My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 77 KENCAN (2)



Fajrin mengantar Divya hingga pintu masuk unit apartemennya, sebenarnya Divya meminta Fajrin untuk tinggal dan kembali ke hotel saat malam hari. Tapi Fajrin menolak dengan halus mengingat hari ini Divya sudah terlalu capek setelah berjalan-jalan setengah hari berkeliling dengannya.


“ kembali nanti saja kak “ rajuk Divya membuat Fajrin menarik nafas panjang.


“ kamu istirahat saja... kaki kamu pasti masih capek “ ucap Fajrin mencoba membuat Divya tidak merajuk.


“ tapi Divya masih ingin bersama kak Fajrin “ rajuk Divya membuat Fajrin jadi kangen dengan Nara.


“ Insya ALLAH besok kakak ke sini lagi “ Divya tersenyum bahagia mendengar ucapan Fajrin.


“ serius.... besok kakak kesini lagi.... jangan bohong ya.... Divya tunggu “ ucap Divya bahagia.


“ iya.... besok selepas makan pagi sampai sore kakak akan temani kamu “ sekali lagi ucapan Fajrin membuat hati Divya melayang.


Akhirnya Fajrin meninggalkan Divya di unitnya sendiri karena Liam sudah kembali ke dalam unitnya. Fajrin dan Jatinra kembali ke hotel dengan menggunakan taksi.


“ Sir....it seems that model really likes you (pak.... seperi model itu sangat menyukai bapak) “ ucapan Jatinra meminta Fajrin tersenyum tipis.


“ How do you know that Divya likes me? Maybe it's just admiration (dari mana kamu tahu kalau Divya menyukai saya? Bisa jadi itu hanya rasa kagum saja) “ ucap Fajrin yang sebenarnya juga merasakan hal yang sama tapi Fajrin masih belum berani untuk menyukai Divya mengingat status sosial mereka yang sangat timpang sekali.


“ from the way she looks at you and from her body language when she is near you (dari cara dia melihat bapak dan dari bahasa tubuhnya saat berada di dekat bapak) “ ucapan Jatinra membuat Fajrin berpikir mengingat sehari ini apa saja yang sudah dia lakukan pada Divya.


“ impossible, don't make me speculate on things that are not clear enough. What the clear thinhs is still impossible for me what else is not clear enough, very impossible (tidak mungkin, jangan membuat saya berspekulasi pada hal-hal yang belum jelas. Yang jelas saja masih tidak mungkin bagi saya apa lagi yang belum jelas, sangat tidak mungkin) “ ucap Fajrin mencoba menyangkal ucapan Jatinra.


Sampai di kamar hotel, Fajrin masih memikirkan ucapan Jatinra. Di satu sisi dia berharap semoga memiliki kesabaran yang lebih luas menghadapi Divya, tapi di satu sisi Fajrin tidak yakin bahwa Divya menyukainya. Membuatnya teringat akan perlakuan buruk kedua orang tua Sofia pada dirinya.


“ yang sudah dekat lebih dari dua tahun saja masih tidak mendapatkan restu bahkan hanya mendapatkan penghinaan.... apa lagi ini sangat jauh sekali perbedaan status sosial juga pola pikirnya. “ gumam Fajrin sambil mengingat apa saja yang sudah dia lakukan pada Divya.


Sementara Divya yang tidak dapat memejamkan mata karena masih teringat apa saja yang sudah Fajrin lakukan membuat dirinya semakin tergila-gila pada sosok Fajrin.


Menjelang Shubuh Divya sudah terbangun dan menunggu Fajrin menghubunginya, saat ponselnya berdering Divya segera mengangkatnya dengan hati berbunga-bunga. Selesai sholat Divya segera membersihkan diri karena sudah tidak sabar menanti mendatang Fajrin.


Tepat setelah makan pagi Fajrin cek out dan meminta Jatinra untuk mengantarnya ke apartemen Divya, rencana Fajrin hari ini ingin mengetahui seberapa jauh Divya bisa membaca huruf arab. Fajrin sudah mendownload sebuah aplikasi untuk Divya baca.


“ kalian cek out nanti sore saja dan selepas magrib kita kembali ke Jaipur. Kalian jemput aku di sini. “ ucap Fajrin pada gultom dan Andra yang sudah menemaninya hingga lobi apartemen.


“ siap pak, selamat bersenang-senang pak “ ucap Andra sambil berjalan menuju mobil yang membawa mereka.


Fajrin berdiri di depan pintu unit Divya dengan sedikit rasa gugup sedikit ada rasa yang berbeda lain dengan kemarin. Saat Fajrin berusaha menguasai diri, pintu unit terbuka.


“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin sedikit gugup karena masih berusaha menguasai diri.


“ wa'alaikumsalam, masuk kak “ ucap Divya dengan gembira.


Divya tidak bisa menutupi rasa bahagianya karena Fajrin memenuhi janjinya untuk datang menemui dirinya. Fajrin masuk ke dalam unit dan melihat sekeliling.


“ kalau kak Fajrin ke sini untuk mencari Liam.... kakak salah unit..... unit Liam berada paling ujung “ ucap Divya mulai merajuk.


Fajrin tersenyum tipis melihat Divya yang merajuk dengan memajukan kedua bibirnya seperti bebek dan melipat kedua tangannya di dada.


“ lucu..... seperti adik “ gumam Fajrin dalam hati.


“ oooo.... salah ya.... kalau begitu kakak keluar ya.... “ ucap Fajrin pura-pura melangkah mendekati pintu unit.


Belum sampai dua langkah baru memutar badan, seketika Divya melompat dari tempatnya duduk dan menahan Fajrin dengan menarik tas punggung yang Fajrin bawa.


“ jangan pergi.... kak Fajrin sudah janji mau temani Divya sampai sore “ ucap Divya tertunduk dengan tangan menahan erat tas punggung Fajrin.


Fajrin bukannya membalikkan badan, tapi malah melepas tas punggungnya dan membiarkan Divya memegangnya.


“aduh..... berat kak.... malah di lepas “ ucap Divya yang kedua tangannya tertarik kebawah karena memegang tas punggung Fajrin.


Fajrin tersenyum tipis melihat tingkah Divya yang menurutnya hampir sama seperti Nara.


“ terima kasih sudah membantu kakak melepas tas punggung. “ ucap Fajrin santai membuat Divya semakin cemberut.


“ jahil sekali.... “ ucap Divya yang sudah meletakkan tas punggung Fajrin di sudut sofa.


“ seorang model itu tidak boleh cemberut tidak boleh mudah merajuk “ ucap Fajrin asal.


“ kenapa tidak boleh? “ tanya Divya bingung karena baru kali ini ada yang mengatakan demikian.


“ kalau sedikit-sedikit merajuk, sedikit-sedikit cemberut.... nanti sudut mata di dekat pelipis pelan-pelan keriput.... kalau sudah keriput siapa yang mau pakai kamu sebagai model “ ucap Fajrin sedikit menggoda Divya.


Divya segera menekan sudut mata yang Fajrin maksud dan menariknya sedikit ke atas, membuat Fajrin tidak tahan untuk tidak melihat Divya dan tidak dapat menahan tawanya. Fajrin tertawa dan menutup mulutnya dengan tangan kanan membuat Divya semakin cemberut karena Fajrin berhasil menjahili dirinya sekali lagi.


Divya duduk dengan bersila melipat kedua tangannya di dada dan masih dengan mulut seperti bebek. Fajrin masih saja tertawa kecil melihat sikap Divya yang sama seperti Nara, Fajrin duduk di depan Divya dan mengeluarkan ponselnya. Sibuk mengetik sesuatu membuat Divya kali ini penasaran dan mencoba mengintip layar ponsel Fajrin dari sisi atas.


Belum sempat Divya melihat layar ponsel Fajrin, dengan cepat Fajrin meletakkan ponselnya di meja membuat Divya gugup dan kembali duduk dengan cepat pura pura masih merajuk.


“ sudah berhenti merajuknya...... sini kakak ajarkan kamu membaca ini “ ucap Fajrin santai membuat Divya melihatnya dengan heran.


“ membaca apa? “ tanya Divya bingung sambil melihat tampilan layar ponsel Fajrin.


“ ini..... kamu bisa membaca ini? “ tanya Fajrin sambil memutar posisi ponselnya menghadap Divya.


“ ini..... kakak ingin Divya membaca ini.... kecil “ ucap Divya dengan sombong sambil menjentikkan ujung kelingking kirinya dengan ibu jari.


Divya mulai membaca huruf arab satu persatu yang di tunjuk Fajrin dengan lancar, Fajrin tersenyum senang ternyata Divya bisa mengenali semua huruf arab yang dia tunjuk.