My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 28 PERANGKAP



Dua beban pikiran Fajrin terselesaikan dalam satu hari, beban pikiran membeli sebuah Laptop dengan sistem operasi MacOs untuk adiknya Nara dan beban ide baru untuk project Jaipur. Selama satu minggu penuh bahkan saat weekend pun Fajrin dan keenam tim-nya menghabiskan waktu dengan membuat desain baru berdasarkan ide Fajrin, mereka bekerja tanpa mengenal lelah. Ningsih sebagai admin sangat sadar bahwa saat ini tugasnya adalah menyediakan konsumsi untuk mereka bertujuh, ada kalanya Ningsih harus mengingatkan mereka untuk makan atau pun sekadar minum. Irvan dan Gultom mengikuti semua arahan Fajrin untuk membuat maket hingga membentuk miniatur World Hotel dan Resort sesuai dengan ide Fajrin, sedangkan Ryan dan Cahyo menguji hasil pengukuran dan perhitungan yang di sudah di tentukan oleh Fajrin ke sebuah program komputer untuk menguji ketahanan struktur bangunan terhadap kecepatan angin dan gempa. Muslim dan andra menentukkan titik-titik tiang pancang dan paku bumi yang akan mereka pakai, Roby merasa bahwa saat ini Fajrin sedang berusaha keras memenuhi keinginan Presdir Radha Cheng.


Selama satu minggu penuh Fajrin tidak mengijinkan satu orang pun masuk ke ruang tempat mereka bekerja selain tim-nya. Bahkan saat Yudha atau seorang direksi yang ingin melihat perkembangan pekerjaan Fajrin dan tim-nya, Ningsih akan sangat tegas melarang mereka masuk dengan alasan atas perintah CEO Azkar bahkan Fajrin tidak membolehkan tim-nya untuk berbicara tentang pekerjaannya pada siapa pun. Tepat tengah hari di akhir pekan Fajrin telah selesai melakukan simulasi dari idenya yang sudah mereka gambar ke dalam sebuah aplikasi Planner lima dimensi, mereka menguji kekuatan struktur bangunan dengan menentukan batas kecepatan angin dan batas getaran untuk ketahanan bangunan.


“yessss...... we did it" teriak muslim dengan semangat membuat yang lain terkejut.


“berisik slim.....pak Fajrin belum selesai itu dengan ketahanan getaran gempa" ucap Ryan sambil memaksa Muslim kembali duduk.


“slim..... berapa banyak tiang pancang yang di titik ini?” pertanyaan Fajrin membuat


Muslim seketika menjadi tegang.


Muslim segera membuka kertas kalkir yang tak jauh darinya.


“ada empat tiang pancang di titik itu pak, mengingat kontur tanah di lokasi project yang termasuk dataran rendah dan dataran tinggi di sekitarnya.” Ucap Muslim sedikit gugup karena tatapan mata Fajrin yang seperti akan menghabisi bila dia salah menjawab.


Fajrin kembali mengetik sesuatu di laptopnya, untuk beberapa menit kemudian Fajrin kembali melakukan ujicoba ketahanan getaran, wajah serius lelah kurang tidur semua memandangi layar laptop Fajrin berharap perhitungan mereka kali ini bisa mendapatkan hasil yang sesuai dengan harapan mereka.


“finally...... berhasil juga" ucap Fajrin membuat semua tim-nya berteriak kegirangan.


Ningsih yang baru datang dengan Dipta membawa makan siang sangat terkejut mendengar suara gaduh di ruangannya, Ningsih segera berlari membuka pintu ruangannya membuat Fajrin dan keenam timnya melihat dengan heran.


“sepertinya makan siang kita sudah datang" ucap Irvan sambil mendekati Ningsih yang kerepotan dengan makan siang mereka.


Ningsih menyerahkan apa yang dia bawa ke Irvan dan Andra.


“maaf pak Dipta tidak boleh masuk..... ini area terbatas bagi bapak" ucap Andra sambil menunjukkan tanda area terbatas.


Ningsih dan Dipta saling memandang seperti sedang berbicara dengan bahasa hati, Dipta melangkah menjauh dari pintu ruangan dan memilih menunggu Ningsih sambil menyandarkan punggungnya di dinding yang tak jauh dari pintu.


“big bos saja tidak boleh masuk..... apa lagi pacar..... tentu tidak boleh" ucap Muslim menyindir Ningsih.


Para lelaki mulai sibuk dengan makanan masing-masing, Ningsih merapikan beberapa kertas yang berserakan.


“Ning, kapan jadwal presentasi dengan CEO Rosewood?” tanya Fajrin saat sudah selesai menghabiskan makanannya.


“besok selasa jam sebelas hotel Ritz-Carlton Mutiara Ballroom" ucap Ningsih sambil menyerahkan selembar kertas yang dia print dari emailnya.


“mmm..... kamu bawa saja.... kalian cepat selesaikan makan ada hal yang harus saya jelaskan pada kalian untuk rencana besok selasa.” Ucap Fajrin yang sudah kembali sibuk dengan laptop dan ponselnya.


Keenam timnya hanya melihat sesaat dan dengan cepat menyelesaikan makan mereka, sesekali muslim melihat Fajrin sedang berbicara serius dengan seseorang dan menancapkan dua buah Flashdisk ke laptopnya. Keenam timnya sudah selesai makan dan Ningsih sudah berpamitan dengan mereka untuk pulang, Fajrin meminta keenam timnya untuk menyalakan laptop dan memberi mereka masing masing sebuah Flashdisk yang sama.


“kalian salin semua file yang aku beri nama Jaipur dan simpan Flashdisk itu.” Jelas Fajrin sambil mengetik sesuatu di laptopnya.


“hari ini pekerjaan kita sudah selesai.... kalian bereskan semua kertas kalkir dan masukkan ke tabungnya, beberapa kertas kalkir yang sudah di tandai Gultom masukkan sesuai dengan tanda yang ada di tabung jangan sampai tertukar. Sampai rumah berdoa supaya kita yang memenangkan tender ini meskipun Presdir Rosewood sudah menunjuk kita tapi karena ada sedikit masalah membuat kita bekerja keras seperti ini jadi tidak ada salahnya kita berdoa meminta yang terbaik bagi kita.” Ucap Fajrin yang sudah mematikan komputer dan laptopnya juga memasukkan beberapa Flashdisk di tas dan laci mejanya.


Tepat menjelang Adzan Azhar mereka sudah keluar dari area Surendra Corp, Fajrin langsung menuju ke rumah karena Nara sudah menunggunya. Sampai di rumah Fajrin melihat Nara sibuk dengan ponselnya.


“Assalamualaikum” salam Fajrin


“Wa'alaikumsalam, sini kak laptopnya" balas Nara sambil mengulurkan kedua tangannya.


Fajrin menyerahkan laptopnya dan Nara mulai sibuk dengan laptop Fajrin selagi Nara sibuk dengan laptop, Fajrin membersihkan diri.


“sudah selesai....” gumam Nara sambil tersenyum tipis.


Fajrin mendekati Nara sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


“sudah dik?” tanya Fajrin yang masih mengeringkan rambutnya.


“sudah kak.... kalau memang sesuai perkiraan kakak.... besok kakak lihat di komputer kakak ada tidak pesan ini..... tadi Nara sedikit menambah script di komputer kakak.” Ucap Nara sambil menunjuk layar laptop Fajrin.


“semoga perangkap kakak berhasil.... kakak hanya ingin tahu siapa yang sudah berani memakai desain kakak tanpa izin.... kalau memang mereka tertarik dengan desain kakak seharusnya mereka meminta izin pada bang Azkar, pasti bang Azkar akan mengizinkan kalau alasan mereka masuk akal dan realistis.” Ucap Fajrin sambil mematikan laptopnya.


“kakak tenang saja..... nanti kakak juga tahu siapa pelaku yang menyalin desain kakak tanpa izin...... oya kak.... mungkin laptop Nara hari Selasa atau Rabu sampai di alamat kakak. Tadi Nara tracking masih dalam proses pengiriman dari Singapore, mungkin besok Senin proses Bea Cukai baru selesai. “jelas Nara sambil memperlihatkan dua lembar kertas sebagai bukti bahwa laptop untuknya adalah hadiah dan pajak sudah di tanggung oleh pengirim.


Fajrin memberikan Nara sebuah pelukan dan ciuman kecil di dahi.


“terima kasih adik kecil..... sudah membantu kakak dengan ide ini" ucap Fajrin yang masih memeluk Nara.