My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)

My Woman's Desires (Part Of Divya And Fajrin)
BAB 30 PEMBUKTIAN (1)



Azkar seketika merasa pening melihat kondisi Fajrin dengan tangan terluka, salah satu ujung bibir sobek dan pipi lebam.


“siapkan dua pengawal di dekat rumahnya, jangan sampai Nara menjadi sasaran mereka" bisik Azkar pada Roby.


Asisten Sonia membantu mengganti kain pembalut telapak tangan kiri Fajrin dan lebam di beberapa bagian wajah serta lengan kanan Fajrin. Radha melihat Fajrin dengan tatapan prihatin. setelah menunggu beberapa menit kini giliran Fajrin untuk mempresentasikan desainnya, Irvan yang membawa infocus mempersiapkan di depan dan Gultom menyiapkan laptop Fajrin, Fajrin berjalan pelan menahan nyeri di telapak tangan kirinya.


“Are you sure want to make a presentation (yakin anda yang akan melakukan presentasi)?” tanya Sonia meyakinkan Fajrin.


“I'm sure ma'am (saya yakin bu).” Jawab Fajrin singkat dengan wajah penuh keyakinan.


“What happen to you (apa yang terjadi padamu)?” tanya Radha heran.


“sorry we're late.... there's a bit of a problem (maaf kami terlambat.... ada sedikit masalah)” ucap Fajrin sambil menyerahkan sebuah buku gambar berukuran A2 pada para petinggi Rosewood dari tangan Ryan.


“please do your present (silahkan anda presentasi)" ucap Sonia mempersilahkan Fajrin.


Dengan tangan kiri yang menahan sakit Fajrin berusaha menjepit pena laser pointer di antara jari telunjuk dan jari tengah, sementara tangan kanannya sibuk dengan keyboard laptop. Beberapa detik kemudian infocus menampilkan gambar-gambar desainnya, para petinggi mendengarkan pemaparan Fajrin dengan sangat antusias hingga saat Fajrin menampilkan gambar bangunan yang dia buat di software lima dimensi Planner untuk simulasi kekuatan gedung. Para petinggi Rosewood sangat kagum dan tertarik dengan ide dan detail perhitungan yang Fajrin paparkan.


“so you test your own design by simulating the strength of the building's resistance to earthquake vibrations and wind speed (jadi anda menguji desain anda sendiri dengan melakukan simulasi kekuatan ketahanan bangunan terhadap getaran gempa dan kecepatan angin)" ucapan Sonia mendapat anggukan kepala Fajrin.


“impressive (menakjubkan)” ucap Sonia sangat puas dengan ide Fajrin


Tanpa Fajrin sadari saat dia presentasi, Dipta masuk ke dalam Ballroom dan duduk di area yang minim penerangan. Dipta merekam presentasi Fajrin untuk dia kirim pada Divya. Ditengah-tengah Fajrin presentasi, Iwan berusah menginterupsi tapi pengawal Sonia berhasil menghalanginya dengan menahannya untuk tetap duduk. Tapi pada akhirnya Iwan berbicara keras.


“Mr. Fajrin, you are plagiarizing my idea (Pak Fajrin, anda sudah melakukan plagiat terhadap ide saya).”ucapan keras Iwan membuat Fajrin menghentikan presentasinya sesaat.


Dengan menarik nafas panjang dan melepas pena laser pointer di meja, Fajrin berjalan ke depan Iwan yang tepat berada di samping kanan para petinggi Rosewood yang hanya berjarak lima kursi.


“I came when you were almost done presenting your design? How can you say I'm a plagiarist if I don't see your full presentation? Even if I’m a plagiarist will there be enough a time for me to make all these design in a minutes? (bukankah saya datang saat anda sudah hampir selesai mempresentasikan desain anda? Bagaiman anda bisa mengatakan saya seorang plagiat kalau saya tidak melihat presentasi anda seutuhnya? Kalau pun saya seorang plagiat apa ada cukup waktu bagi saya untuk membuat semua gambar-gambar ini dalam waktu singkat?)” ucapan Fajrin sekali lagi membuat Iwan mati kutu.


“Mr. Iwan..... are you sure that your idea is copied by Mr. Fajrin (pak Iwan..... apa anda yakin kalau ide anda di tiru oleh pak Fajrin)?” tanya Radha berusaha menenangkan suasana yang terlihat jelas sangat tegang dan panas.


“if you’re sure, please show us your design once again and which part that Mr. Fajrin imitated from your idea (kalau anda yakin silahkan sekali lagi perlihatkan desain anda pada kami dan tunjukkan bagian mana yang pak Fajrin tiru dari ide anda)?” ucap Sonia yang mulai memahami arah keinginan Iwan.


Entah Iwan menyadari atau tidak bahwa sebenarnya Sonia dan Radha sudah mendengar informasi bahwa seseorang melakukan sabotase terhadap desain Fajrin sehingga Fajrin mengubah total semua idenya dan membuat desain yang lain. Iwan dan dua orang rekannya menampilkan kembali desain mereka tepat saat Iwan hendak menunjukkan dimana letak kemiripan desainnya dengan desain Fajrin, Zulian dan Yudha masuk ke dalam Ballroom mereka duduk di sisi ruangan dengan penerangan lumayan terang. Yudha menggelengkan kepalanya saat Iwan melihatnya, Yudha memberi isyarat agar Iwan tidak melanjutkan apa yang akan dia lakukan tapi Iwan dengan egois melanjutkan apa yang sudah dia ucapkan.


Iwan menunjukkan bagian yang menurutnya di tiru oleh Fajrin, sementara Fajrin hanya diam dan mematikan layar laptopnua karena salah seorang rekan Iwan sepertinya berusaha melihat ke layar laptop Fajrin.


“so that's the part that you think has been imitated by Mr. Fajrin (jadi bagian itu yang menurut anda telah di tiru oleh Pak Fajrin)?” tanya Sonia meyakinkan Iwan.


“right ma’am (benar bu).” Jawab Iwan dengan tegas dan yakin.


“can you do a simulation like Mr. Fajrin did (apakah anda bisa melakukan simulasi seperti yang pak Fajrin lakukan)?” pertanyaan Sonia seketika membuat tubuh Iwan menegang.


Iwan tidak bisa menggunakan software lima dimensi Planner karena tidak terlintas dalam benak Iwan bahwa apa yang dia buat akan ada perhitungan untuk menguji kekuatan bangunan terhadap kecepatan angin dan getaran gempa. Iwan berunding dengan kedua rekannya dan kedua rekannya mulai memasukkan semua komponen dari gambar desainnya ke software tiga dimensi planner, Sonia memberi mereka waktu lima menit untuk melakukan simulasi seperti yang Fajrin lakukan. Sementara Fajrin menyandarkan pahanya di sisi meja karena betisnya terasa pegal.


Saat salah seorang rekan Iwan memperlihatkan desainnya pada layar laptop dan melakukan pengujian pada kekuatan getaran gempa dengan memasukkan skala kekuatan gempa pada tools software, hanya dalam hitungan kurang dari lima detik gambar bangunan yang mereka buat roboh rata dengan tanah. Iwan terkejut seketika tubuhnya bergetar seperti menahan sesuatu.


“what is the Richter scale you typed (berapa skala kekuatan yang anda ketik)?” tanya Sonia dengan tegas.


“six point two (enam koma dua)“ jawab Iwan dengan suara bergetar.


“If with that scale the existing building was collapsed to the ground even though the building is only three floors, what about our hotel which has a height more than three floors? Will you be responsible for the number of hotel staff and guests who’re become the victims? (kalau dengan skala itu gedung yang ada buat sudah roboh dengan tanah padahal gedung hanya setinggi tiga lantai, bagaimana dengan hotel kami yang memiliki tinggi lebih dari tiga lantai? Apa anda akan bertanggung jawab dengan banyaknya staff dan tamu hotel yang menjadi korban?)” ucapan Sonia semakin membuat Iwan mati kutu.