tidak berkutik dan hanya bisa menuruti perintah Davis.