
Dengan memasang senyum menawan, Martha mendekati Ralf.
“ Is there anything I can help you, Mrs. Martha (ada yang bisa saya bantu nyonya Martha)? “ tanya Ralf yang sudah menegakkan tubuhnya dan menatap Martha seperti biasa.
“ nothing..... I just want to know.... what is Fajrin's relationship with Mr Ralf (tidak ada..... aku hanya ingin tahu.... apa hubungan Fajrin dengan Tuan Ralf)? “ tanya Martha dengan menggerak-gerakkan kedua kelopak matanya agar terlihat sedikit genit.
“ Mr Fajrin is part of the big family of Rosenkrantz (Tuan Fajrin bagian dari keluarga besar Rosenkrantz) “ ucapan singkat Ralf masih terdengar ambigu di telinga Martha.
“ what does Mr. Ralf mean by being part of the big family of Rosenkrantz?.....isn't Mr. Ralf the owner of Rosenkrantz and Mr. Lief the only heir of Rosenkrantz? (apa maksud Tuan Ralf dengan bagian dari keluarga besar Rosenkrantz?..... bukankah Tuan Ralf pemilik Rosenkrantz dan Tuan Lief pewaris tunggal Rosenkrantz?) “ tanya Martha semakin bingung dan ingin tahu.
“ I am only one of the confidants of the fourth generation of Rosenkrantz and my son Lief, also one of the confidants of the CEO of Rosenkrantz.... while Mr. Fajrin is the brother-in-law of the CEO of Rosenkrantz (saya hanya salah satu orang kepercayaan generasi ke empat Rosenkrantz dan putra saya Lief, juga salah satu orang kepercayaan CEO Rosenkrantz.... sedangkan Tuan Fajrin kakak ipar dari CEO Rosenkrantz) “ penjelasan Ralf kali ini menyadarkan otak Martha yang masih berpikiran bahwa Ralf pemilik dan Lief pewaris Rosenkrantz.
Dengan raut wajah sangat terkejut dan kedua mata membulat hampir sempurna, Martha menatap Fajrin dengan tatapan sangat terkejut.
Ralf meninggalkan Martha sendiri dengan keterkejutannya, mendekati Erhan yang terlihat bahagia.
“ it turns out that all this time I had mistakenly thought that Mr. Ralf was the owner of Rosenkrantz and Mr. Lief was the heir (ternyata selama ini aku salah mengira bahwa Tuan Ralf pemilik Rosenkrantz dan Tuan Lief pewarisnya) “ gumam Martha dengan kedua mata yang masih membulat.
Martha masih mengamati Fajrin dan yang lainnya dengan otak yang sibuk memikirkan apa yang akan dia lakukan untuk mendekati CEO Rosenkrantz.
“ Fajrin.... hvis du en dag virkelig ønsker å bli forretningsmann... fortell det til Afkar... la Afkar hjelpe deg med en stilling hos Rosenkrantz (Fajrin.... kalau suatu saat kamu benar-benar ingin terjun menjadi pebisnis.... katakan pada Afkar.... biar Afkar membantumu memegang posisi di Rosenkrantz) “ ucapan Erhan membuat Fajrin tersenyum bahagia.
“ takk bestefar for at du ga meg avtalen...... men hvis jeg vil ha en stilling i Rosenkrantz virker det som Fajrin ikke er kapabel.... hvis jeg en dag blir lei av å være arkitekt... ønsker å fortsette å jobbe med Azkar... Jeg skylder Azkar mye. (terima kasih kakek sudah memberiku kesempatan...... tapi kalau untuk memegang posisi di Rosenkrantz sepertinya Fajrin tidak mampu.... kalau pun suatu saat saya bosan menjadi Arsitek.... saya ingin tetap bekerja dengan bang Azkar.... saya banyak berhutang budi pada bang Azkar.) “ Erhan tertawa renyah mendengar ucapan Fajrin.
“ siden når ga jeg deg en gjeld (sejak kapan aku memberimu hutang)? “ ucap Azkar asal.
“ abang sudah banyak membantu keluargaku “ ucap Fajrin jujur.
“ apa tidak boleh seorang abang membantu adik-adiknya? “ ucap Azkar pura-pura sedikit merajuk.
Membuat Erhan, Ralf dan Fajrin tersenyum karena Azkar pura-pura merajuk seperti Nara.
“ sayang... kamu tidak pantas merajuk seperti Nara “ ucap Helen yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Azkar.
“ kalian tidak sholat Jum'at? “ pertanyaan Helen membuat Azkar, Fajrin dan para sepupu Azkar hampir bersamaan melihat jam tangan mereka.
Dengan sigap Azkar, Fajrin dan yang lainnya berdiri dan keluar dari ruang tunggu menuju masjid hotel.
“ bestefar... vi bare sitter der (kakek... kita duduk di sana saja) “ ajak Helen sambil menbantu Erhan bangkit dari kursi.
Azkar, Fajrin, para pria keluarga Yilmaz, para pria keluarga Surendra, rekan-rekan Fajrin dan pemain Shield yang muslim satu persatu keluar dari ruang tunggu menyisahkan para wanita dan para pria yang tidak sholat Jum'at.
Selesai sholat Jumat para pria kembali menuju ruang tunggu tapi Fajrin langsung kembali ke kamar dimana Divya berada.
“ Assalamu'allaikum “ salam Fajrin sambil membuka pintu kamar.
Mendapati Divya yang sudah terlihat sangat cantik dan mempesona membuat Fajrin tersenyum malu-malu.
“ cantik “ ucap Fajrin pelan tapi terdengar jelas di telinga para asisten perias.
Fajrin mengenakan jas yang berwarna senada dengan gaun yang Divya pakai, setelah menunggu kurang lebih 15 menit akhirnya mereka keluar dari kamar. Dan tepat di depan lift lantai dasar sudah menunggu seorang staff wedding organizer yang akan mengatur proses kedua mempelai memasuki grand ballroom.
Di saat Fajrin dan Divya mulai melangkah masuk ke dalam grand Ballroom semua tamu undangan menyambut kedatangan mereka. Fajrin dan Divya, Freya dan Selo, Davis dan Martha melangkah menuju panggung kecil yang sudah di sulap sebagai pelaminan sementara para keluarga dari kedua mempelai menempati meja bundar yang sudah pihak wedding organizer atur.
Satu persatu pramusaji meletakkan hidang pembuka di setiap meja para tamu undangan, satu persatu para tamu penting berdatangan dan mengucapkan selamat pada mempelai dan kedua keluarga mempelai yang berada di atas pelaminan. Seperti CEO Rosewood Sonia Arora dan suami, presiden direktur Radha Cheng yang datang bersama istri dan keluarga kecilnya, bahkan Timothy dan Alex lenders pun datang bersama keluarga mereka, Mexrat datang bersama salah satu anak kembarnya.
Kedatangan para petinggi perusahaan terbesar di negaranya masing-masing membuat Selo dan Freya terlihat senang dan bahagia, karena putra dari sahabat mereka mengenal orang-orang baik yang berkerja dengan profesional. Sonia yang sudah sangat mengenal Freya terlihat lebih akrab bahkan Sonia tidak menyangka saat Freya adalah keluarga terdekat Fajrin.
“ this is Fajrin's wedding.... why are you and your husband standing here?..... do you really know Fajrin? (ini pernikahan Fajrin.... kenapa kamu dan suamimu berdiri disini?..... apa kamu sangat mengenal Fajrin? ) “ tanya Sonia ingin tahu.
Freya tersenyum karena ternyata Azkar pandai sekali menyembunyikan identitas Fajrin selama ini, karena Azkar sendiri tahu kalau Sonia dan Freya adalah teman dekat.
“ she is Asma's second child..... her first son is past away.....and the last one married with Afkar (dia anak kedua Asma..... yang pertama meninggal..... dan yang terakhir menikah dengan Afkar) “ ucapan Freya membuat Sonia sangat terkejut hampir saja tidak percaya.
Dulu Sonia dan Asma adalah rekan satu asrama satu kamar sama-sama mahasiswa asing di Universitas Oslo. Sonia menatap Fajrin tidak percaya bahwa selama ini dua project miliknya di pegang oleh anak rekan satu kamar semasa kuliah.