
Sejak pertama kali menginjakkan kaki di India, Fajrin dan timnya tidak menemui kesulitan apa pun. Semua rekan kerjanya para tim ahli yang semua adalah warga negara India sangat ramah pada Fajrin dan timnya, mereka sangat menghormati bahkan menyanjung Fajrin bahkan ada keluarga salah seorang dari tim India sempat beberapa kali membawakan makan siang untuk Fajrin dan timnya. Dan tentunya Jatinra yang mengatakan apa saja yang bisa dan tidak bisa Fajrin makan, bahkan pimpinan cabang India beberapa kali mengunjungi lokasi project hanya untuk mengantar beberapa kantung buah-buahan untuk Fajrin dan timnya.
Semua pemberian rekan-rekan India dan keluarganya membuat Fajrin semakin merasa segan karena mereka seperti mendewakan dirinya, meskipun beberapa kali Fajrin berusaha menolak secara halus tapi tetap saja mereka mengirimkan makan siang juga buah-buahan ke lokasi project. Dan tentunya semua ini membuat tim Jakarta senang karena mereka tidak perlu repot memikirkan makan siang apa, karena lokasi project yang jauh dari tempat makan yang menurut mereka halal dan bersih.
Seperti hari ini istri dan anak dari Purdy staff ahli kontruksi membawakannya seloyang besar dan penuh dengan nasi biryani lengkap dengan dua ekor ayam kari membuat Irvan dan yang lainnya berjalan cepat mendekati Fajrin yang sedang berbicara dengan Purdy dan istrinya.
“we've been make you busy so much (kami sudah sangat merepotkan kalian)”ucap Fajrin dengan sopan.
“you don't make us busy.... because you’ve given us the opportunity to work together on this project.... and what we are doing is still far from what you have done for our branch company (bapak tidak membuat kami repot.... karena bapak sudah memberi kami kesempatan untuk bekerja sama di project ini.... dan apa yang kami lakukan ini masih jauh dari apa yang sudah bapak lakukan pada perusahan cabang kami).” Ucap purdy sambil menyerahkan satu loyang besar makan siang yang di bawa istrinya.
Irvan dan Andra yang sudah berada di dekat Fajrin segera menerima loyang makanan itu dari tangan Purdy dan langsung membawanya ke sebuah bangunan semi permanen yang mereka pakai untuk beristirahat siang. Fajrin hanya bisa memandang ulah mereka dengan maklum dan sedikit merasa malu pada Purdy dan istrinya.
“Thank’s..... you’ve given us lunch that we can't refuse... may Allah always expand your sustenance (terima kasih..... kalian sudah memberikan kami makan siang yang tidak bisa kami tolak... semoga ALLAH selalu melapangkan rezeki kalian” ucap Fajrin dan Purdy menterjemahkan dalam bahasa Hindi pada istrinya.
Fajrin semakin segan dengan para staff ahli tim India merasa mereka terlalu berlebihan, tapi sekeras apa pun Fajrin menolak semua itu tetap saja mereka akan mengirimkan makan siang untuk Fajrin dan tim Jakarta. Fajrin dan Purdy berjalan ke area yang mereka pakai untuk beristirahat siang, wajah-wajah yang tidak sabar untuk segera makan siang terlihat jelas pada Andra, cahyo dan Muslim. Tanpa kata-kata hanya dengan isyarat tangan Fajrin menyuruh mereka untuk makan, Fajrin menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka yang terkadang bisa sangat tegas dan terkadang sangat konyol. Fajrin makan dalam satu loyang dengan yang lain tanpa merasa jijik atau pun malu, Fajrin sudah menganggap mereka seperti saudara karena hanya mereka yang sangat memahami Fajrin saat dia harus berada jauh dari Nara dan Roby.
Pekerjaan sudah berlangsung selama satu bulan rasa kangen akan masakan dan keluarga di Tanah Air mulai menyerang tak terkecuali oleh Fajrin entah mengapa hatinya merasa tidak nyaman sejak tadi pagi. Serasa ada sesuatu yang tidak beres tapi dia tak mengerti apa yang tidak beres dan sudah dua hari ini dia tidak mendapatkan pesan suara dari Sofia dari nomor yang berbeda-beda. Fajrin memang sudah memblokir nomor Sofia yang dia tahu, tapi setiap kali Fajrin blokir maka sofia akan mengirim pesan dengan nomor yang berbeda yang tidak Fajrin kenal.
“Pak..... bapak sakit?” tanya Gultom yang penasaran.
“tidak.... kenapa?” tanya Fajrin sambil memandang kertas kalkir yang sedari tadi pegang.
Gultom bingung mau bertanya apa lagi dan akhirnya memutuskan untuk kembali ke posisi yang harus dia awasi, saat Fajrin berusaha memusatkan perhatiannya tiba-tiba ponselnya bergetar. Fajrin segera mengeluarkan dari dalam saku celana dan melihat nama roby tertera di layar ponselnya.
“Assalamu'allaikum” salam Fajrin
“......” suara roby terdengar seperti orang bingung.
“ada apa.... kangen sama aku?” canda Fajrin tapi tidak mendapat respon apa pun dari Roby.
“......”
“..... “Fajrin hanya menghela nafas panjang.
“...... “ Fajrin kembali menghela nafas panjang.
“dua hari lalu Sofi masih mengirim pesan suara..... dia hanya bilang kalau sekeras apa pun dia menuntun Yudha untuk kembali belajar Sholat dan mengaji.... semua sia-sia.... yudha tidak bisa lepas dari alkohol” ucap Fajrin pelan.
Meskipun sudah tak ada rasa lagi tapi mengingat semua dukungan Sofia padanya membuat Fajrin berpikir kemana Sofia pergi.
“coba kamu ke rumahku mungkin dia disana.... semua sahabatnya sudah tidak ada Indonesia..... pasti dia masih ada di Jakarta” ucap Fajrin yang sudah berjalan mendekati Irvan yang terlihat sedang serius melihat sesuatu.
“.....”
“Wa'alaikumsalam” balas Fajrin.
“kalau Sofi ada di rumah pasti adik akan memberitahuku..... tapi ini adik hanya memberi pesan kalau butuh satya untuk menjemput saja....” gumam Fajrin yang sudah berdiri di sebelah Irvan.
“tidak mungkin adik berbohong..... dan tidak mungkin juga adik mau menerima Sofia..... aaah..... mengganggu saja..... “ gumam Fajrin yang sambil memijat tengkuk yang terasa pegang karena semalam begadang melakukan sedikit perubahan koordinat tiang pancang.
JAKARTA
Lobi gedung Surendra yang biasanya tenang dan hanya terdengar hiruk pikuk para staff yang berbicara tentang pekerjaan atau bercanda kecil tiba-tiba menjadi ramai karena teriakan seseorang.
“mana yang bernama Fajrin" teriakan Para membuat Syafril malu karena menjadi perhatian banyak orang.
“Pak dhe.... tenang dulu.... kita tanya ke resepsionis dulu" ucap Syafril menenangkan Pras.
“tidak bisa...... pasti dia menyembunyikan Sofia anakku..... Fajrin keluar kamu jangan sembunyi” teriakan Pras semakin menarik perhatian para staff Surendra sementara Mutia semakin menangis tidak tahu keberadaan Sofia.
Dua orang satpam berusaha menenangkan Pras yang semakin berteriak-teriak memanggil Nama Fajrin. Saat suasana semakin panas karena teriakan Pras dan tangis histeris Mutia, dari arah pintu masuk lobi Azkar datang dengan Roby.
“ada apa ini?” ucapan tegas Azkar membuat para staff Surendra membubarkan diri kembali ke aktivitasnya.
“kamu pasti pemilik perusahaan ini..... mana Fajrin.... dia sudah membawa lari Sofia putriku.... “ ucap Pras penuh amarah.
“Sofia? tidak mungkin Fajrin membawa lari dia sudah satu bulan ini berada di Jaipur?” ucapan tegas Azkar membuat Mutia seketika diam dari tangisnya dan menatap Azkar dengan heran.
“Jaipur? tidak mungkin pasti dia pergi membawa anakku" ucap Mutia tidak percaya.
“kalau tidak percaya tanyakan saja pada mereka semua yang ada disini" ucap Azkar yang sudah melangkah meninggalkan kedua orang tua Sofia dengan bingung dan Syafril yang menahan malu.
“jangan beritahu Fajrin tentang ini.... kalau sampai Fajrin tahu dan tidak fokus pada project ini.... aku potong lima puluh persen gaji kamu" ucapan tegas Azkar membuat Roby merinding dan kesulitan menelan ludahnya.
Roby mulai sibuk dengan pekerjaannya dan menghubungi Fajrin tanpa sepengetahuan Azkar.
“.....”
“wa'alaikumsalam” suara pelan roby terdengar seperti orang bingung.
“.....?” Roby memutar bola matanya jengah mendengar candaan Fajrin yang tidak lucu.
“aku mau bicara sebentar tapi kamu jangan terkejut ya.....” suara berbisik Roby sambil melihat pintu ruangan Azkar.
“Sofia pergi dari rumah pak Zulian....” Roby diam melihat pintu ruangan Azkar.
“kedua orang tua Sofia memaksa Syafril menunjukkan tempat kamu kerja..... tadi pagi mereka membuat keributan di lobi.... mereka mengira Sofia kamu bawa pergi.... “ bisik Roby yang semakin takut kalau ketahuan Azkar.
“.......” Roby menepuk dahinya.
“......” Roby tertegun mendengar penjelasan Fajrin
“aku coba cek dulu...... terima kasih bro.... Assalamu'allaikum” salam Roby.
“......” balas Fajrin.