
Semua orang sibuk dengan persiapan acara lamaran Fajrin, tak terkecuali Selo, Freya, Azkar, juga Helen dan tentunya Roby yang semakin sibuk dengan segala sesuatu dengan persiapan acara lamaran Fajrin. Roby yang sudah sibuk dengan tanggung jawab sebagai asisten CEO, sekarang mendapat tambahan pekerjaan mengantur semua akomodasi keluarga Surendra yang akan datang ke acara lamaran Fajrin.
Selo dan Azkar yang sudah mendapatkan berita dari Erhan terkait keluarga besar Prakash dan Lohia, dengan sigap Azkar dan Selo melakukan apa yang Erhan sarankan. Memang akan terkesan sangat mewah untuk acara lamaran ini, tapi Selo mau pun Azkar tidak bisa begitu saja mengabaikan saran Erhan. Meski pun Fajrin menolak beberapa hal yang Azkar siapkan tapi percuma saja karena Azkar tidak akan menuruti permintaan Fajrin.
Acara lamaran Divya untuk Fajrin sangat berbeda jauh dengan acara khitbah Nara yang lebih terkesan sederhana bahkan seadanya, Erhan tidak ingin keluarga besar Prakash dan Lohia memandang Fajrin sebagai pria miskin yang mengincar wanita kaya untuk merebut kekayaan wanita itu.
Bahkan Selo minta Wingga untuk hadir di acara lamaran nanti dengan membawa semua keluarga besar Wingga. Sungguh persiapan acara lamaran yang sangat menguras tenaga dan pikiran, meski sebagai pihak pria yang tidak perlu menyediakan tempat tetap saja Azkar dan Selo juga Roby harus mengurusi beberapa hal.
Azkar tidak mengizinkan Fajrin ikut ambil bagian di setiap persiapam acara lamaran ini, Azkar hanya menyuruhnya mencoba beberapa pakaian dan memilihnya bersama Divya untuk mereka pakai di acara lamaran nanti. Dan Azkar juga menyuruh Fajrin mempersiapkan diri kalimat apa yang akan dia ucapkan di hadapan keluarga besar Prakash dan Lohia untuk meminta Divya sebagai istrinya.
Karena tidak banyak hal yang bisa Fajrin lakukan, akhirnya Fajrin memutuskan untuk mengikuti jadwal pre-launching pembukaan dua buah resort di wilayah timur Indonesia, satu resort di Pulau Seram dan satu resort di sebuah pulau yang berada di teluk Tomini.
“ buat apa kamu ikut campur urusan project dua resort kecil ini.... “ protes Azkar sambil mencoret nama Fajrin di dua project resort tersebut.
“ aku tidak ada pekerjaan bang.... posisi ini aku kira akan banyak yang bisa aku lakukan.... ternyata posisi ini pekerjaannya hanya tanda tangan persetujuan dan pengecekan akhir saja..... kurang menantang “ ucap Fajrin sambil meraih dua map yang satu halamannya ada namanya.
“ bukankah kamu masih ada satu project besar? “ tanya Azkar yang ingin tahu perkembangan resort di Hokkaido jepang.
“ oooo..... itu.... sudah dua hari lalu aku kirim file design resort ke email presiden direktur Radha Cheng.... ada email abang juga..... apa jangan-jangan abang tidak membaca emailku? “ tanya balik Fajrin membuat Azkar segera membuka emailnya.
Untuk beberapa menit kedepan ruangan Azkar menjadi sunyi hanya terdengar suara mouse bergeser karena tangan Azkar.
“ jadi kapan kamu berangkat ke Jepang.... atau ke Hongkong dulu? “ tanya Azkar sambil berdiri dari kursi kerjanya.
“ sesuai email balasan dari presiden direktur Radha.... kami ke Hongkong dulu beberapa hari kemudian lanjut ke Osaka dan terakhir ke Hokkaido..... itu kalau sesuai rencana tapi kalau ada perubahan lagi..... ya... aku kurang tahu bang.... “ ucap Fajrin sambil membetulkan posisi duduknya.
“ sama siapa kamu ke Jepang..... kamu tidak bisa bahasa Jepang.... apa tuan Radha menyediakan penerjemah? “ tanya Azkar yang mulai ragu kalau Fajrin akan berangkat sendiri mengurusi project kali ini.
Fajrin terlihat berpikir sesaat.
“ mungkin aku akan mengajak muslim..... dia satu-satu staff di bagianku yang memiliki ijazah double degree dari Jepang..... sudah pasti kemampuan bahasa jepangnya tidak perlu di ragukan lagi. “ ucap Fajrin sambil memperlihatkan file tentang latar belakang pendidikan Muslin di ponselnya.
Azkar berpindah duduk di sebelah Fajrin.
“ apa.... kamu sudah menceritakan semua ini pada Divya?..... bahwa kamu akan ada perjalanan bisnis dalam waktu dekat ini “ ucapan Azkar membuat Fajrin menarik nafas panjang.
“ rencananya kalau hari ini.... Roby sudah bisa mendapatkan jadwal pasti dari Sundth Air..... nanti sore mau aku bicarakan pada Divya... “ ucap Fajrin pelan dan mulai sedikit ragu kalau Divya bersedia untuk dia tinggal beberapa hari.
“ kamu selesaikan semua ini.... kalau sesuai rencana.... bisa jadi kamu mengawasi project ini sekaligus honeymoon.... “ ucap Azkar sambil menepuk bahu Fajrin.
Fajrin berdiri dari sofa tapi saat hendak membuka pintu ruang kerja Azkar, langkahnya terhenti karena Azkar melemparkan sebuah gumpalan kertas dan mengenai punggung Fajrin. Fajrin membalikkan badannya dan melihat apa yang Azkar lempar.
“ kalau bertemu dengan Tuan Radha dan Bu Sonia.... bilang.... kalau kamu mau menikah dalam waktu dekat.... sekalian kalau bisa minta mereka untuk datang.... tidak enak tidak mengundang atau memberitahu mereka.... nanti udangannya biar Roby yang mengurus semua. “ ucap Azkar yang sudah kembali duduk di meja kerjanya.
Fajrin memungkut kertas tadi dan membuangnya di tempat sampah dekat pintu.
“ iya bang.... mau minta masukkan ke tempat sampah saja pakai lempar-lempar segala..... Assalamualaikum “ ucap Fajrin sambil menutup pintu ruang kerja Fajrin.
Sampai di ruang kerjanya, Fajrin segera memanggil Muslim untuk ke ruang kerjanya. Fajrin menunjukan jadwal perjalanan bisnisnya untuk menyelesaikan project World La Plume Niseko Resort di Hokkaido
“ kamu pernah kuliah di universitas Tokyo.... pasti kamu cukup menggerti budaya dan bahasa Jepang.... temani perjalanan bisnisku kali ini.... kita selesaikan urusan di luar pekerjaan fisik project ini sebelum memulai pembangunan resort..... “ ucap Fajrin sambil membuka sebuah gulungan desain project World La Plume Niseko Resort.
“ lalu yang akan mengawasi selama proses pengerjaan project siapa? Kita atau rekan rekan dari Osaka? “ tanya Muslim sambil membolak balik jadwal perjalanan bisnis mereka.
“ Kalian yang akan langsung mengawasi.... aku hanya akan mengawasi kalian sebentar saja.... “ seketika Muslim tersenyum kegirangan karena dalam tahun ini akan pergi ke Jepang dan menetap sementara di sana.
Fajrin melihat dengan jelas ada aura kegembiraan tersendiri di wajah muslim, tiba-tiba Irvan dan Gultom masuk.
“ duduk sana..... di antara kalian berdua..... tim siapa yang siap memegang project World La Plume Niseko Resort? “ pertanyaan Fajrin seketika membuat Irvan dan Gultom saling pandang satu sama lain.
Tidak seberapa lama Gultom mengajukan diri untuk mengawasi project itu, Fajrin menunjuk pada sebuah kardus yang berisi belasan gulungan kertas kalkir.
“ itu desain World La Plume Niseko Resort yang sudah mendapat persetujuan dari tuan Radha juga Ibu Sonia.... kamu pelajari dengan tim.... dan ini desain dalam betuk file....kalian pelajari.... setelah aku kembali dari jepang bersama Muslim kalian siap-siap berangkat ke Hokkaido. “ ucapan Fajrin membuat Gultom sedikit gugup karena ini project besar pertama yang dia pegang tanpa pengawasan langsung dari Fajrin
“ kalau begitu kamu pegang project di pulau Miyakojima.... aku dan Muslim akan berunding dulu bagaimana desainnya..... kalau kalian mau ikut silahkan kalau tidak silahkan.... tapi di 2 project ini Muslim harus ada.... karena dia satu-satunya tim kita yang double degree dari Jepang dan dia juga satu-satunya penerjemah kalian dengan tim Jepang. “ ucapan Fajri membuat Muslim terlihat sangat gembira.
“ ah.... sial..... kamu dapat dua-duanya..... tapi itu berarti kamu bekerja di bawahku.” Ucap Irvan dengan senyum menyejek pada Muslim.