
Karena undangan jamuan makan malam itu saat ini Fajrin terlihat sangat gugup juga bingung, bila biasanya dia terlihat santai dan menikmati makan malam bersama Davis juga Nenek Ina. Tapi makan malam kali ini otaknya penuh dengan berbagai pemikiran, alasan bahkan kemungkinan bila Davis tidak mengizinkannya membawa Divya memenuhi undangan itu. Selesai makan malam seperti biasa Davis akan melakukan pengecekan pergerakan saham perusahaannya dan beberapa perkembangan kontrak kerjasama dengan beberapa perusahan, Fajrin terlihat sangat gugup juga ragu untuk berbicara dengan Davis.
Davis bukannya tidak merasakan keanehan dalam diri Fajrin, tapi Davis lebih menunggu Fajrin untuk mengatakannya.
“ pi..... “ suara pelan Fajrin belum membuat Davis melihatnya.
Fajrin dengan rasa gugupnya mencoba membuka pembicaraan dengan Davis.
“ pi..... boleh tidak minggu depan Fajrin bawa Divya ke acara kantor. “ ucap Fajrin dengan suara bergetar karena menahan rasa gugup yang membuat kedua ujung jari jemari kaki juga kedua tangannya terasa dingin.
Davis melihat Fajrin dengan tatapan serius dan penuh tanya.
“ acara apa? “ pertanyaan singkat Davis membuat Fajrin semakin gugup.
“ jamuan makan malam PPB group “ ucapan Fajrin membuat Davis membulatkan kedua matanya.
Davis terkejut dengan nama perusahan yang Fajrin sebut, melihat raut wajah Davis membuat Fajrin semakin gugup juga ragu untuk meminta izin.
“ PPB Group.....? kapan kalian pergi? “ pertanyaan Davis kali ini membuat Fajrin terkejut.
Karena Fajrin sudah mempersiapkan diri kalau Davis tidak akan memberinya izin membawa Divya.
“ papi..... mengizinkan kami?.....mmmm.... maksud Fajrin.... papi mengizinkan Fajrin mengajak Divya? “ tanya Fajrin dengan gugup memastikan jawaban Davis.
“ tentu saja papi mengizinkan.... kamu membawa calon istrimu..... kapan kalian berangkat? “ tanya Davis dengan antusias.
Fajrin hampir tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Davis.
“ serius..... papi mengizinkan Fajrin membawa Divya.... “ Davis tersenyum dan menganggukan kepalanya sekali.
Melihat jawaban Davis membuat Fajrin menarik nafas lega, melihat raut wajah Fajrin yang terlihat jelas sangat lega membuat Davis ingin bertanya lebih jauh tentang undangan itu.
“ memangnya kamu datang sebagai arsitek atau apa? “ pertanyaan Davis membuat Fajrin sulit menelan ludahnya.
“ mmmm..... menggantikan bang Azkar “ suara pelan dan malu Fajrin sekali lagi membuat Davis terkejut.
Semakin banyak pertanyaan di otak Davis tentang alasan Azkar meminta Fajrin menggantikan dirinya, tapi Davis mencoba menutupi rasa ingin tahunya itu.
“ ayang serius.... mau bawa Divya pergi “ suara Divya yang tiba-tiba membuat Fajrin mengelus dadanya karena sedikit terkejut.
“ berapa hari.... berapa malam? “ tanya Divya dengan antusias.
“ 3 hari 2 malam..... berangkat setelah Dhuhur .... acaranya malam kedua dan besok siangnya kembali ke Jakarta “ jelas Fajrin singkat tapi sudah cukup membuat Divya sangat senang.
Davis tersenyum senang karena melihat senyum bahagia Divya, tak hanya itu saja yang membuat Davis senang. Davis senang karena baru kali ini ada keluarga Lohia yang menghadiri undangan jamuan makan malam PPB group, meski pun datang sebagai bagian dari Surendra bukan sebagai bagian dari Lohia. Selama ini Davis sangat sulit menjalin kerja sama dengan PPB group, salah satu group perusahaan terbesar di Malaysia.
“ kapan kalian berangkat? “ pertanyaan Davis membuyarkan fokus Fajrin yang melihat tangan Divya.
“ Insya ALLAH selasa depan.... semua akomodasi sudah di persiapan kantor hanya passport Divya saja yang belum. “ mendengar kata passport membuat Divya segera melangkah naik ke kamarnya.
“ akhirnya.... terpakai lagi passportku “ ucap Divya dengan gembira.
Selagi menunggu Divya mengambil passport, Davis membuka pembicaraan yang lain.
“ kalian akan menginap di mana? Apa hanya kamu yang akan pergi ke jamuan itu.... ? “ pertanyaan Davis membuat Fajrin tersenyum.
“ tidak pi..... ada pak Henri dengan putrinya dan satu rekan kerja Fajrin... “ jelas Fajrin sepengetahuan dia.
Karena Fajrin tidak tahu siapa yang akan Gultom bawa.
“ mmmm.... kurang tahu pi..... “ jawab Fajrin singkat.
Davis mengangguk-anggukan kepala mendengar jawaban Fajrin. Divya turun dari lantai 2 dengan membawa sebuah buku passport di tangan.
“ ayang ini passport Divya “ ucap Divya sambil menyerahkan buku passportnya pada Fajrin.
Fajrin menerima dan membukanya.
“ Astagfirullah.... ayang lupa passport Divya belum pakai hijab “ ucapan Fajrin membuat Divya cemberut.
“ tapi ini masih berlaku...... kalau di perbaharui butuh waktu 1 minggu..... sedangkan hari selasa kita berangkat.... ya sudahlah pakai ini dulu.... nanti setelah pulang dari acara ini..... Divya harus ganti passport. “ ucapan Fajrin membuat Divya sangat girang dan melompat memeluk lengan kanan Fajrin.
Fajrin menggelengkan kepala melihat respon Divya yang berlebihan.
“ Bismillah semoga tidak terjadi apa-apa disana..... Ya ALLAH kuatkan imanku. “ gumam Fajrin dalam hati.
Izin dari Davis sudah Fajrin dapatkan begitu juga passport Divya untuk mengurus tiket penerbangan komersial Jakarta Penang Malaysia pergi pulang.
“ yuni.... siapa yang mengurus akomodasi ke Penang? “ suara Fajrin membuat Yuni gugup.
“ mba Wulan sekretaris pak Henri.... kalau dokumen bapak dan mas Gultom sudah siap semua.... biar saya serahkan ke mba Wulan pak “ ucap Yuni sambil merapikan blazernya.
“ Gultom “ mendengar namanya di panggil membuat Gultom segera mendekati Fajrin.
“ passport kamu dan pasanganmu sudah kamu serahkan ke Yuni? “ Gultom meringis mendengar pertanyaan Fajrin.
“ saya bawa adik saya pak.... kebetulan adik saya kuliah S2 disana...... pak.... boleh tidak kalau saya berangkat lebih dulu dan pulang paling akhir.... sekalian melepas kangen sama adik pak “ ucap Gultom sedikit memohon pada Fajrin.
“ Adik apa adik? “ tanya Fajrin selidik.
“ adik pak..... adik kandung saya.... dia dapat beasiswa S2 di Penang pak “ ucap Gultom meyakinkan Fajrin.
“ ooooo.... ya sudah.... kamu atur saja dengan Yuni.... Yun, ini passportku dan passport calon istriku.... kalau bisa kamar hotelnya pisah kalau tidak bisa cari yang family suit “ ucap Fajrin sambil menyerahkan 2 buku passport pada Yuni.
Saat selesai sholat Dhuhur, Azkar menghampirinya.
“ bagaimana....... om Davis izikan kamu bawa Divya? “ Fajrin menganggukan kepala menjawab pertanyaan Azkar.
“ Fajrin.... kamu harus belajar berbisnis dari sekarang.... suatu saat Azkar akan butuh bantuanmu..... aku sudah terlalu tua tenagaku sudah tidak sekuat dulu..... dua menantuku tidak mau menggantikan aku.... anakku yang bungsu pun lebih memilih menjadi guru di perbatasan..... “ keluh kesah Henri membuat Fajrin merasa bahwa Azkar akan memberinya amanah yang lebih besar dari saat ini.
“ siapa yang akan menjadi pendampingmu di acara nanti? “ belum sempat Fajrin mengatakan sesuatu.
Azkar sudah membisikkan sesuatu apda Henri.
“ serius dia bawa calon istrinya?..... tumben berani bawa anak gadis orang.... belum halal lagi.... “ ucap Henri terkejut dan juga hampir tidak percaya dengan bisikan Azkar.
“ kali ini dia harus berani om..... “ ucap Azkar asal.
“ hahahahaha..... aku mau lihat bagaimana dia membawa anak gadis orang..... apakah seperti kamu yang sangat memaksa atau seperti Afkar yang tidak terduga di setiap keputusannya..... “ ucap Henri dan melangkah meninggalkan Azkar juga Fajrin yang saling menatap dengan heran.
Fajrin menahan tawa mendengar ucapan Henri tapi tidak dengan Azkar yang heran dan penuh tanya.