
Kesabaran akan penantian amanah selama hampir empat tahun, akhirnya terbayar sudah. Senyum bahagia terulas di bibir Divya, melihat Fajrin membisikan Adzan di telinga kanan keempat bayi mereka secara bergantian membuat Divya terharu dan sekali lagi meneteskan air mata. Divya yang terbaring lemah dengan tubuh bagian bawah masih di bawah pengaruh anastesi epidural, hanya tangan kanannya sesekali menyeka air mata yang membasahi kedua pelipisnya.
Pemandangan yang Divya impikan selama ini, melihat Fajrin membisikkan Adzan pada bayi mereka.
“ ayang..... nama mereka siapa? “ Fajrin tersenyum kikuk karena masih bingung akan memberi nama apa pada keempat bayi kembar mereka.
“ pasti belum siap..... “ ucap Divya cemberut membuat Fajrin mendekatinya dan mencium dahi Divya.
“ terima kasih sayang...... terima kasih sudah berkorban sebesar ini..... “ ucap Fajrin sambil mencium dahi Divya kembali.
Meski pun Fajrin menghujani ciuman kecil di dahi dan pipi kirinya, tetap saja Divya terlihat cemberut.
Tanpa mereka sadari, ada beberapa pasang mata memperhatikan Divya dan Fajrin yang berada di ruang pemulihan pasca operasi. Mereka dapat melihat Divya dan Fajrin dengan jelas karena terdapat sekat kaca yang memungkinkan pengunjung melihat keluarga mereka. Divya melakukan operasi sesar lebih cepat dua minggu dari perkiraan dokter karena air ketuban Divya sudah pecah terlebih dahulu.
“ hmmm kita hanya jadi seperti penonton..... aku jadi iri..... jadi ingin punya bayi lagi “ ucap Azkar pelan.
Meski pun pelan tapi terdengar jelas di telinga Helen.
“ mau tambah berapa lagi...... “ ucapan Helen membuat Azkar meringis.
“ mereka mungil-mungil......” ucap Davis yang sedari tadi memperhatikan cucu kembarnya.
Dipta dan Ningsih ikut bahagia melihat Divya dan Fajrin yang terlihat sangat bahagia. Fajrin mengirimkan foto keempat bayi kembarnya pada Afkar juga Barra dan tentunya pada Satya yang masih bertahan di Amerika.
Dihari ketiga, Dokter sudah mengizinkan Divya untuk pulang tapi tidak dengan salah satu anak kembar mereka. Karena salah satu bayi kembar mereka mengalami bilirubin, dimana sel darah merah tidak dapat hancur secara semestinya dan proses ini terjadi di organ hati.
“ ayang bagaimana ini..... Flo harus tinggal disini lebih lama lagi..... “ ucap Divya bingung karena hanya bisa membawa tiga bayi kembar mereka.
“ Flo....... “ ucap Fajrin bingung.
Fajrin belum paham maksud Divya.
“ ayang..... “ Suara Divya sedikit tinggi.
“ ooooo..... maksud sayang.... bayi yang perempuan..... “ ucap Fajrin sambil meringis.
“ anak sendiri baru juga tiga hari sudah lupa..... “ ucap Divya cemberut.
“ jadi nama panggilan untuk yang perempuan Flo....... kalau yang tiga apa? “ rayu Fajrin sambil membelai rambut Divya.
“ yang pertama keluar berat dua koma tiga namanya Faresta..... yang kedua berat dua koma satu namanya Falevi.... yang ketiga dan satu satunya perempuan namanya flower.... yang terakhir namanya Faeyza..... “ ucap Divya sedikit cemberut.
“ kata kedua dan ketiga.... ayang yang tentukan. “ ucap Divya sambil melipat kedua tangan di dada.
Fajrin gemas dengan sikap Divya yang masih terlihat manja. Elena dan Liam sudah menunggu mereka di luar ruangan lebih tepatnya menunggu di depan ruang bayi, mereka menunggu para perawat mengganti pakaian si kembar agar siap untuk keluar dari rumah sakit.
“ sabar.... dua hari lagi Flo bisa kita bawa pulang..... “ ucap Fajrin berusaha menghibur Divya.
Seorang perawat masuk dan menyerahkan beberapa obat yang harus Divya habiskan di rumah dan menyerahkan surat keterangan bahwa dokter mengizinkan mereka pulang dengan membawa tiga bayi kembar mereka.
“ sayang.... tunggu disini.... ayang selesaikan administrasi dulu “ ucap Fajrin sambil mencium dahi Divya.
Fajrin melangkah keluar ruang rawat inap menuju bagian administrasi rumah sakit.
Dari sejak usia kandungan Divya memasuki minggu ke dua puluh delapan, Fajrin sudah mempersiapan kamar khusus untuk bayi kembar empat mereka. Kamar yang bersebelahan dengan kamar tidur mereka, Fajrin melakukan sedikit perubahan. Fajrin membongkar dinding pembatas kamar sehingga Fajrin atau pun Divya dapat keluar masuk kamar kembar tanpa keluar dari mereka.
Karena keluar dari rumah sakit hanya membawa tiga bayi kembar mereka, Divya yang sudah tidak merasakan nyeri di bekas jahitan operasi sesar memaksa Fajrin agar membiarkan dirinya menggendong dua bayi kembar sedangkan Fajrin menggendong satu bayi. Elena ingin sekali menggendongnya tapi Elena takut karena bayi bayi kembar Divya sangat kecil untuk ukuran bayi normal.
Davis dan keluarga kecil Dipta menunggu mereka di rumah, Davis yang sudah tidak sabar menunggu kepulangan quadruplets berkali-kali melihat keluar rumah.
“ papi...... sebentar lagi mereka datang “ ucap Dipta yang mulai pening melihat Davis bolak balik melihat keluar.
“ mas..... papi itu ingin sekali menggendong kembar...... tapi papi belum berani karena berat kembar yang kecil “ ucap Ningsih sambil membelai perutnya yang mulai membuncit karena kehamilan kedua.
“ benar.... papi tidak sabar menggendong mereka semua..... papi tidak menyangka program bayi tabung mereka berhasil..... empat dari lima embrio yang dimasukkan dapat berkembang.... dan menjadi cucuku..... “ ucap Davis dengan raut wajah girang.
Lima belas menit kemudian sebuah mobil memasuki halaman rumah, mendengar suara mobil masuk membuat Davis bergegas keluar dan segera menuju tempat mobil Divya berhenti.
Melihat Divya keluar dengan menggendong kembar di kedua tangannya membuat Davis mengambil alih salah satu bayi yang Divya gendong.
“ biarkan papi menggendong satu “ pinta Davis sambil berusaha mengambil Faresta.
“ papi yakin mau gendong Resta? “ pertanyaan Divya membuat Davis bingung untuk sesaat.
“ oooo..... ini namanya Resta..... namanya yang gagah..... semoga Resta nanti kalau sudah besar seperti papanya..... “ ucap Davis sambil menggendong Resta dan membawanya masuk.
“ Aamiin “ ucap Fajrin dan Divya bersamaan.
Dikarenakan ASI Divya belum keluar banyak sedangkan tiga bayi kembar laki laki mereka membutuhkan asupan gizi, DSA menyarankan mereka untuk mencampur ASI dengan susu formula khusus bayi dengan berat badan rendah. Seberapa banyak ASI yang Divya perah, Divya mau pun Fajrin akan membagi tiga dan mencampurnya dengan susu formula bila waktunya kembar minum susu.
dua hari sudah Flo ditinggal di rumah sakit dan hari ini Divya bersama Fajrin mengambilnya, satu satunya bayi perempuan yang memiliki warna rambut hitam seperti Fajrin sedangkan ketiga bayi kembar laki-laki memiliki warna rambut seperti Divya.
“ hmmmm.... flo ini ayang versi perempuan.... rambutnya hitam..... warna mata gelap..... bibir juga..... alis.... bulu mata..... “ ucap Divya membuat Fajrin tersenyum tipis.
“ Flo mirip ayang.... tapi Resta..... Eyza dan Levu mirip sayang..... rambut berwarna kecoklatan.... dan warna mata lebih terang sama seperti sayang..... “ ucap Fajrin sambil membelai kepala Divya yang tertutup hijab.
Melihat Divya masuk ke dalam rumah dengan menggendong Flo membuat Davis, Elena dan Liam tersenyum bahagia.