
“nanti malam kamu pakai ini" ucap Roby yang sudah masuk ke ruangan Fajrin tanpa mengucap salam sambil melempar sebuah kunci mobil.
“buat apa? Aku masih bisa pakai motor" ucap Fajrin yang masih sibuk dengan dokumentasi gambar-gambar desainnya.
“big bos yang menyuruh.... kalau kamu pakai motor.... sampai di tempat pesta pakaian kamu bau asap kendaraan.” Paksa Roby.
“ya sudah kalau bau asap kendaraan.... aku ganti pakaian di toilet hotel saja.... mudah bukan?” jawab Fajrin memberi solusi singkat jelas dan masuk akal.
Roby mengambil kembali kunci mobil dan berjalan keluar ruangan Fajrin dengan menggerutu.
“punya sahabat yang tidak punya nafsu materi lebih merepotkan dari pada perempuan gila harta" gerutu Roby sambil menekan tombol lift.
“siapa yang tidak punya nafsu materi?” tiba-tiba suara Henri tepat berada di belakang Roby.
Seketika Roby menundukkan kepalanya karen malu.
“bukan siapa-siapa pak" ucap Roby malu sambil memukul-mukul mulutnya dengan tangan kirinya.
Pintu lift terbuka, Roby dan Henri masuk ke dalam lift.
“tidak usah di tutupi..... Fajrin yang kamu maksud? Dia memang tidak terlalu bernafsu dengan materi..... tapi dia bernafsu dengan project-projectnya.... sama seperti ayahnya.” Ucap Henri membuat Roby sedikit terkejut.
“pak Henri mengenal Almarhum ayah Fajrin?” tanya Roby penasaran.
“ayah Fajrin dulu satu kampus dengan saya.... sebelum ayahnya menerima beasiswa kuliah di Oslo..... watak Fajrin sama seperti Almarhum Woro..... melakukan yang terbaik untuk orang-orang yang di cintainya” jelas Henri mengenang kedekatan mereka dengan Woro.
Tepat pukul lima sore waktu pulang kerja, Fajrin sudah membereskan semua berkas-berkas dan kertas-kertas desainnya. Saat Fajrin hendak mengambil tas kertas yang berisi kemeja, celana dan jas yang dua hari lalu Roby pilihkan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Fajrin melihat layar ponselnya dan segera menerima panggilan itu.
“Assalamu'allaikum” salam Fajrin.
“.....”
“lepas Magrib? Tumben sore biasanya jam sembilan baru minta jemput" goda Fajrin membuat Irvan dan gultom tersenyum mendengar ucapan manis Fajrin.
Baru kali ini mereka mendengar suara lembut dan manis Fajrin.
“.....”
“ iya.... kakak jemput.... tunggu di tempat biasa ya..... jangan kemana-mana"suara lembut Fajrin semakin membuat Irvan dan Gultom senyum-senyum sendiri.
“......”
“Wa'alaikumsalam” balas Fajrin sambil memutus panggilan.
Fajrin meletakkan kembali tas kertas di mejanya dan melepas kembali jaket kulit yang sudah dia kenakan.
“tidak jadi pulang pak?” tanya Irvan memberanikan diri.
“nanti selepas Magrib sekalian jemput adik" jawab Fajrin sambil memandang langit kota jakarta.
“oooo..... adik..... bukan pacar pak?” pertanyaan Irvan membuat Fajrin melihatnya dengan tatapan heran.
“kalian kalau sudah selesai pulang saja.... kita lanjutkan maket itu besok senin.” Ucap Fajrin singkat dan masih memandang langit jakarta.
Selepas Magrib Fajrin buru-buru pergi ke area parkir motor yang berada di basement, Fajrin segera menyalakan motornya dari kejauhan Azkar melihatnya dan segera menghubungi seseorang.
“pastikan pakaian Fajrin sudah dia bawa" ucapan tegas dan dingin membuat Roby yang berada di ujung panggilan menjadi merinding.
Tepat pukul enam lebih lima belas menit Fajrin sudah sampai di gerbang kampus menunggu Nara yang sedang berjalan ke arahnya.
“Wa'alaikumsalam..... baru saja” ucap Fajrin sambil membantu Nara mengaitkan helmnya.
“kakak.... sebelum pulang beli sate padang ya.... Nara ingin makan sate padang.” Ucap nara yang sudah duduk di jok belakang dan sudah melingkarkan tangan kanannya di perut Fajrin.
“iya.... tapi setelah menurunkan adik di rumah kakak pergi lagi..... ada udangan pesta, bang azkar mengharuskan kakak untuk datang.” Ucap fajrin yang sudah memutar balik motor ke arah pulang.
Tepat pukul tujuh, Fajrin menurunkan Nara di depan rumah mereka dan segera menuju ke hotel tempat pesta anniversary Zulian. Di tengah jalan Fajrin teringat bahwa kemeja celana dan jas yang harus dia pakai masih tertinggal di ruangannya, Fajri menepikan motornya dan mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Fajrin melihat ada sebuah pesan masuk membacanya sesaat sambil tersenyum tipis. Fajrin kembali memacu motor tuanya menuju hotel tempat lokasi pesta, di lobi sudah menunggu seorang pria yang Fajrin tidak kenal tapi sangat ramah pada Fajrin.
“Assalamu'allaikum.... maaf permisi.... anda pasti pak Fajrin” salam orang tersebut.
“Wa'alaikumsalam.... iya benar..... maaf siapa anda?” tanya Fajrin heran.
“tuan Zulian meminta saya untuk menunggu anda dan mengantar anda ke ballroom.” Ucap pria itu sopan dan hormat.
“ooo...... tapi saya harus parkir motor saya terlebih dahulu" ucap Fajrin yang sudah meletakkan helmnya di pengait samping jok motor.
Pria itu meminta motor Fajrin dan menyuruh seseorang untuk memarkir motor Fajrin di tempat yang sudah mereka tentukan.
Sementara di dalam ballroom sudah banyak tamu undangan yang datang, semua adalah tamu undangan para rekan bisnis Surendra Corp. Azkar sedang berbincang-bincang dengan beberapa rekan bisnis Surendra Corp dan juga Zulian sebagai tuan rumah acara, terlihat Roby berkali-kali memandang ponselnya menunggu Fajrin menghubunginya. Azkar memanggil Roby untuk mendekat.
“sudah datang?” suara pelan Azkar membuat Roby mendekatkan telingannya.
“belum bos.... mungkin masih di jalan" jawab Roby dengan gugup.
“Tuan Azkar..... apa pak Fajrin datang juga?” tanya Radha Cheng, Presiden direktur Rosewood Group.
“saya sudab memintanya untuk datang dan sepertinya dia sedikit terlambat, mungkin ada sedikit masalah dengan keluarganya" ucap Azkar sambil menebak masalah yang mungkin Fajrin hadapi.
tiba-tiba ponsel Roby bergetar, segera Roby mengangkat ponselnya dan melihat nama Fajrin. Roby segera pamit pada Azkar dan melangkah menuju lobi hotel, Roby mencari-cari sosok Fajrin di antara para tamu hotel. Ponsel Roby bergetar sekali lagi dan segera mengangkatnya.
“dimana bro?” tanya Roby tanpa mengucap salam.
“.....”
“oooo..... aku sudah lihat" ucap Roby dan menutup ponselnya tanpa mengucap salam.
Roby berjalan mendekati Fajrin yang berdiri di dekat pilar besar, dengan wajah kusut Fajrin menatap tajam Roby.
“maaf lupa salam....buru-buru..... kamu juga kenapa baru datang.... untung big bos menghubungiku dan menyuruh mengecek keperluanmu.... ini kartu kamar hotel.... kamu bisa mandi dan ganti pakaian di kamar ini" ucap Roby yang menghampiri Fajrin sesaat dan segera mengajaknya masuk lift.
“Assalamu'allaikum” salam Fajrin sedikit menyindir Roby.
“Wa'alaikumsalam ustad....” balas Roby dengan canda.
“kamar ini hanya untuk ganti pakaian saja.... tidak untuk menginap bukan?” tanya Fajrin sambil memainkan kartu hotel.
“tidak...... setelah pesta kembalikan kartu itu padaku atau langsung ke resepsionis saja..... semua sudah aku atur" ucap Roby sambil melangkah keluar lift
Roby mengantar Fajrin hingga depan kamar dan kembali ke ballroom, Fajrin membersihkan diri untuk berganti dengan pakaian formal lengkap dengan jas.
“bang..... ayo turun" seseorang menunggu di depan kamar sambil menekan bel kamar hotel
“dia sendiri yang mengajakku menginap biar tidak terlambat dan dia sendiri yang terlambat" gerutu wanita di depan kamar hotel.
tiba-tiba saat wanita itu memalingkan wajahnya ke kiri mendapati sosok pria yang baru keluar dari balik pintu kamar memakai pakaian formal lengkap dengan jas hitam serta dasi kupu-kupu membuatnya tidak berkedip dan memandangnya dalam-dalam.
“he's so handsome.... he's so cool (dia sangat tampan..... dia keren sekali)” gumam wanita itu memuji sosok pria itu.