My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 130 PAKAIAN



Selepas makan malam Divya memilih tidur di bersama neneknya.


“ Nek.... malam ini Divya tidur sama Nenek ya.... “ rajuk Divya membuat Nenek Ina tersenyum.


Nenek Ina hapal betul bila Divya memiliki masalah berat pasti akan meminta dirinya untuk menemani Divya tidur.


“ ada masalah apa? Kangen sama laki-laki yang biasanya kemari selepas Isya’ itu? Kamu bisa telepon dia.... kalian bisa bicara panjang lebar di telepon.... atau kalau masih kangen, kamu bisa menemuinya..... bagaimana kalau besok kamu bawakan makan siang lagi? “ ucap Nenek Ina sambil membersihkan tempat tidur dengan sapu lidi.


Divya terdiam tak bisa menjawab pertanyaan Neneknya, karena apa yang di katakan Neneknya benar semua.


“ Divya sudah sholat Isya’? “ tanya Nenek Ina sambil duduk di tepi ranjang.


“ sudah Nek, sebelum makan malam tadi “ ucap Divya sambil duduk di sebelah Nenek Ina.


“ mau cerita sekarang atau besok pagi? “ pertanyaan Nenek Ina membuat Divya menarik nafas panjang.


“ Nek.... Nenek tahu apa itu aurat? “ tanya Divya tertunduk.


Nenek Ina tersenyum mendengar pertanyaan Divya dan berdiri dari ranjang untuk mengambil Al Quran dan terjemahannya yang dia letakkan di atas meja bersama beberapa buku yang lain. Nenek Ina sebelum menjaga Divya kecil adalah seorang guru di sebuah Madrasah, jadi hingga saat ini suka sekali menghabiskan waktu dengan membaca berbagai macam buku termasuk buku tentang fiqih.


Nenek Ina membuka setiap halaman Al Qu'an dan terjemahannya mencari ayat yang Divya maksud.


“ Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ suara Nenek Ina membaca arti sebuah ayat dan membuat hati Divya menjadi dingin seperti tersiram air.


“ Nenek paham maksudnya ? “tanya Divya ragu.


Sebenarnya Divya sudah paham maksud dari ayat itu tapi Divya masih mencoba mencari pendapat lain yang mungkin sesuai dengan hatinya dan membuatnya merasa tenang juga nyaman.


“ apa kekasih Divya meminta Divya memakai hijab? Sedangkan Divya sendiri masih merasa tidak yakin memakai hijab? “ pertanyaan Nenek Ina membuat Divya menceritakan pertemuannya tadi siang dengan Fajrin juga Nara.


Divya mulai menceritakan dengan detail pertemuannya dengan Fajrin dan Nara tadi siang, Divya juga menceritakan sosok Nara. Menceritakan bagaimana wajah Nara dan mengeluarkan pendapatnya tentang sosok Nara. Nenek Ina mendengarkan cerita Divya tanpa menyela sekali pun, dan terlihat sesekali Nenek Ina mengulas senyum tipis di bibirnya. Saat Divya selesai menceritakan semua, tangan kiri Nenek Ina membelai rambut hitam sedikit kemerahan milik Divya.


“ kekasih Divya pintar sekali mendidik adiknya.... bisa menjadikan adik perempuan juga keluarga satu-satunya menjadi berlian yang tak dapat dinilai dengan harta. “ ucapan Nenek Ina membuat Divya tersenyum getir.


“ kekasih Divya pasti sangat menyayangi adiknya.... kalau seorang adik perempuan dia jaga dan dia muliakan seperti menjaga berlian pasti kelak dia akan sangat memuliakan istrinya. “ ucapan Nenek Ina membuat Divya tertegun tidak percaya.


“maksud Nenek? “


“ pria yang mampu menyayangi menjaga memuliakan saudara perempuannya pasti bila sudah berkeluarga nanti dia akan sangat menyayangi anak-anaknya dan memuliakan istrinya. “ sekali lagi ucapan Nenek Ina membuat Divya tertegun.


“ jadi maksud Nenek.... pria seperti bang Ditya kelak tidak bisa menjaga keluarganya dengan baik? “ Nenek Ina tersenyum mendengar pertanyaan Divya.


“ maksud Nenek, lebih baik memilih pria seperti kekasih kamu dari pada pria yang tidak bisa menjaga harga diri wanita.... kalau Ditya, Nenek yakin pasti dia akan mencari wanita yang seksi cantik seperti wanita yang dia bawa terakhir kali sebelum papi kamu ke Jakarta. “ Divya tersenyum kecut mendengar ucapan Neneknya.


“ sebenarnya memakai hijab itu salah satu hal yang wajib Divya lakukan, bukankah Divya sekolah TK memakai hijab? Ingat tidak? “ ucap Nenek Ina mengingatkan Divya.


Divya menggelengkan kepala tidak ingat hal itu, tentu saja Divya tidak bisa mengingat dengan baik karena Divya kecil hanya mengenakan hijab saat sudah berdiri tepat di depan sekolah dan akan melepas hijabnya bila sudah keluar dari sekolah. Itu pun yang memakaikan hijab gurunya dan bukan neneknya.


Nenek Ina menyerahkan sebuah buku untuk Divya baca.


“ Divya buka halaman 58 dan baca “ ucap Nenek Ina sambil membelai rambut Divya.


“ pertama pakaian wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Bila di kuatirkan akan menimbulkan fitnah maka disarankan untuk menutup wajah dan hanya memperlihatkan kedua mata “ suara Divya terhenti.


“ teruskan “ ucap Nenek Ina


“ kedua bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa. Allah Ta’ala berfirman, “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah terdahulu.” Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki. “ Divya terdiam mengingat semua yang sudah dia lakukan selama ini.


“ kenapa diam.... apa Nenek yang bacakan untuk Divya? “ Divya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Neneknya.


“ ketiga pakaian tersebut tidak tipis, tidak tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh, pakaian harus longgar tidak ketat sehingga tidak memperlihatkan bentuk lekuk tubuh. Wanita yang berpakaian seperti itu mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang dari Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah halaman 125-126 “ Divya kembali terdiam dan menundukkan kepala.


Hatinya terasa sakit membaca ini, pikirnya melayang mengingat saat-saat dirinya menjalani pemotretan juga saat berjalan di atas catwalk.


“ memang meraka semua melihat Divya, mereka terlihat mengagumi kecantikan wajah dan tubuh Divya. Tapi Divya tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran mereka, bisa jadi mereka berimajinasi bagaimana menyentuh Divya “ ucap Divya pelan.


“ masih sanggup membaca selanjutnya? “ ucapan Nenek Ina membuat Divya menyeka air matanya yang menetes di pipi kiri.


“ keempat tidak diberi wewangian atau parfum. Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah wanita pezina.” HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi “ Divya meneteskan air matanya membaca kalimat ini.


Nenek Ina membelai rambut Divya mencoba menenangkan hatinya yang terasa sakit.


“ hanya dengan memakai parfum dan melewati para pria.... aku sudah menjadi seperti itu “ ucap Divya sedih.


Divya kembali menguatkan hati membaca kalimat yang berada di bawah halaman.


“ kelima tidak boleh menyerupai pakaian pria “ air mata Divya kembali menetes.


“ jadi sebenarnya papi sudah memahami semua ini, makanya papi menyuruh Divya menyingkirkan semua parfum dan hanya menyusahkan 1 parfum saja. “ suara Divya terdengar berat karena kedua matanya sudah meneteskan air mata.


“ boleh pakai pakaian terbuka, berhias, memakai parfum..... tapi lakukan itu hanya di depan suami Divya “ ucapan Nenek Ina membuat Divya menatap wajah Neneknya yang kulitnya sudah berkeriput.


“ itu salah satu cara untuk menyenangkan suami “ ucapan Nenek Ina membuat Divya menyeka air matanya.