
Davis menatap tajam Ditya yang berusaha melepaskan diri dari dua pengawal yang menahannya.
“ what should I do....to get Nara to unblock my company's banking account (apa yang harus om lakukan.... agar Nara membuka blokir akun perbankan perusahan om)? “ tanya Davis dengan bahasa inggris yang terdengar sangat kecewa sedih mengetahui bahwa Ditya yang sudah dia kirim kembali ke Montreal masih berusaha mengancam Fajrin.
Davis sengaja berbicara dengan Nara menggunakan bahasa Inggris, karena Davis ingin Jason dan semua pengawal yang berada di ruangan ini juga tangan kanannya yang berada di Montreal mengetahui apa tindakan selanjutnya untuk menyelesaikan masalah ini.
“it's simple..... I just wants the sender of the message have to apologize to my brother, promising not to do it again...... and also to attract all the people who are always at brother Syafril's restaurant who sometimes make a little noise.... Even though it doesn't scare the visitors, it's enough to make restaurant employees in troubled with what they do (sederhana..... Nara hanya ingin pengirim pesan tersebut meminta maaf pada kakak berjanji tidak akan melakukannya lagi...... dan juga menarik semua orang-orangnya yang selalu berada di restauran kak Syafril yang terkadang membuat kegaduhan kecil..... meski pun tidak sampai membuat para pengunjung ketakutan tapi cukup membuat para pegawai restauran kerepotan dengan ulah mereka) “ penjelasan Nara semakin membuat Davis geram dan mengepalkan kedua tangannya hingga ujung-ujung jari memerah.
Divya yang sedari tadi memilih diam karena masih berusaha mencerna ancaman seperti apa yng Fajrin terima, kali ini terkejut dan tidak percaya dengan ucapan Nara.
“ are you sure.... that those people are working for someone who always send messege to your bother? How can you be so sure about that? (kamu yakin.... kalau orang-orang itu adalah orang-orang yang bekerja pada pengirim pesan kakak kamu? Bagaimana kamu bisa seyakin itu?) “ tanya Davis yang masih ada sedikit keraguan.
“ fine..... I'll show you some of CCTV footage at the restaurant and some of video recordings of them when they are not in the restaurant but around the owner of the message sender number. (baiklah..... Nara akan tampilkan beberapa rekaman CCTV di restauran kak syafril dan rekaman video mereka saat tidak berada di restauran itu tapi berada di sekitar pemilik nomor pengirim pesan.) “ seketika Davis dan Jason tersentak mendengar jawaban Nara.
Seluruh ruangan terdiam, Fajrin tertunduk menatap ponselnya dan tanpa dia sadari ada sebuah tangan yang membelai lembut punggungnya.
“ pesan ancaman itu ternyata terjadi juga.... aku kira selama ini restaurannya tidak ada masalah..... kenapa Syafril tidak pernah cerita “ gumam Fajrin dalam hati.
Setelah menunggu selama 4 menit 30 detik, apa yang Nara ucapakan mulai terlihat di layar LCD yang Davis gunakan untuk komunikasi skype dengan Ditya. Begitu juga dengan laptop yang Ditya pakai untuk menerima panggilan skype Davis. Beberapa rekaman CCTV dari restauran Syafril dan beberapa rekaman video pesta nudis di sebuah kamar hotel dan juga di sebuah kapal pesiar pribadi yang berada di tengah-tengah laut.
“ Astagfirullah.... dik itu aib orang dik.... jangan di umbar... “ ucap Fajrin spontan saat melihat rekaman yang Nara tampilkan.
Nara segera menghentikan rekaman yang dia perlihatkan di LCD. Tidak hanya itu Nara juga memberi tanda sebuah lingkaran merah pada masing-masing wajah yang sama di antara 2 lokasi tersebut dan menampilkan dengan detail wajah-wajah mereka.
Davis sangat marah juga geram melihat wajah Ditya juga wajah-wajah orang-orang kepercayaan Ditya juga Davis berada di restauran yang setiap hari membuat kegaduhan kecil.
Sementara Ditya terlihat jelas berusaha menyangkal dan melepaskan diri dari 2 orang yang menahan kedua tangan dan tubuhnya.
“ I will not apologize to the gold digger destitute….. I won't (aku tidak akan meminta maaf pada orang miskin pemburu harta..... tidak akan) “ ucapan Ditya yang keras membuat Davis semakin emosi.
“ destitute.....gold digger (orang miskin....pemburu.... harta)? “ ucap Nara pelan namun tegas membuat Fajrin panik juga gugup.
“ kamu coba hubungi Nara kembali “ pinta Davis pada Fajrin.
Fajrin berusaha mengirim pesan juga menghubungi Nara tapi semua sia-sia Nara tidak mau membalas atau pun menerima panggilannya. Fajrin lemas menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
“ adik marah.... “ ucap Fajrin pelan dan cukup membuat Davis juga Divya terkejut.
Selama ini mereka tidak pernah melihat seseorang yang marah dengan memilih diam, mereka melihat orang-orang yang marah selalu mengumpat memaki bahkan melakukan kekerasan fisik.
“ marah? “ tanya Divya heran.
“ hmmmm.... adik tidak akan mau berbicara dengan orang yang membuatnya marah sampai orang itu meminta maaf langsung padanya.” Ucap Fajrin pelan dan berdiri dari sofa.
“ kamu mau kemana? Pergi..... lari dari masalah ini? “ tanya Davis yang melihat wajah tak bersemangat Fajrin.
“ Fajrin tahu.... tu..... papi orang baik..... terima kasih sudah merestui hubungan kami tapi kalau hubungan ini akan membuat orang-orang yang sudah lama berada di sekitar Fajrin berada dalam bahaya..... mungkin kami belum berjodoh “ ucap Fajrin tertunduk membuat Divya menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
“ apa maksud kamu? “ tanya Davis heran dengan mengerutkan kulit di antara kedua alisnya.
“ mungkin memang kami tidak berjodoh karena setiap kali kami dekat selalu saja ada sesuatu yang menghalangi kedekatan kami. Seperti yang papi rasakan hari ini, dalam rentang waktu kurang dari 10 jam semua berubah berbalik dalam sekejap. “ ucap Fajrin menatap wajah Davis.
“ apa ayang tidak akan memperjuangan Divya? ayang akan mundur hanya masalah seperti ini? Perusahaan papi besar.... tidak mungkin perusahan papi akan jatuh begitu saja.... papi tidak akan membiarkan itu terjadi..... ayang.... ayolah jangan menjauh lagi dari Divya.... “ pinta Divya memohon agar Fajrin tidak menjauh lagi.
“ perusahan papi memang besar.... tapi kalau aliran dana sudah tertutup.... bagaimana dengan nasib para staff perusahaan papi? Mereka punya keluarga yang harus mereka hidupi.... kalau perusahaan papi bermasalah hingga bangkrut.... bagaimana dengan nasib mereka.... ayang tidak bisa membiarkan ribuan bahkan jutaan orang kehilangan pekerjaan di perusahaan kalian.... ayang akan merasa berdosa pada mereka.... kalau itu terjadi.... sama saja ayang berbuat dzolim.... sumber dari semua masalah ini adalah sikap egois ayang. “ ucapan Fajrin membuat Divya meneteskan air mata tidak terima dengan keputusan Fajrin.
Divya menangis menahan lengan kiri Fajrin agar tidak pergi menjauhinya.
“ papi..... Divya mohon bantu Divya.... Divya tidak meminta apa pun pada papi.... Divya hanya ingin ayang “ ucap Divya dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya.
Fajrin berusaha melepas tangan Divya, setiap kali menggerakkan lengannya agar Divya melepas genggamannya setiap kali itu pula Divya semakin erat menahannya dan menggelengkan kepala pada Fajrin. Memohon agar Fajrin tidak kembali menjauh, air matanya semakin deras mengalir di kedua pipinya.