My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 98 RAHASIA



“ tidak ada kuliah hari ini? “ tanya Fajrin melihat Nara keluar dari kamar mandi.


“ ada nanti jam 10, kak..... Nara belum bayar uang praktikum semester ini..... juga belum bayar SPP semester ini.... tiga hari lalu Nara mengajukan penangguhan uang SPP dan praktikum lagi.... kalau bulan depan belum bayar uang SPP semester ini..... Nara harus drop out “ ucap Nara dan menunjukkan lembar surat penangguhan uang kuliah para Fajrin.


Fajrin membaca nominal uang SPP semester dan yang praktikum semester 4 yang nilainya hampir setara 2 kali gaji bulanannya.


“ uang yang kakak kasih untuk SPP semester 4..... Nara pakai buat bayar praktikum semester 3 dan sisanya ini..... “ ucap Nara sambil menyerahkan bukti pembayaran SPP dan praktikum semester 3.


“ sisanya adik simpan saja buat uang saku sampai beberapa bulan kedepan..... tiga hari lagi kalau bonus kakak cair.... kakak lunasin SPP dan praktikum semester 4. “ ucap Fajrin sambil mengacak-acak rambut Nara dan pergi ke belakang untuk mencuci pakaiannya yang kotor.


Nara melihat punggung Fajrin merasa kasihan dan tidak tega.


“ kak..... kalau Nara pakai uang hadiah bang Azkar boleh tidak? “ Fajrin segera membalikkan badan menatap Nara dengan membulatkan kedua matanya.


“ maaf...... iya Nara tunggu dari kakak saja..... jangan marah ya.... “ rayu Nara yang sudah memeluk erat Fajrin.


Pukul 7 tepat Fajrin berangkat kerja, seperti biasa dengan motor tuanya. Hari ini Gultom yang akan mempresentasikan project mereka selama di Jaipur.


“ sudah ketemu adik belum? “ tanya Roby yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya saat menunggu pintu lift terbuka.


“ sudahlah..... Nara semalam tidak menginap di rumah Satya jadi pagi langsung ketemu.... dan langsung dapat tagihan uang SPP dan praktikum semester 4 “ ucap Fajrin dan melangkah masuk ke dalam lift.


“ hahahahahaha....... ternyata adik benaran aku kita adik Divya “ goda Roby dan melangkah masuk ke dalam lift berdiri di samping Fajrin.


“ nanti siapa yang presentasi? “ tanya Roby ingin tahu.


“ Gultom saja..... biar mereka belajar menghadapi para direksi dan CEO “ ucap Fajrin dan menekan tombol terbuka pintu lift.


“ Assalamualaikum “ salam Fajrin dan sudah terlihat lengkap semua timnya.


“ Wa'alaikumsalam “ balas semua timnya.


“ sudah siap apa belum? “ tanya Fajrin sambil melepas jaket kulit dan meletakkan di sandaran kursi kerjanya.


KEDIAMAN DAVIS.


Pukul 4.30 ponsel Divya berdering, Divya yang masih terlelap dalam tidurnya terbangun dengan terpaksa dan menggerutu.


“ siapa sih..... pagi-pagi begini telepon? “


Tangan kirinya berusaha mencari ponsel yang semalam dia letakkan di nakas.


“ hallo..... siapa ini..... pagi-pagi telepon “ ucap Divya dengan mata masih tertutup.


“...... Assalamualaikum Divya “ seketika kedua mata Divya terbuka lebar mendengar suara Fajrin.


Karena biasanya Fajrin akan menghubungi Divya pada pukul 5.15 dan Divya sudah memasang alarm pada pukul 5.14, Divya segera duduk d tepi ranjang.


“ kak Fajrin...... kakak sudah sampai Jakarta? “ tanya Divya senang juga heran.


“..... salam kakak di balas dulu “


“ Wa'alaikumsalam kak “ jawab Divya malu-malu.


“ ...... sepuluh menit lagi adzan Shubuh..... kakak mau sholat ke Masjid dulu..... kamu bangun sholat dan murojaah sebentar ya..... Assalamualaikum “


Divya bahagia karena Fajrin sudah sampai Jakarta itu berarti hari ini Divya bisa bertemu Fajrin, Fajrin sudah tidak mendengarkan lagi bacaan sholat Divya sejak sebulan yang lalu karena Divya sudah hapal dan tidak ada yang perlu di koreksi lagi. Selesai Sholat Shubuh sesuai arahan Fajrin, Divya murojaah dan suara murojaah Divya terdengar sayup-sayup di telinga Davis. Sejak pengakuannya pada Divya, Davis sering kali menghabiskan waktu di pagi hari dengan duduk di samping pintu kamar Divya untuk mendengarkan suara murojaah Divya. Terkadang Davis tidak sadar sudah meneteskan air mata saat mendengar suara murojaah Divya.


Davis akan beranjak dari kursi dan kembali ke kamar bila seorang pelayan datang untuk membersihkan lantai dua.


“ papi.... hari ini Divya boleh keluar sebentar? “ tanya Divya di sela-sela makan pagi.


“ Divya mau kemana? Mau papi antar? “ tanya Davis yang ingin tahu tujuan Divya.


“ tidak perlu..... sebentar saja..... boleh ya pi? “ rayu Divya sambil mengedipkan kedua kelopak matanya.


“ hahahahaha..... apa mau di antar supir? “ tanya Davis sekali lagi.


“ Divya bawa mobil sendiri saja. “ jawab Divya dan menghabiskan menu makan paginya


“ baiklah.... tapi hati-hati jangan kencang-kencang bawa mobilnya “ Divya menganggukan kepala menjawab pertanyaan Davis.


Selesai makan pagi Divya segera masuk ke kamar memilih pakaian apa yang akan dia kenakan agar terlihat cantik di mata Fajrin, ruang pakaian menjadi berantakan karena Divya mengeluarkan hampir semua pakaiannya.


“ tidak mungkin aku memakai dress ini..... ini terlalu pendek “ gumam Divya sambil memegang sebuah dress berwarna hijau tosca.


Divya mengeluarkan pakaian-pakaian lamanya dan menemukan beberapa dress yang setinggi betis dengan potongan leher berbentuk V dan lengan setali.


“ ini tidak pendek tapi lenganku terlihat “ gumam Divya dan meletakkan dress itu di sembarang tempat.


Saat Divya sibuk memilah-milah dress, neneknya masuk.


“ cari apa kamu sampai tidak dengar suara ketukan pintu? “ ucap Nenek Ina yang sudah memegang beberapa pakaian Divya yang berserakan.


“ nenek..... maaf Divya tidak dengar..... Divya bingung mau pakai pakaian yang mana “ ucap Divya yang masih memilah-milah dress.


Nenek Ina mendekati Divya yang terlihat bingung memilih dress.


“ mau bertemu siapa sampai semua pakaian berpindah tempat seperti ini? “ tanya Nenek Ina heran.


“ mau bertemu....... rahasia... “ ucap Divya dengan senyum bahagia tapi sudah cukup membuat Nenek Ina paham.


“ mau ketemu pacar? “ ucapan Nenek Ina membuat Divya berhenti mengeluarkan dress lagi.


Divya menatap Neneknya dengan heran.


“ Nenek tahu dari mana Divya punya pacar? “ tanya Divya heran.


“ Nenek hanya menebak saja..... apa pacar kamu tidak suka dengan pakaian yang terbuka? Bagaimana kalau ini? “ ucap Nenek Ina dan meraih sebuah dress berwarna biru dongker setinggi betis dengan potongan leher berbentuk V dan lengan sepanjang siku.


Divya memandang dress pilihan neneknya denagn mata berbinar-binar.


“ sepertinya ini cukup pantas, tinggal Divya tambah asesoris syal untuk menutup leher..... terima kasih nek “ ucap Divya tersenyum melihat dress pilihan Neneknya.


Divya mengecup pipi Nenek Ina dan beranjak ke kamar mandi, setelah tiga puluh menit di dalam kamar mandi. Divya keluar dengan segar dan berseri-seri, Divya segera berganti dengan dress tadi dan berhias di depan kaca. Menutupi kulit wajahnya dengan make up yang memberi kesan seksi dan eksotis mengaplikasikan foundation yang full coverage agar kulit wajah tampak lebih mulus, eyeliner tebal dengan gaya cat eyes serta eyeshadow yang tajam tak ketinggalan warna lipstik yang mencolok sedikit agak gelap.


“ bagaimana Nek? “ tanya Divya dan berjalan mendekati Neneknya yang masih merapikan pakaian-pakaiannya.


“ cucu Nenek cantik sekali.... pasti pria itu akan terpesona dengan wajah cantik cucu Nenek “ pujian Nenek Ina membuat Divya tersenyum bahagia dan mulai membayangkan bahwa Fajrin akan melihatnya sebagai wanita bukan sebagai adik perempuan.